Apa jadinya kalau CEO dan asistennya selalu bertengkar hanya karena hal sepele?
Andrian yang selalu saja ribut dengan Jasmine asistennya dalam segala kesempatan. Tiada hari tanpa keributan antara mereka, dari saling mengejek dan menggoda jadi aktifitas mereka disela kegiatan kantor.
Seiring kebersamaan dan langkah mereka yang sering ribut justru menimbulkan perasaan nyaman antara keduanya. Namun gengsi seakan menahan perasaan keduanya untuk tidak terucap.
Mampukah mereka saling jujur akan perasaan masing-masing? atau justru terus terperangkap pada gengsi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lijun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata kau?
Jasmine mencoba melawan sebisanya meski tenaganya tidak sebanding dengan penjahat itu. Tapi berkat kayu yang didapatkan Jasmine tergeletak di antara rerumputan saat ia terpukul mundur jadilah ia mampu menjatuhkan penjahat bersama supir Andrian.
Andrian mencoba untuk mendekati Jasmine yang masih melawan dan sudah terlihat kelelahan. Bagaimanapun juga Jasmine seorang gadis yang tidak berkelahi melawan orang berbadan kekar, jadi sedikit banyaknya gadis itu pasti kesulitan.
Pemuda itu juga takut kalau sampai Jasmine lengah dan malah mengakibatkan gadis itu tertangkap. Satu pukulan Andrian layangkan pada orang yang sedang ia lawan, kemudian pandangannya beralih pada Jasmine yang masih adu pukul dengan penjahat walau Jasmine memakai kayu.
Mata Andrian melotot tidak percaya saat matanya menangkap ada seseorang yang mengacungkan pistol dari dalam mobil yang ada di antara mobil penjahat itu.
Dengan sigap Andrian berlari mendekati Jasmine yang tidak menyadari bahaya itu karena malah terlihat gadis itu menolong Minto supirnya yang sudah tidak sanggup melawan akibat usianya.
Sembari mendekati Jasmine tidak lupa pula Andrian memukul dan menyingkirkan siapa yang menghalanginya hingga.
DOR DOR
Langkah Andrian terhenti melihat Jasmine yang jatuh ketanah bersama supirnya. Dengan amarahnya Andrian memukul penjahat-penjahat itu tidak tentu arah, sampai ia bisa mendekati Jasmine.
Saat itu juga Andri dan dua teman lainnya tiba bersama para polisi yang memakai pakaian biasa membantu mereka.
Andrian mendekati Jasmine lalu mengangkat tubuh gadis itu ke pangkuannya.
"Jasmine sadarlah" ucap Andrian menggoyangkan tubuh gadis yang terlihat shok itu.
Walau matanya terbuka namun sangat terlihat jelas katakutan dan kaget yang teramat.
"Jasmine! hey lihat aku" ucap Andrian lagi menepuk lembut pipi gadis itu dengan perasaan takut khawatir luar biasa
Namun yang terjadi malah Jasmine yang melihat Andrian lalu tersenyum konyol.
"Wajahmu jelek sekali kalau seperti itu" ejek Jasmine membuat Andrian melongo tidak percaya.
Ada rasa lega dihati Andrian saat melihat senyum Jasmine walau ia masih kaget dengan apa yang dilihatnya.
"Pak minto!" ucap Jasmine tiba-tiba ingat akan pria itu yang menyelamatkannya dari tembakan.
"Kenapa dengannya?" tanya Andrian heran karena Jasmine malah mengucapkan nama supirnya bahkan terlihat khawatir. Ada rasa kesal di hati pemuda itu.
Jasmine tidak perduli akan pertanyaan Andrian, gadis itu segera berdiri dan melihat pria paruh baya yang mulai duduk dengan ringisan kesakitannya.
"Pak! bapak baik-baik aja pak? mana yang sakit?" tanya Jasmine beruntun melihat pria itu khawatir.
"Bapak tidak apa-apa non" jawabnya menahan sakit.
"Ini luka pak" seru Jasmine saat mendapati luka akibat jatuh di lengan pria itu.
"Andrian kita harus menolong pak Minto yang terluka" lanjutnya menatap Andrian di belakangnya.
Tanpa kata Andrian membantu Minto berdiri lalu memanggil salah satu anak buah Andri untuk mengantarkan Minto ke rumah sakit.
Setelah Minto pergi bersama anak buah Andri barulah Andrian fokus pada Jasmine yang pastinya masih di incar oleh orang yang menjadi dalang dari semua ini.
Pandangan Andrian beralih pada mobil yang mencoba pergi itu meski sudah di kepung oleh anak buah Andrian.
"Ndri seret keluar orang di dalam mobil itu" tunjuk Andrian pada mobil yang akan melaju itu.
Melihat mobil itu akan melesat, Andri menembak ban mobil hingga pecah dan oleng. Seorang wanita keluar bersama seorang pria lagi dan mencoba untuk kabur namun segera di tahan oleh orang-orang Andri hingga mereka tidak bisa pergi.
Kedua orang itu di bekuk lalu di giring kehadapan Andrian dan teman-temannya.
"Jadi kau yang melakukan semua ini!" tunjuk Jasmine pada wanita itu yang ternyata anak dari Roy, orang yang batal menjadi rekan bisnis Andrian.
"Ya aku! kau harus habis di tanganku" ucap Sona menyerang Jasmine dengan ingin menarik rambut Jasmine.
Tapi Jasmine yang sudah tahu jurus wanita kalau ingin menyakiti fisik langsung mengambil tindakan penjegahan dengan cepat.
"Jangan harap kau bisa menyentuh rambutku kalau kau sendiri saja hanya mengandalkan orang lain untuk melaksanakan dendammu" ucap Jasmine melotot pada Sona yang ia pegang tangannya dan di pelintir ke belakang hingga wanita itu kesakitan.
"Lepaskan aku sialan! gara-gara kau aku kehilangan semua fasilitas dari papaku" maki Sona.
Jasmine manatap remeh pada Sona yang masih berontak ingin lepas dari Jasmine.
"Itu salahmu sendiri yang tidak bisa berbuat sopan dan selalu memandang rendah orang lain, pada hal kau sendiri bekum tentu lebih baik dari orang yang kau hina"
"Oh aku lupa kalau kau itu masih terlalu muda jadi masih kecilkan ya! seharusnya anak kecil itu tidak pakai make up" usil Jasmine mengusap wajah Sona dengan menarik baju ketat wanita itu.
"Apa yang kau lakukan sialan?" teriak Sona marah sembari mengeleng-gelengkan kepalanya agar make up nya tidak di hapus Jasmine.
Andrian yang melihat sikap jahil Jasmine jadi geleng kepala dan menghela napas lalu mengkode Andri agar membawa Sona dan orang-orang yang menyerang Andrian juga Jasmine tadi.
Sona tidak terima di giring ke mobil polisi dan mencoba berontak agar bisa kabur, bahkan tanpa segan wanita itu merayu anak buah Andri yang membawanya. Namun usaha Sona tidak membuahkan hasil apapun selain paksaan untuk memasuki mobil polisi.
"Kau mengenal wanita itu Jasmine?" tanya Andri setelah orang-orang itu dibawa pergi.
"Tidak! hanya saja tadi pagi aku sempat ribut dengannya karena dia merendahkanku" ucap Jasmine santai sembari memegang lengannya yang terasa nyeri.
"Kenapa kalian bisa ribut? dan kenapa dia merendahkanmu kalau kalian tidak saling kenal? tadi dia juga bilang kalau karena kau dia jadi kehilangan semua fasilitasnya" cecar Hendri yang sudah penasaran tingkat dewa.
Andrian memutar bola matanya malas, kalau Hendri sudah mengeluarkan suaranya itu artinya akan ada banyak buntut pertanyaan lainnya.
"Dia anak Roy yang harusnya jadi rekan bisnisku" ucap Andrian menuntun Jasmine mengarah mobilnya.
"An bisa supirkan mobilku?" tanya Andrian pada Aan yang diangguki pemuda itu.
"Kau Hen, telpon Roy dan suruh dia ke kantor polisi, aku ingin wanita itu mendekam lama di penjara Ndri" lanjutnya menitahkan pekerjaan pada temannya satu-satu.
"Siap bos!" jawab ketiga teman Andrian itu kompak.
"Kalau bos Andrian sudah mengeluarkan sabdah siapapun harus menurutinya" gerutu Hendri sembari menuju mobilnya dan mengeluarkan ponsel.
"Aku mendengarmu Hen" ucap Andrian sebelum memasuki mobilnya setelah Jasmine masuk.
"Maaf bos" teriak Hendri masuk kedalam mobilnya sendiri bersama Andri.
Sedangkan mobil Andri sendiri di bawa anak buahnya. Mobil melaju menuju kantor polisi dimana Sona dan orang-orangnya berada.
Sedangkan di mobil Andrian, Jasmine sedang menahan perih di lengan atasnya yang sepertinya terluka akibat dorongan dari Minto saat akan tertembak tadi.
Jasmine memang kaget saat di dorong tiba-tiba oleh Minto tadi, tapi matanya yang memang jeli bisa menangkap siluet ujung pistol yang memang tidak jauh dari tempat mereka berkelahi tadi.
Tapi rasa kaget gadis itu hilang saat mendengar panggilan dari Andrian yang juga mengguncang tubuhnya. Dari situlah Jasmine mencoba untuk terlihat baik-baik saja karena tidak ingin semakin membuat Andrian cemas.
Andrian yang tidak tahu luka di lengan atas Jasmine dengan santainya meraih tubuh gadis itu untuk dia peluk. Tapi seketika Andrian kaget mendengar pekikan Jasmine.
AAKHHH