NovelToon NovelToon
Takdir Didunia Sihir

Takdir Didunia Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:584
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.

Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 – MISI SELANJUTNYA

Segala bahaya telah berlalu, dan kini Guru Ryuusen bersedia membimbing Haruto secara mendalam, mengajarkan hakikat sejati sihir air yang tak diajarkan siapa pun sebelumnya. Hati Haruto terasa tenang dan penuh keyakinan, bekal kekuatan batin tumbuh bersama kemampuan sihirnya.

Hari itu ia melangkah masuk ke Guild Petualang Kota Lumin. Udara di ruangan yang biasanya bising penuh pertengkaran kecil dan gelisah, seketika terasa berbeda saat Haruto melangkah masuk. Aura yang memancar darinya bukan lagi aura pemuda pemalu yang sering gagal mengeluarkan sihir—melainkan ketenangan yang dalam, lembut namun kokoh persis seperti aliran sungai besar yang tak tergoyahkan.

Para petualang berhenti berbicara satu per satu, menoleh dan memandang kagum. Mereka merasakan perbedaan yang nyata: tatapan mata jernih, langkah tegap namun santai, wajah bersinar segar tanpa jejak keraguan. Bahkan tim Akira yang dulu sempat meremehkan atau ragu, kini hanya diam mengangguk hormat.

Akira berjalan mendekat perlahan, menatapnya lekat-lekat sambil tersenyum takjub.

"Kau nampak jauh lebih berbeda sejak terakhir kita bertemu ya, Haruto..." ucap Akira pelan namun tulus. "Seolah-olah kau telah menemukan bagian terpenting dari dirimu sendiri."

Haruto langsung menggaruk belakang kepalanya dengan canggung, wajah sedikit memerah malu—sifat konyol dan polosnya tak hilang meski kini sudah makin hebat.

"Haha... mungkin hanya karena aku sudah cukup tidur dan kenyang makan roti enak belakangan ini saja!" jawabnya riang, lalu menunjuk Pochi yang melompat-lompat di bahunya sambil berseru "Pyoo! Pyoo!" seolah setuju. "Atau... mungkin Pochi yang mencuri sisa kelelahanku setiap malam, hehehe!"

Tawa kecil pecah di sekitar mereka, mencairkan kekaguman hening menjadi kehangatan persahabatan. Akira tertawa lebar sambil menepuk bahunya pelan.

"Masih saja lucu dan sederhana... justru itulah yang membuatmu istimewa," ujar Akira. "Tetaplah begini, Haruto. Ketenangan hati adalah kekuatan terbesar yang dimiliki seorang pejuang sejati."

Haruto tersenyum lebar, lalu berbalik menuju papan pengumuman misi besar yang baru saja dipasang. Di sana tertulis tugas yang menantang namun penting—melindungi desa tepi hutan dari gangguan makhluk air yang mulai mengamuk karena pengaruh gelap yang menyebar diam-diam.

Ia mengepalkan tangan penuh semangat, matanya berkilau mantap.

"Aku ambil misi ini!" serunya lantang. "Aku akan melindungi semua orang, dan membuktikan bahwa air ada untuk memberi kedamaian!"

Pochi melompat tinggi ke udara, memancarkan cahaya biru lembut sebagai tanda setia mendampingi.

****************

Haruto tersenyum lebar sambil menunjuk baris misi yang tertulis dengan huruf tebal di papan pengumuman.

"Ini! Aku mengambil misi ini!" serunya penuh semangat sambil menunjuk kertas gulungan itu.

Pegawai pendaftar yang berdiri di balik meja itu menatapnya sekilas, lalu melirik kartu perunggu di tangan Haruto. Wajahnya tampak ragu sejenak sebelum ia menggeleng pelan.

"Maaf, tapi misi itu diperuntukkan bagi petualang peringkat C hingga D," ujar pegawai itu lembut namun tegas. "Kau kan masih peringkat F."

Haruto tertegun sejenak, mulutnya sedikit terbuka. Ia menatap kartu perunggu di tangannya, lalu kembali menatap lembar misi itu.

"Hah... begitu ya?" gumamnya pelan, lalu kembali menggaruk kepalanya dengan canggung sambil tersenyum malu. "Aduh... maaf! Aku lupa ternyata peringkatku masih di bawah!"

Suara tawa kecil terdengar dari arah meja sebelah. Akira yang masih berdiri di dekatnya ikut tersenyum geli melihat tingkah Haruto yang tetap saja polos meski auranya kini begitu menenangkan.

Pochi yang melompat di bahu Haruto seolah ikut mengerti, lalu memantul ke meja pendaftaran sambil berseru riang.

"Pyoo!"

Pegawai itu tertegun sejenak melihat slime biru kecil yang menatapnya dengan mata bulat bersinar itu. Haruto segera memungut Pochi kembali ke pelukannya sambil tersenyum meminta maaf.

"Maaf, dia tidak bermaksud mengganggu. Jadi... misi apa yang cocok untuk peringkat F?"

Pegawai itu tersenyum kembali, lalu mengambil selembar kertas dari tumpukan misi di sampingnya.

"Misi pemula biasanya seperti mengumpulkan bahan tumbuhan hutan, membersihkan jalan dari rimbunan semak berduri, atau mengantar barang ke desa terdekat. Tidak terlalu berbahaya, namun tetap berguna bagi warga."

Haruto menerima lembaran itu dengan senyum tetap lebar. Ia tidak kecewa sedikit pun.

"Baiklah! Aku ambil yang ini saja!" ucapnya semangat kembali menyala. "Pelan-pelan saja dulu. Yang penting aku bisa membantu siapa pun yang membutuhkan!"

Akira yang mendengar itu mendekat kembali sambil tersenyum kagum.

"Pola pikirmu memang luar biasa, Haruto. Tidak sombong meski kekuatanmu telah berkembang pesat. Itu justru tanda bahwa kau akan menjadi petualang hebat sejati."

Haruto hanya tersenyum sambil memeluk Pochi erat.

"Aku hanya berpikir... setiap langkah kecil pun adalah langkah maju. Bukan begitu?"

Pegawai pendaftar itu pun tersenyum tulus sambil mencatat nama Haruto di buku pendaftaran misi.

****************

Pegawai pendaftar itu tersenyum tulus sambil ujung pena bulu itu menyentuh permukaan kertas, mencatat nama Haruto dengan tulisan rapi. Namun sebelum tinta sempat kering, pintu besar guild terbuka lebar, angin sepoi-sepoi menyapu masuk, diikuti langkah kaki yang berat namun penuh wibawa. Semua mata seketika beralih ke arah itu.

Di ambang pintu berdiri Mizuna dan Daichi. Keduanya masih mengenakan pakaian perjalanan, namun luka-luka yang dulu sempat mengganggu tubuh mereka kini sudah tertutup rapat dengan perban bersih, wajah mereka tampak segar dan tenang. Mizuna yang dijuluki Dewi Air itu berjalan masuk dengan anggun, setiap langkah seolah berirama bersama aliran udara di ruangan itu. Di belakangnya, Daichi tersenyum ramah sambil melambaikan tangan kepada para petualang yang mengenalnya.

Haruto melambaikan tangan riang.

"Mizuna! Daichi! Di sini!"

Mereka berdua menghampiri meja pendaftaran. Mizuna menatap kartu perunggu di tangan Haruto, lalu menatap lembar misi yang baru saja diambilnya.

"Misi pengumpulan rempah obat di pinggir hutan?" tanyanya pelan namun terdengar jelas di ruangan yang hening itu.

"Ya! Katanya itu yang pas untuk peringkat F," jawab Haruto santai. "Tidak apa-apa, setidaknya aku bisa berguna. Lagipula, siapa tahu di sepanjang jalan aku bisa berlatih lebih banyak hal."

Daichi tertawa kecil sambil menepuk bahunya.

"Kau memang tidak pernah berubah. Padahal baru saja kau melewati ujian yang nyaris merenggut nyawa banyak orang."

Mizuna menoleh ke arah pegawai pendaftar yang masih berdiri terpaku di balik meja, tak berani bergerak karena di hadapannya berdiri penyihir air terkuat di kota itu.

"Permisi," ucap Mizuna dengan suara lembut namun berwibawa. "Saya mengetahui ada peraturan yang jarang dipakai, yaitu rekomendasi langsung dari peringkat tinggi untuk mengikuti misi di atas tingkatan asalkan ada pendamping yang bertanggung jawab."

Pegawai itu mengangguk cepat.

"Benar... Benar sekali, Nona Mizuna. Peraturan itu memang ada, namun sangat jarang digunakan karena berisiko."

"Saya dan Daichi bersedia menjadi penanggung jawabnya," ucap Mizuna tegas sambil melirik lembar misi yang tadi ditolak Haruto. "Misi perlindungan desa tepi hutan itu—biarkan Haruto ikut serta. Bukan sebagai pemimpin tim, melainkan sebagai anggota yang akan belajar sekaligus mengamalkan ilmunya."

Ruangan itu seketika sunyi senyap. Mizuna, sang Dewi Air, dan Daichi, petualang peringkat A yang dihormati, bersedia mendampingi pemuda peringkat F dalam satu misi? Bagi siapa pun yang mendengarnya, itu sungguh hal yang tak masuk akal.

Namun Mizuna tidak menuntut pujian atau keraguan. Ia hanya menatap pegawai itu dengan tenang.

"Kami menjamin keselamatan serta perilakunya. Jika terjadi apa-apa, tanggung jawab sepenuhnya ada pada kami."

Pegawai itu menelan ludah, lalu mengangguk mantap.

"Ba... Baik! Dengan rekomendasi dan pendampingan kalian, peraturan itu sah berlaku. Haruto boleh ikut serta dalam misi tersebut meski peringkatnya masih F."

Ia segera mengambil kembali lembar misi yang tadi diletakkan Haruto, lalu mencoret catatan lama dan menulis ulang nama Haruto di daftar peserta. Tangan pegawai itu sedikit gemetar karena baru pertama kali ia menangani kasus seperti ini.

Haruto melongo tak percaya.

"Mizuna... Daichi... Kalian benar-benar mau ikut serta hanya untuk menemaniku?"

Daichi tersenyum lebar.

"Bukan sekadar menemanimu, Haruto. Kami juga ingin melihat sejauh mana kemampuan yang kau miliki berkembang saat diuji langsung di lapangan. Lagipula, melindungi desa itu juga bagian dari tugas kami."

Mizuna menatapnya lekat-lekat.

"Guru Ryuusen berpesan: kekuatan sejati tidak tumbuh di ruang tertutup, melainkan di tengah kehidupan nyata, di mana orang-orang biasa membutuhkan pertolongan. Misi ini adalah langkah pertama bagimu untuk menjadi penyihir yang tidak hanya kuat, tetapi juga bijaksana."

Hati Haruto terasa hangat sekali. Ia mengepalkan kedua tangannya di dada, matanya berbinar bersinar penuh semangat yang tak bisa dipadamkan siapa pun.

"Terima kasih! Terima kasih banyak, Mizuna! Daichi! Aku berjanji tidak akan mengecewakan kalian!"

Pochi seolah ikut merasakan kebahagiaan itu, melompat tinggi ke udara hingga menyentuh langit-langit ruangan, lalu turun perlahan dikelilingi butiran air kecil yang berkilauan seperti permata.

"Pyoo! Pyoo!"

Para petualang yang menyaksikan pemandangan itu kembali berdecak kagum. Bukan karena sihir yang menakutkan, melainkan karena kehangatan yang terpancar dari kelompok kecil itu. Di tengah dunia yang penuh pertikaian dan ketakutan akan kekuatan gelap, ada sekelompok orang yang justru memakai kekuatan mereka untuk membantu orang lain tanpa pamrih, tanpa memandang peringkat.

Akira berjalan mendekat sambil tersenyum tulus.

"Beruntung sekali kau, Haruto. Memiliki teman yang begitu hebat sekaligus tulus di sisimu. Hati-hati di perjalanan. Semoga Cahaya melindungi kalian semua."

"Terima kasih, Akira!" jawab Haruto riang. "Nanti kalau sudah selesai misi, aku ceritakan semuanya padamu!"

Mereka pun bersiap berangkat. Mizuna mengambil gulungan misi itu dari tangan pegawai, membacanya sekilas untuk memastikan detail lokasi dan ancaman yang dihadapi. Daichi memeriksa perbekalan di tasnya, memastikan tidak ada yang tertinggal. Sementara Haruto... Haruto sibuk memberi Pochi sepotong roti kecil agar temannya itu tetap bertenaga sepanjang jalan.

Saat mereka melangkah keluar dari pintu guild, matahari pagi menyambut mereka dengan cahaya keemasan yang hangat, menyinari seluruh Kota Lumin. Angin berhembus lembut, menggoyangkan ujung rambut Haruto. Ia berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam, merasakan aliran mana di dalam tubuhnya menyatu dengan udara di sekelilingnya—seperti yang diajarkan Guru Ryuusen kepadanya.

Tidak ada rasa takut. Tidak ada keraguan. Hanya ketenangan dan keyakinan.

"Kau siap?" tanya Mizuna pelan.

Haruto tersenyum lebar, menatap jalanan yang membentang luas ke arah hutan.

"Siap! Ayo kita berangkat!"

Pochi bersorak di bahunya. Daichi tertawa sambil melangkah lebih dulu. Mizuna tersenyum tipis melihat pemuda yang tumbuh begitu cepat di hadapan matanya.

Misi itu mungkin hanya misi tingkat menengah bagi kebanyakan petualang berpengalaman, namun bagi Haruto Kazehara, itu adalah langkah pertama dari perjalanan panjang yang akan mengubah takdir bukan hanya dirinya, melainkan seluruh dunia. Di mana pun aliran air mengalir, di sana akan ada ketenangan yang ia bawa.

Mereka pun melangkah berempat menuju cakrawala yang cerah, tak mengetahui bahwa di kejauhan, bayangan gelap mulai bergerak merayap perlahan, menyebarkan ketakutan di tempat-tempat yang tak terduga. Namun untuk saat ini, di bawah langit biru yang damai, langkah mereka penuh harapan dan cahaya.

Karena seorang petualang sejati tidak dinilai dari peringkat yang tertulis di kartunya, melainkan dari niat di hatinya dan cara ia memperlakukan dunia di sekelilingnya. Dan Haruto—meski masih peringkat F—sudah memiliki hati yang jauh lebih berharga daripada emas atau peringkat apa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!