NovelToon NovelToon
My Sexy Old Man

My Sexy Old Man

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Biran ASMR

Miranda adalah seorang jurnalis wanita berusia 29 tahun di sebuah majalah sport di Toronto, Kanada. Impian sebagai seorang penulis buku dia hentikan setelah bertemu Jeff, kekasihnya. Selama dua tahun mereka tinggal bersama, Jeff dengan teganya berselingkuh dan membuat Miranda jatuh di titik terendah hidupnya.

Di saat kegalauan itu datang, Miranda diperintahkan atasannya untuk kembali menulis buku. Sebuah buku biografi dari mantan atlet nasional rugby yang kini menjadi seorang pelatih terkenal bernama Rick. Pria berusia 51 tahun yang baru kehilangan istri yang dicintainya karena kanker.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biran ASMR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Rick memarkirkan mobilnya di depan pintu  garasi, begitupun dengan Nat. Saat keluar dari mobilnya, Rick terheran-heran dengan sebuah mobil yang tak dikenalinya, terparkir di jalanan depan rumahnya. Tanpa berpikir lama, Rick pun masuk ke dala ruahnya bersama Nat dan keduanya terhenyak saat melihat Miranda sedang duduk bersama dua orang wanita di sofa tamunya.

Nat menyadari kedua wanita itu adalah Cindy dan yang satunya lagi sudah pasti adalah Lily, meski Nat belum pernah bertemu dengannya.

“Oh, ****!” gumam Nat yang dapat terdengar oleh Rick yang masih berdiri mematung di sampingnya.

Miranda mel;ihat kedatangan suaminya bersama Nat. Dia masih tak percaya dengan apa yang dijelaskan Lily sedari tadi. Mendengar bahwa Rick pernah selingkuh dari istrinya terdahulu merupakan hal yang sulit dipercaya,

mengingat dari segala pemberitaan Rick adalah suami yang sangat setia pada Rachel meski tidak dikaruniai seorang anak.

Lily menoleh dan tersenyum pada Rick. Rick terlihat masih sama dengan ingatannya. Tampan dan berkharisma meski rambutnya sudah memutih. “Hai, Rick. Kau masih ingat aku?”

Cindy menoleh pada Rick dengan tatapan tak enak hati, mengisyaratkan bahwa bukan dia yang membawa ibunya ke tempat ini.

Rick mulai mendekat dan berdiri di samping Miranda.

“Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Rick pada Lily.

Rick tentu masih mengingat Lily. Wajahnya masih sama seperti dulu, meski sudah muncul keriput-keriput halus di area leher dan sudut matanya. Bertemu Lily adalah sebuah kesalahan di masa lalu, dan dia sangat tidak senang atas kedatangannya di kehidupannya saat ini bersama Miranda.

“Oh Rick, aku sangat kecewa padamu. Kenapa kau tidak membawa anakmu ke rumah ini? Kenapa kau membiarkannya tinggal di losmen sempit dan jelek, meski kau sudah tau bahwa dia anakmu?”

“Hey, sorry. Dia belum jelas anak biologis Rick, jadi jangan dulu terlalu cepat menyimpulkan,” Nat menginterupsi.

“Hey, apa maksudmu? Siapa kau? Jangan ikut campur dalam urusan ini!” seru Lily, jelas tak senang dengan apa yang diucapkan Nat.

Cindy pun seolah tersadar dengan apa yang diucapkan Nat. Bisa jadi dia bukan benar-benar anak dari Rick, seperti yang dia ketahui selama ini. Tapi dia terlalu yakin bahwa Rick adalah ayahnya.

Miranda menatap Cindy, kemudian menatap Rick. Hatinya seperti tersayat memikirkan masa lalu. Meski hal itu merupakan masa lalu, tapi Miranda cukup terpengaruhi dengan hal yang menimpanya saat ini. Apakah dia harus menerima bahwa ternyata dulu suaminya adalah pengkhianat, yang mana hal itulah yang sangat Miranda benci.

“Jika memang benar dia adalah anakku, kenapa kau tidak datang sedari dulu?” ucap Rick pada Lily.

“Dengan kepindahanmu ke Toronto, dan tak ada nomor ponsel yang dapat kuhubungi, kau sudah benar-benar menghapusku dari hidupmu demi istrimu,” kata Lily kemudian menatap Miranda. “Istrimu yang dulu,” tambahnya.

Miranda masih berusaha untuk tak bersuara dan tetap menahan segala luapan emosinya. Nat menyadari bahwa Miranda perlu waktu untuk bicara dengan Rick.

“Kami sudah mengirimkan sampel DNA Cindy ke rumah sakit dan hasilnya besok. Jika memang benar Cindy adalah anak biologis Rick, maka kami jamin Cindy akan hidup dengan layak. Jika ternyata bukan, maka kami akan menuntutmu ke jalur hukum!” ujar Nat pada Lilly dengan sungguh-sungguh.

Lily menatap tajam pada Cindy, terlihat tidak senang dengan tes DNA itu. Di satu sisi dia pun merasa terancam dengan perkataan Nat yang akan membawanya ke jalur hukum jika Cindy bukan anak biologis Rick.

“Baiklah, kita lihat hasilnya besok!” akhir Lily kemudian menyeret Cindy keluar dari rumah itu.

Cindy sempat menoleh pada Rick dan Miranda. “I’m so sorry!”

Lily dan Cindy pun pergi. Nat pun mundur teratur dan rencana makan malam mereka gagal.

Grrrngg…

Lily menyalakan mesin mobilnya. Dia menatap Cindy dengan marah.

“Apa kau yang menyerahkan sampel DNAmu pada wanita itu?” tanya Lily.

Cindy menggeleng. “Tidak.”

“Lalu dari mana dia bisa melakukan tes DNA?”

“Aku tidak tahu.”

Jauh dalam lubuk hatinya, Cindy merasakan bahwa mungkin saja dia bukanlah anak dari Rick seperti yang dikatakan ibunya selama ini. Mungkin saja ibunya membohonginya, atau karena saking banyaknya lelaki yang tidur

dengan ibunya maka ibunya tidak tahu anak siapa yang dikandungnya.

Lily mulai menjalankan mobilnya setelah Nat menatapnya dengan tajam dari pintu rumah Rick.

***

Rick memegang pundak Miranda. “Honey, I’m so sorry.”

Miranda membalas tatapan Rick dan akhirnya dia tak dapat menampung air matanya lagi. “Sejak kapan Cindy datang padamu? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku!”

Rick benar-benar menyesal karena tidak menceritakan perilah Cindy sejak awal. Dia terlalu takut dengan berbagai kemungkinan. Namun ternyata dengan Rick tidak menceritakannya sejak awal, malah membuat Miranda kecewa.

“Apa benar dulu kau mengkhianati Rachel?” tanya Miranda lagi.

Rick tak bisa menyanggah pertanyaan itu, tapi juga tak sanggup mengatakan iya.

“Apa aku menikahi seorang pengkhianat?!”

Rick menunduk. Miranda berhak marah atas apa yang terjadi. Dia memang seorang pengkhianat, dulu.

Miranda lelah untuk terus berargumen. Dia pun pergi menuju kamarnya kemudian mengunci pintu kamarnya dari dalam. Malam ini dia sangat tidak ingin disentuh oleh suaminya sendiri. Dia butuh waktu untuk memikirkan

segalanya. Memikirkan apakah dia akan menerima masa lalu Rick dan meneruskan pernikahannya, ataukah menyerah dan membiarkan Rick kembali pada Lily dan anak mereka. Rick harus bertanggung jawab dengan apa yang telah dia tinggalkan selama 18 tahun.

***

Rick benar-benar tak bisa tidur di kamar tamu yang dingin itu. Dia ingin tidur bersama Miranda, memeluknya hingga terpejam. Rick keluar dari kamar tamu kemudian berjalan menuju kamar utama. Dia berusaha memutar gagang pintu dan masih terkunci.

Rick menempelkan dahinya ke pintu. Menutup matanya dan mulai berbicara dari lubuk hatinya yang paling dalam. “Honey, maafkan aku. Aku tidak ingin kehilanganmu, makanya aku tidak berterus terang sejak awal. Masa laluku memang tak pantas dimaafkan. Aku memang pernah mengkhianati Rachel dan aku sangat menyesali itu. Denganmu, aku sama sekali tidak pernah terpikirkan untuk mengkhianatimu. Tidak bisa. Kau sudah memenuhi semuanya. Tak akan ada yang bisa membuatku berpaling darimu. Aku mencintaimu dengan segenap hatiku.”

Miranda mendengar itu semua dari balik pintu. Air matanya terurai mendengarnya, tapi dia tidak ingin membuka pintu kamarnya. Dia masih butuh waktu untuk memproses semuanya.

Keesokan harinya, Rick terbangun dari sofa. Dia akhirnya tidur di sofa semalaman. Dia pun bangkit dan berusaha kembali menuju pintu kamarnya. Kali ini dia berharap Miranda sudah memaafkannya.

Jglek!

Pintu kamar terbuka, membuat Rick mulai lega. Namun pada saat dia masuk ke dalam kamar, dia tidak melihat Miranda di ruangan itu. Dia pun kemudian berjalan menuju kamar mandi dan di sana pun Miranda tidak ada. Dia

kemudian teringat untuk mengecek sesuatu, yaitu lemari pakaian. Nafasnya tercekal saat dia melihat hampir setengahnya baju-baju Miranda sudah tidak berada di tempatnya dan ada koper yang hilang. Rick mulai panik mendapati Miranda meninggalkannya.

“No! No!” Rick menggeleng.

Dia duduk di tepian tempat tidur dengan kepalan tangannya. Dia merasa marah dengan kebodohan dirinya. Kenapa  dia tidak menyadari Miranda pergi saat dia tidur di sofa?! Hal itu lebih menjengkelkan dari segalanya.

Drrtt Drrrtt

Nat berusaha meraih ponselnya yang bergetar di samping tempat tidurnya. Nat masih berusaha membuka matanya. Masih terlalu pagi baginya untuk bangun dan memulai hari.

“Hoaaammm ya?” ucap Nat membalas panggilan telepon.

“Nat bagaimana dengan hasil tes DNA?!” tanya Rick dengan penuh tekanan.

“Damn Rick! Ini masih pagi! Nanti aku akan mendapatkannya di email yang akan dikirimkan pihak rumah sakit,” jawab Nat.

“Aku harus cepat menyelesaikan ini semua! Miranda pergi!”

“Hah? Apa?”

“Ya! Aku tidak bisa menghubunginya dan pakaiannya tidak ada di tempatnya!”

“Kau sudah menghubungi polisi?”

“Aku tidak bisa menghubungi polisi karena belum dua puluh empat jam. Lagi pula, polisi mana yang akan membantu seorang suami mencarikan istri yang hilang karena kesalahannya sendiri!”

“Oh ya, kau benar. Kau tenangkan dulu pikiranmu, lalu aku akan menghubungimu segera setelah aku mendapatkan email dari rumah sakit.”

Rick mematikan ponselnya dengan kesal. Dia menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Pantulan suami yang berantakan karena ditinggal istrinya. Dia membuka laci wastafel untuk mencari pencukur kumis dan janggut. Namun pandangannya tertuju pada sebuat benda yang terlihat seperti thermometer. Alat itu tentunya bukan thermometer melainkan alat tes kehamilan.

Rick mengambilnya dan memperhatikan alat itu dengan baik. Matanya terbelalak saat melihat dua garis biru yang tertera di alat itu. Dia jelas memahami hal itu. Alat tes kehamilan sangat familiar bagi Rick. Dulu Rachel selalu mendapatkan satu garis, namun Miranda mendapatkan dua garis, yang artinya Miranda kini tengah mengandung buah cintanya. Sudah jelas itu milik

Miranda, milik siapa lagi?!

Rick ingin meluapkan kebahagiaanya, tapi bingung. Mengingat Miranda yang seharusnya berada di sampingnya, kini malah menghilang.

“FAAAKKKK!!”

 ***

Saat ini Rick, Nat, Lily dan Cindy sedang berada di sebuah kantor pengacara Rick. Semua orang terlihat tegang dengan hasil tes DNA. Nat meminta pihak rumah sakit untuk tidak memberikan hasilnya melalui email. Nat meminta pihak rumah sakit mengirimkan hasilnya melalui pos dan dibuka oleh pengacara yang ditunjuk Rick agar hasilnya dipercaya oleh semua pihak.

Pengacara yang bernama Harry itu pun mulai membuka lembar surat berkop surat Rumah Sakit Toronto. Dia pun mulai membacakan hasilnya.

“Well, dapat disimpulkan bahwa Cindy bukanlah putri biologis dari Tuan Rick,” simpul Harry.

“Oh thank God!” sahut Nat.

Rick menatap Lily dengan tatapan kecewa, karena dia sudah memanipulasi putrinya sendiri dan kini rumah tangganya terguncang karena itu semua. Cindy menunduk kecewa, atas hasilnya. Ternyata memang benar dia terlahir dari ibu yang bukan wanita baik-baik.

“Maka dari itu, apa kau siap dengan tuntutan hukum…” ucap Nat yang dihentikan oleh Rick.

Rick menatap Cindy dan Lily. “Cindy, aku tidak marah padamu karena kau datang padaku dan menganggapku sebagai ayahmu. Aku akan tetap membantumu secara finansial sampai kau lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Lily, aku harap kita tidak bertemu lagi.”

“Kau tidak mau menuntutnya secara hukum?” tanya Nat pada Rick.

Rick menggeleng. “Aku tidak mau memperpanjang urusan ini.”

Rick menatap Harry dan melimpahkan urusan dukungan finansial Cindy padanya. Setelah urusannya mengenai Cindy selesai, Rick pun segera keluar dari kantor hukum itu kemudian memacu mobilnya menuju tempat yang mungkin saja Miranda ada di sana.

Tempat pertama adalah apartemen Miranda yang diasewakan setelah menikah. Mungkin saja Miranda ada di sana.

Ting Tong

Pintu terbuka dan terlihat pasangan muda yang menyewa apartemen itu membuka pintu. Sudah dipastikan tidak ada Miranda di sana. Rick pun kemari memacu mobilnya menuju rumah sahabat Miranda sewaktu Miranda masih

bekerja.

Ting Tong

Clara membuka pintu rumahnya dan melihat Rick ada di sana. Clara heran dengan kedatangan Rick tanpa Miranda ke rumahnya seperti itu.

“Hai Rick! Mana Miranda? Kenapa kau datang sendiri?” tanya Clara.

Dengan kalimat seperti itu, sudah dapat dipastikan bahwa Miranda tak ada di sana.

Bruk!

Rick memukul stir mobilnya. “Shit!”

Dia benar-benar tidak tahu kemana istrinya pergi. Dia pun berusaha menghubungi ponsel Miranda, tapi masih saja tidak terhubung. Dengan perasaan kesal dan hampir hilang harapan, Rick pun kembali menjalankan mobilnya

dan pergi ke suatu tempat.

“RIIICCCKKK!!!! AKU MEMBENCIMU!!! SHIIITTT!!! TAPI AKU MENCINTAIMU!!!” teriak Miranda dari bibir jembatan.

Meluapkannya dengan berteriak adalah terapi andalan bagi Miranda apabila dia merasa gundah. Dia sudah mulai dapat menerima masa lalu Rick. Begitu pun bersiap menjadi seorang ibu tiri bagi Cindy. Rasa cintanya pada Rick lebih besar dari rasa marah dan kecewanya. Ditambah dia memiliki tanggung jawab yang lebih besar terhadap janin yang kini tengah dikandungnya. Akan sangat tidak adil bagi anaknya kelak jika dia memilih meninggalkan Rick

demi amarahnya.

Rick hampir tertawa mendengar kalimat yang diteriakkan oleh Miranda. Ya, dia sudah ada di sana saat Miranda mulai naik ke batas jembatan. Seperti di awal jumpa, Rick selalu menganggap Miranda hendak terjun dari jembatan. Tapi yang dilakukan Miranda hanyalah berteriak dan meluapkan emosinya.

“MIRANDAAAAA!!!!! AKU MENCINTAIMUUU MELEBIHI APAPUN DI DUNIA INIIII!!!” teriak Rick.

Mendengar namanya disebut, sontak Miranda menoleh ke arah suara. Dia melihat Rick berada beberapa meter dari tempatnya berdiri.

“Rick?”

Rick pun mendekat dengan tersenyum lega, karena menemukan istrinya.

“Dari mana kau tahu aku ada di sini?” tanya Miranda saat Rick sudah berada tepat di hadapannya.

“Aku selalu tahu dimana pun kau berada,” jawab Rick. Padahal dia baru saja menyadari tempat ini beberapa menit yang lalu. “Fak, kenapa aku baru ingat tempat ini?!” umpat Rick dalam hati.

“Sekali lagi, aku ingin minta maaf padamu karena tidak berterus terang padamu. Aku minta maaf atas masa laluku yang tidak pantas untukmu. Aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu dan anak kita,” tambah Rick.

Miranda kembali teringat dengan kata-kata manis Rick di balik pintu tadi malam. Air matanya kembali mengalir. “Kau tahu aku sedang mengandung?”

Rick mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca. “Aku melihat alat tes kehamilan di laci kamar mandi. Sebuah kejutan yang membahagiakan,”

Miranda terkekeh mendengarnya. Ya, seharusnya itu merupakan sebuah kejutan yang indah. Tapi dia terlalu sibuk dengan urusan emosinya ketimbang memberikan kejutan.

Rick memeluk istrinya dan Miranda pun membalasnya dengan haru dan bahagia.

“Aku butuh waktu untuk menerima masa lalumu, makanya aku pergi,” ucap Miranda masih dalam pelukan Rick.

“Lalu, apa kau masih butuh waktu untuk itu?”

Miranda menggeleng. “Aku menerima masa lalumu, sepahit apapun itu tidak akan mengubah rumah tangga kita.”

Rick semakin mengeratkan pelukannya. Dia sudah menikahi wanita yang tepat. Wanita berhati malaikat, sama seperti Rachel.

“Aku sudah siap menjadi ibu tiri bagi Cindy,” tambah Miranda.

Rick terkekeh mendengarnya. “Hahaha…”

Miranda mendongak, tak terima. “Kenapa? Kau meledekku?”

Rick menatap wajah Miranda. “Hasil tes DNA sudah keluar, Cindy bukan anak biologisku.”

Miranda kembali memeluk suaminya. ”Shit, padahal aku sudah merasa keren tadi!” umpat Miranda dalam hati.

Rick lalu membawa Miranda menuju mobilnya. “Ayo kita pulang!”

“Jangan lupakan koperku!”

“Kau mau pergi kemana sampai repot-repot bawa koper?”

“Kemana saja yang penting jauh darimu!”

“Hahaha…”

Kedua pasangan beda usia jauh itu terus saja mengoceh dalam perjalanan.

***

1
pelangijingga
happy endding.
Yunice Janis
Luar biasa
Dewi Mardiana
romantis
Ida Darwati
kelihatan jenifer pelakor
Ida Darwati
saya suka cerita nya,, gada lanjutan kah
AJAM ZAM ROMDON (Apa Ajam)
wuwh !!! lanjuuut thor
AJAM ZAM ROMDON (Apa Ajam)
Luar biasa
AJAM ZAM ROMDON (Apa Ajam)
emang
Mur Wati
Karena lu gak sadar kalo Jeff hanya ingin tubuhmu jen bukan hati atau cinta mu ..kapok
Mur Wati
jeruk nipis peras alias Jenifer gak ada habisnya ya jahat terus 😡
Mur Wati
gaun pengantin nya bagus bgt
Mur Wati
iya lah murahan pantasnya hanya untuk selingan aja ..sokoor😡
Dede Derlis
Luar biasa
yella xarim
love this story so much.. tq thor
rika okhta
Luar biasa
rika okhta
Lumayan
Miftahun Nikmah
ok
Arhieva Jimshoneysruwen
untuk visualnya aku membayangkan sendiri Thor 🤭🤭
Dapurita Surabaya
bagus , beda dari yg lain 💓
Lilik Rudiati
keren novelnya singkat padat dan jelas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!