NovelToon NovelToon
Forgiveness

Forgiveness

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Perjodohan / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:975.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: JasmineTea

Selama tujuh tahun Khiana bersama anaknya hidup sebagai seorang pelarian dikarenakan sebuah tragedi di masa lalu.

Walaupun perasaannya hancur karena tragedi itu, tetapi ternyata dirinya masih belum bisa melupakan Kiral.

Selama tujuh tahun Kiral hidup dalam rasa bersalah dan penyesalan dikarenakan kesalahannya di masa lalu.

Walaupun ia tahu bahwa ia telah menghancurkan kepercayaan Khiana terhadapnya, tetapi sebenarnya ia menyimpan sebuah kebenaran yang tidak bisa ia katakan kepada siapapun saat tragedi itu terjadi.

Tujuh tahun berlalu. Keduanya masih sama-sama tersiksa dengan keadaan.

Tujuh tahun berlalu. Rindu keduanya semakin besar.

Tujuh tahun berlalu. Garis takdir mulai menuliskan pertemuan baru bagi mereka berdua.

Bagaimanakah takdir akan mempersatukan mereka kembali?

- update setiap Jum'at malam -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JasmineTea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep. 34 - Malaikat

Aku duduk di atas trotoar. Kakiku lemas. Pikiranku kosong. Badanku bergetar, takut.

Bagaimana ini? apa yang harus kulakukan? Haruskah aku kembali ke stasiun dan mencari pertolongan di sana? atau berjalan terus dan mencari rumah Kak Raline? Rumahnya memang sudah dekat tapi aku kan tidak tahu persis dimana tepatnya.

Aaaaaaa bagaimana ini?!

Panik. Tiba-tiba pandanganku jadi kabur. Lalu, saat itu sebuah suara yang terdengar lembut menyapaku dari belakang.

"Maaf kamu gapapa?" Seseorang menyentuh pundakku dari belakang.

Aku berbalik menatapnya.

Cantik.

Itulah kata pertama yang muncul di kepalaku saat melihat wajahnya.

Wajahnya khas orang asia. Matanya sedikit sipit. Kulitnya putih bersih. Rambutnya pendek sebahu dan terlihat sangat lembut. Bibirnya merah merekah. Ada beberapa tahi lalat di wajahnya yang menambahkan kesan manis. Untuk beberapa detik kukira aku sedang melihat malaikat.

"Kamu gapapa?" Ulangnya.

Saat itulah aku kembali tersadar akan kondisiku. Kuusap setetes air mata yang entah sejak kapan menggenang di pelupuk mata.

"Aku.. aku baru saja di jambret." Ucapku pelan.

Wanita cantik itu membantuku bangkit. Setelah aku berdiri dia bahkan membersihkan debu yang menempel di baju dan celanaku karena duduk di trotoar.

"Apa rumahmu ada di dekat sini?" Tanyanya.

Aku menggeleng.

"Tidak. Tapi rumah Kakakku ada di dekat sini. Masalahnya aku tidak tahu yang mana rumahnya."

"Kamu tahu nomor telepon Kakakmu?" Tanyanya lagi dan untuk kedua kalinya aku menggeleng.

Satu-satunya nomor telepon yang kuingat hanyalah nomor teleponku sendiri.

Wanita itu memandang sekitar dan seperti menimbang-nimbang sesuatu.

"Hmm.. bagaimana ya? Ah! pertama-tama kita lapor polisi dulu." Dia segera mengeluarkan ponselnya dan memencet beberapa tombol. Lalu berbicara dengan seseorang di ujung telepon.

"Halo.. iya.. ada perempuan yang baru saja dijambret.. kami sedang ada di jalan XX.. ya.. betul.. tidak, tidak ada.." Wanita itu menyerahkan ponselnya padaku.

"Mereka ingin tahu nomor teleponmu untuk dilacak." Bisik wanita itu.

Aku segera mengambil ponselnya dan berbicara dengan polisi. Setelah menyebutkan nomor teleponku dan juga menjawab beberapa pertanyaan akhirnya teleponnya di tutup.

"Apa katanya?" Tanya wanita itu.

"Mereka bilang akan segera mengecek cctv di daerah sini dan juga melacak ponselku. Mereka juga bilang akan segera datang ke sini."

"Ah.. syukurlah. Kalau begitu untuk sekarang kita duduk dulu di sana yuk." Dia menunjuk sebuah bangku di pinggir jalan.

Aku menurut.

"Apa kamu benar-benar tidak ingat alamat rumah Kakakmu?" Tanyanya lagi begitu kami berdua duduk.

Aku menggeleng.

"Tidak. Tadi aku sempat membacanya sekilas di kereta tapi aku lupa y

ang kuingat hanya nama jalannya. Jalan XXX."

"Jalan XXX? Kalau jalan itu tidak terlalu jauh dari sini. Ada di ujung jalan itu." Tunjuk wanita ini kearah ujung jalan.

"Tapi aku tidak ingat nomor rumahnya."

Kelihatannya di sana adalah kawasan perumahan. Ada puluhan bahkan ratusan rumah yang berjejer. Aku tidak tahu yang mana rumah Kak Raline.

"Ya sudah.. kalau begitu kita tunggu saja polisi datang. Kamu haus? mau aku belikan minuman?"

"Tidak usah. Tidak apa-apa. Tolong temani saja aku di sini." Ucapku sambil memegang tangan wanita itu agar dia tidak pergi. Aku butuh seseorang di sampingku sekarang.

Dia mengusap tanganku lalu kembali merangkulku.

"Ya sudah.. baiklah." Dia merangkulku dan menepuk-nepuk punggungku. Membuatku merasa jauh lebih tenang.

Tak perlu menunggu lama akhirnya dua orang petugas polisi segera datang. Begitu tahu aku sedang mencari rumah Kakakku mereka langsung menghubungi seseorang di telpon lalu entah bagaimana hanya dengan sedikit informasi nama jalan tempat Kakakku tinggal dan juga nama mereka akhirnya Pak polisi itu bisa mendapatkan nomor telepon Kak Raline.

Beberapa waktu kemudian Kak Erwin yang datang menjemputku. Aku langsung berlari memeluknya begitu melihat wajahnya.

"Ya ampun Khiana. Maafkan Kak Erwin. Harusnya Kakak menjemputmu di stasiun tadi." Kak Erwin mengelus kepalaku dan memeriksa apakah aku terluka atau tidak.

"Kamu gapapa kan?"

"Aku baik-baik saja Kak. Untunglah tadi ada yang menolongku." Kualihkan tatapanku ke arah wanita tadi. Kak Erwin mengikuti arah pandanganku lalu mengucapkan terimakasih kepadanya.

"Terimakasih sudah membantu adikku."

Wanita itu tersenyum lalu berkata.

"Tidak apa-apa. Aku senang bisa membantu."

Kedua petugas polisi mendekati kami bertiga. Kak Erwin langsung menjabat tangan mereka dan sekali lagi mengucapkan terimakasih.

"Terimakasih banyak pak."

"Sama-sama." Ucap petugas polisi yang satu.

"Kami sedang melakukan penyelidikan kepada dua orang jambret tadi. Jika kami sudah menemukan sesuatu kami akan menghubungimu." Lanjutnya.

"Baik pak terimakasih."

Kedua polisi itu akhirnya pergi. Kak Erwin kembali merangkulku dan mengajakku pergi. Tapi sebelum kami berdua beranjak, ku tatap sekali lagi wanita cantik yang sudah menolongku.

"Maaf. Bolehkah aku tahu siapa nama Kakak?" Ucapku padanya.

Wanita itu terkejut seperti baru menyadari sesuatu.

"Ah benar juga kita belum sempat berkenalan ya? Namaku Tamara." Jawabnya

Tamara ya? Bahkan namanya juga terdengar cocok untuknya. Cantik dan elegan.

Aku menjabat tangannya untuk yang terakhir kalinya.

"Namaku Khiana. Sekali lagi terimakasih banyak sudah membantuku kak. Terimakasih."

Tamara membalas jabatan tanganku. Lalu dia kembali memelukku sebelum pergi.

"Sudahlah tidak apa-apa. Lain kali berhati-hatilah jika sedang berjalan sendirian. Kalau begitu aku pergi dulu ya."

Tamara melambaikan tangannya dan melangkah pergi. Ku perhatikan langkah kakinya yang menjauh. Sampai sosoknya mengecil dan menghilang di ujung jalan barulah aku mengajak Kak Erwin pulang.

Begitu sampai di rumah, Kak Raline langsung menghambur ke arahku. Dia mengatakan hal yang sama persis seperti yang dikatakan Kak Erwin saat melihatku tadi.

"Khianaaaa maafkan Kakak. Harusnya aku menjemputmu di stasiun tadi." Ucapnya.

Dua orang bocah menyembul dari balik punggung ibunya. Perasaanku yang sedang berkecamuk tiba-tiba berubah menjadi lega. Wajah lucu mereka menghilangkan perasaan negatif dan rasa capek yang kurasakan.

Ku peluk mereka berdua.

Setelah lumayan tenang. Barulah ku ceritakan segalanya dari awal lagi.

Hari itu adalah hari yang melelahkan untukku. Setelah menelpon Kiral dan meyakinkannya kalau aku tidak apa-apa. Aku segera tidur dan terlelap ke alam mimpi.

.

.

.

Bersambung...

-Author Note-

Halo apa kabar semuanya? Masih tetap semangat kan?

Terimakasih banyak sudah mampir di novelku. Untuk yang baru mulai baca selamat bergabung ^.^/ dan untuk kalian yang sudah lama membaca cerita-cerita ku terimakasih banyak atas dukungannya dan terimakasih karena tetap setia menunggu update-an ku ^^

Insyallah aku akan coba untuk update lebih sering dari sekarang :3

Jangan lupa untuk meninggalkan jejak baik komentar ataupun like di setiap episode ya..

Sampai ketemu lagi di episode selanjutnya..

With love,

JasmineTea.

1
Sandrina Dalila
suka
Li5naJait
sepertinya Nathan itu Kiral dechhh
mentari
kenapa gk disini aja thor
JasmineTea
Ka Be Em a p p s. Wkwkwk disensor 😅🙄😜
Juhaeratul Fathiyah
tau gitu knp berkhianat kamu keeeeeroooool
Juhaeratul Fathiyah
DAAAAASAAAAAAAAAAR
Juhaeratul Fathiyah
aku gk sanggup thor. tahu spa pcr Tamara
Juhaeratul Fathiyah
Seru bacanya.... tulisannya rapi
mentari
gregett thor...gk terasa udah tamat.novelmu keren thor👍👍tpi kenapa yg like sedikit sekali..next buat novel keenan pasti keren thor
mentari: iya kan..ditunggu karya selanjutnya kak🤜🤛
total 2 replies
🎎 🌟Fare Reza🌟🎎
asli paling suka cerita tentang Alter Ego/DID gini
JasmineTea: Terimakasih Kak Fare ^^
total 1 replies
Lala
kerenn thor.. sukses terus yaaa
JasmineTea: Thank youuu sukses selalu juga kak Lala
total 1 replies
Rina
TERIMAKASIH AUTHOR
JasmineTea: TERIMAKASIH KAK RINA
total 1 replies
Ana
Suka banget banget banget sama ceritanya.. sukses selalu author kuuuuuh.. dan terimakasih karena sudah mendengar jeritan penonton dengan memberikan happy ending..
JasmineTea: Terimakasih! Sukses selalu kak Ana!
total 1 replies
Maria Aya
pindah lapak ya thor? kenapa gak di sini aja sih thor?
Maria Aya
gak di kasih bonus extra chapter nih thor? ayo dongggg....bonus nyaa 😘😘
JasmineTea: Untuk sekarang belum kepikiran extra chapter sih kakk huhu
total 1 replies
Maria Aya
ya ela thor... Keenan kenapa panggilan nya jadi Bang Kee 😁
Mira
HUAAAA TAMAT JUGA AKHIRNYA
JasmineTea: HUAAAA iyaaa.. makasih udah baca sampai akhir ya kak
total 1 replies
Mira
Bang Keeee WKWKWK
Mauly :3
Good job thor. Makasih banyakkkkk
JasmineTea: Thank youuu
total 1 replies
Wulandari
Ga kerasa udah tamat ajaaa.. congrat kak author.. kemanapun akan kucari karya-karya mu yang selanjutnya
JasmineTea: Makasihhhhhh kalau berjodoh kita ketemu lagi di lain kesempatan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!