NovelToon NovelToon
Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Tamat
Popularitas:252.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ucy81

Ayunda Milly Rendra seorang gadis cilik yang imut dan periang, pernah tinggal dengan bahagia di desa bersama dengan orang tua dan kakak laki-lakinya. Karena adanya kesalahpahaman kedua orang tuanya pun berpisah. Perpisahan orang tuanya juga memisahkannya dari sang kakak.

Ferdo Alfian Santoso adalah pewaris perusahaan pertelevisian terkenal. Alfian kehilangan ke dua orang tuanya di masa kecil dalam suatu kecelakaan. Di saat Alfian luntang lantung, dia bertemu dengan Adrian dan Ayunda yang memberikannya tumpangan sementara. Namun mereka akhirnya berpisah di saat ke dua orang tua Adrian dan Ayunda berpisah.

Pertemuan singkat Alfian dan Ayunda di masa kecil membekas di hati Alfian. Takdir seolah berpihak pada Alfian, setelah dua belas tahun kemudian dia bertemu kembali dengan Ayunda.

Apakah Alfian akan mendapatkan cintanya di masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucy81, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Cafe bersama Ayunda

Happy Reading 😊

🌸🌸🌸

Semua karyawan Santoso Station masih sibuk dengan tugas yang harus kelar sebelum jam makan siang. Jari jemari tiada henti saling bersautan di atas keyboard, akhirnya berhenti lima belas menit sebelum jam makan siang.

Setiap kepala divisi yang sudah di tunjuk oleh Ferdo, mempersiapkan diri masuk ke dalam ruangan Ferdo. Mereka menarik nafas dalam, saat baru saja mengetuk pintu ruangan sang bos.

Ceklek.

Dengan percaya diri, kepala divisi program acara membuka handle pintu dan berjalan memasuki ruangan sang bos.

"Permisi, Pak", ucapnya dengan nada tegas, namun masih ada sedikit getaran.

"Ya, ada apa?" tanya Ferdo tanpa memintanya duduk terlebih dahulu.

Pak Hardiansyah, kepala divisi program acara masih mematung dengan berkas di tangannya. Apa tadi aku salah mendengar, ya. Batin Hardiansyah. Dia mengira telah salah mengira instruksi sang bos, karena sikap Ferdo tidak menunjukkan sedang menunggu laporannya.

Ferdo menghentikan aktifitasnya, lalu menatap pak Hardiansyah dengan mengkerutkan keningnya. "Kenapa?" tanyanya dengan heran.

"Ini, Pak. Saya membawa berkas yang Bapak minta saat meeting tadi", tutur Hardiansyah tanpa beranjak dari tempatnya berdiri.

"Letakkan di situ!" seru Ferdo sambil mengalihkan perhatiannya pada layar monitor di hadapannya.

"Baik, Pak", balas Hardiansyah sambil berjalan menghampiri meja Ferdo, kemudian meletakkan berkas di tangannya di atas meja Ferdo. Hardiansyah sedikit beringsut, kembali di posisi awal dia berdiri.

Ferdo kembali melirik Hardiansyah yang masih mematung, "ada lagi?" tanya Ferdo.

"Ti- tidak, Pak", sahut Hardiansyah sedikit gugup. Lalu dia buru-buru meninggalkan ruangan Ferdo, setelah berpamitan pada Ferdo. Pria yang terpaut usia sepuluh tahun lebih tua dari Ferdo itu, melangkahkan kakinya dengan makian di dalam batinnya. Dia sangat kesal dengan sikap Ferdo, yang dia anggap tidak profesional.

*

"Bagaimana?" tanya kepala divisi marketing, saat Hardiansyah baru saja ke luar dari ruangan Ferdo.

"Aku kesal..." ucapannya terputus saat Tya, sekretaris Ferdo menatap dengan wajah yang sulit diartikan. "Lebih baik Kau lihat sendiri di dalam", ucapnya sambil berlalu meninggalkan kepala divjsi marketing, dan menyunggingkan senyum sekilas pada Tya.

Baru saja kepala divisi marketing akan mengetuk pintu, Ferdo sudah membukanya dan hendak ke luar dari ruangannya. "Mau antar berkas juga?" tanya Ferdo dengan santai.

"I- iya, Pak", sahutnya gugup.

"Serahkan pada Tya saja", sahutnya sambil berjalan menghampiri meja Tya. "Tolong berkas dari semua kepala divisi Kamu terima, setelah itu letakkan di atas meja saya", ucapnya pada sang sekretaris.

Tya menganggukkan kepalanya, "baik, Pak", balasnya sambil tersenyum.

Ferdo berjalan meninggalkan Tya dan Jerry Yan kepala divisi marketing yang masih mematung di tempatnya berdiri.

*

Ferdo sudah berada di basement bersama dengan Adrian. Hari ini mereka berencana makan siang di suatu tempat.

Dengan kecepatan sedang Adrian melajukan kendaraannya menuju cafe yang pernah mereka kunjungi. Adrian dengan sengaja mengajak Ferdo berkunjung ke cafe, tempat pertama kali mereka bertemu kembali dengan Ayunda, setelah dua belas tahun berlalu. Adrian tahu, Ferdo bersikap aneh dan sedikit arogan saat memimpin rapat pagi itu.

Hanya butuh waktu lima belas menit, Adrian sudah memarkirkan kendaraannya di parkiran cafe. Mereka turun dari mobil, dan berjalan menuju meja yang telah di booking oleh Adrian terlebih dahulu.

Saat Adrian dan Ferdo baru saja duduk di kursi, Ayunda muncul dari pintu masuk cafe dengan tersenyum ramah pada pelayan di cafe. Ayunda menyapa mereka, dia menghamburkan dirinya memeluk Lisa teman sekerjanya dulu. Lisa cemberut saat sadar akan sesuatu, "Kau sombong sekarang!" seru Lisa setelah mereka melepas pelukan masing-masing.

"Maafkan aku, Kak", tutur Ayunda dengan memohon. "Aku tahu, selama magang tak pernah datang ke mari. Sekali lagi, maafkan adikmu ini ya, Kak", ucap Ayunda sambil mengatupkan ke dua tangannya.

"Ya, Ay. Aku tidak marah, hanya sedikit kecewa saja. Tapi karena Kau sudah di sini, aku sudah memaafkanmu", balas Lisa dengan tersenyum lebar pada Ayunda.

"Terima kasih, Kak", ucap Ayunda sambil memeluk Lisa.

Ehem... Rian berdehem saat melihat Ayunda dan Lisa berpelukan. "Apa, Kau tidak punya kerjaan lagi?" tanya Rian dengan menatap tajam Lisa. Lisa yang mendapat tatapan tajam dari Rian, langsung beranjak meninggalkan Ayunda sambil melirik sekilas ke arah Ayunda.

"Eh, maaf Kak Rian. Aku yang salah", ucap Ayunda membela Lisa.

"Itu bukan salahmu", ucap Rian, lalu membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Ayunda tanpa menanyakan kabarnya. Ayunda ingin memanggil Rian kembali, namun diurungkannya, sorot matanya terus menatap punggung Rian yang semakin menjauhinya. Ayunda tidak mempersoalkan perubahan sikap Rian, dia tahu itu semua terjadi karena kesalahan Ayunda sendiri. Namun dia tidak menduga, kalau kemarahannya belum reda sampai saat ini.

"Hai, Kak", sapanya pada Adrian saat Ayunda sudah berada di sisi meja tempat di mana Adrian dan Ferdo duduk. "Pak Ferdo", ucapnya kaget saat melihat pria dihadapan sang kakak.

"Hai, Yunda", sahutnya membuat Adrian dan Ayunda kaget. "Kenapa kalian memandangku seperti itu?" tanyanya dengan heran.

Ayunda hanya membalasnya dengan tersenyum, lalu duduk di salah satu kursi yang kosong. "Apa Kakak dan Pak Ferdo sudah memesan makanan?" tanyanya dengan bahagia.

"Ya, kami juga sudah memesan untukmu", balas Adrian sambil menggulung sedikit lengan bajunya. "Aku ke toilet sebentar", ucapnya kemudian, yang di balas dengan anggukan oleh Ayunda dan Ferdo.

Sepeninggal Adrian, Ayunda berkali-kali menyibakkan rambutnya ke belakang telinga. Kakinya juga bergoyang untuk menghilangkan rasa canggungnya. Pandangannya dia edarkan untuk melihat sekeliling cafe yang tidak begitu ramai.

"Bagaimana dengan kuliahmu?" tanya Ferdo memecah keheningan di antara mereka.

"Baik, Pak. Kemungkinan tahun depan sudah nyusun skripsi", sahutnya dengan tersenyum.

"Wah, bagus kalau begitu. Setelah selesai kuliah, mau kerja di mana?" tanya Ferdo kembali.

"Belum tahu, Pak. Tapi aku akan masukkan lamaran ke beberapa perusahaan pertelevisian di kota ini", balas Ayunda sambil melirik ke arah Rian, yang baru saja melewati meja mereka.

Ferdo menganggukkan kepalanya, "Kau bisa masukkan lamaran ke Santoso Station", ucapnya sambil menunggu sang pelayanan selesai menyajikan makanan pesanan mereka. "Kau akan lebih mudah masuk, karena sudah pernah magang di sana", ucap Ferdo melanjutkan, yang mendapat tatapan serius dari Ayunda.

"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Adrian saat kembali dari toilet. Adrian menarik kembali kursinya, lalu duduk sambil menggeser sedikit kursinya ke depan. "Kenapa diam, ayo lanjutkan saja obrolan kalian!" seru Adrian sambil memindahkan piring makanan pesanannya ke hadapannya.

"Adrian... tadi aku menyarankan Ayunda untuk memasukkan lamarannya ke Santoso Station, jika sudah lulus nanti", ucap Ferdo saat sesuap makanan berhasil masuk ke dalam mulutnya. Ayunda menatap serius ke arah Ferdo, mereka pun saling bertukar pandang.

"Bagus dong", sahut Adrian dengan tersenyum lebar, memutus tatapan Ferdo dan Ayunda.

"Tapi, Kak..."

"Tidak ada tapi-tapi. Jangan kuatir, Kau tetap akan di tes dan mengikuti wawancara di kantor", tutur Adrian saat memutus ucapan sang adik.

Ayunda pun pasrah, karena masih butuh waktu setahun lagi, untuk hal itu terjadi. Ayunda tak mau melewatkan kesempatan makan siang bersama sang kakak.

"Kak, apa Kak Alfian sangat sibuk? Kenapa aku gak pernah lihat Kakak bersamanya?" tanya Ayunda pada Adrian, sambil mengunyah sisa makanan yang ada di mulutnya.

Adrian dan Ferdo salling memandang, mereka lupa belum memberitahu yang sebenarnya pada Ayunda.

To be continue...

1
ManiakNovel
visualnya cakep2
Maya●●●
mampir lagi kak ucy. semangatt
Maya●●●
ayunda cute bgtttt
Maya●●●
semangat kak ucy. mmpir lagi nih
Lena Sari
itu kak Adrian ya ay.
Maya●●●
mampir lagi ya kak uccy. semngt
Elisabeth Ratna Susanti
sip 👍
Elisabeth Ratna Susanti
lanjut 👍
Kasih Bonda
next thor 💪
Elisabeth Ratna Susanti
next 👍
Kasih Bonda
next thor 💪
Elisabeth Ratna Susanti
semangat 😍
Kasih Bonda
next thor 💪.
Maya●●●
dimana2 kenapa selalu ada temen kayak gini😓
Maya●●●
ya siapa tau mau kenalan sama anjing yun😁
Elisabeth Ratna Susanti
😍😍😍😍😍😍
Kasih Bonda
next thor 💪
Elisabeth Ratna Susanti
keren 😍
Kasih Bonda
next thor 💪
Elisabeth Ratna Susanti
next 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!