follow Ig 👉 dindin_812
- Novel ini sudah hadir dalam versi cetak, lebih rapi dan tentunya enak dibaca dan dipeluk kala rindu 🤭🤭🤭
Cerita ini mengandung unsur yang bisa bikin kamu nangis, tertawa, marah, baper juga sedih, jadi sebelum baca siapkan hati jiwa dan raga🤣
Tidak mencantumkan agama ya ....
Audrey Isvara tidak menyangka jika hidupnya jungkir balik tidak menentu. Dia baru saja kehilangan Ayah dan hampir kehilangan ibu, kemudian Audrey mendatangi seorang CEO muda bernama Ravindra Mahavir. Demi menyelamatkan ibu dari ambang kematian, Audrey menawarkan diri menjadi budak seumur hidup.
Namun, siapa sangka jika ternyata dirinya langsung memiliki suami hanya dalam hitungan hari, status pelayan yang ia sandang berganti menjadi nyonya besar istri CEO. Bagaimana itu bisa terjadi?
Pict from Pinterest, editing by Din Din
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Kesempatan
Audrey terperangah dengan mulut menganga, tak percaya jika kertas kosong yang ia tanda tangani adalah surat pengajuan pernikahan. "Dasar! Kau menipuku! Curang! Kau curang!" geram Audrey sesekali memukul lengan Ravin.
Ravin tertawa geli, bukan salah dia juga jika ia melakukan hal itu. Bukannya gadis itu yang menyetujui segala syarat waktu melakukan perjanjian, pikirnya.
"Jadi! Apa hadiah pernikahan kita?" tanya Ravin dengan nada menggoda seraya menaik turunkan kedua alisnya.
Audrey dengan sigap merapat ke pintu mobil, kedua tangannya ia silangkan di depan dada. "Hadiah apa?"
"Ck ... pura-pura tidak tahu! Tentu saja kita sudah sah sekarang, jadi-." Ravin menjeda ucapannya ditatapnya Audrey dengan wajah mesumnya.
"Mana ada! Tidak sah itu!" kilah Audrey.
"Sah! Itu sudah ada tanda tangan kamu!" kekeh Ravin.
"Mana bisa! Saksi saja tidak ada, mana bisa dibilang sudah nikah?" Audrey masih tak mau mengakui.
Ravin mengetuk penyekat kabin, membuat Malik terpaksa menurunkan penyekatnya.
"Malik! Katakan padanya siapa saksi pernikahan kami?" tanya Ravin yang tatapannya tak berpindah dari Audrey.
"Saya Tuan," jawab Malik yang buru-buru menaikan penyekat kabinnya lagi.
"Tuh dengar!" Ravin menang.
Audrey tak bisa bicara apa-apa, dia tengah memutar otak bagaimana caranya untuk mengelak.
"Aku mau pesta pernikahan yang mewah, lalu mamah juga ada buat kasih restu. Pokoknya itu nggak sah!" kekeh Audrey tak mau kalah.
"Sah secara hukum," ucap Ravin juga tak mau kalah.
"Eh, mana ad-."
Perdebatan terjeda tatkala sebuah ciuman mendarat di bibir gadis itu. Ravin menekan tengkuk leher Audrey merapatkan hingga tidak ada jarak di antara mereka. Pemuda itu mengulum serta menyesap sesekali bibir mungil gadis itu.
Ya Tuhan! Kuatkanlah jiwa jombloku! Jangan sampai ada adegan gulat di dalam! Gumam Malik yang harus selalu tabah menghadapi adegan mesra tuannya, ia belum bisa menaikan status jomblo akutnya.
Mobil sudah memasuki pelataran rumah mewah Ravin, Malik langsung memutari air mancur yang ada di tengah halaman agar sampai di depan pintu utama.
"Sudah sampai rumah!" Audrey mendorong tubuh Ravin begitu ciuman itu terlepas.
"Baguslah! Kita lanjut di dalam!" goda pemuda itu.
"Eit ... mana Ada! Kamu ke kantor, aku masuk!" Audrey sudah meraih pintu ingin kabur.
"Tidak bisa!" tolak Ravin.
Sungguh dua manusia ini selalu membuat kehebohan dengan pertengkaran juga kemesraan dirumah yang rata-rata penghuninya adalah jones, membuat jiwa-jiwa itu ingin segera memiliki pasangan sesuai dengan imajinasi mereka.
"Vin! Turunin!" teriak Audrey yang berada di gendongan pemuda itu.
Ravin tak mendengar, ia melangkah santai meski Audrey berusaha meronta. Bu Metha yang mendengar suara teriakan Audrey langsung berjalan keluar dari dapur.
"Tu-tuan, itu-." ucap Bu Metha yang terjeda karena Ravin sudah mengedipkan mata memberi isyarat.
"Tapi Tuan!" Bu Metha ingin mengatakan sesuatu tapi terhenti lagi karena pemuda itu langsung saja menaiki anak tangga.
"Vin! Turunin!" Audrey masih mencoba memberontak.
Aku belum siap! Astaga dasar si iblis! Ya Tuhan, datangkan malaikat untuk menolongku. Batin gadis itu.
"Kamu gerak kita jatuh bareng ini!" Ravin melirik ke anak tangga karena mereka sudah hampir sampai di lantai tiga.
Audrey ikut menengok ke bawah, ia kemudian merasa bergedik ngeri ketika melihat betapa tingginya itu hingga secara impulsif ia merangkulkan kedua tangan di leher Ravin. Pemuda itu tersenyum geli melihat ekspresi Audrey, ia lantas terus melangkah hingga masuk ke dalam kamar.
"Aghhh ... Ravin! Jangan bercanda!" teriak Audrey sekencang-kencangnya.
"Aku tidak bercanda, bukankah kita sudah sah menjadi suami istri? Jadi sudah menjadi hakku jika aku minta!" Ravin menurunkan tubuh Audrey di atas ranjang.
"Mana ada! Nggak bisa!" tolak Audrey lagi.
Bermaksud berguling ke samping, Ravin sudah keburu menguncinya di bawah kungkungannya. Kini manik mata mereka bersirobok, saling tatap satu sama lain.
"Vin!" Audrey menatap memelas.
Ravin menggelengkan kepala seakan enggan terbujuk dengan tatapan mata memelas dari gadis itu. Pemuda itu mendekatkan wajahnya kemudian, membuat jantung Audrey berdegup dengan kencang.
Habislah sudah aku hari ini! Batinnya.
Jarak mereka kini tinggal beberapa centi. Pasrah mungkin itu yang ada di pikiran Audrey. Hingga ....
TOK!!TOK!!TOKK
Ravin membulatkan matanya lebar, berpikir siapa yang berani mengganggunya. Pemuda itu mengabaikan suara ketukan pintu, ia kembali menatap Audrey yang wajahnya sudah memerah.
BRAKK!!BRAKKK!!!
"Bocah kurang ajar! Kamu apain menantuku?!"
Ravin terkesiap, ia lantas memandang Audrey yang sama-sama tidak mengerti.
"Bunda!"
Ravin langsung bangkit, ia buru-buru berlari ke arah pintu. Audrey terbengong, ia lantas duduk di atas tempat tidur seraya mengusap dadanya. "Selamat," batinnya.
Begitu membuka pintu, jemari lentik wanita blesteran Indonesia-India itu langsung mendarat di telinga putranya seraya menariknya keras.
"Bun! Bunda!" pekiknya.
"Kamu apain menantuku, hah! Sampai menjerit-jerit seperti itu?" tanya Aashita yang masih menarik telinga Ravin bagai anak kecil yang ketahuan mencuri, masuk ke dalam kamar.
"Menantu Bunda juga istriku!" bela pemuda itu.
Audrey menatap tak percaya siapa yang tengah menarik telinga si iblis tampannya, ia lantas lomcat dari tempat tidur untuk segera memeluk wanita yang sedari dulu terus memberikan kasih sayang padanya.
"Tante Aashita!"
Audrey langsung melompat ke pelukan wanita yang masih saja terlihat cantik meski umurnya tidak muda lagi itu. Melihat Audrey yang menghambur ke arahnya, tentu saja membuat Aashita melepas jemarinya dari telinga Ravin agar bisa memeluk gadis itu.
"Oh, sayangku! Bagaimana kabarmu?" tanya Aashita langsung begitu Audrey berada di pelukannya.
"Aku baik! Aku rindu Tante," ucap Audrey yang masih tenggelam dalam pelukan hangat itu.
"Aku juga merindukanmu, sayang!" Aashita memeluk erat Audrey mengabaikan pemuda yang berdiri di sampingnya.
Ravin tersenyum bahagia melihat pertemuan itu, awalnya ia ingin meminta ibunya datang ketika mereka sudah bersiap untuk mengadakan acara resepsi. Namun siapa sangka jika Aashita malah datang lebih awal dari yang sudah ia jadwalkan.
"Jangan panggil Tante, panggil Bunda!" pinta Aashita setelah melepas pelukannya.
Audrey mengangguk manja, dalam hatinya bersyukur karena ada Aashita sehingga ia tidak perlu melakukan ritual pengantin baru yang ia anggap belum sah.
"Bunda dengar kamu teriak-teriak! Apa si bocah besar ini menyiksamu?" tanya Aashita seraya memicingkan mata pada Ravin.
"Ish ... Bunda! Mana ada, aku cuman-." Ravin menjeda ucapannya, ia menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Cuman apa, hm? Ayo jawab?" Aashita melotot.
"Kalian kangen-kangenan aja dulu, aku balik kantor!" Secepat kilat Ravin kabur dari kamar meninggalkan Aashita dan Audrey di sana.
Aashita maupun Audrey menatap heran tingkah pemuda itu yang langsung pergi begitu saja. Kemudian tatapan Aashita beralih ada Audrey, ia seperti masih penasaran dengan apa yang terjadi. Mendapat tatapan itu membuat Audrey mengedarkan pandangan karena ia pun malu mengatakan apa yang hendak Ravin lakukan terhadapnya.
Anak aku nomor 2 lelaki,lahiran juga Vacum, karena udah lemah, Dan sebelum lahiran gak ada selera utk makan apa pun..