Kehidupan sempurna bak putri kerjaan yang Inez rasakan mendadak berubah total ketika Rara menjalankan misi balas dendamnya. Rasa sakit hati kehilangan Papanya membuat Rara ingin membuat Inez merasakan apa yang Ia rasakan.
Tanpa Inez sadari, Rara selalu memakai topeng. Baik di depan dan busuk di belakang. Satu persatu kebahagiaan yang Inez miliki perlahan hilang, termasuk kesuciannya. Apa lagi yang akan Rara renggut lagi dari Inez?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecewa
Inez mengambil sebuah batu krikil dan melemparkannya jauh ke tengah laut. Anggaplah itu sebagai pelarian untuk melepaskan kekesalan hatinya.
"Cemburu itu bagi aku berbeda dengan kecewa. Aku kecewa sama Rio karena aku sudah menganggapnya sebagai dewa penolong dan ternyata sang dewa penolong malah berteman dengan iblis." kata Inez pedas.
"Aku rasa iblis yang kamu maksud adalah Rara, betul?" tanya Andrew.
Inez mengangguk.
Jawaban Inez membuat Andrew mengernyitkan keningnya. Mereka kan bersahabat kenapa malah mengatai Rara sebagai seorang iblis?
"Kenapa Rio malah kamu anggap Dewa Penolong sedangkan Rara adalah iblis? Kamu enggak salah?" tanya Andrew bingung.
"Ada kisah dibalik suatu kejadian. Belum saatnya aku cerita semuanya sama kamu, Ndrew." Inez menghembuskan nafas kencang. "Ayo kita balik lagi ke Villa kamu."
Inez tidak memberikan jawaban atas pertanyaan Andrew. Ia berjalan pelan menuju tempat mobil Andrew diparkirkan.
Andrew hanya mengikuti langkah Inez dalam diam. Sejuta pertanyaan dalam benaknya Ia sengaja lupakan. Biarlah Ia beri Inez sedikit waktu. Toh nantinya Inez juga yang akan bercerita padanya.
Andrew membukakan pintu untuk Inez masuk ke dalam mobil lalu Ia berlari menuju pintu satunya, tempat Ia mengemudikan mobil. Inez sudah memakai seat beltnya sendiri, Andrew lalu memakai seat belt miliknya dan mulai menjalankan mobilnya menembus kegelapan malam.
Di dalam mobil mereka hanya diam. Seakan sudah tidak ada lagi yang akan mereka bicarakan. Mobil pun sampai ke dalam area Villa.
Andrew memarkirkan mobil miliknya lalu Ia dan Inez pun turun dari mobil. Sebelum turun, Inez mengembalikan jaket yang tadi Andrew pinjamkan padanya.
"Makasih ya, Ndrew." Inez lalu masuk ke dalam kamarnya dan meninggalkan Andrew yang masih menatap kepergiannya.
Saat berjalan menuju kamarnya, Inez melihat dari jam besar yang terletak di ruang ruang tamu di Villa milik Andrew menunjukkan pukul 1 malam. Ia harus bersiap tidur karena besok mereka harus mengunjungi pabrik untuk terakhir kalinya sebelum kembali pulang.
Inez masuk ke dalam kamarnya lalu menguncinya. Dibelakangnya, Andrew yang akhirnya mengekori Inez masuk kedalam Villa hanya bisa memandangi sang mantan dari kejauhan.
Andrew juga masuk ke dalam kamarnya dan melemparkan tubuhnya di atas kasur. Ia menyesali dirinya yang begitu mudah menjudge Inez karena sudah menjual tas buatan.
Inez masih sama seperti Inez yang dulu. Terlepas dari kesalahannya malam itu. Ia masih suka memendam segala permasalahannya sendiri.
Tapi kali ini bukan Inez yang memendamnya tapi Ia yang meninggalkan Inez karena kecewa Inez sudah tidur dengan Rio. Jika saja Ia tetap ada di samping Inez, jika saja Ia mau menerima keadaan Inez yang tak suci lagi maka kesalahpahaman akan masalah tas tidak akan ada.
Ya, kali ini Andrew sudah memutuskan. Ia akan mengenalkan Inez pada orang tuanya. Terlepas dari masa lalu Inez dengan Rio, Ia yakin suatu saat Ia akan bisa menerima Inez kembali apapun keadaannya.
****
Jam 7 pagi, semua sudah berkumpul di meja makan Villa. Hanya Pak Paul yang masih asik berceloteh, sedangkan yang lain hanya diam dan asyik dengan pikirannya sendiri.
Inez memikirikan jalan-jalan malamnya dengan Andrew. Rio memikirkan kebodohannya yang hampir saja menerima Rara kembali. Andrew memikirkan rencana masa depannya dengan Inez.
Ibu Jenny sejak tadi hanya diam dan sesekali melirik Inez dengan pandangan penuh kebencian. Ia memikirkan perkataan Rara semalam. Ia pun bertekad tak akan melepaskan Andrew yang selama ini dengan susah payah Ia dekati.
Lalu bagaimana dengan Rara? Wajah Rara terlihat masih bengkak. Semalaman Ia mabuk sambil menangis dan kini matanya bengkak meski Ia sudah menutupinya dengan foundation.
Inez mengira semalaman Rara dan Rio bersenang-senang. Inez bahkan tidak banyak bicara pada Rio.
Inez sadar, sekarang Ia bahkan tidak bisa lagi mempercayai Rio. Ia meragukan kepada siapa Rio akan berpihak. Apakah kepada dirinya ataukah kepada Rara kekasihnya?
"Kok semuanya pada kompak diam sih?" tanya Pak Paul yang akhirnya menyadari keheningan di ruang makan ini.
"Masih pada ngantuk kali Pak." sindir Bu Jenny.
Rara melirik ke arah Ibu Jenny yang mulai terlihat emosi akibat tersulut oleh kata-katanya semalam. Sudut bibir Rara membentuk sedikit senyuman yang hanya bisa dilihat oleh orang yang benar-benar menyadari kelicikannya. Siapa lagi kalau bukan Inez?
Inez mulai memperhatikan perubahan mimik Rara. Biasanya Rara tidak akan peduli untuk hal seperti itu tapi kenapa saat Ibu Jenny menjawab sesuatu Ia seperti tertarik. Apa yang udah Ia lakukan terhadap Ibu Jenny? Inez pun mulai merasa curiga.
Inez belajar untuk mengenal bagaimana sifat Rara yang sebenarnya. Dengan begitu Ia akan tahu bagaimana membedakan Rara saat beraksi dan tidak. Melihat dari gelagatnya, sepertinya Rara sudah melakukan sesuatu terhadap Ibu Jenny. Inez hanya tinggal menunggu Ibu Jenny akan melakukan apa padanya.
"Masih ngantuk ngapain sih Bu? Saya aja semalam tidur pulas banget. Villa ini tuh benar-benar nyaman dan fasilitasnya tuh lengkap banget. Memang tidak salah Bapak Andrew mengajak kita semua kesini." jawab Pak Paul tanpa tahu apa yang sudah terjadi semalam. Sepertinya memang benar hanya Pak Paul saja yang merasa tidak ada sesuatu tadi malam.
"Mungkin masih pada lelah kali, Pak." kata Andrew menengahi. "Ayo kita sarapan lalu kita langsung ke pabrik ya. Kita harus mengejar date line karena kan kita langsung pulang hari ini."
"Siap, Pak." jawab semuanya kompak.
Setelah sarapan mereka pun pergi ke pabrik. Mereka melakukan pekerjaan yang kemarin belum dilakukan. Inez lebih berkonsentrasi lagi dalam pekerjaannya. Ia yang bertanggung-jawab atas laporan teamnya nanti.
"Nez." panggil Rio.
"Hmm." jawab Inez singkat tanpa memandang wajah Rio. Ia sibuk mengitung anggaran dan menyesuaikan dengan kemampuan produksi.
"Lo kenapa? Dari tadi gue liat lo diem aja. Sakit?" tanya Rio khawatir.
"Enggak apa-apa kok. Saya sehat, Pak." jawab Inez formal.
"Enggak ada siapa-siapa selain kita berdua. Manggilnya gue lo aja." suruh Rio.
"Biar terbiasa pake yang formal. Takut nanti keceplosan aja di depan yang lain." jawab Inez tanpa memperdulikan Rio.
Rio masih terus mengajak Inez mengobrol namun tetap saja Inez menanggapinya dengan sewajarnya saja.
Di lain tempat, Ibu Jenny dan Rara sedang memeriksa bagian packaging. Rara merasa ini saat yang tepat untuk menghasut Ibu Jenny lagi.
"Saya perhatiin, Ibu Jenny dari tadi diam aja nih." kata Rara mulai mancing-mancing Ibu Jenny.
"Jujur aja ya Bu Rara, semalam tuh saya lihat Bu Inez sama Pak Andrew pulang sekitar jam jam setengah satuan hampir jam satu malam dari balik jendela. Saya bisa lihat kalau Bu Inez itu pakai jaketnya Pak Andrew. Saya lihat Bu Inez ngembaliin jaket terus masuk ke dalam. Yang bikin saya iri itu karena Pak Andrew terus-menerus melihat Ibu Inez bahkan sampai Ibu Inez sudah masuk ke dalam Dia masih menatap ini Bu Inez aja. Kayaknya saya sih udah nggak ada harapan Bu sama Pak Andrew." kata Ibu Jenny dengan suara yang murung.
"Yah jangan begitu dong Bu. Ibu tuh harus semangat. Ibu lihatkan saya aja berhasil mendapatkan Rio kembali. Ibu juga bisa dong merebut Pak Andrew dari Inez. Mereka kan enggak ada hubungan apa-apa Bu. masih ada celah buat ibu. Pokoknya semangat Bu Jangan mau kalah sama orang yang kelihatannya aja lugu padahal mah suka ngerebut punya orang kaya Ibu Inez itu." lagi-lagi Rara mengompori Ibu Jenny.
Rara lalu membisikkan sesuatu ke telinga Ibu Jenny. Bu Jenny yang baru mengetahui fakta tentang Rara tidak percaya dengan fakta yang baru saja Ia dengar. Bu Jenny yang awalnya sudah hopeless dan pasrah setelah mendengar perkataan Rara mulai berpikir kalau Ia juga mungkin memiliki kesempatan yang sama.
Sebuah ide pun muncul ketika Ia lihat Andrew dari kejauhan sedang mengobrol dengan Pak Paul. Ibu Jenny pun pamit dengan Rara dan menghampiri Andrew.
Rara hanya tersenyum sinis melihat Ibu Jenny begitu mudahnya lagi-lagi terpancing dengan hasutan nya. Ia lalu menghampiri Pak Paul dan menyelesaikan pekerjaannya di pabrik ini.
Ibu Jenny berjalan beriringan dengan Andrew. Andrew mendiktekan kepada Ibu Jenny apa saja yang harus dilakukan dan apa poin-poin penting yang harus disampaikan kepada kedua tim dari B-Company. Mereka terus berjalan mengelilingi pabrik memeriksa satu per satu dan akhirnya mereka pun berpapasan dengan Inez dan Rio.
Sebuah senyum mengembang di wajah Andrew. Ia baru saja hendak menyapa Inez tapi Ibu Jenny sudah bergerak lebih dahulu.
"Pak Andrew, nanti kita akan ada proyek apa lagi ya Pak dengan B-Company?" tanya ibu Jenny tiba-tiba mulai mengalihkan pikirannya Andrew.
"Kedepannya mungkin kalau memang hasilnya bagus saya akan pertimbangkan untuk memakai B-Company lagi." jawab Andrew tegas.
"Hmm.... Kenapa nggak pakai tim dari Ibu Rara aja ya Pak? Soalnya saya dengar kabar kalo Ibu Inez itu sebenarnya adalah mantan pacarnya bapak yang sudah mencampakkan Bapak?" pancing Ibu Jenny.
Andrew lalu tersentak kaget. Spontan Ia langsung menatap Ibu Jenny dengan pandangan tidak suka.
"Maksud kamu apa bicara seperti itu? Siapa yang mencampakkan saya? Kalau kamu tidak tahu bagaimana fakta sebenarnya lebih baik kamu diam! Dan mengenai Inez, itu urusan saya. Saya murni kerjasama dengan B-Company karena profesionalitas, bukan karena masa lalu saya dengan Inez saja." Andrew benar-benar marah dengan sikap Ibu Jenny. Baginya bekerja itu bukan tentang bergosip.
"Ma... Maaf Pak. Saya tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan Ibu Inez." Ibu Jenny pun takut dengan kemarahan Andrew. Selama bekerja dengan Andrew tak pernah Ia melihat Andrew semarah ini padanya.
"Ini peringatan ya buat kamu! Saya nggak suka kamu mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaan!" tunjuk Andrew pada Ibu Jenny.
"Maaf Pak. Saya janji saya tidak akan mengulanginya lagi." kata Ibu Jenny dengan suara bergetar. Ia benar-benar takut melihat Andrew semarah ini. Nyalinya pun menciut. Ia memutuskan untuk tidak membahas tentang Inez lagi di depan Pak Andrew. Bisa-bisa Ia akan menjadi bahan omelan lagi nantinya.
Andrew lalu meninggalkan Ibu Jenny dan pergi menyapa Inez dan Rio. "Bagaimana? Ada yang mau ditanyakan tidak?" tanya Andrew pada Inez dan Rio yang terlihat masih mempelajari beberapa hal tentang pabrik ini.
"Untuk sementara tidak Pak. Penjelasan yang diberikan oleh karyawan Bapak sudah cukup kami mengerti." jawab Inez.
"Apa yang dikatakan Inez benar, Pak. Penjelasan dari karyawan Bapak sudah cukup bagi kami. Terima kasih telah mengundang kami untuk datang dan melihat-lihat langsung pabrik milik Perusahaan XZ." jawab Rio dengan sopan.
"Oh... Sama-sama. Saya juga senang kalian dengan melihat langsung pabrik ini bisa memiliki pengetahuan yang lebih, jadi memudahkan kerjasama kita nantinya. Kalau begitu ayo kita siap-siap, kita harus kembali lagi ke kota." kata Andrew sambil tersenyum.
"Baik Pak." jawab Inez dan Rio dengan kompak.
****
Sepulang dari perjalanan menuju pabrik milik Perusahaan XZ seluruh tim yang datang Lalu bubar dan pulang kembali ke rumahnya masing-masing.
Keesokan harinya mereka pun berkumpul kembali di kantor untuk mendiskusikan hasil dari perjalanan dinas mereka. Meeting dadakan pun diadakan.
Pak Alex selaku owner dari big company sendiri yang memimpin jalannya meeting. Inez masih belum terbiasa melihat Pak Alex yang biasanya menjadi teman makan kan Cup Mie ini malah menjadi seorang owner dari perusahaan besar dan juga dia adalah Papanya Rio.
Beberapa kali Inez ketahuan sedang mencuri-curi pandang melihat Pak Alex. Pak Alex mengerti Inez itu masih kaget mengenai jatidirinya. Ia pun tersenyum ke arah Inez dan Inez hanya bisa menunduk malu.
Inez merasa malu karena seorang pimpinan dan orang hebat seperti Pak Alex hanya Ia tawari makan Cup Mie dan minum segelas kopi instan. Kalau Ia tahu siapa Pak Alex, mungkin Ia akan menawarinya makanan yang lebih layak.
Meeting pun berjalan cukup lama, karena yang dibahas juga lumayan banyak. Terdapat beberapa perbedaan argumen antara Rio dengan Pak Paul. Namun akhirnya Pak Alex juga yang memutuskan.
Pak Alex memutuskan dengan adil. Tanpa memandang Rio sebagai anaknya atau Pak Paul sebagai karyawan seniornya. Saran dari Rio yang bagus diambil dan yang buruk disisihkan, begitupun dengan saran dari Pak Paul.
Hasilnya didapatkan suatu keputusan yang membuat semua orang puas. Kerjasama dua buah tim tidak sia-sia dan berakhir tanpa adanya suatu perdebatan mengenai siapa yang menang atau siapa yang kalah karena dua-duanya dianggap menang.
Rio tersenyum ke arah Inez. Ia merasa kerja kerasnya dengan Inez berbuah manis. Rio pun berencana untuk mengajak Inez makan malam di luar sepulang kerja.
Jam 5 lewat 10 menit, handphone Inez berbunyi. Ternyata Andrew yang menghubungi Inez. Inez lalu mengangkat handphonenya.
"Aku di lobby Nez. Kamu keluar sekarang ya!" kata Andrew tanpa basa-basi.
Inez lalu mengambil tas miliknya dan buru-buru mematikan komputer. Ia pamit kepada Rio dan langsung pergi padahal Rio hendak menahan langkahnya.
"Lo mau ke mana? Lo nggak pulang bareng sama gue?" tanya Rio bingung melihat Inez yang pergi dengan tergesa-gesa.
"Sorry Yo. Gue pergi duluan ya. Gue Ada urusan."
"Tapi-"
Inez tetap saja pergi meninggalkan Rio. Ia harus perlahan-lahan menjauhi Rio. Walaupun sulit, Inez yakin Ia akan mengembalikan semuanya pada posisinya seperti semula.
*****
terima kasih ya kak 😍😍😍😍