Aiden yang telah terbiasa menikmati rasa sakit karena mencintai Agneta. Ia sudah menutup hati untuk wanita manapun. Menjadi sosok yang dingin dan begitu tak tersentuh.
Sejak Agneta memilih Davero, ia memilih pergi menjauh meninggalkan Indonesia. Dan mulai menetap di Negara A tepatnya di kota N dan mulai merintis kariernya di sana.
Tetapi takdir mempertemukan dirinya dengan masalalunya. Masalalu yang merupakan kesalahannya...
Catherin....
Akankah Catherin meluluhkan hati Aiden, dan menggantikan posisi Agneta di dalam hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indriani Sonaris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
"HalloNyonya," sapa Evelyn menghampiri Catherin yang tengah berada di halaman
belakang tengah membaca sebuah buku.
"Masih ingat punya sahabat. Lama banget nggak datang,"
seru Catherine.
"Ciee ada yang kangen aku," kekeh Evelyn mengambil duduk
di kursi taman dekat Catherin.
"Ke mana saja selama ini? Tidak biasanya kamu menghilang
begitu lama."
"Aku tuh sedang memberimu waktu buat dekat sama Aiden,"
kekehnya membuat Catherine menoleh ke arahnya. "Jadi bagaimana
perkembangan hubungan kalian?"
Catherine kembali menatap ke depan seraya menutup buku yang ada
dalam genggamannya.
"Dia jadi sedikit aneh," seru Catherine.
"Aneh bagaimana?" tanya Evelyn sangat penasaran.
"Dia jadi sedikit genit dan sangat manis, entah apa yang
telah terjadi kepadanya, akupun tidak tau."
Evelyn seketika tertawa mendengar seruan dari Catherin. "Itu
dia sedang berusaha untuk di terima olehmu lagi. Ayolah Cath, apalagi yang kamu
tunggu, dia sudah mengatakan kalau dia mencintaimu, bukan."
"Aku hanya ingin meyakinkan diriku sendiri kalau dia sungguh
mencintaiku. Eve, aku sudah berkali-kali menerima penolakan darinya dan saat
ini untuk mempercayai kalau dia mencintaiku itu sulit. Aku hanya takut,"
gumamnya.
"Kenapa kalian berdua begitu banyak pertimbangan dan
keraguan. Aku merasa gatal sendiri melihatnya, kalau kallian saling cinta
kenapa nggak saling mengungkapkan saja dan menerima satu sama lainnya,"
seru Evelyn dan Catherine hanya diam membisu.
"Lupakan tentang diriku, kamu sendiri bagaimana dengan Harry.
Kalian sungguh memiliki hubungan?" tanya Catherin menoleh ke arah Evelyn.
"Hubungan kami semakin baik dan kami sudah beberapa kali
kencan bersama," seru Eve tersenyum merekah.
"Kau ini sungguh-sungguh gerak cepat," kekeh Catherin.
"Heh memangnya kalian berdua yang lambat dan berputar di
situ-situ saja. Kalau aku sih nggak mau yah biarin hati aku terus tersakiti,
dan syukurlah sekarang sudah ada pengganti Aiden didalam hatiku. Jadi aku tidak
akan terus-menerus patah hati karena cinta sepihak," ucap Evelyn panjang
lebar membuat Catherin terkekeh.
"Syukurlah."
"Makanya cepat terima Aiden dan kalian mulailah hidup
bersama, jangan membuat hatimu terus terbelenggu dalam rasa sakit yang tidak
penting," ucap Evelyn.
Catherine hanya diam membisu.
Ꙭ
Hari ini Catherine melakukan terapy pertamanya di temani Aiden.
Aiden sudah lebih tau jadwal terapy Catherine dan dia yang mengingatkan
Catherine.
Sesampainya di rumah sakit, Catherine melakukan pemeriksaan
seperti biasa, kemudian memasuki ruangan terapy dan di minta untuk berdiri dan
berjalan dengan berpegangan pada pegangan besi yang berada di sisi kiri dan
kanan.
Seorang suster membantu Catherine untuk berdiri, di sisi lain
Aiden berjongkok dan menurunkan kedua kaki Catherine dari injakan kursi roda
hingga menyentuh lantai. Kemudian ia berdiri dan membantu Catherine berdiri
hingga Suster itu akhirnya membiarkan Aiden yang menuntun Catherine.
"Kamu tidak kesakitan?" tanya Aiden membuat Catherine
menggelengkan kepalanya.
"Aku masih merasa kedua kakiku berat dan mati rasa,"
ucap Catherine.
"Kamu pasti bisa," seru Aiden membantu Catherine
berpegangan pada kedua sisi yang ada di sisi kiri dan kanannya. Kemudian Aiden
melepaskan pegangannya pada Catherine dan membiarkan Catherine berjalan
sendirian.
Perlahan Catherine menggerakkan kakinya, terlihat di tarik tanpa
bisa di angkat. perlahan-lahan ia bisa berjalan dengan menarik kedua kakinya
yang terasa berat itu.
"Kamu pasti bisa, Sayang."
Mendengar panggilan itu, langkah Catherine berhenti saat sampai di
ujung batas pegangan dan konsentrasinya buyar membuat tubuhnya oleng hingga
hampir membentur lantai kalau saja kedua tangan kekar itu tidak sigap merengkuh
pinggang ramping Catherine hingga tubuh Catherine jatuh ke dalam pelukannya. Sepenuhnya
tubuh Catherine bertopang pada tubuh Aiden dan tatapan mereka berdua terpaut
satu sama lainnya.
Melihat tatapan tajam Aiden dari dekat terasa memancarkan
kehangatan dan kenyamanan yang sebelumnya tidak Catherine dapatkan. Selama ini
ia selalu melihat tatapan gelap dan kelam Aiden hingga ia selalu bingung dan
tidak mampu menebak apa yang Aiden rasakan dan pikirkan. Tapi kali ini berbeda.
Bahkan jantung Catherine semakin berdebar dan darahnya berdesir cepat karena
kehangatan yang di salurkan oleh Aiden.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Aiden.
"Tidak," jawab Catherine menggelengkan kepalanya.
Catherine kembali melakukan terapy dengan baik.
Ꙭ
Aiden baru saja menghentikan mobilnya di depan rumah Catherine,
mereka baru saja pulang terapy dan langit pun terlihat sudah gelap. Aiden menoleh ke arah Catherine di sisinya
yang sudah terlelap. Ia terlihat sangat kelelahan. Aiden menuruni mobilnya dan
berjalan memutari mobil menuju pintu penumpang. Ia kemudian meraup tubuh
Catherine ke dalam gendongannya dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Mouli terlihat membukakan pintu saat Aiden menekan bel rumah.
"Mine sudah tidur?" tanya Aiden.
"Sudah."
Setelah mendapatkan jawaban dari Mouli, Aiden kembali melanjutkan
perjalanannya menuju kamar Catherine. Sesampainya di sana ia pun merebahkan
tubuh Catherine di atas ranjang king size nya. Kemudian ia melepaskan sandal di
kedua kaki Catherine dan duduk di sisi ranjang. Aiden menatap Catherine yang
terlelap damai. Ia terlihat sangat cantik saat tertidur seperti ini bagaikan
seorang balita mungil yang menggemaskan. Tangan Aiden terulur membelai rambut
Catherine. Ia merasa betah menatap wajah catherine seperti ini, ia seperti
menemukan sesuatu yang menyenangkan.
"Cepatlah buka hati kamu dan terima aku, Catherine,"
gumam Aiden.
Aiden membungkukkan badannya untuk mengecup kening Catherine,
kemudian ia mengecup singkat bibir merekah Catherine yang selalu menggodanya
itu. Aiden menarik kembali tubuhnya setelah memberi kecupan pada Catherine, ia
pun beranjak dari duduknya. Saat hendak berbalik dan pergi, gerakannya terhenti
karena tangan lembut memegang tangannya. Tatapan Aiden tertuju pada tangannya
yang di genggam Catherine, kemudian tatapannya mengarah para wajah Catherine
yang masih terlelap. Ia hanya tersenyum dan kembali duduk di sisi ranjang.
Ꙭ
"Selamat malam Nona, kau mau pesan apa? Atau biar aku yang
menentukannya untuk Nona yang cantik ini," seru Louis saat melihat Evelyn
sampai di dekat meja bartender.
"Maaf tapi aku tidak sedang ingin memesan minuman.
Ngomong-ngomong, apa saya bisa menemui Mr. Harry?" tanya Evelyn.
"Oh ternyata kekasihnya Harry," seru Louis.
"Tidak bukan begitu, aku-"
"Ayo aku antar ke ruangan pak Bos," seru Louis yang di
angguki Evelyn.
Evelyn di antar oleh Louis menuju ruangan Harry.
"Silakan masuk," seru Louis membukakan pintu ruangan
Harry.
"Terima kasih."
Evelyn berjalan masuk ke dalam ruangan yang ternyata kosong,
kemudian ia mendengar suara pintu tertutup dari belakang.
"Hei?" seru Evelyn kaget dirinya di tinggalkan
sendirian.
Evelyn kembali melihat sekeliling ruangan yang kosong itu.
"Hallo..."
Saat dalam kebingungan dan berniat pergi meninggalkan ruangan itu,
terdengar suara pintu terbuka di bagian lainnya. Mata awas Evelyn langsung
tertuju pada pintu lain yang berada di depannya dan terlihat Harry baru saja
keluar dari sana. Evelyn mampu bernapas dengan lega.
"Lho Eve?" seru Harry saat melihat keberadaan Evelyn di
sana.
"Ah hai Harry," sapa Evelyn diiringi senyumannya.
"Aku tidak menyangka kamu akan datang kemari," serunya
tersenyum merekah dan terlihat bahagia melihat keberadaan Evelyn.
"Ayo duduk," serunya.
Evelyn pun duduk di sofa bersama dengan Harry.
"Aku akan ambilkan minuman," ucapnya mengambilkan dua
gelas kecil yang sudah diisi es batu, kemudian Harry menuangkan Wine jenis
terbaik yang ia miliki.
"Silakan," serunya menyodorkan segelas wine ke Evelyn.
"Ada apa kamu datang kemari? Aku sangat kaget tetapi juga
bahagia," seru Harry tersenyum lebar,
"Itu- sebenarnya tidak ada. Aku hanya ingin menemuimu,"
seru Evelyn tersenyum membuat Harry semakin tersenyum merekah.
"Kamu tau, aku juga sudah begitu merindukanmu," ucap
Harry sekarang tidak menahan dirinya lagi.
Harry kemudian beranjak dari duduknya dan berpindah ke sisi Evelyn
tanpa ada penolakan dari Evelyn.
"Kamu senang melihatku datang kemari?" tanya Evelyn.
"Sangat," seru Harry menatap Evelyn begitu dalam.
Tanpa mampu menahan diri lagi, Harry mendekatkan wajahnya ke
Evelyn dan memangut bibir Evelyn. Tanpa di sangka-sangka Evelyn pun membalas
ciuman Harry dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Harry. Mendapatkan
respon dari Evelyn, Harry semakin memperdalam ciumannya dan merengkuh pinggang
Evelyn.
Ꙭ
Catherine menahan pergelangan tangan Aiden yang hendak beranjak
pergi. Aiden menoleh ke arahnya yang sedang duduk di kursi roda dengan memegang
tangannya.
"Aku mencintaimu Aiden, jangan tinggalkan aku lagi,"
seru Catherin.
Aiden terlihat tersenyum merekah mendengarnya.
"Aku juga mencintaimu, Catherine."
Catherine membuka matanya, dan hanya suasana kamar yang
pencahayaannya minim yang ia dapatkan. Ternyata itu hanya mimpi saja.
Catherine hendak menarik tangannya tetapi sulit. Ia kemudian
mengalihkan pandangannya dimana tangannya di genggam seseorang. Tidak, lebih
tepatnya menggenggam tangan seseorang. Aiden terlihat tengah duduk di sisi
ranjang memperhatikannya.
"Kamu-?"
"Apa aku mengganggumu?" tanya Aiden.
"Ti-tidak, kamu ada di sini?" tanya Catherine.
"Ya, kamu menggenggam tanganku, aku tidak bisa pergi karena
takut mengganggumu," ucap Aiden.
Catherine merasa malu karena masih saja menggenggam tangan Aiden.
Ia pun melepaskan pegangan tangannya.
"Tidurlah, aku akan pulang," ucap Aiden beranjak dari
duduknya.
"Aiden, ini sudah malam," ucap Catherine menghentikan
gerakan Aiden. "Emm,, tidurlah di sini."
Aiden menoleh ke arahnya, kemudian melihat jam tangan yang
melingkar di pergelangan tangannya. "Baiklah, aku akan tidur di sofa ruang
keluarga," ucap Aiden.
"Tidak Aiden... Emm tidurlah di sini, a-aku aku tidak masalah
berbagi ranjang denganmu," ucap Catherine yang akhirnya menguntuk dirinya
sendiri karena mengusulkan hal konyol itu.
Aiden menaikkan sebelah alisnya. "Apa kamu serius?"
tanya Aiden.
Catherine diam membisu dan bingung harus menjawab apa. Apalagi
saat ini pasti wajahnya sudah memerah karena malu.
"Baiklah, aku akan tidur disini. Dan kamu tidak bisa menarik
ucapanmu lagi," seru Aiden tersenyum.
Aiden melepaskan jas yang ia gunakan, kemudian merebahkan tubuhnya
di sisi Catherine membuat Catherine memalingkan wajahnya karena jantungnya
semakin berdebar cepat.
"Eh?"
Catherine memekik kaget saat Aiden menggenggam tangannya. Ia
menoleh ke arah Aiden yang juga tengah menatap ke arahnya.
"Kamu boleh menggenggam tanganku lagi," ucap Aiden
tersenyum merekah. "Dan ini terasa sangat nyaman."
Aiden mampu membuat wajah Catherine bulshing...
Ꙭ
maunya sih extra part nya saja thooor....
hehehe maaf yaa....