Kayla hancur saat tunangannya, Damar, ketahuan selingkuh dan menghina dirinya sebagai wanita “mandul”. Dikhianati keluarga sendiri, ia kabur dalam keadaan terluka hingga tanpa sadar menghabiskan malam dengan seorang pria asing di hotel. Tanpa ia ketahui, pria itu adalah Adrian, CEO dingin dan berkuasa yang kemudian menjadi atasan barunya di hotel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
Jantung Kayla berdetak jauh lebih kencang dibandingkan sebelumnya. Telapak tangannya mulai berkeringat, sementara kepalanya terus tertunduk menghindari tatapan pria yang berdiri tepat di hadapannya. Dengan suara pelan yang dipenuhi rasa gugup, akhirnya ia memberanikan diri berbicara.
"Terima kasih, Pak Adrian, karena sudah membantu saya hari ini."
Adrian menatap wajah Kayla dengan begitu saksama. Wajah pucat wanita itu justru membuatnya ingin menenangkan. Tangannya sempat terangkat, berniat menyentuh bahu Kayla, tetapi ia mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin membuat Kayla semakin merasa tertekan.
"Kamu memang tidak bersalah," ucap Adrian tenang. "Jadi, kamu tidak perlu berterima kasih kepadaku."
Kayla mengangkat wajahnya sekilas, lalu buru-buru menunduk lagi. Ia benar-benar tidak sanggup menatap mata pria itu terlalu lama.
"Pak Adrian memang pemimpin yang bijaksana," ucap Kayla lirih. "Sekali lagi saya berterima kasih karena sudah menolong saya. Kalau sudah tidak ada keperluan lagi, saya izin kembali bekerja."
Usai berkata demikian, Kayla segera melangkah hendak meninggalkan ruangan. Namun, baru beberapa langkah, Adrian bergerak lebih dulu dan berdiri tepat di depannya.
Hampir saja tubuh Kayla kembali menabrak dada bidang pria itu.
"Kayla..."
Suara Adrian terdengar begitu pelan, nyaris seperti bisikan.
"Apa kamu benar-benar sudah melupakan malam itu?"
Napas Kayla langsung tertahan.
Belum sempat ia menjawab, Adrian kembali mendekat hingga hanya tersisa jarak beberapa sentimeter di antara mereka.
"Kamu bilang aku hanya seharga dua ratus ribu."
Kayla memejamkan mata sesaat.
"Kamu juga bilang aku tampan, tapi tidak berguna."
Wajah Kayla semakin memerah menahan malu.
"Dan..." lanjut Adrian dengan senyum tipis di sudut bibirnya, "kamu mengatakan permainanku biasa-biasa saja."
Deg!
Kayla benar-benar ingin menghilang saat itu juga.
Ia tidak menyangka Adrian masih mengingat semua ucapan yang dulu keluar begitu saja karena kesalahpahaman.
"Maaf, Pak," ucapnya terburu-buru. "Waktu itu saya benar-benar salah paham. Saya mengira Bapak seorang gigolo."
Kayla menggigit bibirnya sebelum melanjutkan dengan wajah yang semakin memanas.
"Dan... sebenarnya Bapak tidak seperti yang saya katakan waktu itu."
Alis Adrian sedikit terangkat.
"Oh, ya?"
"Iya, Pak."
Kayla mengangguk cepat sambil terus menundukkan kepala.
"Bapak... jauh lebih hebat dari yang saya bayangkan. Pokoknya semua ucapan saya malam itu tidak benar. Saya sungguh minta maaf. Anggap saja itu hanya kesalahpahaman."
Senyum Adrian semakin lebar. Entah mengapa, mendengar pengakuan itu membuat harga dirinya yang sempat terluka perlahan pulih.
"Benarkah begitu?"
"Iya, Pak."
Kayla mengangguk tanpa berani mengangkat wajahnya.
"Sekarang... saya permisi dulu."
Ia kembali mencoba melewati Adrian. Namun, lagi-lagi pria itu menghalangi jalannya.
"Kayla."
Suara Adrian kali ini berubah lebih serius.
"Bagaimana dengan kehamilanmu?"
Tubuh Kayla langsung menegang.
Ia menggenggam kedua tangannya erat-erat agar tidak terlihat gemetar.
"Maaf, Pak."
Suaranya terdengar lirih.
"Anak yang saya kandung bukan anak Bapak."
Adrian terdiam.
"Itu anak dari mantan tunangan saya."
Kalimat itu meluncur begitu cepat seolah sudah dipersiapkan sejak lama.
"Jadi... Bapak tidak perlu salah paham."
Selesai mengatakan itu, Kayla langsung berlari meninggalkan ruangan tanpa memberi kesempatan Adrian bertanya lagi.
Pintu ruangan tertutup perlahan, menyisakan Adrian yang masih berdiri mematung di tempatnya.
"Bukan anakku?"
Kalimat itu berulang kali terngiang di dalam kepalanya.
Dahinya berkerut semakin dalam. Ia mencoba mengingat kembali malam yang mengubah hidup mereka berdua.
Ia masih mengingat dengan jelas bercak darah yang tertinggal di atas seprai hotel pada malam itu. Kenangan itu begitu melekat di ingatannya hingga sulit dilupakan.
"Kalau malam itu memang yang pertama baginya..." gumam Adrian pelan.
Tatapannya berubah semakin tajam.
"Lalu kenapa dia mengatakan anak itu milik mantan tunangannya?"
Semakin dipikirkan, ucapan Kayla justru terasa penuh kejanggalan. Insting Adrian mengatakan ada sesuatu yang sedang disembunyikan wanita itu darinya.
,,,
,,,
Waktu terus berlalu hingga akhirnya akhir pekan pun tiba. Hari itu adalah hari Sabtu, hari yang sejak beberapa hari terakhir membuat hati Kayla dipenuhi kegelisahan. Sejak bangun pagi, pikirannya terus dipenuhi keputusan besar yang akan menentukan jalan hidupnya.
Kayla mengenakan celana jeans biru muda yang dipadukan dengan kaus putih lengan panjang bergaris dua di bagian dada. Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai menutupi bahunya. Penampilannya terlihat sederhana, tetapi wajahnya tampak begitu pucat karena semalaman hampir tidak bisa tidur.
Di dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Harmoni, sebelah tangannya tanpa sadar terus mengusap perutnya yang masih belum terlihat membesar. Hatinya terasa sesak setiap kali mengingat alasan kedatangannya ke rumah sakit itu.
"Maafkan Ibu, ya, Nak,"lirihnya di dalam hati.
"Bukan karena Ibu tidak menyayangi kalian. Justru karena Ibu sayang, Ibu tidak ingin kalian lahir hanya untuk merasakan penderitaan. Kakek dan nenek kalian bukan orang yang baik. Cukup Ibu saja yang merasakan hidup seperti itu."
Air mata perlahan menggenang di pelupuk matanya.
Seharusnya hari-hari seperti ini menjadi saat paling membahagiakan bagi seorang calon ibu. Terlebih lagi, ia sedang mengandung bayi kembar, sesuatu yang diimpikan banyak perempuan. Ayah dari anak-anak itu juga seorang pria sukses yang memiliki segalanya.
Namun, semua itu tidak membuat Kayla merasa tenang.
Ia tidak yakin Adrian akan menerima dirinya setelah mengetahui seperti apa keluarganya. Lebih dari itu, ia juga tidak yakin pria itu bersedia mengakui dua bayi yang kini tumbuh di dalam rahimnya.
Sesampainya di Rumah Sakit Harmoni, Kayla langsung menuju ruang praktik Maya. Sahabat lamanya itu sudah menunggu sambil membawa beberapa berkas pemeriksaan.
"Maya..."
Suara Kayla terdengar lirih.
"Kenapa sampai Pak Adrian bisa tahu hasil pemeriksaanku?"
Maya mengembuskan napas pelan sebelum menjawab.
"Kay, ternyata pemilik hotel tempatmu bekerja juga merupakan salah satu pemegang saham terbesar di rumah sakit ini."
Kayla terdiam.
"Kalau beliau meminta akses terhadap data tertentu, pihak manajemen tentu akan memberikannya. Aku benar-benar tidak punya kuasa untuk mencegahnya."
Kayla hanya tersenyum pahit.
"Ternyata... bagi orang yang punya kekuasaan, mendapatkan apa pun memang terasa sangat mudah."
Suasana ruangan kembali sunyi beberapa saat.
"Maya..."
Kayla kembali membuka suara.
"Aku tetap ingin melakukan aborsi."
Maya menatap sahabatnya dengan mata yang dipenuhi rasa iba. Ia menggenggam tangan Kayla pelan sebelum menggelengkan kepala.
"Maaf, Kay."
"Kenapa?"
"Rumah sakit ini sudah tidak melayani tindakan aborsi."
Kayla langsung membeku.
"Tapi aku sudah mendaftar sejak beberapa hari lalu. Bahkan biaya administrasinya juga sudah kubayar."
"Nanti semua uangmu akan dikembalikan."
Maya menghela napas panjang.
"Mulai minggu ini, ada kebijakan baru. Tidak ada dokter di rumah sakit ini yang diizinkan melakukan tindakan itu."
Kayla memejamkan mata sesaat. Dadanya terasa semakin sesak.
"Kalau begitu... aku akan mencari rumah sakit lain."
Maya hanya mampu menatap punggung sahabatnya dengan rasa bersalah saat Kayla perlahan meninggalkan ruang praktik.
Seharian penuh Kayla berkeliling dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Rumah sakit besar, rumah sakit swasta, bahkan beberapa klinik yang pernah ia dengar dari orang lain juga ia datangi.
Namun, hasilnya tetap sama.
Tidak ada satu pun tempat yang bersedia melakukan tindakan tersebut.
Menjelang sore, langkah Kayla akhirnya terhenti di sebuah taman kota yang memiliki danau kecil di tengahnya. Ia duduk di sebuah bangku kayu sambil memandang permukaan air yang bergoyang pelan diterpa angin.
"Kenapa..." gumamnya lirih.
"Kenapa semua rumah sakit menolak melakukan aborsi?"
Tangannya perlahan mengeluarkan hasil USG dari dalam tas. Ia menatap gambar dua janin kecil yang masih terlihat samar di atas lembaran kertas itu.
Air matanya kembali jatuh.
"Mungkin..." bisiknya sambil mengusap perutnya dengan penuh kasih.
"...memang sudah takdir kalian untuk tetap hidup."
Belum sempat ia larut lebih jauh dalam pikirannya, ponsel di dalam tas tiba-tiba berdering.
Nama Ibu muncul di layar.
Kayla menarik napas panjang sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.
"Halo, Bu."
"Dasar anak durhaka!" Suara Saraswati langsung terdengar keras dari balik sambungan telepon.
"Apa kamu sudah lupa sama orang tua yang membesarkanmu?"
Kayla memejamkan mata. "Maaf, Bu."
"Hari ini ulang tahun Ibu." Suara Saraswati masih terdengar ketus.
"Malam ini kamu harus pulang. Apa kamu memang tidak mau merayakan ulang tahun Ibu sendiri?"
Kayla menggigit bibirnya pelan. "Baik, Bu. Nanti malam Kayla pulang."
Tanpa mengucapkan apa pun lagi, sambungan telepon langsung terputus.
Kayla kembali mengembuskan napas panjang.
Sudah hampir tiga bulan ia tidak pernah menginjakkan kaki di rumah orang tuanya. Sejak pertunangannya dengan Damar berakhir karena perselingkuhan, keluarganya justru lebih memilih membela Damar daripada dirinya.
Meski begitu, setiap bulan Kayla tetap mengirimkan sebagian besar gajinya kepada kedua orang tuanya. Bagaimanapun juga, ia masih menganggap mereka sebagai keluarga.
Namun, setiap kali mengingat rumah itu, yang muncul di benaknya bukanlah rasa rindu, melainkan ketakutan. Hari ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia harus kembali menghadapi orang-orang yang selama ini lebih sering melukai hatinya daripada memeluknya.