follow Ig 👉 dindin_812
New Adult romance
WARNING!!! Sebelum baca siapkan hati, karena dijamin bakal kesel, baper, tegang dan lain lain.
Setting di London.
Jovanka adalah seorang gadis manja, ia memiliki paman bernama Jody yang begitu sangat menyayangi dirinya sejak kecil. Entah hanya sebuah perasaan sayang terlalu besar atau apa, membuat Jovanka sering merasa cemburu jika sang paman dekat dengan wanita lain.
Hingga suatu ketika karena akal bulus seseorang, membuat Jovanka dan Jody mengalami tragedi satu malam. Jovanka yang tidak ingin Jody merasa bersalah pun memilih pergi, tahu jika tidak mungkin baginya bisa bersama adik sang mamah, meski bunga-bunga cinta tumbuh di hatinya.
Namun, siapa sangka dibalik itu semua, Jovanka tidak tahu kalau Jody ternyata bukanlah adik kandung sang mamah. Lalu bagaimana kisah mereka selanjutnya? Baca selengkapnya di sini.
Pict from Pinterest editing by Din Din
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Menerima lamaran
Meski ada sedikit keraguan, tapi di lamar oleh pemuda yang ia kagumi sejak dari dia remaja adalah hal yang luar biasa. Kini jiwanya melambung tinggi hingga ke awang-awang, di temani ribuan kupu-kupu dan bunga-bunga yang bertebaran menemani hati yang tengah bahagia.
Jovanka menganggukan kepala dengan mata berbinar, tidak percaya jika semuanya terjadi bagai dalam sebuah mimpi. Meskipun itu mimpi, maka ia menolak untuk bangun dan meninggalkan hal yang begitu terasa manis untuk dirasakan.
Mendapatkan jawaban dari gadis kesayangannya, Jody langsung mengambil cincin dari kotaknya menyematkannya di jari manis Jovanka. Rasa haru dan bahagia itulah yang tengah Jovanka rasakan, hingga tanpa terasa buliran kristal bening menetes dari ujung mata gadis itu.
Jody bangkit dan langsung memeluk tubuh Jovanka, merengkuhnya penuh kasih sayang. Sesekali di kecupnya ujung kepala gadis itu dengan penuh rasa tidak percaya, petaka yang datang di antara mereka ternyata membuahkan hasil manis, membongkar isi hati mereka hingga akhirnya bisa mengerti satu sama lain.
Jovanka duduk di sofa bersama Jody, ia menyandarkan kepalanya di dada bidang pemuda itu. Netranya menatap ke arah jari manis yang sudah disematkan cincin sebagai tanda cinta pemuda yang ingin menikahinya.
"Jo."
"Hmm ...." Jovanka hanya mendeham.
"Malam itu, meski aku melarangmu kenapa kau masih bertekad untuk masuk? Apa kau tidak takut sama sekali?" tanya Jody yang diiringi dengan sebuah kecupan di pucuk kepala Jovanka.
Mendengar pertanyaan Jody membuat rona wajah Jovanka kembali memerah, ia langsung bangun serta menangkupkan kedua telapak tangannya untuk menutup wajah yang merona karena malu.
"Kenapa Paman menanyakan hal itu?" tanya Jovanka mencoba menahan rasa malunya.
Jody terkekeh, kemudian ia mencoba menyingkirkan kedua tangan Jovanka agar tidak menutupi wajah cantik yang selalu membuatnya terpesona serta enggan melirik gadis manapun.
Mereka saling bertatap, Jovanka mengalihkan wajahnya ke arah lain, ia benar-benar merasa malu. Saat itu ia tidak berpikir takut atau apapun, yang ada di benaknya hanyalah bagaimana cara menolong pamannya.
Jody mengangsurkan jemarinya dari sisi wajah Jovanka hingga ke dagu, sedikit menyentuhnya agar Jovanka kembali menatap ke arahnya. Ditatapnya manik indah yang terlihat begitu memabukan membuatnya terlena serta hanya ingin memujanya.
"Kau tahu, saat aku tahu jika itu kau. Rasa bersalah terus menghantui pikiranku, aku tidak tahu apa kau tersiksa dengan kejadian itu. Aku tidak bisa melihatmu menderita, Jo!" ungkap Jody.
Jovanka tersenyum manis, dikecupnya kening Jody dengan penuh kasih sayang. "Aku memang takut saat itu, tapi rasa itu mengalahkan segalanya. Rasa sayangku mengalahkan rasa takutku, bagiku Paman adalah segalanya, aku tidak akan bisa jika Paman harus menderita," tandas Jovanka seraya membelai mesra pipi Jody.
Jody memegang tangan Jovanka yang ada di wajahnya, di kecupnya tangan itu berkali-kali. "Terima kasih, Jo! Jika malam itu aku tidak bertemu denganmu, mungkin sekarang aku akan terjebak dengan gadis lain, dan aku tidak akan rela seumur hidupku," ungkap Jody.
"Aku pun sama."
Jody meraih tengkuk leher gadisnya, menyentuhkan bibir hangatnya ke bibir ranum Jovanka, mengulum serta menyesap merasakan manis bibir yang membuatnya tergoda. Hal itu juga tidak mendapat penolakan dari sang empu, Jovanka memejamkan matanya, merangkulkan kedua lengannya pada leher pemuda itu, merasakan tiap sentuhan bibir hangat Jody yang sarat akan kasih sayang, berbeda dengan malam dimana hanya ada nafsu sesaat yang menguasai jiwa.
Aiden baru saja keluar dari sebuah minimarket dengan kantong belanjaan di tangannya, malam itu ia berniat untuk mengunjungi Jovanka dan mengajak gadis itu membuat makan malam bersama, sesaat setelah memasukan barang belanjaan ke bagasi, matanya menangkap sesosok gadis yang ia kenal. Jiwa penasarannya meronta, ia pun akhirnya mengikuti sebuah taxi yang membawa seorang gadis di dalamnya.
Aiden terkesiap karena tempat yang di datangi adalah sebuah Rumah sakit, ia tidak turun dari mobil hanya menerka-nerka apa yang akan di lakukan di sana.
"Perawatan, konsultasi Atau-" Pikirannya mencoba menebak hingga matanya tertuju pada sesuatu.
Sebuah boneka melambai dari dalam tas yang di bawa gadis itu, karena semakin penasaran akhirnya Aiden turun dari mobilnya dan membuntuti gadis itu lagi.
Langkahnya begitu ringan, mengendap-endap seakan sedang membuntuti kekasih yang ingin bertemu dengan selingkuhannya. Matanya terperangah ketika mengetahui bangsal apa yang di tuju gadis itu.
"Bangsal anak?"
Aiden masih tidak berhenti, hingga gadis itu masuk ke dalam sebuah kamar inap. Ia mengintip dari kaca kecil yang berada di pintu, ditatapnya gadis itu yang terus tersenyum bahagia bertemu dengan gadis kecil yang di perkirakan baru berumur sekitar 12 tahun. Bahkan ia melihat gadis itu memberikan boneka yang tadi berada dalam tas dengan senyum yang terus tersirat untuk menutupi sebuah kesedihan.
"Apa yang Anda lakukan disini, Tuan? Kalau mau mengunjungi pasien, Anda bisa langsung masuk saja." Suara perawat mengagetkan Aiden.
Belum sempat menjawab perkataan perawat itu, Aiden dikejutkan dengan suara pintu terbuka dari ruangan yang ia intip. Tentu saja gadis yang berada di dalam ruangan langsung keluar begitu mendengar suara ribut di luar.
"Ada apa?" tanya Thalia begitu membuka pintu. Ya, gadis yang di buntuti oleh Aiden adalah Thalia.
Thalia terkesiap ketika melihat Aiden yang berada di sana dan tampak kebingungan ketika melihat dirinya.
"Tuan ini dari tadi berada di depan pintu ruangan adik Anda, saya pikir Beliau ingin mengunjungi adik Anda," ungkap perawat itu.
"Baiklah, terima kasih," ucap Thalia dengan seulas senyum.
"Kalau begitu saya permisi." Perawat itu meninggalkan Aiden dan Thalia.
Kini rasa canggung melanda Aiden, ia harus mencari alasan yang pas agar Thalia tidak curiga jika dirinya membuntuti gadis itu.
"Apa yang Anda lakukan disini? Apa Anda sendiri?" tanya Thalia seraya mengamati sekitar.
"A-aku baru menjenguk temanku, dan ya, aku sendiri," jawab Aiden dengan mengusap tengkuk lehernya.
"Ohh ... kalau begitu saya masuk lagi," pamit Thalia tetap sopan dengan pemuda yang menjadi atasannya itu.
"Apa dia adikmu? Adik yang kau bilang waktu itu?" tanya Aiden ketika Thalia sudah membuka pintu untuk masuk kedalam.
Thalia menoleh dan tersenyum pada Aiden, tapi dalam senyumnya sarat akan kesedihan yang ia coba tutupi.
"Boleh aku melihatnya?" tanya Aiden lagi. Sekeras apapun Aiden dalam pekerjaan, akan tetapi ia akan melembut jika menyangkut tentang perasaan, terlebih ia juga memiliki adik yang sama dengan Thalia.
Thalia hanya mengangguk mempersilahkan Aiden masuk, ditatapnya gadis yang tengah duduk di atas ranjang pesakitan dengan wajah yang begitu pucat, kantung mata hitam dan tubuh yang kurus kering, membuat hati Aiden merasa bergetar dan sakit ketika menatapnya.
*
*
*
*
*
*
Note Author:
Terima kasih atas dukungannya, Saya sangat menghargai setiap like koment kalian, karena like koment itu adalah sebuah Mood Booster untuk saya. lope lope sekebon bunga mawar melati 😘😘