Retha sudah memutuskan untuk menikahi kekasihnya. Dia berusaha melupakan sang mantan yang sangat dicintainya. Namun seminggu sebelum dia resmi menjadi istri dari Andrian, Bian mantan kekasihnya kembali untuk meminangnya. Lalu apakah Retha akan kembali ke pelukan Bian atau justru memperjuangkan cinta Andrian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enjang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NYANYIAN PERPISAHAN
"Tapi sebelum itu, aku ingin melakukan sesuatu. Mas Andrian bantuin ya." ujar Retha
Dahi Andrian mengernyit. "Apa?"
Retha menarik kedua tangannya. "Aku ingin nyanyiin Bian sebuah lagu yang menggambarkan perasaanku saat ini dan Mas Andrian nanti yang rekam. Aku mau upload di medsos biar dia juga lihat dan dengar langsung lagu ini. Jadi, aku bisa langsung ambil keputusan setelahnya."
"Kalau Bian menyadari perasaannya saat dengar lagu ini, mungkin aku akan bertahan menunggu kembalinya Bian. Tapi kalau dia nggak ngrespon apapun, aku akan lebih yakin buat nglupain dia." terang Retha sambil menghela napas.
Andrian pun tersenyum. "Kayaknya aku tahu tempat yang cocok buat itu."
Andrian pun berdiri. Mengulurkan tangannya pada Retha.
"Ayo, kita kesana sekarang." ajak Andrian sambil menggenggam kembali tangan Retha
Retha mengamati genggaman tangan itu. Begitu erat seolah Andrian tidak ingin melepasnya. Langkah kaki Andrian mengarah ke rumah Retha.
"Tempat yang kamu maksud itu di rumah Mas?" tanya Retha
"Nggak Tha. Mau ambil mobil dulu. Tempatnya agak jauh dari sini, nggak mungkin kalau kita jalan kaki kesana." ujar Andrian sambil membuka pintu
Retha berdiri di sisi lain mobil dan masuk ke dalamnya.
"Kenapa Mas Andrian nggak nyoba buat melakukan hal yang sama?" Celetuk Retha
"Sudah nggak ada kesempatan lagi Tha." ujar Andrian datar sambil menyalakan mobil
Deru mobil Andrian terdengar, sedan silver itu mengarah ke pertigaan utama rumah Retha dan berbelok ke arah timur.
Jalanan kali itu lumayan ramai. Selain karena malam minggu juga cuaca sedang cerah sekarang. Retha memandang ke arah Andrian. Rahang tegas Andrian dengan hidung yang mancung menjadi pusat perhatiannya. Wajah tenang yang selalu dilihatnya dan sikap hangat yang Andrian lakukan. DEG.. Mendadak dada Retha berdegup tatkala tatapannya bertemu dengan kedua mata hitam Andrian.
Retha pun mengalihkan pandangannya keluar jendela. Berusaha menutupi rasa malu yang sedang dia rasakan.
Andrian pun tertawa sambil terus mengendarai mobilnya. Mobil itu berhenti di sebuah cafe dengan rooftop dan live musik di dalamnya.
"Mas, nggak salah nih? Aku nyanyi di cafe? Kalau suaraku jelek terus fals gimana dong? Kan malu." Panik Retha
"Coba aja dulu Tha. Lagian cafenya sepi kok. Jadi nggak terlalu malu-maluin." ujar Andrian sambil keluar dari mobil
Dengan penuh keraguan Retha mengikuti Andrian menuju meja kasir.
"Chocolate Mint 1 ya. Sama Dimsum terus sundukannya seporsi." pesan Andrian
"Aku mau vanila latte aja deh." imbuh Retha
Mereka berdua pun naik ke rooftop. Suasana saat itu lumayan sepi. Hanya ada beberapa remaja yang sedang nongkrong di beberapa sudut. Andrian berjalan penuh percaya diri menghampiri sang vokalis band yang sedang break.
"Emm permisi mas. Boleh nggak teman saya nyanyi 1 lagu aja?" tanya Andrian
"Boleh Mas Bro. Tentu saja boleh. Mbaknya sini naik ke panggung." ajak laki-laki berambut gondrong itu
"Andrian aku malu." bisik Retha
"Nanggung Tha udah sampai sini masak nggak jadi Tha." ujar Andrian dengan wajah memelas
"Kan Aku nggak pernah lihat kamu nyanyi. Bisa mati penasaran nih kalau beneran nggak jadi." cerocos Andrian
"Tapi.."
"Kamu bisa Retha. PD dong sesekali. Semangat demi Bian." goda Andrian sambil menjauh dari panggung berniat mencari angle yang pas untuk merekam Retha
Retha pun duduk di sebuah kursi berbentuk lingkaran. Dengan gitar di tangannya, Retha mengangkat satu kakinya di pantalan kursi. Ditatapnya wajah anak muda yang mulai fokus melihatnya. Ada yang tertawa meremehkan. Ada yang justru fokus karena penasaran. Ada juga yang sibuk bergunjing tanpa melihat keadaan. Rasa grogi pun mulai menjalari hatinya. Retha menarik napas perlahan. Menatap wajah Andrian yang sibuk memegang ponsel. Andrian menganggukkan kepalanya.
Sejenak kemudian suara nyaring dari petikan gitar mulai terdengar. Retha memejamkan mata sejenak.
"Malam sunyi ku impikanmu
Ku lukiskan kita bersama
Namun selalu aku bertanya
Adakah aku di hatimu."
Suara merdu mengalun indah di telinga Andrian. Matanya menatap lekat gadis di depannya.
"Di hatiku terukir namamu
Cinta rindu berpadu satu
Namun selalu aku bertanya
Adakah aku di mimpimu?"
Bait demi bait yang Retha lantunkan membuat Andrian semakin terbawa oleh suasana. Terlintas begitu saja sosok Chindy dan apa yang pernah mereka lalui bersama.
"Telah kunyanyikan alunan alunan senduku
Telah ku bisikkan cerita cerita gelapku
Telah ku abaikan mimpi mimpi dan ambisiku
Tapi mengapa ku takkan bisa
Sentuh hatimu."
Tetes demi tetes air mata jatuh di pipi Retha. Hatinya kembali sakit mengingat semua perlakuan hangat Bian yang tidak berarti apa-apa. Retha terus mengulang beberapa kali bait yang sama sambil mengenang kembali masa itu.
Andrian pun tak luput dari kesedihan. Entah karena suara Retha atau lagu yang Retha bawakan.
Riuh tepuk tangan terdengar begitu Retha mengakhiri lagunya. Retha yang tak sanggup menahan tangis pun segera turun ke bawah kembali. Andrian yang menyadari itu segera mengejar Retha.
Retha berlari keluar cafe. Berdiri di sebuah taman kecil di belakang cafe. Air matanya berlinang. Sakit. Hatinya kembali merasakan sakit. Rindu yang mendalam untuk orang yang tidak merasakan hal yang sama. Retha menangis tersedu sambil memeluk kedua lututnya.
Andrian menatap Retha yang terduduk di bawah. Andrian berjongkok dan memeluk Retha. Diusapnya punggung Retha untuk menenangkan sedihnya.
Untuk kedua kalinya mereka menangis bersama di tempat umum. Andrian melepas pelukannya dan menatap wajah Retha yang basah. Andrian pun mendekatkan wajahnya. Semakin dekat hingga wajah mereka tak berjarak. Andrian mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir Retha. Menyesapi setiap inci bibirnya. Retha hanya diam sambil memejamkan matanya.
Retha memeluk Andrian dengan erat. Ciuman itu memberi mereka kehangatan, memberi kekuatan, dan meyakinkan keduanya bahwa mereka memang saling membutuhkan.
Cukup lama mereka ada di posisi itu. Sampai akhirnya Andrian menyudahinya. Napas mereka tersengal. Dahi mereka masih menyatu. Mata Retha masih terpejam dengan tangan yang melingkar di leher Andrian.
"Kita bisa melewati ini Tha. Bersama dan saling ada satu sama lain. Jangan pernah menyerah hanya karena sebuah rasa sakit Tha. Kamu harus bisa membuka hatimu kembali. Dan mendapatkan cinta yang baru." ujar Andrian pelan setengah berbisik
Retha mengangguk pelan sambil melingkarkan tangannya kembali ke tubuh Andrian. Mereka pun saling berpelukan di bawah cahaya rembulan. Mengumpulkan sisa sisa rasa dan menyatukannya di dalam sebuah harapan yang sama.
Tak jauh dari sana. Seorang wanita dengan dress berwarna olive terlihat geram melihat pemandangan di depannya. Amarah tampak di kedua tangannya yang mengepal.
"Lihat aja apa yang bakal aku lakuin untuk kasih kamu pelajaran. Andrian milikku. Sampai kapanpun nggak akan aku relakan orang seperti kamu merebutnya dariku." ujarnya menatap benci ke arah Retha.
perjuangan Retha untuk merubah diri sendiri luar biasa
apalagi dua tokoh cowoknya yang ganteng-ganteng meski beda karakter membuat cerita ini hidup
konflik batin diantara mereka bertiga buat otak travelling
bikin baper juga sih
pokoknya karya ini reccomen banget buat dibaca semua kalangan
Lanjutan dari Hati yang terluka
Jangan dong
pak ilhamnya aja yang keliru
ngakak bener baca ceritanya
mampir nih tor. bawa like dan mawar untukmu.
mampir di loser man ya,
semuanyaaa. semoga suka sama cerita mak😊