Sinopsis
Pernah tidak kepikiran kalau saja kalian punya ilmu yang tiada tanding di alam lain? Ya... kita mungkin tidak pernah kepikiran sampai ke sana, tapi ini beda dengan yang di alami oleh Tan Xiao Yi. Di kehidupannya saat ini dia adalah seorang ibu rumah tangga dengan 3 orang anak dan sebagai istri dari seorang pengusaha yang cukup sukses.
Hingga suatu ketika pada saat malam tiba, dia langsung pindah ke dimensi alam lain yaitu era 700 masehi masa Dinasti Tang. Disanalah dia memasuki ke dalam tubuh seorang gadis cantik bernama Yiyi.
Bagaimana kehidupan dia disana sebagai Yiyi? Apakah dia bisa kembali ke alam nyatanya lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan kami ke kerajaan Lim
"Sok manis sekali," ucap Mo Yan tiba-tiba dengan wajah kesalnya.
"Kau marah?" tanyaku memastikan kondisinya.
Dia tidak menjawabku. Hanya diam sambil menutup matanya dan duduk dengan tegak.
'Nih orang posessif banget,' ujarku dalam hati.
"Kau sempat keluar dari istana pada malam hari dengan pakaian laki-laki?" tanya Mo Yan menyelidikiku.
"I.. iya! Tapi waktu itu, aku sedang ada urusan," jawabku kikuk.
"Bagaimana caranya kamu bisa lolos dari penjagaan ketat para pengawal istana?"
"A...aku...lewat pintu belakang," kataku yang sengaja membohonginya.
Dia mengernyitkan dahinya sambil menatapku tajam lagi. "Ahaaa... kau membohongiku ya?" terkanya yang mencari kejujuran lewat mataku.
"Nnggg... tidak kok," jawabku cepat. 'Gawat! gawat!' ujarku dalam hati. "Aduhhhh.... perutku sakit!" seruku sambil memegang perutku yang sedang berpura-pura kesakitan untuk membohonginya agar dia tidak lanjut membahasnya lagi.
"Perutmu sakit? Apa kita mesti berhenti sebentar?" tanyanya dengan mimik wajah khawatir sambil meraba perutku.
"Nnggg... tidak usah. Jika berhenti di sini maka akan memperlambat perjalanan kita," kataku yang masih pura-pura sakit.
"Sini! Bersandarlah padaku!" serunya sambil menyandarkan kepalaku di dadanya.
'Akhirnya, bisa di tipu juga,' ucapku dalam hati dan mencuri senyum-senyum sendiri darinya.
Akibat bersandar di dadanya yang bidang, aku jadi terbawa suasana kantuk. Apalagi aku kurang tidur tadi pagi, jadi tanpa sadar sudah terlelap hingga sampailah kami di suatu penginapan lagi di daerah perbatasan.
Kereta kuda berhenti dan aku mulai membuka kedua mataku. "Kita sudah sampai?" tanyaku pada Mo Yan.
"Kita menginap satu malam di penginapan, esok pagi baru di teruskan lagi. Sepertinya semua sudah lelah," jawab Mo Yan.
"Mm.." kataku singkat.
"Apa perutmu sudah baikkan?" tanyanya cemas.
Aku membenarkan posisi dudukku sambil memukul-mukul pelan tangan kiriku yang pegal akibat bersandar tadi.
"Ya, perutku sudah tidak sakit lagi," jawabku.
"Pangeran, hamba sudah cek area penginapannya dan masih ada beberapa kamar untuk kita tempati," lapor Ling Zhe dari luar.
"Baiklah! Kita istirahat dulu sekarang!" serunya sambil keluar dari kereta kudanya.
Aku mengikutinya dari belakang dan Ruyi juga sudah tampak kelelahan. Ruyi berjalan agak sempoyongan karena menahan kantuknya yang berat.
"Ruyi, kau mabuk?" tanyaku yang melihat tingkahnya.
Dia langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat dan berusaha melihatku dengan semangat lagi.
"Tidak, nyonya. Hamba baik-baik saja," jawabnya.
"Malam ini, kau harus tidur yang baik agar besok dapat melanjutkan perjalanan lagi!" seruku sambil menggandeng tangannya.
Kami berjalan masuk ke penginapan dan di antar oleh beberapa pelayan sana untuk menuju ke kamar yang kami pesan.
"Ini kamar yang tersisa, tuan!" tunjuk pelayan tersebut pada dua kamar kosong yang berdempetan.
"Baiklah, terima kasih!" ujar Mo Yan pada pelayan tadi. "Yiyi, ayo kita istirahat sekarang!" ajaknya sambil menarik lengan tangan kananku masuk ke dalam kamar.
"Tu..tunggu dulu!" seruku sambil menghentikan langkah kakiku. "Kita tidak bisa tidur bersama malam ini."
"Hah?" tanyanya yang masih belum mengerti.
"Ruyi dan Ling Zhe tidak mungkin tidur bersama. Jadi lebih baik, Yang Mulia tidur dengan Ling Zhe dan Ruyi denganku," jelasku.
"Kalau begitu, ya sudahlah," ucapnya pasrah sambil masuk ke dalam kamarnya.
"Ruyi, ayo kita istirahat agar besok segar kembali!" ajakku seraya berjalan menuju ke dalam kamar kami.
Keesokkan harinya di dalam perjalanan pulang menuju istana kerajaan Lim....
"Aku ingin tahu, ada urusan apa sampai kau harus keluar dari kediamanmu?" tanyanya yang masih menyelidikiku.
"Baiklah, aku akan menceritakannya padamu, tapi berjanjilah padaku untuk tidak marah padaku," ucapku.
"Mm..." jawabnya mengiyakan.
Akhirnya aku menceritakan panjang lebar dari awal aku keluar dari paviliunku hingga akhirnya bisa mengenal nenek dan Ling Xia, adik angkatku. Serta bagaimana terjadinya awal bertemu dengan si pria bercadar hitam yang ternyata adalah pangeran Xing Nan.
Saking banyaknya hal-hal yang kuceritakan padanya, sampai kami tidak tahu kalau kami telah tiba di depan istana kerajaan Lim.
"Ekhmm... Permisi Yang Mulia, kita sudah tiba," ujar Ruyi dari luar.
"Kalau begitu, nanti sore kita akan mengunjungi kedai nenek sambil menjenguk nona Ling," ucap Mo Yan sambil keluar dari kereta kudanya.
"Mm.." jawabku singkat yang mengikutinya dari belakang.
Sesampainya kami di halaman istana, tampak selir ke-3 sedang sibuk memetik buah plum yang sudah matang dengan beberapa dayangnya.
"Hormat Fu Ching pada Yang Mulia," katanya sambil memberi hormat saat melihat kedatangan Mo Yan. "Mohon maaf Yang Mulia, karena tidak mempersiapkan diri untuk menyambut kepulangan anda," lanjutnya dengan sopan.
"Tidak apa-apa selir Ching. Silahkan lanjutkan pekerjaanmu. Aku mau istirahat dahulu," ucap Mo Yan dengan gaya coolnya.
"Hormat Yiyi pada kak Ching," sapaku.
"Adik Yi, sudah cukup bersenang-senangnya?" tanyanya dengan nada yang tidak senang padaku.
"Maaf kak Ching kalau sudah salah paham padaku. Aku ke sana hanya menemani Yang Mulia menjalankan tugas dari ibunda permaisuri," jelasku.
"Ayo dayang-dayangku, kita kembali ke rumah!" serunya sambil berlalu pergi meninggalkanku.
"Nyonya, ayo kita jalan!" ajak Ruyi.
"Ya. Kita perlu istirahat sejenak dan aku ingin berendam air bunga," ucapku sambil berjalan ke arah paviliunku.
Mengingat kejadian di wilayah selatan, aku punya firasat yang tidak enak. Nona Liu Shi pasti tidak akan tinggal diam karena keinginannya tidak terpenuhi.
Saat sore tiba....
Aku sudah mengenakan pakaian laki-laki dan melangkah ke kediaman Mo Yan. Para dayang yang melihatku berjalan melewatinya merasa tercengang oleh daya pikatku. Beberapa kata-kata yang menyanjung lewat di telingaku.
"Wah...pangeran dari kerajaan mana ya? Kenapa bisa setampan ini?"
"Aku rasa, dia tamu kerajaan Lim."
"Apakah dia sudah punya istri? Aku rela menjadi selirnya."
Begitulah ucapan-ucapan para dayang yang kudengar dan membuatku tersenyum sendiri. Hingga sampailah aku di depan pintu paviliun Mo Yan yang sudah di jaga oleh kedua pengawalnya. Mereka tidak terusik oleh kedatanganku. Aku berdiri di depan pintu Mo Yan sambil menguping dari balik pintu, karena aku mendengar ada suara yang tidak asing dari dalam.
"Yang Mulia, Fu Ching sangat merindukan Yang Mulia. Apakah boleh Fu Ching menemani Yang Mulia hari ini?" tanyanya dengan nada centil.
"Selir Ching, aku sedang sibuk. Tolong jangan ganggu aku!" ucap Mo Yan tegas.
"Hamba akan menunggu disini sampai Yang Mulia selesai menyelesaikan tugas Yang Mulia," lanjutnya yang belum menyerah.
Tanpa basa basi lagi, Mo Yan membuka pintunya dan aku pun langsung terjatuh ke lantai.
'Sungguh memalukan!" seruku salam hati.
"Sedang apa kau disini?" tanya Mo Yan dengan mimik wajah yang tidak suka.
"A...aku..baru datang," jawabku kikuk.
"Apakah ada tamu, Yang Mulia?" tanya selir ke-3 yang penasaran di dalam dan mau keluar menghampiriku.
"Ayo kita pergi sekarang!" ajak Mo Yan sambil menarik tangan kananku.
Kami melangkahkan kaki dengan cepat agar tidak di susul oleh selir ke-3. Mo Yan juga hanya berpenampilan sederhana untuk menghindari orang-orang yang akan mengenalnya.
Bukan nya cpet2 slesaiin misi, emang ga mikir ninggalin suami n anak2 di dunia modern
Makasih banyak ya buat support mu pada karya ku! ❤️🤗😘