NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Jas Putih

Cinta Di Balik Jas Putih

Status: tamat
Genre:Berondong / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 5
Nama Author: Quin

Sandra berjalan cepat ke arah IGD yang sudah tampak ramai, pemandangan wajah cemas dan juga tangis haru sudah menjadi gambaran di IGD kota kecil itu.

Di balik sikap profesionalnya, nyatanya Sandra menyimpan lukanya sendiri yang bahkan bertahun-tahun tak bisa dia sembuhkan.

Hingga akhirnya seseorang yang tak sengaja dia temui malah merubah seluruh dunia yang sudah membuatnya nyaman, memaksanya untuk kembali percaya akan cinta, tapi sayangnya jurang perbedaan mereka besar dan masa lalu yang mulai kembali menghantui Sandra.

Bisakah Sandra mengeluarkan diri dari traumannya dan menerima pria yang bahkan tak pernah dia bayangkan akan hadir dalam hidupnya? ataukah dia tetap tak bisa melupakan masa lalunya dan kembali menerimanya?

Pernyataan: Novel ini ditulis tidak untuk menyudutkan atau menjelekkan seseorang, kalangan tertentu, atau pun profesi tertentu, semua yang ditulis hanya untuk pengetahuan dan hiburan semata, cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 34.

Sandra membuka matanya yang terasa berat, kepalanya juga terasa pusing, dia melirik dirinya, ketiduran dan masih saja memakai baju yang sama seperti saat dia pergi dengan Devan semalam.

Sandra berjalan gontai ke arah kamar mandinya dan langsung membersihkan dirinya. Sandra mengambil baju kebangsaannya dan sekilas dia menatap wajahnya yang tampak lesu dan matanya yang sembab. Ah, rasanya dulu saat dia menangis lebih parah dari ini, matanya tak sebengkak dan sembab ini, pantas matanya terasa sudah untuk di buka, mungkin karena faktor umur juga, pikirnya santai sambil mengambil sisir dan dengan cepat kembali mengikat rambutnya asal.

Sandra melirik ke arah ponselnya, dia menggigit bibirnya dan dengan ragu mengambilnya, dalam hati ada sedikit harapnya, adakah kabar dari Devan? Ya setidaknya memberikan kabar dia sudah sampai rumah atau tidak.

Sandra membuka layarnya cepat dan seketika pula kecewa menyelimuti hatinya, tak satupun pemberitahuan, ponselnya kosong seperti biasanya.

Sandra menelan kecewanya, Bodoh sekali, apalagi yang dia harapkan. Devan pastinya sudah tak ingin menghubungi dirinya lagi, Kemarin saja dia bahkan tak lagi ingin berbicara dengan Sandra. Ah, sudahlah, mulai detik ini tak akan ada lagi pria untuk Sandra.

Sandra lalu menghempaskan ponselnya ke kasur, dengan gaya cueknya yang kembali muncul dia segera keluar dan berjalan ke arah ruang makan.

"Ya ampun anak gadis jam segini baru bangun," ujar Ambar yang tampak baru selesai sarapan. Sandra tak menggubris ibunya, melirik matahari yang sudah menyengat menyinari bumi.

"Bi, buatin nasi goreng boleh?" Ujar Sandra, tahu ibunya tak akan mengizinkan dia makan mie di rumah.

"Udah, ini loh Bu Masri udah buatin roti isi telur sama keju, makan ini saja, sebentar lagi juga sudah makan siang," ujar Ambar yang melihat wajah kusut dan suram dari Sandra.

Sandra mengambil roti isi itu, perlahan memakannya walaupun dia tahu bahwa makanan itu bahkan tak bisa mengganjal perutnya yang biasa makan dengan porsi besar.

"Tidurnya ga nyenyak ya sampe matanya bengkak gitu?" Tanya Ambar pura-pura tak tahu, pasti anaknya semalaman menangis.

"Iya, udah ga biasa tidur di rumah," ujar Sandra cuek menaikkan satu kakinya ke kursinya.

"Anak gadis duduknya kok gini, turunin!" Kata Ambar geleng-geleng kepala melihat tingkah anak sulungnya ini.

"Bu, ini udah mau jam 9," kata Bi Masri seolah mengingatkan.

"Oh, iya, sampe lupa. San, temenin ibu ngumpul sama temen-temen ibu ya," ujar Ambar dengan senyuman berharap pada putrinya yang hampir melenyapkan satu roti isi itu.

Sandra mengalihkan pandangnya pada ibunya yang sumringah.

"Ga Bu, Sandra di rumah aja, ini waktu istirahat Sandra, Sandra mau tidur seharian. Lagian kalau ke sana yang ada ibu jadinya sewot lagi entar karena disinggung ama temen ibu,"  kata Sandra ingat terakhir kali ibunya membawa dirinya bertemu teman-temannya. Saat itu semuanya berakhir dengan tekanan darah tinggi ibunya yang naik karena teman ibunya yang seolah menyindir dirinya dan ibunya karena masalah Sandra yang belum juga mendapatkan pendamping.

"Enggak, kali ini gak, Ikut ibu ya, soalnya ibu kalau ke sana suka sendirian, padahal yang lain bawa anaknya," ujar Ambar lagi membujuk.

"Males Bu," jawab Sandra lagi, walaupun ibunya mengatakan bahwa dia tidak akan apa-apa tapi seperti biasanya pasti terjadi apa-apa nantinya di sana, drama ibu-ibu metropolitan.

"Ibu udah tua loh San, ini permintaan ibu sama kamu, gimana kalau tahun depan kamu malah ingin nemenin ibu tapi ibu udah enggak ada lagi," kata Ambar pada Sandra, kali ini agak ketus karena anaknya ini susah kalau dibilangin dengan manis.

"Ih, Ibu! Kenapa sih selalu ngomongnya gitu," kata Sandra dengan wajah bertekuk masam, ibunya selalu saja mengatakan hal seperti itu. Sialnya trik itu selalu saja berhasil membuat Sandra merasa tak enak.

"Ya, kan umur tidak ada yang tahu," kata Ambar.

"Omongan doa loh bu. Ya udah, Sandra nyerah, Sandra bakal nemenin ibu," ujar Sandra walaupun wajahnya tetap kesal. Ibunya ini selalu tahu kelemahannya.

"Nah gitu dong, kamu sih harus diancam dulu baru mau. Ya udah ayuk kita siap-siap," kata Ambar berdiri semangat. Sandra mengikuti ibunya dengan malas.

Ambar segera menuju kamarnya dan melihat Sandra yang melenggang ke arah kamarnya.

"Mau kemana? " tanya Ambar lagi melihat anaknya itu.

"Ya siap-siap, kan mau pergi ama ibu," kata Sandra mengerutkan dahinya.

"Sini-sini masuk kamar ibu," kata Ambar sekali lagi menarik paksa putrinya itu untuk masuk ke dalam kamarnya yang luas.

Sandra tak punya alasan untuk menolak, dia segera ikut saja dengan ibunya. Matanya menatap bingung melihat dua gaun yang tergeletak di atas ranjang ibunya yang rapi.

"Ini, Sandra pake baju ini," kata Ambar mengambil baju berwarna biru muda, potongan  simpel berbentuk A yang panjangnya hanya selutut.

"Ini? Gak ah, Bu ini kan gaun waktu acara Fadli menikah kan?" kata Sandra mengingat terakhir kali dia memakai gaun itu, saat itu acara malam untuk pernikahan adik laki-lakinya.

"Iya, masih muat kan? Kamu sih kebanyakan makan,” kata Ambar mencoba mencocokan baju itu ke tubuh Sandra, "Masih muat deh kayaknya.”

"Bukan masalah muat atau enggaknya Bu. Sandra rasa Sandra udah gak cocok pakai begituan, lagian ibu kan tau Sandra gak suka pake gaun," kata Sandra protes.

"Ya masa ibu biarin kamu pakai baju kaos dan celana panjang, ini acara formal tahu, istri-istri temen ayahmu juga datang, jangan malu-maluin ibu," kata Ambar membuka lemarinya, tak menemukan lagi gaun yang menurutnya cocok untuk Sandra, "yang ini mau?” tanya  Ambar menunjukkan gaun malam yang tampak berkilauan di bawah sinar kamar Ambar, sengaja dia memilihkan yang modelnya begini, pasti Sandra menolaknya.

"Ogah ah, ya udah yang ini aja," kata Sandra, walau dia merasa gaun ini terlalu muda untuk usianya, tapi dari pada gaun yang terakhir ditunjukkan ibunya, Sandra lebih memilih gaun biru sederhana itu.

"Ya udah, ganti di kamar mandi ibu saja, ibu juga sudah mau ganti baju," kata Ambar memerintahkan Sandra.

Sandra menyambar gaun yang tergeletak di ranjang itu dengan wajah malas, dia segera menuju ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya. Ah hilang sudah kenyamanan duniawi yang bisa dia rasakan dengan baju longgar dan celana tidurnya itu.

Sandra keluar dari kamar mandi, Ibunya menatap anaknya dengan senyuman senang, nyatanya tubuh Sandra masih cantik, tidak terlalu gemuk tapi juga tidak terlalu kurus, pas untuk dilihat, tapi karena seringnya dia menggunakan baju yang terlalu besar untuk ukuran tubuhnya membuat lekuk tubuhnya itu tidak terlihat. Kaki mulus Sandra menjadi sebuah pemandangan yang langka untuk bisa dilihat karena dia selalu saja menggunakan celana panjangnya, padahal kaki Sandra itu cantik sekali diturunkan langsung oleh ibunya dengan, betis padi.

1
Wangintowe Tundugi
asik omanya devan
Wangintowe Tundugi
alur cerita quen mmg demikian pasti ada yg maksa karena cinta inilah ke unikan mu quin gak ada yg bisa plagiat thebest
Wangintowe Tundugi
the best persahabatan bang josh dan sandra
Wangintowe Tundugi
🤣🤣
Wangintowe Tundugi
ah beneran si bang jos tuh dokter sandra lebih memilih batu bata dari permata 🤣🤣
Ersa
Luar biasa
bunga cinta
jeruk kok makan jeruk
bunga cinta
suka ide cerita nya, cerdas othornya
bunga cinta
Luar biasa
bunga cinta
banyak ilmu
Nurlaela
terbaik..
Mimilngemil
Keren... keren....
ah... akhirnya happy ending
😍😍😍
Mimilngemil
😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Mimilngemil
Biang keroknya Gladys /Hammer//Hammer//Hammer/
Mimilngemil
Nirmal sie...
aku juga gitu
wkwkwkwk
Mimilngemil
kaya punya sahabat kaya Jo... gak akan sedih 😂😂😂😅😆
Mimilngemil
😂😂😂😅
Jo... ica ae...
Mimilngemil
😂😂😅😆
Mimilngemil
uhuy....
Sandra...
Abang datang Neng...
Mimilngemil
Graciella dijepit pintu mobil
Devan kejepit pintu mobil
😂😅😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!