NovelToon NovelToon
PUTRA KE EMPATKU

PUTRA KE EMPATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: ElQue ElQue

Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.

Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.

Suaminya ke mana??

"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"

Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.

" Mas...maaf " lirih suara Arista.

Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.

Arista tergugu, tak ada air mata...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Draft

Kembali ke Anisa...

" Ini ada apa, Pak , Bu?." tanya Anisa bingung.

Semakin Anisa bertanya, semakin tergugu Darto dalam kesedihan. Sedangkan Ratih tak berani mengangkat kepalanya. Seolah mereka sedang menghadapi suatu hukuman.

" Saya hanya sedang rindu mereka, non. Saya sedih dan takut suatu saat saya akan menyakiti hati non Anisa dan non Arista. Saya akan merasa bersalah pada mendiang Tuan Hardi dan nyonya." Darto semakin menundukkan kepalanya."

Hati kecil Anisa mengatakan ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Padahal setelah dirinya menikah dengan Restu, Anisa menganggap mereka orang tuanya. Jadi sudah tak ada lagi istilah panggilan non,karena mereka adalah bagian dari keluarga.

"Saya tahu ada yang bapak sama ibu sembunyikan, tapi saya juga tak bisa memaksa. Selama ini saya nggak mengunjungi bapak sama ibu, karena mas Restu yang melarang. Entah alasannya apa, saya sendiri juga nggak tahu."

" Sebenarnya rencananya hari ini saya mau nginap di sini. Tapi lagi-lagi mas Restu melarang."

"Dan tadi, sebenarnya saya juga sempat kaget, ternyata rumah bapak dan ibu sudah banyak mengalami perubahan. Itu pun mas Restu nggak pernah cerita."

" Jujur saja, saya ke sini tanpa sepengetahuan mas Restu. Ternyata mungkin ini salah satunya, atau memang mas Restu mau memberi kejutan pada saya, tapi belum ketemu waktunya, mungkin saja begitu." Kata Anisa panjang lebar.

" Ja..jadi , nak Nisa ke sini sama Hanif? Di mana dia , di mana cucu ibu, nak." kata Ratih sambil berdiri.

" Hanif ada di mobil Bu. Sebetulnya tadi saya turun ke sini cuma memastikan saja, apa benar ini rumah bapak sama ibu. Jadi Hanif saya tinggal di mobil , dan kebetulan dia juga tidur." kata Anisa.

" Kalau nak Anisa mau nginap di sini biar saya bersihkan kamar tamunya dulu ya, nak." kata Ratih.

Sesaat Ratih tertegun , dia merasa terkejut dengan ucapannya sendiri.

" Memang kamar saya dan mas Restu kenapa, Bu. Kan, saya bukan tamu di sini." kata Anisa heran.

" Mak...maksudnya...maksud saya.." Ratih belum menyelesaikan kalimatnya. Tiba-tiba suara dering ponsel memecah ketegangan.

" Ya, mas Rafli, ada apa." tanya Anisa setelah tahu siapa yang meneleponnya.

" Hanif bangun Bu Anisa. Susunya juga habis yang di botol, dia rewel." kata Rafli.

"Aku segera ke sana." Anisa menutup pembicaraannya.

" Maaf Bu, Pak, saya pulang dulu."

" Nak Nisa nggak jadi nginep." tanya Ratih. Sebenarnya dia berharap Anisa benar-benar tak jadi menginap.

"Lain kali saja Bu, kalau kamar mas Rafli dan saya sudah siap. Mungkin sekarang sedang butuh perbaikan." jawab Anisa ambigu.

Ratih salah tingkah, kalimat Anisa telak menikam hatinya.

" Assalamualaikum." tak lupa Anisa mencium tangan ke dua mertuanya.

Anisa berjalan tergesa-gesa. Entah kenapa perasaan sedih datang tiba-tiba. Anisa semakin yakin ada sesuatu yang di sembunyikan oleh ke dua mertuanya.

[ Kita lihat saja, kalau sampai mas Restu menyembunyikan sesuatu, aku tak akan tinggal diam.]

Setelah kepergian Anisa...

" Ini semua gara-gara anak itu. Kalau sampai nanti non Anisa tahu, bapak tidak bisa membantu. Salah apa kita Bu, kita sudah mendidik anak dan memberi contoh yang baik, ternyata dia malah sekarang lupa diri keadaan yang sekarang." Darto tampak sekali menahan amarah.

" Ibu lebih senang hidup seperti dulu, Pak. Bagaimana kalau kita datangi rumah non Anisa dan ceritakan semuanya. Ibu lama-lama nggak tahan, pak." kata Ratih terisak.

" Tak tahan harus berbohong, tak tahan harus menutup nutupi, pokonya ibu nggak tahan pak." Ratih semakin menangis.

( Bagus. Semakin cepat Anisa tahu, itu kesempatan bagus buatku.) ternyata Linda sedang mendengarkan pembicaraan Darto dan Ratih.

" Bu...apa tamunya udah pulang." Linda pura-pura bertanya dari dalam.

Ratih menyeka air matanya. Dia tak segera menjawab pertanyaan Linda. Hingga Linda mendatangi mereka berdua.

" Kenapa Pak, Bu." Linda bertanya dengan nada lembut.

Ratih menatap Linda dengan tatapan tidak suka. Selama ini dia mencoba menahannya.

" Sebenarnya Restu ketemu kamu di mana. Tiba-tiba saja dia bawa pulang kamu dalam keadaan hamil." tanya Ratih dingin dan datar.

Linda menundukkan kepala.

" Maaf , Pak , Bu. Kalau kehadiran saya di rumah ini membuat bapak dan ibu tidak nyaman. Saya sudah merusak ketenangan kalian. Saya tahu bapak dan ibu tidak menyukai saya." Ujar Linda dengan nada sedih dan rasa bersalah.

" Kalau sudah tahu kenapa masih di sini." kata Ratih menatap tajam ke arah Linda.

Linda semakin menundukkan kepalanya, seolah-olah rasa bersalahnya teramat dalam.

" Kalau bapak dan ibu menginginkan saya pergi, saya akan pergi pak, Bu." kata Anisa bangkit dari duduknya dan terdengar suara isaknya.

Darto diam saja. Tak bereaksi apa-apa, karena dia juga merasakan hal yang sama dengan yang di rasakan oleh Ratih istrinya.

" Lebih cepat lebih baik." ujar Ratih lagi.

" Siapa yang mau pergi dari rumah ini. Linga?. Tanpa seijin dari saya dia nggak boleh keluar dari rumah ini." tiba-tiba terdengar suara keras dan lantang dari arah pintu depan.

Restu masuk ke dalam rumah dengan wajah memerah. Sementara Linda semakin menundukkan kepalanya. Dia tersenyum tipis.

" Tapi mas, bapak sama ibu sampai sekarang belum bisa menerima aku di rumah ini, mas." Linda semakin terisak , tapi sudut bibirnya tertarik ke atas.

Ratih memandang restu dengan geram. Semangat Darto bangkit dari duduknya,berdiri menatap restu. Tak ada kalimat sepatah kata pun. Hanya tatapannya yang tajam. Jantung Restu sampai berdesir. Dia menundukkan kepalanya. Tak berani menatap bapaknya.

Restu sadar, bapak kalau sudah diam dan tak mau bicara sama sekali. Itu pertanda amarahnya sudah berada di puncak.

Darto meraih tangan Ratih. Pasangan itu berlaku dengan diam. Yah...diam. Puncak sebuah amarah adalah diam. Dan itu lebih baik.

Restu mendesah, dia menaruh bobot tubuhnya di sofa. Jarinya memijat kening tanpa sadar.

" Mas...kenapa, capek." tanya Linda sambil berjalan mendekati restu.

"Aku hanya pusing sedikit. Tadi ada sedikit masalah di kerjaan." kata Restu sambil mengelus perut Linda yang sedang membuncit.

" Tadi Anisa ke sini." celetuk Linda.

Restu yang sedang bersandar di sofa kaget dan langsung menegakkan tubuhnya.

" Anisa ke sini , sama siapa?."

Linda mengangkat ke dua bahunya.

" Mana aku tahu, mas. Aku aja nggak boleh keluar dari kamar sama ibu." jawab Linda cemberut.

Restu langsungs berdiri , pusing yang tadi dia rasakan mendadak hilang.

" Aku mau pulang. Masuk kamar." kata Restu sambil menyambar kunci mobil.

" Mas bukankah belum jamnya pulang kantor." kata Linda protes.

Tapi Restu sudah ke luar dan langsung mengemudikan mobilnya arah pulang.

Seolah sudah jadi jadwal rutin, selepas jam makan siang Restu akan pulang ke rumah orang tuanya. Di kantor dia beralasan kalau ke dua orang tuanya sedang tidak enak badan.

Padahal ada hal lain yang dia temui di rumah. Dan ini sudah berlangsung lama. Pihak kantor tak dapat melarang,karena posisi Restu sebagai pemimpin perusahaan. Tak ada yang berani protes. Mereka mencari aman.

Linda menghentakkan kakinya kesal setelah kepergian Restu. Padahal dia berencana mengajak Restu ke pusat perbelanjaan. Dia ingin membeli perlengkapan bayi, dan sekalian melepas jenuh. Karena selama ini dia di larang ke luar rumah. Takut keberadaannya di curigai dan di ketahui oleh keluarga Anisa.

Sementara itu Restu memacu kendaraannya dengan cepat. Dia harus menenangkan istrinya. Setelah mengetahui rumah ke dua orang tuanya di renovasi , padahal selama ini dia melarang Anisa mengunjungi orang tuanya.

(Dia kan , hatinya gampang luluh. Aku belikan bunga aja, biar suasana hatinya senang dulu) Restu tersenyum.

Melihat Anisa keluar rumah dengan wajah kutu, Rafli tak berani banyak tanya. Dia membuka pintu mempersilahkan masuk.

Di dalam mobil Anisa langsung mendekap Hanif. Terdengar Isak tangisnya yang lirih.

Rafli mengepalkan ke dua tangannya. Entah kenapa dadanya ikut sesak.

(Seandainya suatu saat kamu tahu siapa aku, apa kamu bersedia meninggalkannya, Nis. Tak aku biarkan siapa pun menyakitimu)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!