NovelToon NovelToon
Matahari Tetap Terbit (Kisah Seorang Ibu Pejuang)

Matahari Tetap Terbit (Kisah Seorang Ibu Pejuang)

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Single Mom
Popularitas:38.7k
Nilai: 5
Nama Author: 🍁ɳɪȩƖɑᷭ🐣N⃟ʲᵃᵃ࿐

Ditinggal pergi oleh suami tercinta tanpa kabar berita, Rania terpaksa memikul seluruh beban rumah tangga sendirian. Di tengah keterbatasan dan rasa sepi yang menghimpit, ia menemukan kekuatan yang tak pernah ia tahu dimilikinya. Demi masa depan Dika dan Naya, Rania belajar menjadi wanita yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ini adalah kisah tentang pengorbanan, ketabahan, dan kebangkitan seorang ibu yang menolak menyerah pada nasib.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🍁ɳɪȩƖɑᷭ🐣N⃟ʲᵃᵃ࿐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu dan awal kehidupan yang baru

Setelah pertemuan yang memuaskan dan menjawab segala rasa penasaran hatinya bersama Pak RT, keraguan yang sempat sedikit menyelimuti pikiran Rania kini hilang sepenuhnya. Segala pertanyaan seputar harga, kondisi bangunan, kepemilikan, hingga aturan sewa sudah didapatkannya dengan jelas. Rumah kontrakan dekat kediaman Pak RT itu memang sangat layak, sangat cocok, dan tepat sekali dengan apa yang sedang ia butuhkan saat ini. Tak ada lagi alasan untuk menunda atau berpikir berlebihan. Rania pun dengan tegas memantapkan hatinya: ia akan mengambil rumah kontrakan itu dan memindahkan seluruh keluarganya serta usahanya ke tempat yang baru.

Bahkan, tak lama setelah pulang dari rumah Pak RT, Rania sempat berpapasan dengan Pak Bambang, pemilik rumah kontrakan tersebut yang kebetulan sedang lewat di jalan. Pertemuan singkat itu berjalan sangat lancar. Rania menyampaikan niatnya, dan Pak Bambang pun sangat senang serta menyetujui penyewaan itu, bahkan keduanya sudah sepakat soal pembayaran dan tata cara perpindahan nanti. Semuanya berjalan begitu mulus, seolah jalan itu memang sudah disiapkan takdir untuknya.

Namun, sebelum langkah besar ini benar-benar direalisasikan dan sebelum ia mulai sibuk mengurus perpindahan barang, ada satu tempat yang wajib ia kunjungi dan ada satu orang yang wajib ia temui. Sosok yang menjadi awal mula segala keberhasilan ini, sosok yang memberinya percikan harap saat ia masih dalam kegelapan. Rania berniat pergi ke rumah Pak Haris, pemilik tanah tempat ia mendirikan warungnya selama satu tahun terakhir ini. Ia harus menyampaikan kabar ini sendiri, secara langsung, dengan sopan, dan penuh rasa hormat. Bagi Rania, meninggalkan tempat ini bukan berarti melupakan jasa baik pemiliknya.

Sore itu, setelah menyelesaikan urusan di rumah dan memastikan Dika serta Naya aman bermain di dalam, Rania berjalan kaki menuju kediaman Pak Haris yang letaknya tidak terlalu jauh dari pasar. Sesampainya di sana, Pak Haris menyambut kedatangannya dengan senyum khasnya yang hangat dan ramah, senyum yang sama persis seperti saat pertama kali mereka bertemu setahun yang lalu.

"Eh, Bu Rania... selamat sore. Ada apa gerangan tumben datang ke rumah, bukan di warung? Mari silakan masuk, duduk dulu," sapa Pak Haris dengan suara akrabnya, lalu mempersilakan Rania duduk di kursi teras yang teduh.

Rania duduk dengan sopan, tangan menyatukan di atas pangkuan. "Selamat sore, Pak Haris. Maaf ya mengganggu waktu istirahat Bapak. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan langsung ke Bapak. Saya rasa tidak pantas kalau saya sampaikan lewat orang lain atau lewat pesan saja."

Melihat wajah Rania yang tampak serius namun tenang, Pak Haris duduk di hadapannya sambil menatap penuh perhatian. "Ada apa, Bu? Bicara saja terus terang. Bapak dengarkan."

Rania menarik napas panjang sejenak, mengumpulkan keberanian dan menyusun kata-kata seindah mungkin. "Begini, Pak Haris... Sebenarnya saya datang ke sini ingin menyampaikan kabar sekaligus permohonan maaf dan terima kasih yang sebesar-besarnya. Bapak tentu tahu, sejak setahun lalu saya mulai menyewa tempat di tanah Bapak itu untuk membuka warung makan. Waktu itu saya masih sangat sulit, belum punya apa-apa, dan Bapaklah satu-satunya orang yang mau percaya dan menyewakan tempat pada saya dengan sangat baik dan murah. Tanpa kebaikan Bapak, saya yakin saya tidak akan bisa sampai di titik ini."

Suara Rania sedikit bergetar karena haru, namun ia lanjutkan kembali ucapannya. "Namun, Pak... seiring berjalannya waktu, usaha saya alhamdulillah semakin ramai, anak-anak semakin besar, dan kebutuhan kami pun berubah. Kebetulan sekali, ada rumah kontrakan yang letaknya di pinggir jalan raya utama, dekat rumah Pak RT, yang baru saja kosong. Saya sudah tanya-tanya dan melihat kondisinya, Pak. Rumah itu cukup luas untuk kami sekeluarga, dan bagian depannya menghadap jalan ramai. Saya berpikir, kalau saya pindah ke sana, saya bisa sekalian membuka lapak dagangan di depan rumah. Jadi saya tidak perlu lagi menyewa tempat terpisah, hemat biaya, dan anak-anak pun lebih terawat karena saya tidak jauh dari mereka seharian."

Rania menatap mata Pak Haris dengan tulus. "Maka dari itu, saya bermaksud menyampaikan bahwa saya berencana pindah tempat usaha dan juga tempat tinggal ke sana. Saya pamit sama Bapak bukan karena tidak betah atau ada masalah apa-apa, sama sekali tidak. Tapi ini murni demi perkembangan usaha dan kenyamanan Dika serta Naya. Saya sangat berterima kasih sekali atas segala kebaikan, kesabaran, dan kepercayaan Bapak selama satu tahun ini. Bapak adalah orang baik yang tak akan pernah saya lupakan jasanya."

Keheningan sejenak menyelimuti suasana, namun raut wajah Pak Haris justru berubah menjadi senyum lebar yang penuh kebanggaan. Ia mengangguk-angguk pelan sambil menatap Rania dengan pandangan kagum yang mendalam.

"Bu Rania... Bapak sudah menduga hal ini akan terjadi. Jangan pernah merasa bersalah atau sungkan sedikit pun, ya," ucap Pak Haris pelan namun tegas. "Sejujurnya, sejak pertama kali Bapak melihat Ibu bekerja, Bapak sudah sangat mengagumi sosok Ibu. Wanita muda, harus berjuang sendirian membesarkan dua anak, satu masih sekolah, satu masih kecil sekali. Tapi Ibu tidak pernah mengeluh, tidak pernah menyerah, selalu tersenyum, dan bekerja sekuat tenaga. Bapak sering bilang ke istri Bapak, 'Lihat Rania, dia pasti wanita hebat, usahanya pasti akan maju pesat'."

Pak Haris tersenyum bangga lalu melanjutkan, "Dan benar saja, prediksi Bapak tidak meleset sama sekali. Dalam waktu satu tahun saja, perubahannya luar biasa. Dari yang sepi, sekarang ramai pembeli. Dari yang sederhana, sekarang masakannya dikenal banyak orang. Semua itu murni karena kerja keras, kejujuran, dan ketekunan Ibu sendiri. Bapak cuma memberi tempat, tapi Ibu yang membangun segalanya."

Ia menepuk pelan bahu Rania sebagai tanda dukungan. "Keputusan Ibu untuk pindah itu sangat tepat dan sangat cerdas. Lokasi baru itu jauh lebih strategis, lebih luas, dan menggabungkan rumah sekaligus usaha itu adalah langkah yang sangat bagus. Bapak malah senang sekali mendengarnya, berarti rezeki Ibu makin terbuka lebar."

Mata Pak Haris berbinar penuh harap dan doa tulus. "Bapak hanya bisa mendoakan, semoga di tempat baru nanti usaha Ibu makin berkembang pesat, makin laris, makin dikenal orang. Siapa tahu nanti, dengan semangat yang sama, Ibu bisa membuka restoran besar yang nyaman, bahkan bisa punya cabang-cabang tempat lain di masa depan. Ibu punya bakat, Ibu punya hati yang baik, dan itu modal paling besar. Bapak yakin, Dika dan Naya akan tumbuh menjadi anak-anak yang sukses dan membanggakan ibunya."

Mendengar rangkaian doa indah itu, hati Rania terasa penuh sekali, seolah ada kekuatan baru yang mengalir masuk. Ia menundukkan kepala, matanya berkaca-kaca terharu. "Aamiin... Aamiin Ya Rabbal Alamin... Terima kasih banyak, Pak Haris. Doa Bapak sungguh sangat berharga bagi saya. Semoga kebaikan Bapak dibalas berlipat ganda oleh Tuhan Yang Maha Esa. Saya janji, ke mana pun saya pergi, saya tidak akan melupakan kebaikan Bapak."

Setelah berbincang cukup lama dan saling bertukar kabar, Rania pun berpamitan pulang dengan perasaan yang sangat lega dan bahagia. Ia mendapatkan restu, dukungan, dan doa dari orang yang paling berperan di awal perjuangannya. Langkah kakinya terasa ringan dan penuh semangat. Di perjalanan pulang, ia menyempatkan diri berhenti sejenak di toko kue langganannya. Ia membeli dua kotak kue, rasa cokelat kesukaan Dika dan rasa keju yang paling disukai Naya. Ia ingin membagi kebahagiaan ini dengan kedua buah hatinya, memberi mereka kejutan manis sebagai tanda bahwa hari ini adalah hari yang penuh kabar baik.

Sesampainya di rumah, Dika dan Naya langsung berlari menyambut ibunya saat melihat bungkusan kue di tangan Rania. Suasana sore itu pun penuh tawa dan keceriaan.

Keesokan harinya, saat hari mulai terang dan mereka bersiap membuka warung seperti biasa, Rania memanggil Mbak Siti untuk berbicara berdua di sela-sela waktu sepi. Ia menceritakan semua rencananya, mulai dari bertemu Pak RT, menyewa rumah baru dekat jalan raya, hingga sudah berpamitan dan meminta restu kepada Pak Haris. Rania menjelaskan rincian rencananya, keuntungan yang akan didapat, serta bagaimana ia berniat mengatur semuanya nanti.

Ia kira Mbak Siti akan terkejut atau khawatir dengan perubahan besar ini, namun reaksi Mbak Siti justru jauh di luar dugaan. Wanita itu membelalakkan mata senang, lalu wajahnya berseri-seri lebih antusias daripada Rania sendiri.

"Wah, Bu Rania... ini kabar paling hebat yang saya dengar! Bagus sekali, keputusan yang sangat tepat!" seru Mbak Siti dengan nada bersemangat. "Sudah saya duga kok, usaha Ibu yang luar biasa ini pasti akan sampai ke tahap ini. Pindah ke tempat yang lebih layak, lebih luas, dan lebih strategis itu langkah maju yang luar biasa, Bu!"

Mbak Siti langsung mendekat, matanya berbinar penuh semangat membantu. "Jangan khawatir soal apa-apa ya, Bu. Saya siap bantu sepenuh hati! Kalau Ibu memutuskan pindah, saya ikut saja. Saya akan bantu membereskan barang-barang, menata ulang tempat baru, apa saja yang Ibu butuhkan. Saya sangat senang bisa ikut serta dalam perjalanan kesuksesan Ibu. Pasti di tempat baru nanti dagangannya makin ramai, makin banyak pembeli yang datang. Saya sudah tidak sabar membayangkan betapa indahnya dan rapinya warung kita nanti!"

Sikap antusias dan dukungan tulus dari Mbak Siti membuat beban di pundak Rania terasa semakin ringan. Ia merasa sangat beruntung dikelilingi oleh orang-orang baik seperti Pak Haris, Pak RT, dan Mbak Siti.

Maka, disepakatilah rencana itu. Selama satu minggu ke depan, Rania dan Mbak Siti masih akan tetap berjualan di lapak Pak Haris seperti biasa, melayani pembeli dengan senyum dan pelayanan terbaik. Namun di sela-sela kesibukan itu, mereka mulai bergerak perlahan. Sedikit demi sedikit, barang-barang yang tidak terlalu terpakai mulai dikemas ke dalam kardus. Peralatan masak cadangan, perlengkapan rumah tangga, hingga barang-barang pribadi Dika dan Naya mulai dipindahkan ke rumah baru yang sudah bersih dan siap ditempati.

Setiap hari sepulang jualan, Rania menyempatkan diri ke rumah kontrakan barunya itu, mengelap lantai, menata ruangan, dan membayangkan bagaimana nanti ruangan itu akan penuh dengan tawa anak-anaknya dan aroma masakan yang menggugah selera. Semuanya berjalan tertib, tenang, dan penuh rasa syukur.

Rania melangkah dengan hati yang mantap. Ia tahu, meninggalkan tempat ini bukanlah akhir, melainkan awal dari lembaran baru yang lebih cerah. Di tempat baru nanti, perjuangannya belum berakhir, justru baru saja dimulai dengan panggung yang lebih luas. Dengan keberanian, kerja keras, serta dukungan orang-orang baik di sekitarnya, Rania yakin ia mampu membangun masa depan yang gemilang untuk Dika dan Naya, melangkah maju tanpa pernah melupakan dari mana ia berasal.

1
Lisa
Akhirnya Ratih pulang ke rmh ortunya..kasihan banget pdhl dulu Bara mencintainya lalu sjk ketemu lg dgn Rania dia berubah..y moga aj masalah mereka cpt selesai.
Lisa
Bara koq makin aneh..dia yg menceraikan Rania tp dia malah g bisa meleapaskan Rania
❤️⃟𝐖ᵃ𝐟☘𝓡𝓳♉ᵘᵐ𝐀⃝🥀🤎𝐁⃟⃝ᰲ⃞
Bara rasa cemburumu mengalahkan akal sehat mu, kamu tidak takut ya kalo anak-anak mu tidak mau bertemu dengan mu lagi, tidak mau kau ajak liburan lagi, luka yg kau torehkan terlalu menyakitkan
❤️⃟𝐖ᵃ𝐟☘𝓡𝓳♉ᵘᵐ𝐀⃝🥀🤎𝐁⃟⃝ᰲ⃞
Bara kamu ngapain marah-marah kalau Rania dengan mudahnya melupakan mu, apa tidak terbalik ya kamu dengan mudah nya menghilang tanpa jejak lalu menikah dan punya anak tanpa memberi kabar bertahun-tahun ke Rania dan kedua anak mu
❤️⃟𝐖ᵃ𝐟☘𝓡𝓳♉ᵘᵐ𝐀⃝🥀🤎𝐁⃟⃝ᰲ⃞
Semoga persahabatan kalian selama nya ya Arga dan Dika saling melengkapi satu sama lainnya sampai akhir nanti
❤️⃟𝐖ᵃ𝐟☘𝓡𝓳♉ᵘᵐ𝐀⃝🥀🤎𝐁⃟⃝ᰲ⃞
Bara sekarang kamu menyesal pun tiada artinya, tatap masa depan mu yg sekarang jangan lah membuat kesalahan yang baru lagi
Risa and My Husband
Dika ayahmu memang keterlaluan setiap datang pasti membuat luka buat ibumu dan kamu
Risa and My Husband
Bara pasti cemburu Rania dekat dengan pria lain makanya Bara jadi gampang emosi
Risa and My Husband
Bara kamu urat malunya sudah putus ya sampai ngga malu buat onar di rumah Rania
Risa and My Husband
Arga dan Dika seperti saudara ya soalnya lengket banget dan ngga terpisahkan
Risa and My Husband
Bara fokus pada rumah tangga kamu dengan Ratih saja jangan ingat Rania terus dong
Risa Cuantik Yayang Tuampan
Bara kamu membuat Dika kecewa karena perbuatan kamu
Risa Cuantik Yayang Tuampan
Kasihan banget Arga menangis karena melihat ayahnya berdarah dan bibir ayahnya sobek
Risa Cuantik Yayang Tuampan
Bara kedatangan kamu ke rumah Rania pasti bakal membuat keributan deh
Risa Cuantik Yayang Tuampan
Arga dan Dika kalau orang tua kalian menikah kalian bakal jadi saudara
Risa Cuantik Yayang Tuampan
Ratih Bara sepertinya cuma jadikan kamu pelampiasan, mungkin Bara sebenarnya mencintai Rania
Risa Yayang Couple Selamanya
Ternyata Dika merasa kecewa terhadap Bara, memang Bara cuma buat masalah kalau datang ke rumah Rania
Risa Yayang Couple Selamanya
Bara kamu ngga usah ikut campur urusan Rania lagi karena Rania cuma mantan istri kamu doang
Risa Yayang Couple Selamanya
Bara jangan bikin onar dan jangan bikin masalah di rumah Rania deh
Risa Yayang Couple Selamanya
Arga dan Dika persahabatan kalian dekat banget sampai kalian seperti saudara saking akrabnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!