NovelToon NovelToon
PENAKLUK SEMESTA

PENAKLUK SEMESTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.

Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.

Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 KEDATANGAN PASUKAN HITAM DAN PERTEMPURAN DI GERBANG IBU KOTA

Setelah kembali dari Puncak Awan Putih, kekuatan yang memancar dari tubuh Lin Mo berubah sepenuhnya. Cahaya ungu keemasan yang dulu samar kini berubah menjadi cahaya keemasan yang murni dan terang benderang, begitu hangat dan begitu agung sehingga siapa pun yang berdiri di dekatnya merasa hatinya tenang dan jiwanya merasa seakan dilindungi oleh kekuatan yang tak terlihat mata. Lin Mo tidak langsung duduk di atas takhta. Ia justru berkeliling mengunjungi barisan pertahanan yang telah dibangun di sekeliling ibu kota. Ia memeriksa setiap benteng, setiap menara pengawas, dan setiap gerbang besar yang menjadi pintu masuk utama ibu kota. Di mana pun ia melangkah, para prajurit menyambutnya dengan sorak-sorai penuh semangat dan keberanian yang membara di dada.

Chen Yu berdiri di gerbang utama ibu kota menunggu kedatangan saudaranya. Wajahnya tampak tegar namun matanya bersinar penuh haru melihat perubahan yang terjadi pada Lin Mo. Cahaya keemasan yang memancar dari tubuh kaisarnya begitu murni dan begitu kuat hingga membuat hawa dingin yang menyelimuti langit ibu kota perlahan lenyap seketika. Chen Yu melangkah maju dan memberi hormat dengan penuh rasa hormat yang tak terhingga.

"Yang Mulia... Seluruh pasukan telah siap siaga... Senjata dan pelindung telah diperkuat dengan energi spiritual... Dan setiap prajurit telah bersedia mengorbankan nyawa demi melindungi ibu kota dan rakyat..."

Lin Mo menatap saudaranya dengan senyum yang lembut namun penuh keteguhan hati. Ia meletakkan tangan di bahu Chen Yu dan berkata dengan suara yang tegas namun menenangkan.

"Kerja kerasmu tak akan sia-sia... Tetaplah teguh berdiri di sini... Aku akan berada di puncak menara tertinggi istana... mengawasi segala sesuatu dan datang membantu jika pertempuran mulai berlangsung... Ingatlah... Jangan terburu-buru menyerang... Tunggulah hingga musuh mendekat sepenuhnya... dan biarlah mereka merasakan kekuatan pertahanan kita yang sesungguhnya..."

Chen Yu mengangguk patuh dan kembali berdiri tegak di samping gerbang besar itu. Lin Mo pun melesat naik menuju puncak menara tertinggi istana tempat ia dapat melihat seluruh penjuru ibu kota hingga ke batas cakrawala yang jauh. Cahaya keemasan yang samar terus bersinar dari tubuhnya menerangi langit yang kini perlahan berubah menjadi kelabu.

Tiba-tiba dari arah utara terdengar suara gemuruh yang menggelegar semakin lama semakin keras seakan ribuan gajah berlari kencang di atas tanah yang luas. Langit di ufuk utara berubah menjadi hitam pekat seketika. Awan gelap berputar kencang menutupi sinar matahari sehingga siang hari berubah menjadi gelap gulita bagaikan tengah malam. Angin kencang bertiup menderu-deru membawa debu dan pasir beterbangan ke mana-mana. Bau belerang yang menyengat menyebar cepat ke seluruh penjuru ibu kota.

Dari balik awan gelap itu perlahan muncul ribuan bayangan hitam yang terbang rendah menuju ke arah ibu kota. Di depan mereka melayang sesosok bayangan raksasa yang memancarkan hawa kejahatan yang begitu pekat dan begitu menakutkan sehingga siapa pun yang melihatnya merasa napasnya terasa sesak dan kakinya terasa lemah tak mampu berdiri. Itulah musuh besar yang pernah datang menyerang tempo hari. Kini ia datang kembali membawa pasukan yang jumlahnya berkali-kali lipat lebih banyak dan kekuatannya jauh lebih dahsyat dari sebelumnya.

Bayangan raksasa itu melayang berhenti tepat di atas gerbang utama ibu kota. Suaranya menggelegar membelah langit yang gelap hingga membuat tanah bergetar hebat di bawah kaki setiap orang yang mendengarnya.

"Hahaha... Lihatlah... Aku datang kembali membawa kekuatan yang tak terkalahkan... Kali ini... Tak ada yang mampu menyelamatkan kalian... Serahkanlah ibu kota... dan sujudlah kepadaku... Mungkin aku akan membiarkan kalian hidup... Jika tidak... aku akan menghancurkan kota ini hingga menjadi debu dan membunuh setiap orang yang ada di dalamnya tanpa tersisa satu pun..."

Dari atas gerbang utama ibu kota, Chen Yu melangkah maju dan berdiri tegak di hadapan ribuan pasukan musuh. Ia menatap bayangan raksasa itu dengan pandangan yang tak gentar sedikit pun. Suaranya terdengar lantang dan penuh keberanian bergema di tengah angin kencang yang bertiup.

"Jangan bermimpi... Selama kami masih bernapas... kau tak akan pernah melangkah masuk ke dalam ibu kota ini... Kembalilah ke tempat asalmu... sebelum kekuatan langit menghancurkanmu berkeping-keping..."

Bayangan raksasa itu meraung marah seketika. Ia melambaikan tangan ke bawah dengan sekuat tenaga.

"Seranglah... Hancurkanlah gerbang itu... Bunuhlah setiap orang yang berdiri di hadapan kalian... Jangan beri ampun sedikit pun..."

Ribuan pasukan hitam melesat maju seketika. Mereka melepaskan panah berapi dan bola batu besar menghantam gerbang utama ibu kota. DUARRRR!!! BOOOOMMMMM!!! Bola-batu itu menghantam tembok pertahanan yang tebal dan kokoh itu satu demi satu dengan suara ledakan yang memekakkan telinga. Asap hitam mengepul tinggi menutupi pandangan. Namun tembok itu tak runtuh sedikit pun. Tembok yang telah diperkuat dengan energi spiritual itu berdiri tegak menahan serangan berkali-kali lipat dari kekuatan musuh.

Pasukan musuh kemudian melompat naik mencoba memanjat tembok dan menyerang gerbang itu secara langsung. Namun dari atas tembok pertahanan, pasukan kekaisaran menyambut mereka dengan hujan panah dan tombak yang telah diberkati dengan energi spiritual. Setiap senjata yang melesat keluar memancarkan cahaya putih yang terang benderang. Saat mengenai tubuh pasukan hitam, tubuh mereka seketika terbakar dan hancur menjadi abu. Pasukan musuh berjatuhan banyak sekali namun mereka terus datang tanpa henti bagaikan ombak yang tak pernah berhenti menghantam pantai.

Bayangan raksasa itu melihat pasukannya menderita kerugian besar dan marah seketika. Ia melesat turun sendiri menuju gerbang utama ibu kota. Cahaya hitam pekat berkumpul di tangannya membentuk palu raksasa yang hitam dan berasap. Dengan satu ayunan kuat, ia menghantam gerbang utama itu sekuat tenaga. BOOOOMMMMM!!! SUARA LEDAKAN ITU SANGAT DAHSYAT SEHINGGA SELURUH IBU KOTA BERGETAR HEBAT BAGAIMANA HENDAK RUNTUH. Gerbang besar itu terguncang hebat dan retakan halus mulai muncul di permukaannya. Chen Yu melompat maju bersama puluhan prajurit terbaiknya menyambut serangan itu dengan segenap tenaga. Cahaya biru dan putih menyala dari tubuh mereka menahan hantaman palu raksasa itu agar tidak menghancurkan gerbang sepenuhnya. Namun kekuatan musuh terlalu dahsyat. Tubuh mereka terpental mundur dan jatuh terguling di atas tanah. Mulut mereka menyemburkan darah segar namun mereka segera bangkit kembali dan berdiri tegak menahan serangan kedua yang datang menyambar.

Dari puncak menara tertinggi istana, Lin Mo melihat semuanya. Ia melihat saudaranya dan para prajuritnya bertahan dengan nyawa sebagai taruhan. Ia melihat gerbang ibu kota yang mulai retak dan pasukan musuh yang terus mendesak tanpa henti. Cahaya keemasan di tubuhnya menyala semakin terang semakin kuat seketika. Dengan satu gerakan ringan, tubuhnya melesat naik ke udara dan meluncur cepat menuju ke arah gerbang utama yang sedang dalam bahaya besar.

Saat bayangan raksasa itu mengangkat palu raksasanya untuk menghantam gerbang untuk ketiga kalinya, tiba-tiba sebuah cahaya keemasan yang terang benderang melesat turun dari langit dan menghantam tanah tepat di antara pasukan musuh dan gerbang ibu kota. BOOOOMMMMM!!! Ledakan dahsyat terjadi dan gelombang kejut menyapu ke segala arah mendorong mundur ribuan pasukan musuh hingga terpental jauh ke belakang. Debu dan batu beterbangan tinggi menutupi pandangan sejenak. Saat debu itu perlahan turun dan hilang, terlihat Lin Mo berdiri tegak di hadapan gerbang utama ibu kota. Cahaya keemasan yang murni dan terang benderang menyelimuti sekujur tubuhnya bagaikan matahari yang turun ke bumi. Cahaya itu begitu terang sehingga pasukan musuh yang terkena sinarnya merasa tubuh mereka terbakar dan kekuatan mereka perlahan melemah.

Lin Mo berdiri tegak tanpa senjata di tangan. Ia hanya menatap bayangan raksasa itu dengan pandangan yang tenang namun begitu dahsyat sehingga musuh itu tanpa sadar mundur selangkah. Suara Lin Mo terdengar lantang dan bergema di seluruh penjuru medan pertempuran menembus suara gemuruh dan ledakan yang terus terjadi.

"Aku sudah menantimu... Dan kini aku berdiri di hadapanmu... Jika kau berani... hadapilah aku... Jangan sembunyi di balik ribuan pasukanmu yang tak berdosa..."

Bayangan raksasa itu menatap Lin Mo dengan mata yang menyala merah penuh kebencian dan ketakutan yang bercampur menjadi satu. Ia merasakan kekuatan yang memancar dari tubuh pemuda di hadapannya itu jauh lebih dahsyat dari pertemuan terakhir mereka. Cahaya keemasan itu begitu murni dan begitu kuat sehingga ia merasa seakan sedang berdiri di hadapan leluhur pendiri kekaisaran itu sendiri. Namun kebencian dan keserakahan di hatinya menutupi rasa takutnya. Ia meraung marah dan melesat maju menghantamkan palu raksasanya tepat ke arah dada Lin Mo.

"Matilah kau... Bersama cahayamu yang menyilaukan itu..."

Palu raksasa itu menghantam tubuh Lin Mo dengan kekuatan yang luar biasa dahsyat. BOOOOMMMMM!!! Asap hitam mengepul tinggi menutupi seluruh tubuh Lin Mo. Pasukan musuh bersorak penuh kemenangan. Namun seketika itu pula asap hitam itu terbelah dan lenyap terbakar oleh cahaya keemasan yang menyala semakin terang dari dalam. Lin Mo berdiri tegak di tempatnya tanpa bergeser sedikit pun. Tidak ada luka sedikit pun di tubuhnya. Cahaya keemasan di tubuhnya justru semakin terang semakin kuat menekan palu raksasa itu hingga meleleh dan hancur menjadi kepingan hitam yang jatuh berderai ke tanah.

Lin Mo melangkah maju selangkah. Cahaya keemasan melesat keluar dari telapak tangannya menghantam dada bayangan raksasa itu tepat di tempat jantungnya berada. DUARRRR!!! Musuh itu terpental mundur jauh hingga terjatuh di tengah barisan pasukannya sendiri. Tanah di tempat ia jatuh terbelah dan retak menjauh ke segala arah. Darah hitam mengalir dari mulutnya namun ia segera bangkit berdiri dengan wajah yang penuh amarah dan rasa malu yang tak tertahankan.

Lin Mo berdiri tegak di hadapan gerbang utama ibu kota. Cahaya keemasan terus menyala dari tubuhnya menerangi seluruh medan pertempuran yang gelap gulita itu. Pasukan kekaisaran bersorak penuh semangat dan keberanian kembali membara di dada mereka. Sementara pasukan hitam mundur perlahan dengan wajah yang penuh ketakutan melihat kekuatan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Lin Mo menatap musuh itu dari kejauhan dan berkata dengan suara yang menggetarkan hati setiap orang yang mendengarnya.

"Ini baru permulaan... Jika kau berani... datanglah lagi dengan seluruh kekuatanmu... Aku akan menunggumu di sini... Dan kali ini... kita akan menyelesaikan semuanya hingga salah satu dari kita jatuh dan tak pernah bangkit kembali..."

Bayangan raksasa itu menatap Lin Mo dengan pandangan yang penuh kebencian namun ia tahu bahwa saat ini ia belum mampu mengalahkan pemuda itu. Dengan gigi terkatup penuh amarah, ia memberi isyarat mundur kepada seluruh pasukannya. Perlahan namun pasti, ribuan pasukan hitam itu berbalik dan terbang menjauh menghilang ke dalam kegelapan arah utara yang jauh. Langit yang gelap perlahan kembali cerah dan matahari bersinar terang benderang menyinari ibu kota yang masih berdiri tegak dan tak terkalahkan.

 

1
Predi Siswanto
katanya mau memahami kekuatan yg baru di dpat kan kok malah prgi lagi ...AQ jadi curiga jangan jangan kepala Ator nya lagi eror🤣🤣
Arman: maaf jika ada cerita/alur yg kurang memuaskan tapi ini cerita yg bertahap kakak baru baca awal bab jadi wajar jika tokoh utama Masi lemah
total 1 replies
Predi Siswanto
tu kan makin letoy
Predi Siswanto
tambah letoy
Predi Siswanto
tu kan mulai letoy
Predi Siswanto
Alang kah hebat nya oi..jangan jangan begitu keluar langsung keok keok🤣🤣🤣
Alia Chans
ceritanya keren thor/Smile/
Arman: terima kasih pujian mu semangat ku💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!