NovelToon NovelToon
Cerita Angga'S

Cerita Angga'S

Status: tamat
Genre:Romantis / Badboy / Tamat
Popularitas:4M
Nilai: 5
Nama Author: fitTri

Warning!! bijaklah dalam memilih bacaan.

Anggara hanya ingin terbebas dari belenggu keluarganya. Dia ingin menjalani hidupnya sesuka hati, tanpa aturan apalagi kekangan dari sang ayah yang sangat di bencinya.

Persahabatan dengan Andra membuatnya terjun pada pekerjaan yang yang tak pernah dia bayangkan.

Hingga suatu hari mereka bertemu dengan Maharani, dalam sebuah insiden yang membuat Angga terluka, yang tanpa sadar membuat mereka semakin dekat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Down

*

*

"Ga?" sebuah suara lembut menginterupsi lamunan Angga kala dia tengah duduk di kursi taman di area parkiran kampus. Menunggu Andra mengambil mobilnya, mereka memutuskan untuk pulang sebelum jam kuliah selesai, suasana sudah tak memungkinkan untuk pemuda itu mengikuti mata kuliahnya. Dia sedang kesal setengah mati.

Fikka terlihat berjalan mendekat, Angga memutar bola matanya, jengah. Perlahan dia bangkit, bermaksud pergi dari sana.

"Ga!" Fikka mempercepat langkahnya, dia segera mencapai adik kelasnya yang pasti sedang marah padanya.

"Gue nggak ada urusan lagi sama lu." Angga bergumam.

"Ga, sorry."

"Ngapain lu bilang sorry? bukannya lu cuma bercanda?"

"Gue cuma khawatir, Ga."

"Cih, khawatir? bukan gue yang harusnya lu khawatirin, tapi diri lu sendiri." Angga mengomel, tanpa menatap kakak kelasnya yang masih diliputi kekalutan.

"Dia bener-bener ngancam gue, Ga. Dengan kejadian ini, gue makin takut. Apalagi setelah kejadian lu seminggu yang lalu. Dia serius dengan ancamannya, Ga." Fikka menjelaskan.

"Gue nggak tahu lagi harus gimana. Dia beneran ngancam kalau gue buka suara, videonya bakal disebar."

"Video? video apaan?" Angga kini menghadap ke arah gadis itu.

Fikka terisak.

Pemuda itu menarik lengan kakak kelasnya agar dia duduk di kursi taman tempatnya barusan.

"Ada yang belum gue tahu?" Angga pun kini duduk disampingnya.

Fikka merasakan tubuhnya bergetar, segala hal kini berkelebat di pelupuk matanya. Ketika pertama kali dia tergoda untuk menyerahkan dirinya pada pria yang selama ini dikenal sebagai dosen terbaik dikampus mereka. Yang pada awalnya hanya sebagai imbalan agar dirinya mendapatkan nilai sempurna di setiap mata kuliah yang dipegang oleh pria itu, tanpa harus berlelah-lelah mengerjakan tugas yang berat.

Hingga Fikka dengan mudahnya bersedia pula saat pria itu merekamnya ketika mereka tengah berhubungan intim, atau mengambil gambar saat dirinya dalam keadaan telanjang. Dengan dalih untuk koleksi pribadi karena dosen Irwan terlihat begitu sangat menginginkannya. Fikka hanya merasa bahagia karena dia merasa begitu diinginkan oleh seseorang.

Lagipula, siapa juga yang tidak tergoda? Pria dewasa supel yang tampan dan selalu bersikap menyenangkan, yang menjadi idola di kalangan hampir setengah mahasiswi di kampus mereka.

Namun setelah beberapa lama, kini dia tahu bahwa itu hanyalah topeng, menyadari bahwa sebenarnya dirinya sedang diperalat bagaikan budak yang setiap saat harus bersedia melayani nafsu bejat pria itu. Dengan ancaman yang tak main-main.

"Gue takut, Ga!" Fikka menutup wajah dengan kedua tangannya. "Jadi gue mohon, jangan berusaha untuk buka masalah ini lagi, atau semuanya bakal berantakan. Karena bukan cuma gue yang hancur, akan ada banyak orang yang ikut hancur juga."

"Tapi, Fik ..."

"Please, lu dalam bahaya, gue apalagi ..." gadis itu memohon. "Juga, ... cewek itu ..."

"Siapa?" Angga mengerutkan dahi.

"Cewek yang bareng lu waktu kalian di serang," jawab Fikka, menyeka matanya yang masih basah.

"Rani?" ucap pemuda itu. Fikka mengangguk.

"Sekali lagi lu ikut campur urusannya, dia nggak bakalan segan untuk ngambil cewek itu sebagai target. Itu yang dia bilang ke gue, Ga."

Angga menghela napasnya pelan.

"Terus lu gimana?"

"Dia bilang akan lepasin gue kalau gue tetep tutup mulut."

"Dan lu percaya?"

Fikka mengangguk.

"Nggak yakin gue," Angga menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi.

***

"Gue ..." Fikka bangkit setelah terdiam cukup lama. Wajahnya sembabnya kini tampak pucat.

"Lu baik-baik aja Fik?" Angga sedikit khawatir mengingat kondisi gadis itu yang dia ketahui tengah berbadan dua.

Fikka mengangguk.

"Gue denger, lu udah sama cewek itu ya?" dia bertanya sebelum pergi.

Angga mendongak, lalu mengangguk pelan.

Fikka tersenyum samar. Namun tetesan air kembali menyeruak dari sudut matanya.

"Sorry kalau selama ini gue banyak salah sama lu." Angga dengan tiba-tiba.

Fikka pun mengangguk lagi, lalu memutuskan untuk segera pergi dari sana. Karena bila sedetik lagi dirinya berada bersama adik kelasnya itu, maka bisa dipastikan tangisnya akan segera pecah. Entah mengapa dia merasa kehilangan? dan ini rasanya cukup menyakitkan.

Namun Fikka menghentikan langkahnya sebentar, lalu berbalik.

"Ga?" katanya.

"Ya?" jawab Angga.

"Boleh nggak gue meluk lu? mungkin ini yang terakhir kali." katanya.

"Lu kayak yang mau pergi jauh aja?" pemuda itu berkelakar.

"Gue cuma ngerasa mungkin setelah ini kita nggak bakalan kayak dulu lagi." Fikka mengingat masa-masa kebersamaan mereka yang walaupun hanya sekedar saling melampiaskan hasrat, tetap saja ada yang membekas dihatinya. Karena pada kenyataannya dirinya merasakan lebih dari itu ketika sedang bersama adik kelasnya ini.

Angga terdiam. Rasa bersalah mulai menyeruak dalam hatinya.

"Boleh, Ga?" Fikka bertanya lagi.

Angga menganggukkan kepala.

Dengan cepat Fikka menghambur kedalam pelukan hangat Angga, merangkulnya dengan erat seolah tak ingin melepaskannya lagi. Menghirup aroma tubuh adik kelasnya itu yang sering dia rindukan ketika dirinya merasa kesepian dan butuh teman berbagi rasa.

Fikka terisak.

"Janji ya, setelah ini lu nggak usah ikut campur urusan pak Irwan lagi." Fikka berbisik.

Angga membeku.

"Ga?" Fikka memanggil seolah pemuda itu tak berada di dekatnya.

"Lu janji, Ga?" ulangnya, lalu menarik kepalanya hingga kini mereka cukup berjarak.

Fikka mendongakkan wajahnya, mendapati Angga yang terdiam dengan wajah memucat dan pandangan lurus kedepan.

Gadis itu memutar tubuhnya perlahan.

Dia terkesiap.

Seorang gadis tengah berdiri disamping Andra dalam jarak beberapa meter dari mereka. Didekat mobil hitam yang dikenali sebagai mobil milik Andra.

Maharani pun membeku mendapati kekasihnya yang tengah berpelukan dengan seorang gadis cantik yang dia kenali sebagai Kakak kelasnya.

Dia bermaksud membujuk Angga untuk kembali ke kelasnya saat bertemu dengan Andra di parkiran, dan pemuda itu membawanya ke tempat dimana Angga menunggu.

Suasana tampak canggung saat ini. Hanya empat pasang mata yang saling pandang secara bergantian antara satu sama lainnya.

"Aku ... balik ke kelas kayaknya," suara pelan Maharani akhirnya memecah keheningan. Gadis itu mundur beberapa langkah, lalu memutar tubuhnya hendak meninggalkan tempat itu, sebelum akhirnya Andra meraih tangannya. Menahan Maharani agar tak pergi.

Lalu Andra menoleh ke arah sahabatnya, menatap mereka bergantian.

"Ada yang bisa jelasin sesuatu?" katanya.

Angga mengerjap berkali-kali. "Ini hanya ...

Tiba-tiba Fikka limbung, dia mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya. Tubuh semampainya hampir saja ambruk kalau saja Angga tak sigap meraih dan menahannya sekuat yang dia bisa.

"Fikka?" dia berteriak.

"Sakit!" gadis itu merintih. Dia terus memegangi perutnya.

"Darah, ..." Maharani menutup mulut dengan tangannya saat dia melihat ada cairan berwarna merah yang mengalir di kaki kakak kelas mereka.

"Fik?"

"Sakit." gadis itu merintih, wajah cantiknya kini semakin pucat.

Andra menghampiri. Memeriksa keadaan Fikka yang kian melemah.

"Ndra! rumah sakit, Ndra!!" Angga beteriak.

Fikka hampir kehilangan kesadaran ketika Angga mengangkat tubuh semampainya. Walau masih tertatih karena luka dikakinya yang belum pulih benar, namun pemuda itu terus memaksakan diri membawanya. Mereka memasuki mobil Andra yang sudah terparkir di dekat pintu keluar area.

"Sorry, aku harus pergi ..." Angga kepada Maharani sebelum pintu mobil ditutup dengan keras. Dan mereka meninggalkan tempat itu menuju rumah sakit terdekat.

*

*

*

*

Dua pemuda duduk di ruang tunggu UGD sebuah rumah sakit besar di kota Bandung. Menunggu dengan berdebar, menerka-nerka apa yang sedang dilakukan dokter kepada gadis itu yang pingsan dalam perjalanan setelah kehilangan banyak darah akibat kandungannya yang digugurkan secara paksa dengan menenggak puluhan butir pil peluruh kandungan.

Andra bersandar pada kepala kursi, sementara Angga menunduk dengan kedua tangan bertumpu di pahanya.

Pintu UGD terbuka setelah satu jam. Seorang dokter dan seorang suster keluar dengan tergesa.

"Suaminya mana?" tanya sang dokter.

Dua pemuda ini bangkit, dengan tubuhnya yang menegang secara bersamaan.

"Su-suami?" Angga balik bertanya.

"Iya, suaminya mana? saya harus bicara dengan suaminya. Kondisinya tidak baik saat ini." jawab dokter.

"Suami, ..." Angga melirik kepada sahabatnya, meminta bantuan. Apa yang harus dia lakukan sekarang? mengaku jika dirinya adalah suami pasien yang sedang butuh tindakan medis didalam sana? pikirannya kacau.

"Saya suaminya, dokter." Andra tiba-tiba maju.

Angga terhenyak.

Dokter itu terdiam sebentar, melirik dua pemuda di depannya secara bergantian.

"Saya suaminya." Andra mengulang ucapannya.

"Baik, bisa bicara di ruangan saya sebentar?" pinta sang dokter. Dijawab anggukkan oleh Andra.

"Ndra?" Angga menahan langkah sahabatnya yang mengikuti dokter menuju ruangannya. "Lu yakin?"

"Terus gue harus apa? ngebiarin lu ngaku suaminya Fikka? alasan apa yang bakal lu pakai ke Maharani nanti kalau dia tahu? sementara kejadian tadi juga belum lu jelasin sama dia."

Angga terdiam, lalu melepaskan tangannya dari Andra.

*

*

"Gimana?" Angga bertanya saat sahabatnya keluar dari ruangan dokter.

"Udah pasti janinnya harus dikeluarin. Dia nekad minum banyak pil peluruh kandungan." jawab Andra yang menghempaskan bokongnya kembali di kursi tunggu.

Angga memejamkan matanya dengan erat. Lalu dia bangkit.

"Kunci mobil?" Angga mengulurkan tangannya.

"Kemana lu?" Andra mendongak, menyerahkan kunci mobil kepada sahabatnya.

"Gue harus bikin perhitungan sama tuh orang." geramnya yang kemudian berjalan menjauh.

"Ga, jangan gegabah." sergah Andra, yang juga bangkit hendak mengikuti sahabatnya.

"Lu tunggu disini, jagain Fikka." Angga memerintahkan.

"Tapi Ga, ..."

"Gue bilang diem, ya diem." kilat kemarahan terlihat jelas di mata pemuda itu. Wajahnya memerah.

"Ga!" Andra kembali memanggil, namun sahabatnya itu berjalan tergesa. Andra hanya bisa menatap punggung lebarnya hingga dia menghilang dibalik pintu.

*

*

*

*

Bersambung ...

omegat, Dede mau ngapain?

like koment sama vote nya masih ya... tar malem up lagi deh janji.😄😄

1
Ruwi Yah
penasaran tapi menyakitkan setelah tau pekerjaan Angga
Ruwi Yah
luar biasa
Retno Desy (Ning)
Angga disuruh puasa 3 bln sama Rani,,kasian amat 🤣
Retno Desy (Ning)
udah tamat aja
Retno Desy (Ning)
dari hamil sampai lahir begitu berat bgt buat Angga jg Rani..mangkanya setelah Rania lahir JD anak kesayangan papa angga
Retno Desy (Ning)
wong guendeng
Retno Desy (Ning)
kasian si andra🤣
Retno Desy (Ning)
aaaa akhirnya bisa liat jg dan jg berwarna pilih sedia kala😍😍😍😍
Retno Desy (Ning)
😭😭😭
Retno Desy (Ning)
oh tidaaaakkkkk
Retno Desy (Ning)
ya ampun bisa habis itu samponya disuruh mandi berkali²🤣
Retno Desy (Ning)
hadeh kang modus ada aja 🤣🤣
Retno Desy (Ning)
angga posesif bgt sm rani
Retno Desy (Ning)
Angga entar JD besan ya pi😄
Retno Desy (Ning)
aih kangen papi😍
Retno Desy (Ning)
aye..aye..buka puasa jg ya ga🙈😍😄
Retno Desy (Ning)
buset ketemu mantan partner 🤣🤣,
Retno Desy (Ning)
puasa dulu ga,
Retno Desy (Ning)
dasar otak mesum🤣🙈
Retno Desy (Ning)
😭😭😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!