NovelToon NovelToon
Lovely Rain, Sweet Heart

Lovely Rain, Sweet Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:587
Nilai: 5
Nama Author: Liana29

Diantha dan Althaf saling mengenal dan menjadi sahabat di bangku SMA..
di sekolah, mereka benar benar tidak terpisahkan, bahkan satu sekolah mengira mereka pacaran.
sebenarnya mereka sama sama memiliki perasaan cinta, hanya saja , mereka sepakat untuk selalu menjadi sahabat dan tidak akan pernah pacaran, agar persahabatan mereka langgeng..
Sayangnya Diantha tidak sanggup untuk menahan perasaannya lagi hingga membuat jarak di antara meraka..
bagaimana kisah Diantha dan Althaf dalam cinta yang rumit dan persahabatan yang ingin di jaga..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liana29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas depan gang

Sesi nongkrong di kafe akhirnya usai..

Begitu berdiri dari kursi, Althaf menghembuskan napas panjang, sebuah helaan napas lega dari seseorang yang baru saja berhasil bertahan melewati masa-masa penyiksaan batin yang teramat sangat..

Bagaimana tidak? Sepanjang satu jam lebih duduk di meja sudut itu, mata dan dadanya harus menyaksikan setiap perlakuan manis yang Reyhan tumpahkan pada Diantha

Mulai dari jemari Reyhan yang secara natural memperbaiki anak rambut Diantha yang berantakan tertiup angin pendingin ruangan, menyuapi sepotong french fries langsung ke dekat bibirnya, hingga puncaknya saat Reyhan secara protektif memakaikan sweater milik Diantha ke bahu gadis itu ketika mereka bersiap-siap untuk pulang..

Setiap kali gerakan-gerakan kecil itu terjadi, Althaf hanya bisa meremas jemarinya di bawah meja, menatap tumpukan es batu di cangkirnya yang mencair, memakan bulat-bulat rasa cemburu yang membakar hatinya hingga garing..

Di sisi Diantha, sebenarnya setiap sentuhan dan perhatian berlebih dari Reyhan membuat tubuhnya meremang risih..

Ada dorongan kuat di dalam hatinya untuk menghindar atau bahkan menepis tangan Reyhan. Namun, setiap kali rasa enggan itu muncul, Diantha sengaja melirik Althaf yang duduk pura-pura sibuk di depannya.

Mengingat kembali bagaimana Althaf yang memintanya untuk 'mencoba', Diantha menahan seluruh rasa risih itu rapat-rapat. Ia membiarkan perlakuan Reyhan demi memberi kesan bahwa ia benar-benar sedang melangkah maju menerima sang kakak kelas, sekaligus membalas rasa sakit pada Althaf..

Deru mesin kendaraan pun membelah jalanan sore yang mulai temaram. Mereka berlima berpisah di persimpangan jalan kafe untuk menuju rumah masing-masing..

Diantha kembali berada di jok belakang motor matic Reyhan. Angin sore menampar halus wajahnya, membuyarkan kelelahan emosional yang ia tanggung sepanjang hari. Saat motor Reyhan mulai memasuki kawasan perumahannya dan menyisakan beberapa ratus meter menuju rumahnya, Diantha menepuk pelan bahu Reyhan..

"Kak Rey, turunin aku di depan gang aja ya," ujar Diantha setengah berteriak agar suaranya menembus deru angin dan helm..

Reyhan sedikit memiringkan kepalanya, menatap spion dengan dahi berkerut heran. "Loh, kenapa gitu, Tha'? Tanggung banget, sekalian aku anterin sampai depan pintu pagar rumah kamu biar aman."

"Nggak usah, Kak," potong Diantha dengan nada pelan namun tegas. "Sampai depan gang aja. Aku... belum mau ngejelasin hal baru ke orang rumah.."

Mendengar penuturan itu, Reyhan mengerti maksudnya. Walau ada sedikit rasa ganjal di hatinya, Reyhan mengangguk paham dan mengukir senyum maklum. Ia tahu Diantha butuh waktu, dan bisa sampai di tahap diajak pergi seharian ini saja sudah merupakan pencapaian raksasa baginya.

"Oke siap, Adek kelas," sahut Reyhan manis sembari menepi tepat di depan gang perumahan Diantha..

Motor matic itu berhenti mulus. Diantha segera turun, melepas helmnya, dan menyerahkannya kembali pada Reyhan.

"Makasih ya, Kak Rey, udah diajak jalan dan ditraktir hari ini," ucap Diantha, berusaha memberikan senyum terramah yang ia sanggup ukir..

"Sama-sama, Diantha. Hari ini seru banget buat aku," jawab Reyhan dengan binar mata yang amat bahagia. "Istirahat ya. Sampai ketemu besok di sekolah!"

Diantha mengangguk samar, berdiri menatap motor Reyhan yang perlahan memutar arah dan melaju menjauh. Begitu bayangan motor Reyhan menghilang di balik tikungan jalan raya, Diantha membuang napas panjang. Senyum di wajahnya luntur seketika..

Ia berbalik, melangkahkan kakinya menyusuri gang rumahnya yang sepi di bawah naungan langit sore yang kian jingga kecokelatan.

Langkahnya terasa begitu berat..

Hari pertamanya mencoba "membuka diri" untuk Reyhan berhasil melukai semua orang: Althaf yang terbakar cemburu, Reyhan yang diberi harapan palsu, dan dirinya sendiri yang terjebak dalam pusaran emosi yang kian rumit..

Langkah gulai Diantha terhenti di depan pintu rumahnya yang tertutup rapat. Keheningan yang janggal menyambutnya, amat berbeda dari biasanya di mana suara celoteh Alif atau dentang peralatan dapur buatan Mamah selalu terdengar di jam-jam seperti ini..

"Mah? Diantha pulang..." panggilnya pelan sembari mengetuk pintu. Tak ada sahutan.

Diantha menghela napas, lalu merogoh ponsel di dalam saku seragamnya untuk menelepon Mamah. Begitu layar ponsel menyala, ia baru menyadari ada notifikasi pesan WhatsApp dari Mamah yang dikirim sejak 20 menit yang lalu..

“Nak, Mamah sama Alif pergi ke rumah Tante Lastri dulu ya, ada syukuran kecil-kecilan. Kunci rumah Mamah titip di Mbak Sri tetangga sebelah. Papah kamu juga tadi ngabarin ada lemburan di kantor, mungkin pulang malam. Mamah sama Alif paling baru pulang sekitar jam 10 malam. Kamu ambil kunci di Mbak Sri ya, Nak..”

Diantha mengusap dadanya. Rumah kosong. Itu artinya ia akan menghabiskan malam ini sendirian..

Setelah mengambil kunci di rumah Mbak Sri, Diantha memutar gagang pintu dan melangkah masuk. Suasana rumah yang sepi mendadak terasa begitu memikat sekaligus menghimpit. Begitu sampai di dalam kamar, tanpa melepas tasnya terlebih dahulu, Diantha langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk.

Matanya menatap langit-langit kamar yang putih polos.

Lelah..

Rasanya seluruh energi kehidupannya terkuras habis hanya demi bersandiwara sepanjang hari di depan Althaf dan menahan rasa risih atas perlakuan manis Reyhan..

Beberapa saat menatap kosong, Diantha memaksa dirinya bangkit untuk mandi. Guyuran air dingin setidaknya berhasil membuang rasa lengket dan menyegarkan kembali pikirannya..

Dengan pakaian santai rumahan, Diantha melangkah keluar kamar menuju ruang keluarga di dekat dapur. Ia menyalakan televisi, mencari film yang pas untuk menemaninya, tak lupa menyambar sekantung keripik dan minuman dingin dari dalam kulkas yang selalu disiapkan Mamah nya..

Di tengah keasyikannya menonton film, layar ponsel yang tergeletak di atas meja kopi menyala terang, memunculkan notifikasi pesan dari nomor tak dikenal..

+62813-XXXX-XXXX: Diantha, ini aku Reyhan. Boleh ke rumah kamu nggak?

Diantha memutar matanya malas. Ketenangan malamnya yang baru saja terkumpul seketika goyah. Rasa enggan merayap cepat, membuatnya malas mengusap layar untuk membalas. Namun, memikirkan sopan santun pada kakak kelas, Diantha akhirnya mengetik balasan singkat..

Diantha: Maaf Kak, lagi nggak ada Mamah di rumah, aku nggak bisa terima tamu..

+62813-XXXX-XXXX: Oh, ya udah deh nggak apa-apa. Save ya nomorku, aku tadi minta nomor kamu sama Althaf.

Diantha: Iya Kak, aku save.

Kak Reyhan: Sampai ketemu besok, aku jemput ya, bye cantik 😉

Diantha hanya membaca pesan terakhir itu tanpa berniat membalasnya lagi.

Namun, ada satu hal yang mengganjal di dadanya dan berhasil menyulut rasa kesal: Althaf. Mengapa Althaf dengan begitu mudahnya memberikan nomor telepon pribadinya kepada Reyhan tanpa meminta izin terlebih dahulu padanya? Apakah Althaf benar-benar sudah tidak peduli hingga mengobral privasinya seperti itu?..

Dengan jemari yang sedikit emosi, Diantha membuka ruang obrolannya dengan Althaf.

Diantha: Althaf, kok kamu kasih nomor aku sama Kak Reyhan nggak bilang-bilang sih?

Hanya butuh hitungan detik, indikator typing muncul di bawah nama Althaf. Tampaknya cowok itu juga sedang menggenggam ponselnya.

Althaf: Apa? Aku nggak ada ngasih Kak Reyhan nomor kamu. Tadi memang dia minta, tapi aku bilang tunggu aku tanya dulu sama Diantha boleh apa nggak. Berarti Kak Reyhan ambil nomor kamu dari HP-ku tadi tanpa sepengetahuanku. Sorry..

Diantha tertegun membaca penjelasan panjang Althaf. Rasa kesal yang tadinya membakar mendadak surut, berganti menjadi canggung yang aneh. Ternyata Althaf tidak seabai itu padanya.

Diantha: Ya udah, nggak apa-apa..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!