Perusahaan keluarga Reno Mahesa di Jerman mengalami kehancuran setelah di pimpin oleh Arabella, anak pertama dari zevano dan Isabella.
Arabella jatuh cinta pada seorang pria dan mengorbankan segalanya. siapa sangka pria tersebut justru merebut takhta perusahaan milik Mahesa grup.
Sanggupkah Arabella merebut kembali perusahaan sang kakek?
kisah ini lanjutan dari kisah kelurga Reno Mahesa. kisah anak-anak, cucu-cucu Reno dan Delena. kisah ini mengusung percintaan, balas dendam, keterpurukan dan mengharu biru.
ikuti terus kelanjutannya dan jangan di skip, biar kalian tahu alur ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon enny76, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meninggalkan mansion
"Keterlaluan Kamu Arra! Beraninya Kamu meminta papa bercerai dari istri ku!!" teriak Vano, reflek tangannya kembali terangkat, Namun sebelum mendarat di pipi Arra, suara pintu di dobrak dari luar.
"Mas hentikan!" seru Savira sambil berjalan cepat kearah suaminya.
Savira menarik tangan suaminya di udara. "Jangan pernah menyakiti anak gadis mu. Kalau mau pukul, pukul aku saja!" seru Savira.
Tiba-tiba Arra terbahak-bahak...
Vano dan Savira menoleh pada Arra, mereka terlihat bingung dengan Arra yang tiba-tiba tertawa keras.
"Kenapa tertawa, apa ada yang lucu?! Sahut Vano kesal
"Aku hanya tertawakan wanita ini, sok perhatian padaku. Agar aku luluh dan memaafkan nya!"
Wajah Vano semakin suram, bibirnya menyeringai. "Kurang ajar kau Arra!" teriak Vano sambil menunjuk kearahnya. "Aku tidak pernah menyangka punya anak sombong dan pembangkang sepertimu. Selama ini aku salah telah memanjakan mu!"
"Salahkan saja aku pah! Aku memang anak pembangkang! Tidak sebaik Jordan dan Jordy!" balas Savira.
"Tidak usah bawa-bawa kedua adikmu! Jordan dan Jordy bisa di atur dan tidak pernah membantah kedua orang tua!"
"Bela dan banggakan saja kedua anak papah! Aku memang anak yang tidak pernah diinginkan!"
Vano menghela nafas kasar, ia pegangin keningnya yang berdenyut-denyut.
"Arra, mama minta maaf atas semua yang telah terjadi. Mama bersalah karena tidak memberitahu tentang mama mu. Please... mama tidak ingin kalian bertengkar." ucap Savira menahan tangis
"Sayang, jangan pernah meminta maaf apalagi memohon! Kamu tidak bersalah, tapi Arra yang sudah kurang ajar padamu."
"Masih saja papa membela wanita licik ini!" teriak Arra "Aku muak dengan semua ini! Aku tidak akan pernah maafkan dia, karena telah membunuh mama ku!"
Vano sangat murka, amarahnya kembali tersulut. Ia berjalan cepat kearah Arra, reflek menampar wajahnya. Gadis itu langsung menjerit kesakitan.
"Mas!" seru Savira, ia menarik tangan suaminya.
"Mas! Kenapa mas tega menampar wajah Arra, aku tidak pernah melihat mas seperti ini. Arra itu anak kandung mu!"
"Nggak usah membela anak tak tahu diri ini! Kamu sudah di injak-injak olehnya!"
Arra menangis sesenggukan sambil mengusap pipinya yang merona. "Papa tega lakukan ini padaku. Aku benci papah....!!
"Bila papa masih pertahankan wanita ini di sisi papah! Aku bersumpah tidak akan pernah injakan kaki ku lagi di mansion!"
"Terserah!" balas Vano dengan amarah meletup-letup "Aku tidak akan buat pilihan, untuk anak yang tidak tahu diri! Seandainya aku harus memilih kau dan Savira. Sudah pasti aku memilih istriku!"
"Aggrrhhh.....! Aku benci papah!" teriak Arra histeris, urat-urat lehernya menegang dan nafasnya tersengal-sengal.
"Baiklah, bila wanita ini pilihan papah! Aku akan pergi sekarang juga! Aku tidak pernah kembali pulang ke jakarta, sebelum wanita ini pergi dari mansion!"
Tubuh Vano menegang keras, tangannya terkepal kuat. Bola matanya menatap tajam penuh kebencian.
"Kau ingin mengusir istri ku dari mansion? Jangan harap! Lebih baik aku putus hubungan dari anak keras kepala dan sombong seperti mu, daripada kehilangan istri yang sempurna!"
"ARRGGGHHH!!! teriak Arra
Arra berjalan kearah Savira, lalu berteriak di depan wajahnya dengan mata melotot tajam. "Sekarang kau puas! Telah memisahkan papah dari ku!"
"Arra, mama tidak ingin kalian bertengkar, apalagi sampai kalian berpisah. Kita bisa bicarakan semua ini baik-baik."
Vano menarik tangan Savira. "Tidak usah kamu perdulikan anak kurang ajar ini! seribu kali kamu berbuat baik, tetap tidak ada artinya dimata dia!"
"Mas, please jangan emosi. Kita bisa bicarakan baik-baik, aku tidak ingin kalian putus hubungan hanya gara-gara aku." airmata Savira berjatuhan.
"Jangan terlalu baik padanya, dia akan semakin besar kepala dan ngelunjak!" tukas Vano sambil menarik tangan Savira keluar dari kamar. Sebelum benar-benar menghilang, Vano berkata tanpa menoleh kebelakang.
"Bila kamu ingin pergi dan tidak ingin menginjakkan kaki di mansion lagi, silakan pergi! itu pilihan mu, dan jangan pernah meminta ku untuk meninggalkan istri yang aku cintai!"
Setelah bicara Vano melangkah pergi bersama Savira. Arra berteriak histeris dan membanting benda-benda yang ada di meja rias.
"Baiklah Pah! Aku akan pergi hari ini juga!" gumamnya sambil menangis terisak.
Savira membuka lemari dan mengeluarkan semua isinya, lalu mengambil tas dorong untuk memasukkan semua pakaian, alat-alat kosmetik dan semua miliknya.
Satu jam kemudian Savira sudah selesai bereskan semua miliknya, ia mendorong tas menuju lift. Setelah di lantai dasar, ia tidak melihat siapapun disana. Vano dan Savira seperti hilang tanpa jejak.
"Tidak perlu berpamitan lagi, papah sudah memutuskan hubungan dengan ku. Sepertinya anak papah hanya Jordan dan Jordy." ucap Arra menahan getir di hatinya. Ia kembali melangkah menuju carport.
Mobil sedan hitam sudah menunggu, Arra masuk kedalam mobil. Sang supir mengangkat tas Arra ke bagasi.
"Pak, antar ke bandara."
"Baik non."
Sebelum mobil meninggalkan mansion, Arra mengadahkan wajahnya dan menatap kamar utama papahnya di lantai dua.
"Selamat tinggal Pah! Semoga papah puas dengan pilihannya. Aku tidak akan pernah menganggu papah lagi."
💜💜💜💜