NovelToon NovelToon
My Rude Ice Queen

My Rude Ice Queen

Status: sedang berlangsung
Genre:Playboy / Cinta pada Pandangan Pertama / Persahabatan
Popularitas:358
Nilai: 5
Nama Author: Xereaa

Hanya sebuah kisah tentang seorang remaja laki-laki bernama Jasver Alistair yang akhirnya merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta untuk pertama kali setelah enam belas tahun hidup di dunia. Di sekolah, Jasver dikenal sebagai playboy kelas kakap. Bukan karena ia gemar mengejar perempuan, melainkan karena setiap gadis yang menyatakan perasaan kepadanya selalu ia terima tanpa banyak berpikir. Hidupnya berjalan baik-baik saja hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis dari sekolah yang sama. Gadis itu menatap Jasver seolah sedang melihat sesuatu yang sangat menjijikkan. Sejak pertemuan yang tidak disengaja itu, takdir seakan terus mempertemukan mereka. Dan tanpa Jasver sadari, gadis yang selalu memasang wajah dingin itu perlahan menjadi alasan mengapa seorang playboy kelas kakap akhirnya mengenal arti cinta untuk pertama kalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3

Matahari pagi baru saja meninggi ketika Jasver bersandar di pagar koridor lantai dua, menunggu bel masuk berbunyi. Di sampingnya, seorang gadis berambut panjang dengan tas ransel berwarna pastel sedang sibuk menceritakan pengalamannya berburu kosmetik akhir pekan lalu.

​Gadis itu adalah pacar Jasver.

​Jasver mendengarkan sambil sesekali mengangguk dan tersenyum, meski pikirannya agak melayang. Tangannya sesekali merapikan sejumput rambut pacarnya yang tertiup angin. Dari belakang, penampilan gadis ini memang persis seperti yang dia ingat: rambut hitam lurus yang jatuh di bahu dan tas pastel yang khas. Gara-gara detail itulah kemarin dia menanggung malu tujuh turunan di stasiun.

​"Terus ya, Ver, masa kemarin–"

​Ucapan sang pacar mendadak terputus saat derap langkah kaki lain mendekat dari arah tangga. Jasver secara refleks menoleh, dan detak jantungnya seolah melompat sedetik.

​Seorang gadis berjalan melewati mereka dengan langkah tenang. Jasver mengerjap. Tunggu. Dia...

​Itu Aery. Tapi penampilan gadis itu hari ini berubah total. Rambut hitam lurus sebahunya yang biasa dibiarkan tergerai kini dijalin menjadi kepangan rapi. Tidak ada lagi tas sekolah berwarna pastel yang kemarin sempat membuat Jasver salah mengenali orang. Hari ini, Aery menyampirkan tas ransel kain berwarna hitam polos yang tampak kontras dengan seragam putihnya.

Aery berjalan lurus tanpa menoleh sedikit pun ke arah Jasver. Namun, tepat saat melewati mereka, sudut matanya melirik Jasver sekilas. Tatapan dingin khasnya seolah berkata, 'Gue udah ganti tas sama model rambut, jadi jangan berani-berani salah rangkul lagi.'

Jasver menelan ludah, menahan diri untuk tidak mendecak. Segitunya banget biar ngga dibilang mirip, batin Jasver gemas.

​Namun, kejutan aslinya baru saja dimulai.

​"Eh, Aery!" Panggilan dari pacar Jasver membuat langkah kaki Aery seketika terhenti.

​Jasver melotot kecil, menatap pacarnya dengan bingung. "Lo... kenal?" bisik Jasver panik.

​Pacarnya tidak menjawab pertanyaan Jasver, melainkan justru melambaikan tangan ramah ke arah Aery. "Aery, tugas sosiologi kelompok kita yang bab kemarin udah lo rangkum, kan? Nanti gue minta catatannya di kelas, ya?"

Aery membalikkan badan dengan anggun. Ketegangan yang tadi sempat Jasver rasakan mendadak mencair dari wajah gadis itu. Dia mengangguk kecil, memberikan senyuman tipis –yang menurut Jasver terasa tidak adil karena sangat manis–ke arah pacar Jasver.

​"Udah kok. Nanti pas jam pertama langsung gue kasih," jawab Aery, suaranya terdengar lembut dan normal. Sangat berbeda dengan nada judes yang biasa Jasver terima.

​"Okey, makasih ya, Ry! Untung sekelas sama lo, lo penyelamat banget emang," sahut pacar Jasver sambil terkekeh pelan.

Aery hanya mengangguk sopan, lalu matanya bergulir pelan menatap Jasver yang sedari tadi mematung seperti patung selamat datang. Selama beberapa detik, tatapan mereka beradu. Ada kilat geli yang tersembunyi di balik mata dingin Aery saat melihat ekspresi syok Jasver yang luar biasa.

​Tanpa mengatakan apa-apa lagi pada Jasver, Aery membalikkan badan dan berjalan masuk ke dalam ruang kelas X-A yang terletak tepat di belakang mereka. Jasver masih melongo, menatap pintu kelas yang baru saja dilewati Aery. Otaknya mendadak loading keras.

​"Ver? Kok bengong?" Pacarnya menyenggol lengan Jasver, membuyarkan lamunannya.

​"Dia... sekelas sama lo?" tanya Jasver dengan suara yang agak serak karena terlalu syok.

​"Iya, si Aery kan emang temen sebangkunya sekretaris kelas gue. Anaknya pinter banget tau, tapi emang agak pendiam dan kelihatan galak kalo belum kenal," jelas pacarnya panjang lebar tanpa curiga sama sekali. "Kenapa emang? Lo kenal dia?"

Jasver buru-buru menggelengkan kepala, memasang senyum sekaku kanebo kering. "Engga. Ngga kenal. Cuma... nanya aja."

Dalam hati, Jasver menjerit frustrasi. Dunia ternyata sempit sekali, dan kesialannya tampaknya baru saja naik ke level yang jauh lebih ekstrem. Kalau Aery sekelas dengan pacarnya, itu artinya... riwayatnya benar-benar berada di ujung tanduk kalau sampai gadis kepang satu itu buka mulut soal insiden bus dan salah rangkul kemarin.

♧♧♧

Jasver tahu hari ini adalah hari penghakiman. Sejak membuka mata di pagi hari, kepalanya sudah memutar skenario terburuk: pacarnya mengamuk, menuduhnya selingkuh dengan cewek kepang dua, lalu hubungan mereka berakhir tragis di koridor sekolah.

​Ngga boleh. Ini ngga boleh terjadi, batin Jasver mantap sambil mengepalkan tangan di depan dada.

Maka di sinilah dia sekarang. Berdiri di koridor belakang sekolah yang sepi, tepat di dekat belokan menuju Lab Biologi yang jarang dilewati orang pagi-pagi begini. Jasver sengaja menunggu di sana karena dia tahu itu adalah rute satu-satunya dari gerbang belakang menuju kelas X-A.

Begitu mendengar derap langkah kaki yang teratur, Jasver langsung memasang badan.

​Aery berjalan dengan langkah santai, kepangannya berayun pelan di punggung. Begitu matanya menangkap sosok tinggi Jasver yang berdiri menghalangi jalan, langkahnya melambat. Gadis itu tidak tampak terkejut, melainkan hanya menaikkan sebelah alisnya dengan ekspresi super datar.

​"Minggir," ucap Aery dingin, langsung pada intinya.

​"Tunggu, tunggu! Ry–eh, Aery. Gue mau ngomong bentar. Serius, bentar aja," pinta Jasver dengan nada setengah memohon, kedua tangannya merapat di depan dada sementara tangan kanannya menggenggam ponselnya erat-erat karena gugup.

Aery melirik jam tangan digitalnya. "Satu menit."

​"Oke, satu menit cukup!" Jasver menarik napas dalam-dalam, lalu merendahkan suaranya hingga nyaris berbisik. "Gue mohon banget... lo jangan sampai bilang apa-apa soal kejadian salah rangkul kemarin, atau kejadian di bus, ke pacar gue. Tolong ya?"

Aery melipat kedua tangannya di dada, menatap Jasver dengan pandangan menilai. "Kenapa gue ngga boleh bilang? Bukannya jujur itu lebih baik?"

​"Ya emang! Tapi posisinya salah paham banget, Ry!" Jasver mulai panik sendiri, tangannya yang memegang ponsel bergerak-gerak heboh menjelaskan. "Pacar gue tuh tipe yang gampang kepikiran. Kalau dia tahu gue salah rangkul cewek lain, yang kebetulan sekelas sama dia dan seimut... eh, maksudnya secantik lo–eh? Pokoknya dia bisa ngambek seminggu! Hubungan gue taruhannya, Ry. Tolonglah."

Aery diam. Sudut bibirnya berkedut samar mendengar Jasver yang nyaris keceplosan tadi, tapi dia cepat-cepat menyembunyikannya. Bukannya menjawab, pandangan mata Aery justru mendadak turun, terkunci pada bagian belakang ponsel yang dipegang Jasver.

Di balik softcase transparan ponsel Jasver, terselip sebuah photocard hologram berukuran saku. Itu adalah official merch photocard karakter anime favorit yang sangat langka karena hanya bisa didapat dari blind pack impor. Efek hologramnya berkilau indah saat terkena pantulan cahaya lampu koridor.

Aery mengerutkan keningnya sedikit, matanya sedikit melebar. "Itu..."

​"Hah?" Jasver refleks melihat ponselnya sendiri. "Oh, ini?"

​"Gue ngga akan sengaja cari gara-gara sama pacar lo," ucap Aery lambat-lambat, matanya masih menatap lekat-lekat pada photocard (PC) hologram tersebut. "Tapi kalau dia nanya, gue ngga suka bohong. Kecuali..."

​"Kecuali apa?! Sebutin aja, gue turutin!" potong Jasver cepat.

​Aery mendongak, menatap mata Jasver dengan senyum tipis yang tampak penuh kemenangan. "Kecuali lo lepas case HP lo sekarang, dan kasih PC hologram itu ke gue."

Jasver melotot, hampir menjatuhkan ponselnya. "Gila! Ini PC hologram limited edition, Ry! Gue bela-belain beli blind pack sampai habis lima ratus ribu demi dapet satu kartu ini!"

​"Oh, yaudah." Aery melangkah maju, bersiap melewati Jasver. "Gue duluan. Mau nyari pacar lo di kelas."

​"EH, IYA! IYA! AMBIL! AMBIL!" pekik Jasver panik.

Dengan gerakan super terburu-buru, Jasver melepas softcase ponselnya. Dia mengambil kartu tipis berkilau itu dengan sangat hati-hati, seolah sedang memegang barang pecah belah lalu menyerahkannya kepada Aery dengan wajah yang amat sangat melas.

​Aery menerima kartu itu. Detik itu juga, pertahanan dingin di wajahnya runtuh sesaat. Matanya berbinar senang melihat karakter favoritnya yang berkilau di genggamannya. Dia memandangi kartu itu bolak-balik dengan senyum puas yang sangat manis, sebelum akhirnya menyelipkannya ke dalam saku rok seragam dengan aman.

​"Deal," ucap Aery, kembali memasang wajah datarnya dalam sekejap. "Gue ngga tau apa-apa soal salah rangkul."

Jasver mengembus napas lega yang luar biasa, meski dadanya terasa sesak merelakan PC langkanya berpindah tangan. "Awas ya lo kalo bohong."

​"Gue selalu pegang kata-kata gue," sahut Aery tenang. "Dan satu lagi..."

Aery melangkah mendekat, membuat Jasver refleks mundur satu langkah karena kaget. Gadis itu mendongak sedikit, menatap Jasver dengan tatapan geli.

​"...rambut gue hari ini bagus, kan? Jadi lo ngga punya alasan lagi buat salah rangkul."

Sebelum Jasver sempat memproses kalimat itu, Aery sudah berjalan melewatinya dengan langkah ringan, menyisakan aroma samar buah persik yang harum dan Jasver yang mendadak mematung dengan jantung yang berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

♧♧♧

Jasver berjalan menyusuri koridor menuju kelas dengan langkah terseret, persis seperti zombi di film-film subuh. Bahunya merosot turun, pandangannya kosong menatap ubin lantai, sementara tangan kanannya menggenggam ponselnya yang kini tampak... sangat polos dan menyedihkan.

Begitu dia melangkah masuk lewat pintu kelas, dua pasang mata langsung menyambutnya dengan tatapan penuh selidik.

​Ren dan Bumi sudah duduk manis di meja paling belakang. Di atas meja mereka, sudah ada beberapa bungkus gorengan hangat yang baru dibeli dari kantin.

​"Waduh, panjang umur. Baru juga diomongin," celetuk Ren sambil mengunyah bakwan. Namun, begitu melihat ekspresi wajah Jasver, kunyahannya langsung melambat. "Lah, Ver? Muka lo kenapa lecek amat? Kayak habis ditolak semesta."

Jasver tidak menjawab. Dia menarik kursi kayu di sebelah Bumi dengan kasar, lalu menjatuhkan tubuhnya di sana hingga menimbulkan bunyi berderit nyaring. Kepalanya langsung diletakkan di atas meja, berbantalkan kedua lengannya yang terlipat.

​Sebuah helaan napas yang teramat sangat panjang terdengar dari sela-sela lipatan tangannya. Bumi yang sedari tadi sedang asyik membolak-balik buku matematika, perlahan menurunkan bukunya. Matanya langsung tertuju pada ponsel yang diletakkan Jasver di atas meja dengan posisi telentang.

Softcase transparan milik Jasver masih terpasang rapi di sana. Namun, pemandangan di balik case itu kini berubah drastis. Tidak ada lagi kilau holografis dari kartu anime kesayangannya. Yang tersisa hanyalah bagian belakang ponsel berwarna abu-abu polos yang tampak hampa.

​Bumi menaikkan sebelah alisnya. "Ver, case HP lo kok polosan gini? PC hologram lo kemana?"

Ren langsung mencondongkan badannya ke depan, ikut mengamati ponsel Jasver. "Eh, iya asem! Kosongan begitu? PC hologram sejuta umat kesayangan lo yang biasa lo pamerin itu mana?!"

Mendengar kata "PC hologram", Jasver langsung menegakkan punggungnya dengan cepat. Wajahnya yang biasa terlihat tegap kini tampak memelas, matanya berkaca-kaca menatap kedua sahabatnya.

​"Udah ngga ada," bisik Jasver dengan suara parau yang dibuat-buat dramatis. "Jiwa HP gue... udah direbut."

​"Direbut siapa, bego? Begal?" tanya Ren bingung sekaligus gemas melihat dramatisasi sahabatnya.

​"Sama penyihir berkepang," gumam Jasver lesu, lalu kembali menjatuhkan dahinya ke atas meja kayu yang dingin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!