Enam tahun pernikahan yang terlihat sempurna ternyata menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun.
Selama enam tahun, Alena dan suaminya, Rendra, terus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Berbagai cara telah mereka lakukan, mulai dari pengobatan hingga program kehamilan yang menguras tenaga dan air mata.
Namun, hasilnya tetap sama tidak ada tangisan bayi yang hadir di tengah rumah tangga mereka.
Di saat Alena masih berusaha bertahan dan berharap, Rendra justru memilih jalan yang paling menyakitkan.
Ia berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri.
Pengkhianatan itu semakin menghancurkan ketika Alena mengetahui bahwa wanita tersebut sedang mengandung anak suaminya.
Dunia Alena seakan runtuh dalam sekejap. Pria yang selama ini dicintainya ternyata telah memberikan semua yang ia impikan kepada wanita lain.
Saat Alena memilih pergi dan membangun hidup baru, Rendra mengira dirinya akan bahagia bersama selingkuhannya. Namun, semakin jauh Alena melangkah, semakin ia menya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35_Kunci menuju kebenaran
"Semua mundur!" teriak Edgar keras. Wajahnya berubah tegang, sorot matanya tajam menatap langit-langit yang mulai runtuh, sementara kedua tangannya mengepal menahan amarah.
Debu semakin tebal memenuhi lorong. Suara retakan dinding terdengar seperti gedung itu akan roboh kapan saja.
Nathan segera menarik Elvara mendekat.
"Jangan bergerak sendiri. Tetap di belakangku." ucap Nathan tegas. Wajahnya serius, rahangnya mengeras, sementara matanya terus mengawasi pria misterius yang berdiri di antara para petugas keamanan.
Elvara mengangguk pelan.
"Tapi... siapa mereka sebenarnya?" tanyanya lirih. Wajahnya pucat, bibirnya bergetar, sementara tangannya masih menggenggam lengan Nathan erat karena rasa takut.
Pria yang menyamar sebagai petugas keamanan itu tertawa kecil.
"Kalian masih belum mengerti juga?" ucapnya mengejek. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum meremehkan, sementara tatapannya penuh kemenangan melihat kepanikan mereka.
Edgar maju satu langkah.
"Siapa kamu?" bentaknya. Wajah Edgar memerah karena amarah, sorot matanya penuh kebencian, sementara suaranya menggema di lorong yang penuh debu.
Pria itu perlahan melepas topinya. Rambut hitamnya terlihat berantakan. Sebuah bekas luka panjang terlihat melintang di dekat matanya.
"Kalian boleh memanggilku... Adrian." jawabnya tenang terlihat santai, bahkan senyum tipis menghiasi bibirnya seolah tidak takut sama sekali.
Nathan langsung membeku.
"Adrian..." gumamnya pelan. Wajahnya mendadak berubah pucat, matanya membelalak, sementara ingatan lama kembali muncul dalam pikirannya.
Elvara menatap Nathan bingung.
"Kamu mengenalnya?" tanya Elvara pelan. Alisnya mengernyit, wajahnya penuh kebingungan, sementara tatapannya berpindah dari Nathan ke pria itu.
Nathan tidak menjawab.
Tatapannya tetap terpaku pada Adrian.
"Mustahil..." bisiknya. Napasnya mulai tidak teratur, sementara wajahnya menunjukkan keterkejutan yang sulit disembunyikan.
Adrian tertawa kecil.
"Akhirnya kamu ingat juga." ucapnya dingin. Matanya menyipit penuh kebencian, sementara ekspresinya berubah menjadi penuh dendam.
Edgar langsung menoleh kepada Nathan.
"Apa maksudnya ini?" tanyanya tajam. Wajah Edgar penuh tekanan, sementara sorot matanya meminta penjelasan.
Nathan menggeleng perlahan.
"Aku... tidak tahu." jawabnya pelan. Wajahnya terlihat kacau, sementara pikirannya berusaha menyusun potongan masa lalu yang hilang.
Adrian melangkah maju.
"Lucu sekali." katanya mengejek. Ia tersenyum miring, wajahnya penuh kepuasan melihat kebingungan mereka.
"Kalian hidup selama lima belas tahun dengan berpura-pura menjadi keluarga terhormat." Tatapan Adrian berubah tajam. "Padahal kalian berdiri di atas sesuatu yang bukan milik kalian."
Edgar mengepalkan tangan.
"Berhenti bicara omong kosong!" bentaknya. Rahangnya mengeras, urat di tangannya terlihat menonjol, sementara emosinya semakin sulit dikendalikan.
Adrian hanya tertawa.
"Omong kosong?" ulang Adrian. Ia mengangkat sebuah tablet kecil dari sakunya. Wajahnya terlihat tenang, sementara matanya penuh keyakinan.
"Kalau begitu... lihat sendiri." ucapnya menyodorkan tablet.
Layar tablet itu menyala. Sebuah dokumen lama muncul.
Foto seorang pria. Tanda tangan. Dan sebuah simbol hitam yang sama seperti yang ada di kartu tadi.
Nathan langsung melangkah mendekat.
"Tidak..." bisiknya. Wajahnya berubah syok, matanya membesar, sementara napasnya tertahan melihat dokumen tersebut.
Elvara ikut melihat layar itu.
"Itu..." ucapnya pelan. Wajahnya penuh ketakutan, sementara kedua tangannya menutup mulut karena terkejut.
Adrian tersenyum.
"Itu bukti bahwa ayahmu bukan korban." Tatapannya menusuk Nathan. "Dia adalah orang yang memulai semuanya."
Nathan langsung menggeleng keras.
"Diam!" bentaknya. Wajahnya penuh kemarahan bercampur rasa tidak percaya, sementara suaranya bergetar. "Jangan bawa-bawa ayahku!"
Adrian mendekat beberapa langkah.
"Kenapa? Karena kenyataan terlalu menyakitkan?"tanya Adrian. Wajahnya dingin, sementara tatapannya seperti sengaja menusuk luka lama Nathan.
Edgar langsung berdiri di depan Nathan.
"Jangan ganggu dia." ucap Edgar rendah. Wajahnya tenang tetapi penuh ancaman, sementara sorot matanya seperti siap menyerang kapan saja.
Adrian tersenyum.
"Selalu melindungi orang lain, Edgar." Ia menatap Edgar tajam. "Tapi apakah kamu tahu... ayahmu juga menyembunyikan sesuatu darimu?"
Edgar langsung terdiam.
"Apa?" tanyanya pelan. Wajahnya berubah serius, sementara rasa penasaran mulai mengalahkan kemarahannya.
Adrian mengangkat satu jari.
"Di bawah rumah lama keluarga kalian." ucapnya terpotong.
Suasana langsung membeku.
"Ada sebuah ruangan rahasia." Ucapannya terdengar perlahan. "Dan di dalam ruangan itu... ada jawaban kenapa semua orang yang mengetahui kebenaran harus menghilang."
Nathan menatap Adrian dengan penuh curiga.
"Kamu yang membuat mereka menghilang?" tanyanya. Wajah Nathan penuh amarah, sementara kedua tangannya mengepal kuat.
Adrian terdiam beberapa detik. Lalu tersenyum.
"Aku hanya meneruskan apa yang sudah dimulai." Jawabannya membuat semua orang terdiam.
Tiba-tiba...
Brak!
Salah satu pintu lorong terbuka paksa. Beberapa pria berpakaian hitam masuk sambil membawa senjata. Para petugas keamanan langsung bersiap.
"Semua posisi bertahan!" teriak kepala keamanan. Wajahnya panik, sementara tangannya segera memberi aba-aba kepada pasukannya.
Edgar menatap jumlah musuh yang semakin banyak.
"Mereka bukan datang untuk menculik kita..." ucapnya pelan. Wajahnya penuh kewaspadaan, sementara matanya mengamati gerakan para penyusup.
Nathan menyadari sesuatu.
"Mereka datang untuk mencari sesuatu." ucapnya berubah serius, sementara pikirannya mulai menghubungkan semua kejadian.
Elvara menatap kartu hitam yang masih dibungkus sapu tangan.
"Jadi... kartu ini bukan ancaman?" Tanyanya pelan dipenuhi kebingungan, sementara matanya tertuju pada benda misterius itu.
Nathan perlahan menatap kartu tersebut.
"Bukan." Wajahnya menegang. "Ini adalah kunci."
Semua orang terdiam.
Edgar menoleh cepat.
"Kunci untuk apa?" Wajahnya penuh tanda tanya, sementara napasnya terdengar berat.
Nathan menatap Adrian.
"Katakan yang sebenarnya." Suaranya rendah tetapi penuh tekanan.
"Kenapa kamu mengincar kartu ini?" tanya Edgar
Adrian tersenyum.
"Karena kartu itu bisa membuka tempat yang selama lima belas tahun terkunci." jelas Adrian
Ia berhenti sejenak. Lalu menatap Elvara.
"Dan orang yang memiliki akses terakhir..." Matanya berpindah kepada Elvara. "...adalah kamu."
Elvara langsung membeku.
"Aku?"ulang Elvara. Wajahnya berubah pucat, sementara matanya membesar karena terkejut.
Adrian mengangguk perlahan.
"Ya." Senyumnya semakin lebar. "Karena ternyata... keluargamu juga terlibat dalam rahasia ini."
Tiba-tiba seluruh lampu gedung mati. Gelap. Hanya suara langkah kaki yang semakin mendekat terdengar dari berbagai arah.
Kemudian suara Adrian terdengar di tengah kegelapan.
"Selamat datang di permainan sebenarnya." kata Adrian.
Sesaat kemudian...
Suara tembakan terdengar.
Dor!
Semua orang tersentak.
Edgar langsung menarik Elvara ke belakangnya.
"Nathan! Bawa Elvara keluar sekarang!" Teriaknya keras. Wajah Edgar penuh ketegangan, sementara matanya mencari sumber serangan.
Nathan menggenggam tangan Elvara.
"Kita harus pergi!" Ucapnya tegas. Wajahnya serius, sementara langkahnya cepat membawa Elvara menjauh.
Namun sebelum mereka bergerak...
Suara lain terdengar dari belakang. Suara seorang wanita.
"Jangan pergi dulu..." cegah wanita itu
Semua orang berhenti. Karena suara itu... Adalah suara seseorang yang seharusnya sudah tidak mungkin ada.
Nathan perlahan menoleh. Wajahnya langsung berubah pucat.
"Mustahil..." Bisiknya.
Di ujung lorong yang gelap... Seorang wanita berdiri. Dan di tangannya...Ia memegang foto lama ayah Nathan.
"Kamu mencari kebenaran, Nathan?" ucap wanita itu pelan.
"Tapi apakah kamu siap mengetahui siapa sebenarnya yang mengkhianati keluargamu?" lanjutnya dengan tanda tanya.
Mata Nathan membelalak. Karena wanita itu...adalah orang yang selama lima belas tahun dianggap telah meninggal.
nunggu karma pelakor celline gimana karma nya.