NovelToon NovelToon
MATA TAKDIR

MATA TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kultivasi Modern / Komedi
Popularitas:676
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.

Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.

Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!

Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?

#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern

#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa

#ZeroToHero #BenciJadiCinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat Cinta dari Pusat dan VLOOKUP yang Tertukar

Sinar matahari pagi di kantor cabang Tomang rasanya jauh lebih adem hari ini. Gak ada lagi bau apek karpet bekas ritual semalam. Berganti wangi sasetan kopi karamel yang sedang diseduh Dika senior di pojokan pantri.

"Asli, Lin. Gue berasa kayak reinkarnasi di isekai," celoteh Dika senior sambil membawa mug somplaknya. "Encok gue ilang total. Biasanya buat bersin aja gue musti megangan tembok."

Lina yang lagi memakai sunscreen cuma mendengus geli. "Bersyukur lu, Mas. Tadi subuh di TV, ketujuh dukun The Seven Actuaries sudah digotong pakai kursi roda sama orang-orang berompi oranye KPK. Sukses dipailitkan Dika magang sampai ke dunia nyata."

Kedua karyawan senior itu serentak menengok ke kubikal pojok belakang. Di sana, Dika si anak magang lagi duduk dengan posisi andalannya: punggung bungkuk, muka lempeng, dan mata menatap nanar ke ribuan baris Excel. Aura emas dan kuas raksasa semalam lenyap total. Yang tersisa cuma cowok kurang tidur yang butuh asupan gorengan hangat.

Pak Bambang tiba-tiba keluar dari ruangannya. Rambut kepalanya yang semalam memutih kini kembali hitam legam.

"Dika... selamat pagi," sapa Pak Bambang selembut mungkin.

Dika berdiri dan membungkuk sopan. "Pagi, Pak Bambang. Laporan keuangan konsolidasian yang semalam bapak minta sudah saya email jam tujuh pagi tadi. Gak ada yang error atau value."

"Oh, bukan soal itu, Dik. Soal laporan mah saya percaya seratus persen," Pak Bambang merunduk, berbisik misterius. "Barusan Direktur Keuangan Pusat nelpon. Sistem mereka mendeteksi ada lonjakan efisiensi modal yang luar biasa dari cabang Tomang karena beban utang tak terduga kita mendadak... hilang. Jajaran direksi mau datang sidak jam sepuluh nanti untuk minta presentasi strategi manajemen risiko kita."

Seisi ruangan langsung senyap. Kedatangan orang pusat itu level ngerinya sama kayak malaikat pencabut nyawa bawa clip chart.

"Mampus!" Dika senior langsung panik merapikan meja kerja dari bungkus bakwan. "Lin, pinjam handsanitizer! Meja gue bau minyak, entar bonus akhir tahun gue dipotong!"

Pak Bambang menatap Dika memelas. "Masalahnya, Dik... kita mau presentasiin apa? Masak slide PowerPoint-nya berisi cara mengusir dukun pakai Pena Audit Langit? Bisa-bisa saya dikirim ke RSJ!"

Dika membetulkan kacamatanya yang melorot. "Bapak tenang saja. Kita pakai bahasa korporat standar. Pusaran angin emas penarik jaminan semalam tinggal kita sebut sebagai 'Eksekusi Aset Likuid Terintegrasi melalui Sistem Kliring Otomatis'. Gampang kan?"

Pak Bambang dan staf lainnya langsung melongo.

Jam sepuluh tepat, Pak Haryo, Direktur Keuangan Pusat yang terkenal kejam, datang bersama rombongan. Mereka langsung masuk ke ruang rapat kecil.

"Bambang, langsung saja. Bagaimana caranya cabang kecil ini bisa melakukan pembersihan neraca keuangan sebersih ini dalam semalam?" tanya Pak Haryo tajam.

Dika magang maju, mencolokkan kabel VGA laptop Asus bututnya ke proyektor. Layar menampilkan judul: "OPTIMALISASI ASSET CLEANING DAN MITIGASI RISIKO REKAYASA TAKDIR MELALUI METODE REVERSAL JURNAL UTAMA".

"Selamat pagi, Pak Haryo," Dika membuka presentasi dengan suara datar yang menghipnotis. "Hari ini saya menjelaskan bagaimana kami melakukan likuidasi terhadap pihak ketiga, The Seven Actuaries, yang melakukan penyedotan modal tanpa izin. Semalam, kami melakukan audit forensik. Kami menemukan instrumen modal mereka melanggar hukum kontrak kerja universal. Maka dari itu, kami melakukan margin call darurat dan menyita seluruh jaminan aset mereka secara paksa."

Asisten Pak Haryo berbisik, "Pak, bahasanya sangat teknis. Ini mirip strategi penyelesaian utang macet korporasi global."

Dika menekan tombol next. "Penurunan kondisi fisik mereka hingga jompo massal adalah kebangkrutan sistemik akibat hilangnya goodwill mendadak. Sedangkan keterlibatan KPK adalah hasil dari compliance report yang saya kirimkan sebagai bentuk penerapan Good Corporate Governance."

Pak Haryo menggebrak meja dengan puas. "Luar biasa! Strategi kamu bener-bener bersih dan mematikan lawan bisnis! Tapi Dika, ada satu hal mengganjal..." Pak Haryo membaca tabletnya. "Di baris 452 bagian pengeluaran, kamu memasukkan formula VLOOKUP yang merujuk ke... 'Buku Besar Pengadilan Akhirat'. Dan hasil akhirnya tertulis 'Saldo Bersih Tanpa Dosa'. Ini maksudnya apa?"

Pak Bambang langsung keselek ludah sendiri.

Dika tetap tenang. "Oh, maaf Pak. Itu formula VLOOKUP yang tertukar saat saya copy-paste data semalam. 'Buku Besar Pengadilan Akhirat' itu kode internal untuk folder arsip data lama yang siap dihancurkan. Sedangkan 'Saldo Bersih Tanpa Dosa' adalah metafora bahwa akun tersebut sudah balance sempurna."

Pak Haryo terdiam lama, lalu tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Kreatif sekali kamu pakai istilah metafora di laporan resmi! Mulai bulan depan, anggaran cabang Tomang saya naikkan dua puluh persen! Dan Dika, hari ini juga kamu saya angkat jadi Karyawan Tetap posisi Senior Risk Analyst di kantor pusat dengan gaji tiga kali lipat. Bagaimana?"

Pak Bambang melotot. Lina menutup mulutnya saking kaget. Tapi tanggapan Dika?

"Terima kasih banyak atas penawarannya, Pak Haryo," jawab Dika datar. "Tapi mohon maaf, saya harus menolak posisi di kantor pusat. Di pusat AC-nya terlalu dingin, nanti encok saya bisa kambuh lagi. Saya lebih milih tetap di cabang Tomang saja sebagai staf biasa dulu."

Pak Haryo takjub melihat anak muda yang tidak gila jabatan itu. "Ya sudah, Bambang, urus surat pengangkatannya di cabang ini minggu depan!"

------------------------------

Setelah rombongan pusat pulang, Lina berjalan mendekati meja Dika sambil membawa map plastik merah dari kurir Jakarta Utara.

"Dik, ada berkas baru dari cabang pembantu. Katanya minta tolong dicek pembukuannya karena ada keanehan."

Dika membuka map tersebut. Samar-samar tercium bau amis air laut yang sangat pekat, lengkap dengan pendar cahaya biru redup dari sela-sela nominal aset. Di bagian bawah laporan, tertera tanda tangan digital klien: PT Pesugihan Pantai Selatan Tbk.

Dika meraba pulpen dua ribu rupiah di saku kemejanya yang mulai menghangat lagi. Dia menghela napas pendek.

"Baru kelar urusan gunung, sekarang udah muncul urusan laut," gumam Dika lempeng. "Gak apa-apa, Lin. Ini cuma masalah VLOOKUP biasa. Cuma sepertinya... tabel referensinya kali ini agak sedikit lebih dalam saja."

1
SANG
Semangat ya thor💪👍
SANG
Sembilan belas bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Mantap, mantap banget💪👍
SANG
Cerita baru semangat baru ya dek💪👍
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!