Rania selalu dihina dan direndahkan oleh mertuanya, dia mendapatkan caci makian itu dan suaminya hanya berdiam diri tanpa membelanya.
Ardi sang suami selalu beralasan jika ibunya sudah tua sehingga ingin melihatnya menjadi orang sukses sehingga dia menggunakan identitas Rania untuk membuat ibunya bahagia.
Cinta yang besar dimiliki Rania tidak mampu membuatnya berharga dan terlihat dimata keluarga suaminya, dia memutuskan untuk berhenti dan mengambil kembali semua miliknya.
Suaminya yang Menumpang tapi dirinya yang selalu dihina, dia membalas semua rasa sakit hatinya membuat suami dan keluarganya panik dan kalang kabut
Akankah, perjuangannya mendapatkan kebahagiaannya kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Valeria kini menatap Rania dengan tubuh bergetar hebat, dia tidak menyangka perkataannya ini berakhir seperti ini.
"Saya hanya mengatakan apa yang saya lihat dokter Rania, memang benarkan kalian sudah bercerai, dimana letak kesalahan yang saya katakan, mereka yang menambah bumbunya, bukan saya".
Rania mengangkat alisnya melihat Valeria berusaha membela diri padahal dia jelas-jelas salah dalam hal ini.
"Kalau begitu mari kita buktikan dikantor polisi saja, saya bisa membawa kedua suster yang tadi berbicara itu kesana untuk membuktikan semuanya". Jawabnya menantang karena memang dia punya bukti
"Tolong ibu Rania jangan seperti ini, kita akan melakukan peradilan untuk semua yang terlibat dalam kasus ini, tolong jangan bawah ke kantor polisi kasus ini".
Aldo menatap sendu kearah Rania yang kini menatapnya dengan tatapan menuntut.
Selama mengenal dokter di hadapannya ini, inilah pertama kali dia melihat tatapan itu, selama ini dia hanya melihat tatapan ramah dan senyuman tulus tapi sekarang wajah itu bahkan ingin memakannya hidup-hidup.
"Terserah anda pak Aldo tapi saya mau keadilan, ini bukan urusan orang lain karena ini Rana pribadi saya, saya tidak pernah mencampuradukkan pekerjaanku selama ini dengan masalah pribadi terus kenapa ada orang sok tahu dan menyebarkan berita yang tidak-tidak".
"Iya dokter Rania, kami akan menindak ini dengan tegas dan anda dokter Valeria harus bertanggungjawab dengan ini pada kami, anda sudah memalukan rumah sakit dan juga dokter Rania dengan fitnah".
Valeria kini memucat mendengar perkataan itu, dia tidak tahu apa yang kini menimpanya.
"Saya meminta maaf dokter Rania, jangan laporkan saya kepolisian, saya sungguh minta maaf, saya hanya mengatakan hal yang katakan tadi, mereka yang sembarangan berbicara dan menambahkannya, tolong jangan bawah kasus ini".
Rania menatapnya dengan kesal tapi matanya menyorot tajam.
"Makanya punya mulut itu dijaga, giliran dibalas seperti ini anda ketakutan, anda pikir anda itu hebat sudah bisa bicara seenaknya dan menjatuhkan saya, jika saya mau anda bisa kehilangan pekerjaan dan mendekam dipenjara, sekarang tolong dokter Aldo bereskan permasalahan ini, jika sampai saya mendengar ada yang beredar seperti ini lagi, saya akan menuntut rumah sakit dan mulut orang itu".
Rania bangkit dari duduknya kemudian berjalan keluar dari ruangan menyisakan keduanya yang memandang nya dengan tatapan berbeda.
Valeria menatap penuh kebencian kearah perginya Rania, dia bersumpah akan membalas Rania karena telah mempermalukan dirinya seperti ini, untuk saat ini dia hanya bisa berdiam diri agar tidak dipecat dari rumah sakit.
Sedangkan Aldo hanya bisa menghela nafas berat, dia tidak menyangka jika kasus ini akan membesar seperti ini, walau memang ini bukan tempat untuk menyebarkan rahasia pribadi orang lain.
Tatapannya kembali menyorot tajam Valeria yang kini ikut memandang Rania, dia tahu jika dokter ini memang terlihat tidak suka kepada Rania sejak awal tapi dia tidak terlalu memusingkan karena baginya ini tempat bekerja bukan tempat saling iri tapi nyatanya malah terjadi seperti ini.
"Dokter Val bisa dengar sendiri apa yang dikatakan dokter Rania, jadi sekarang dokter buat pernyataan permintaan maaf melalui pengeras suara dan pastikan ini tidak terulang kembali, saya tidak mau kejadian ini merusak citra rumah sakit".
Valeria menatap Aldo dengan tatapan tidak percaya, permintaan maaf melalui pengeras suara itu sama saja dengan membuktikan pada semua orang jika dia pembohong dan sengaja menjatuhkan nama Rania tapi melihat tatapan Aldo yang serius dia hanya mengangguk sambil mengepalkan tangannya
"Sialan kamu Rania, kamu membuatku malu setengah mati begini". Umpatnya dalam hati.
"Memang tidak bisa yah dok, secara pribadi saja, kok harus melalui pengeras suara?".
"Karena fitnah itu sudah membesar dan semua staf dirumah sakit baik dokter atau perawat serta yang lainnya sudah tahu, jadi untuk mempersingkat semuanya tentu saja dengan pengeras suara".
"Tapi dok". Ucapnya keberatan.
Melihat dokter itu belum melakukan apa yang dia katakan, Aldo menegurnya kembali
"Tolong lakukan sekarang dokter Valeria, didepan anda ada pengeras suara yang terhubung dengan semua ruangan dirumah sakit ini, jadi lakukan sekarang, saya tidak mau dokter Rania membawa ini ke meja hukum atau kalau anda tidak mau melakukannya, anda bisa menulis surat pengunduran diri ".
Mata Valeria membesar, dia baru beberapa bulan dirumah sakit besar ini, bagaimana mungkin dia pindah secepat itu apalagi disini gajinya sangat bagus.
"Baiklah dok, maafkan saya". Jawabnya dengan tangan mengepal.
Dia segera membuka pengeras suara dibantu oleh Aldo agar suaranya bisa langsung terhubung.
"Tes..tes.". Ucapnya pelan dengan suara bergetar malu.
"Saya dokter Valeria, saya ingin mengatakan sebuah permohonan maaf kepada dokter Rania tentang masalah yang beredar, permasalahan ini sudah kami selesaikan dengan atasan, dan sekali lagi saya meminta maaf atas nama pribadi kepada dokter Rania dan semua yang beredar sebagian hanya kebohongan, terima kasih". Ucapnya dengan pelan.
Keringat dingin menetes di keningnya, dia yakin setelah ini dia akan mendapatkan caci makian dari semua pihak karena telah berani menyebarkan berita palsu kepada semua pihak yang ada dirumah sakit.
Dia pasti tidak akan lagi dipercaya oleh semua orang yang ada dirumah sakit karena masalah ini, dia mengepalkan tangannya erat-erat hingga kukunya memutih karena emosi yang dia tahan.
"Bagus dokter, lain kali ucapan anda harus anda perhatikan, jika sampai ini terulang kembali maka saya akan memecat anda secara tidak hormat, anda saya skors setelah ini, anda baru bisa masuk bekerja setelah dua Minggu kedepan".
Aldo menatap tajam dokter dihadapannya ini, beruntung tadi dia tidak langsung percaya apa yang dikatakannya tentang Rania, jika sampai dia termakan hasutan itu, dan menanyakan hal itu pada Rania maka Rania pasti akan melapor ke polisi dan citra rumah sakit akan berantakan.
"Diskros dokter?, bukankah saya sudah meminta maaf melalui pengeras suara, kok saya harus diskors segala?". Protesnya tidak terima.
"Terserah apa yang anda katakan dokter Valeria, jika anda tidak terima dengan keputusan saya, semua ada ditangan anda, keluar dari sini untuk mengundurkan diri atau jalani hukuman yang diberikan kepada anda".
"Baik dokter, maafkan saya". Ucapnya menunduk dengan menahan emosi.
"Aku pasti akan membalas mu nanti Rania bagaimanapun caranya". Gumamnya dalam hati.
"Sekarang keluar dari ruangan saya, jika tidak ada yang penting jangan sekali-kali dokter Valeria datang keruangan saya membawa berita murahan seperti tadi".
Valeria hanya mengangguk pelan kemudian berdiri dan berjalan keluar ruangan itu dengan kepala menunduk sedangkan Rania yang mendengar perkataan Valeria dari pengeras suara menyunggingkan senyuman miring
"Anda salah mencari lawan dokter". Ucapnya dalam hati.