Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.
Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.
Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.
Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.
Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. DASTER KUNTILANAK
"Mashaa Allah... gantengnya anakku!"
Erina duduk di kursi ruang tamu, tak henti mengagumi dan memuji putranya yang sudah berpenampilan rapi dalam balutan kemeja putih, jas dan celana panjang kelabu bergaris, serta dasi cokelat gelap dengan pin emas asli bergrafir logo dan tulisan BIS--singkatan dari Bravo International School.
"Ini sih nggak kayak murid SMP... kamu udah cocok jadi CEO Bank di Swiss," ujar Erina dengan ekspresi kian berbinar.
Saga hampir memutar bola matanya.
"Mama, Saga udah pakai seragam ini sejak sebulan lalu... dan Mama selalu bilang hal yang sama setiap Saga mau berangkat sekolah. Kalau setiap pujian berhadiah piring cantik, Saga udah jadi CEO pabrik piring sekarang."
Erina tertawa.
"Yah habis emang kamu keren pakai seragam itu... cocok! Mama nggak nyangka aja bisa lihat anak Mama pakai seragam sekolah internasional... kamu hebat bisa dapat beasiswa penuh di BIS! Pasti kecerdasanmu itu menurun dari Mama, iya kan?"
Giliran Saga yang tertawa--meski jemarinya mengusap belakang kepalanya dengan salah tingkah. Ia tak menyangka karangan bebasnya mengenai pindah sekolah karena menang sayembara beasiswa di BIS dipercaya Erina sampai detik ini, tanpa curiga sama sekali.
"Gimana rasanya sekolah di sana sejauh ini, Ga? Apa pelajarannya sulit? Guru dan teman-temanmu memperlakukanmu dengan baik, kan?" tanya Erina, netranya kini melebar cemas.
"Sejauh ini oke--nggak ada masalah," jawab Saga enteng.
"Syukurlah," Erina menghembuskan napas lega. "Tadinya Mama sempat khawatir... kamu akan diperlakukan beda karena kamu bukan dari kalangan berada seperti mereka..."
Saga terdiam sejenak. Kekhawatiran ibunya jelas tak perlu--satu sekolah elit itu tahu Saga bisa masuk di sana atas rekomendasi dan dukungan dana pribadi Alvin Hermawan, salah satu pewaris Harmoni Group yang terkenal dan masuk jajaran orang terkaya di negeri ini. Jelas tak ada yang berani mengusiknya.
Malah--entah bagaimana--sudah ada gosip beredar bahwa Saga tak lama lagi akan menjadi putra tiri Alvin secara resmi di mata hukum negara maupun agama. Dan karena itu--yang terasa konyol bagi Saga--semua orang justru semakin menghargai dan menghormatinya, seakan ia sudah pasti akan turut mewarisi kekayaan keluarga Hermawan dan memangku jabatan penting di perusahaan Harmoni Group di masa depan.
Saga sepenuhnya mengabaikan desas-desus tak penting itu--yang dianggapnya seperti kentut lewat. Tetapi ia jelas tak bisa mengatakannya pada Erina--atau kebohongannya mengenai beasiswa itu dan dirinya yang sempat putus sekolah akan terbongkar dan melukai hati ibunya.
"Mama tak perlu khawatir. Murid-murid sekolah internasional itu attitude dan mindset-nya beda. Pakai sendok dan garpu saja ada aturannya, apalagi dalam bergaul dan memperlakukan orang lain... yah intinya mereka sangat beradab, dan karena itu sampai sekarang semua berjalan baik-baik saja," tukas Saga, berusaha menenangkan dengan alasan selogis mungkin.
Erina mengangguk dan tersenyum, namun tiba-tiba sorot matanya berubah sendu.
"Mama bersyukur kamu mendapat hal sebaik dan seistimewa ini... meski Mama juga minta maaf, harusnya Mama sedari awal bisa memberimu lebih karena itu memang hakmu sebagai anak... tetapi kamu justru malah harus berjuang keras mendapatkannya sendiri. Maafin Mama ya Ga, Mama begitu lemah dan payah, belum bisa jadi ibu terbaik buat kamu dan Nala..."
"Jangan bicara begitu, Ma!" sergah Saga, spontan suaranya meninggi akibat emosi. "Mama sama sekali nggak seperti itu... Mama selalu berjuang untuk Saga dan Nala, bahkan di titik terendah sekalipun Mama nggak berhenti berusaha memberikan yang terbaik! Saga bisa seperti ini karena mencontoh Mama, karena ingin sehebat Mama dan bikin Mama bangga... Mama ibu terbaik di seluruh dunia!"
Erina tersenyum dan menghapus linang bening yang telanjur menitik di pipinya yang pucat.
"Terima kasih ya Ga sudah memandang Mama seperti itu... Mama janji akan berusaha lebih baik lagi buat kalian. Maaf ya pagi-pagi jadi mellow begini, kayaknya Mama barusan keserempet daster kuntilanak lewat deh... bawaannya jadi pengen nangis di pojokan kebun sambil garuk-garuk tanah pakai telunjuk..."
Saga mau tak mau tertawa mendengar kicauan absurd ibunya. Ia maklum saja jika belakangan ini selain pelupa, Erina juga menjadi lebih emosional dan mudah meneteskan air mata. Dokter sudah mengatakan, semua itu akan terjadi sebagai efek samping terapi yang dijalani untuk mengatasi kanker, dan akan membaik seiring waktu--atau saat jeda sebelum terapi season selanjutnya dimulai.
"Ah, ya," Erina tiba-tiba tersadar akan sesuatu dan buru-buru mengecek buku catatan harian yang kini selalu dibawanya ke mana-mana--sebagai trik jitu untuk mengatasi kepikunan akut. "Nala, sini, Sayang. Waktunya Mama sisir rambutmu."
Nala yang baru selesai memakai seragam di kamarnya pun muncul sambil menggenggam sisir kelincinya. Ekspresinya setenang langit dini hari.
"Cantiknya anak Mama..."
Usai menyisir dan memuji Nala, Erina pun mencentang salah satu agenda harian yang tertera di buku tulisnya. Raut mukanya kini juga setenang Nala.
"Habis ini kita jalan ke depan sama-sama ya... Nala dijemput bus sekolah, Mama dan Saga naik angkot tapi beda warna dan jurusan," gumam Erina sambil membaca catatannya sendiri.
"Mama yakin mau masuk kerja hari ini?" Saga memandang ibunya khawatir. "Radioterapi season satu memang udah selesai, tapi kata dokter kan kondisi Mama masih perlu dipantau--"
"Yakin. Mama udah sehat kok. Gila aja kalau udah tiga puluh kali cosplay jadi mumi tapi habis itu nggak bisa ngantor lagi... bakal Mama ledakin rumah sakitnya pakai tabung gas tiga kilogram!" tukas Erina tak mau kalah.
Saga menghela napas panjang. "Nggak gitu juga konsepnya, Ma..."
"Jangan khawatir, Sayang. Kan tadi kamu sendiri yang bilang kalau Mama hebat," Erina tersenyum lebar. "Yuk berangkat!"
Rasa cemas dan khawatir itu tak sepenuhnya tersingkir dari kalbu Saga, bahkan setelah mereka sudah berdiri di tepi jalan raya depan gang, dan Nala lebih dulu pergi karena bus sekolahnya sudah datang menjemput.
Saga sempat berpikir untuk terlambat ke sekolah agar bisa mengantar Erina dengan selamat sampai gudang--tepat ketika sebuah mobil Lexus RX putih menepi di depan matanya.
"Assalamu'alaikum, para calon penghuni surga."
Alvin menurunkan kaca jendela depan, tampak sangat tampan dengan kacamata hitam luxury-branded dan tersenyum ramah.
"Wa'alaikumsalam," sahut Erina dan Saga tak kompak--keduanya sempat membeku saking kagetnya dengan kemunculan Alvin dan sapaannya yang tak terduga.
"Saga mau berangkat sekolah, ya? Bu Erina juga mau masuk kerja lagi hari ini, kan?" tanya Alvin halus.
"Pak Alvin... sehat?"
Alih-alih menjawab basa-basi Alvin, Erina justru melontar tanya dengan wajah sendu dan suara agak bergetar--seakan menahan sesuatu meluap dari kedalaman diri, dan juga sudut-sudut matanya.
Itu pertama kalinya ia dan Alvin kembali bersua--terutama sejak insiden mengerikan di gudang yang hampir merenggut nyawa keduanya.
"Alhamdulillah sehat," jawab Alvin pelan. "Bu Erina sendiri bagaimana...?"
"Alhamdulillah... sudah lebih baik...," sahut Erina lirih.
Saga menatap ibunya dan Alvin bergantian. Rongga dadanya seakan bergemuruh, tetapi ia juga tak bisa mencegah sesuatu di kedalaman dirinya perlahan luruh ketika melihat tetesan air mata Erina jatuh membasahi pipinya.
"Om Alvin... bisa tolong berangkat bareng Mama ke kantor?" tanya Saga perlahan.
Alvin dan Erina sontak memandang Saga dengan ekspresi kaget.
"Boleh...?" tanya Alvin ragu, seakan memastikan sekaligus meminta izin.
Saga mengangguk.
"Tolong jaga Mama... dan tolong antar Mama pulang juga... dengan selamat," pinta Saga.
Seulas senyum tipis menghias bibir Alvin, dan ia pun mengangguk.
"Tentu. Om akan jaga dan antar Mama kamu dengan selamat... kamu jangan khawatir."
Alvin dengan sigap melepas sabuk pengaman, lantas hati-hati turun dari bangku kemudi. Ia pun berjalan memutari bagian depan mobilnya dan membukakan pintu kursi di sebelah pengemudi untuk Erina.
"Terima kasih...," bisik Erina lembut, lantas ia menoleh ke arah putranya. "Saga, kamu hati-hati berangkat ke sekolah, ya... jaga dirimu. Belajar yang rajin. Sampai ketemu malam nanti, Sayang."
Saga mengangguk.
"Mama juga hati-hati ya... please jangan memaksakan diri. Kalau ada apa-apa, atau butuh sesuatu, kabari Saga ya, Ma... sampai ketemu lagi."
Setelah Erina duduk dengan nyaman dan mengenakan sabuk pengaman, Alvin menutup pintu. Ia kemudian melepas kacamata hitamnya dan memandang lembut ke arah Saga.
"Terima kasih sudah mempercayakan Mama ke Om... Om akan jaga Mama sebaik mungkin. Jangan khawatirkan apapun..."
Saga menatap tajam Alvin.
"Saga belum percaya sepenuhnya sama Om," katanya pelan dan dingin. "Saga cuma nggak mau lihat Mama nangis... kalau sampai Mama pulang nanti masih juga nangis, berarti Om jelmaan daster kuntilanak dan harus menyingkir selamanya dari hidup Mama! Paham, Om?!"
***