Pernikahan itu tidak lahir dari cinta. Melainkan dari sebuah kesepakatan. Ketika keluarga Alyssa berada di ambang kehancuran, satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran keluarga Maheswara. Menikah dengan Alvaro Regantara Maheswara. Pria yang terkenal dingin. Pria yang dijuluki pewaris paling berbahaya. Pria yang bahkan tidak percaya pada cinta. Bagi Alyssa, pernikahan itu seperti masuk ke dalam sangkar emas. Mewah. Indah. Tapi menyesakkan. Namun semakin lama mereka bersama, Alyssa mulai melihat sisi Alvaro yang tidak pernah diketahui siapa pun. Sisi yang terluka. Sisi yang kesepian. Dan perlahan kebencian berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya. Cinta. Tapi ketika rahasia masa lalu Alvaro terungkap dan mantan tunangannya kembali untuk merebut segalanya. Akankah pernikahan yang dimulai karena ambisi itu berakhir menjadi cinta? Atau justru menjadi kehancuran bagi keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Setelah malam hujan yang mencairkan sebagian dinding es di antara mereka, Alyssa mendapati dirinya melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah masuk dalam rencana taktisnya: ia mulai memperhatikan Alvaro Regantara. Bukan sebagai rekan aliansi bisnis, bukan pula sebagai predator Maheswara Group yang ditakuti, melainkan sebagai seorang pria yang kini berbagi atap dan kehidupan dengannya.
Sifat jeli dan analitis Alyssa yang biasanya digunakan untuk membedah laporan keuangan, kini beralih fungsi untuk merekam kebiasaan-kebiasaan kecil suaminya.
Ia mulai menyadari bahwa Alvaro selalu meminum kopi hitam pekat tanpa gula setiap pukul tujuh pagi tepat, sembari meninjau pergerakan bursa saham global. Ia juga mencatat bahwa jam pulang kerja pria itu teramat tidak menentu terkadang pukul delapan malam, namun sering kali lampu ruang kerja bawah baru padam saat jarum jam hampir menyentuh angka dua pagi. Ada dedikasi yang begitu mutlak dan melelahkan yang dipikul oleh bahu tegap itu sendiri.
Sore itu, Alyssa berdiri di pantry dapur, mengamati pelayan yang sedang menyiapkan nampan kopi untuk dibawa ke ruang kerja Alvaro.
"Biar saya saja yang mengantarkannya," ucap Alyssa lembut, mengambil alih nampan porselen tersebut. Pelayan itu sempat terkejut, namun segera mengangguk patuh dengan senyum tertahan.
Alyssa melangkah menuju ruang kerja bawah. Pintu kayu ek itu terbuka sedikit. Dari celahnya, ia bisa melihat Alvaro sedang menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran, memijat pangkal hidungnya dengan mata terpejam sebuah gestur keletihan yang tidak akan pernah pria itu perlihatkan di depan musuh-musuhnya.
Tok! Tok!
Alvaro membuka matanya, seketika memasang kembali topeng ketegasannya saat melihat Alyssa masuk. "Alyssa? Ada apa? Apa ada kendala dengan tim legal Pradipta?" tanya Alvaro, suaranya terdengar agak serak.
"Tidak ada," Alyssa meletakkan cangkir kopi hitam itu di sisi meja yang kosong, lalu duduk di kursi seberang. "Saya hanya mengantarkan ini. Kudengar dari Xavier, Anda belum menyentuh makanan sejak rapat siang tadi."
Alvaro menatap cangkir kopi di hadapannya, lalu beralih menatap Alyssa dengan sebelah alis terangkat. "Sejak kapan Nyonya Maheswara beralih profesi menjadi asisten pribadiku?"
"Sejak saya menyadari bahwa jika rekan aliansi saya tumbang karena kelelahan, saham proyek siber kita bisa merosot," balas Alyssa cepat, sifat beraninya langsung keluar untuk menutupi rasa canggung.
Alvaro mendengus pelan, sebuah tawa kecil yang langka terdengar dari bibirnya. Ia mengambil cangkir kopi itu dan menghirup aromanya. "Kopinya terlalu pekat. Kau pasti menyuruh pelayan membuatnya tanpa ampun."
"Itu kopi favorit Anda, Tuan Alvaro. Jangan protes," sahut Alyssa sembari melipat tangannya di dada.
"Aku tidak protes, aku hanya menilai," balas Alvaro dengan binar jenaka yang tersembunyi di balik mata elangnya.
Meskipun percakapan mereka masih diwarnai oleh adu argumen kecil dan gengsi yang sama-sama tinggi, atmosfer di antara mereka telah sepenuhnya berubah. Tidak ada lagi ketegangan yang kaku atau kecurigaan yang menusuk. Langkah-langkah kecil yang diambil Alyssa untuk mengenal Alvaro, dan kesediaan Alvaro untuk membiarkan wanita itu masuk ke ruang pribadinya, perlahan-limpat mulai membuahkan hasil.
Tembok raksasa yang selama ini memisahkan sang predator dan sang Nyonya Maheswara kini tidak lagi kokoh. Celah-celah kecil telah terbentuk, membiarkan kehangatan baru menyusup masuk dan mengikis batasan kontrak di antara mereka secara perlahan namun pasti.
...****************...
Alvaro menyesap kopi hitam itu perlahan, membiarkan rasa pahit yang familier membasahi tenggorokannya. Keheningan yang tercipta di antara mereka kali ini tidak lagi terasa mencekam, melainkan dipenuhi oleh ritme yang nyaman.
Matanya beralih dari cangkir ke arah Alyssa yang masih duduk tegak di hadapannya. Wanita itu tampak memperhatikan tumpukan berkas di sudut meja dengan kening yang sedikit berkerut.
"Kenapa? Kau ingin memeriksa dokumen-dokumen itu juga?" goda Alvaro, meletakkan kembali cangkirnya ke atas tatakan porselen dengan denting halus.
Alyssa mendongak, menjatuhkan tatapan taktisnya langsung ke manik mata Alvaro. "Jika itu bisa membuat Anda pulang kerja sebelum tengah malam, saya tidak keberatan membantu. Jadwal tidur Anda yang berantakan bisa memengaruhi ketajaman analisis Anda dalam rapat-rapat krusial bersama dewan komisaris berikutnya."
Alvaro bersandar pada kursinya, melipat tangan di dada sembari menatap Alyssa dengan intensitas yang membuat debaran aneh kembali menyelinap di dada wanita itu. "Kau benar-benar menghitung jam pulang kerjaku, Alyssa?"
Pertanyaan telak itu membuat Alyssa sedikit salah tingkah. Sifat beraninya menolak untuk terlihat kalah dalam adu argumen ini. Ia menegakkan punggung, mempertahankan ekspresi tenangnya yang profesional.
"Sebagai mitra strategis, melacak efisiensi waktu Anda adalah bagian dari mitigasi risiko saya," kilah Alyssa cepat, meski ada rona tipis yang hampir tak kentara di sudut pipinya.
Alvaro tidak bisa menahan senyum tipis yang terukir di bibirnya. Sifat taktis Alyssa yang selalu dibalut dengan alasan bisnis justru terdengar sangat menggemaskan di telinganya. Celah kecil di tembok pertahanan mereka kini semakin melebar, membiarkan ego masing-masing melunak demi sebuah kedekatan yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.
"Baiklah, Nyonya Maheswara," ucap Alvaro rendah, suaranya melembut tanpa paksaan. "Karena mitigasi risikomu begitu ketat, aku akan menyelesaikan berkas ini dalam satu jam. Setelah itu, kita makan malam bersama."
Alyssa tertegun sejenak mendengarnya, namun sebuah kehangatan perlahan merayap di hatinya. Langkah kecil yang ia ambil sore ini ternyata disambut dengan langkah yang sama oleh sang predator, membuktikan bahwa kontrak hitam di atas putih itu kini benar-benar mulai kehilangan kekuasaannya atas hati mereka.
...****************...
Alyssa mengangguk pelan, seulas senyum tipis yang tulus terukir di bibirnya. "Satu jam, Tuan Alvaro. Saya akan memegang kata-kata Anda. Saya akan meminta pelayan menyiapkan makan malam di ruang makan utama."
Ia bangkit dari kursi dengan gerak anggun, merapikan blazer biru dongker yang dikenakannya. Namun, sebelum ia sempat melangkah balik menuju pintu, Alvaro kembali memanggilnya.
"Alyssa."
Alyssa menoleh, mendapati tatapan Alvaro yang kini melunak, kehilangan seluruh intensitas tajam yang biasanya ia pasang di depan publik. Pria itu memutar cangkir kopinya perlahan. "Terima kasih untuk kopinya. Ini rasa yang pas."
"Sama-sama," balas Alyssa lirih.
Begitu pintu ruang kerja menutup rapat di belakangnya, Alyssa menyandarkan punggungnya sejenak pada bidang kayu ek tebal itu. Ia menarik napas panjang, mencoba meredakan debaran halus yang terus-menerus menggelitik dadanya sejak tadi. Sifat taktisnya tahu bahwa ia telah melangkah terlalu jauh dari batas aman sebuah aliansi bisnis biasa. Namun, entah mengapa, ia sama sekali tidak menyesalinya.
Di dalam ruangan, Alvaro menatap pintu yang baru saja tertutup dengan senyuman yang masih tertinggal di sudut bibirnya. Rasa kantuk dan pening yang sempat menderanya akibat beban kerja triwulanan mendadak menguap begitu saja. Pria 28 tahun itu menarik kembali tumpukan berkas di hadapannya dengan semangat yang baru.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Alvaro merasa memiliki alasan yang nyata untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Ia tidak lagi mengejar angka demi membuktikan kekuasaannya pada Arsen atau para dewan komisaris; ia hanya ingin segera menutup laptopnya, melangkah ke ruang makan, dan duduk di seberang wanita yang perlahan tapi pasti telah meruntuhkan pertahanan esnya. Celah kecil di dinding mereka kini telah terbuka, dan tak ada satu pun dari mereka yang berniat untuk menutupnya kembali.
...****************...
Tepat enam puluh menit kemudian, dentang pelan dari jam genta kuno di sudut lorong utama bergema, menandakan pukul delapan malam.
Alyssa baru saja memastikan pelayan meletakkan hidangan penutup di atas meja makan utama ketika suara langkah kaki yang familier terdengar mendekat. Sifat jeli Alyssa langsung menangkap perubahan pada penampilan suaminya. Alvaro tidak lagi mengenakan jas, dan dasinya sudah dilonggarkan hingga kerah kemeja abu-abunya terbuka sedikit, mengekspos leher kokohnya. Lengan kemeja itu pun digulung asal hingga siku, memberikan kesan santai yang sangat jarang pria itu tampilkan.
"Satu jam tepat," ucap Alyssa, menarik kursi di seberang tempat biasanya Alvaro duduk. "Ternyata reputasi Anda sebagai pria yang selalu menepati janji bukanlah rumor belaka."
Alvaro menarik kursinya dan duduk, menyandarkan tubuh dengan rileks. Matanya berkilat geli mendengar sambutan istrinya. "Aku tidak berani mengambil risiko merusak evaluasi kinerjaku di mata mitra utamaku, Alyssa. Bisa-bisa kau membatalkan dukunganmu di proyek Pradipta."
Banteran ringan itu langsung mengundang senyum tulus di wajah Alyssa. Malam itu, ruang makan yang biasanya terasa terlalu luas dan dingin kini dipenuhi oleh kehangatan yang asing namun menyenangkan. Pelayan sengaja meredupkan lampu kristal utama dan menyalakan pencahayaan dinding yang lebih lembut, menciptakan atmosfer intim di antara mereka berdua. Keira, menurut laporan kepala pelayan, sudah makan lebih dulu dan kini sedang sibuk melakukan maraton film di kamarnya, memberikan privasi absolut bagi sang tuan dan nyonya rumah.
Selama makan malam berlangsung, Alyssa mendapati dirinya menikmati percakapan yang mengalir tanpa beban. Mereka tidak membahas fluktuasi saham, manuver kotor Arsen, atau rapat dewan komisaris. Sebaliknya, Alvaro bertanya tentang kebiasaan Alyssa saat menghabiskan waktu luang, dan Alyssa membalasnya dengan menanyakan buku apa yang sedang dibaca pria itu di sela-sela jadwal gilanya.
"Jadi, Tuan Diktator ini ternyata menyukai novel fiksi sejarah?" Alyssa mengangkat alisnya tak percaya saat memotong steak di piringnya.
Alvaro mengendikkan bahu pelan, menyesap anggur merahnya dengan gerakan elegan. "Sejarah mengajarkan kita tentang kebangkitan dan keruntuhan sebuah kerajaan. Selain itu, ada kepuasan tersendiri melihat bagaimana sebuah strategi masa lalu dieksekusi, bahkan dalam balutan fiksi. Tapi kurasa, hidupku belakangan ini sudah cukup penuh dengan drama yang menyamai novel-novel itu."
Alyssa tertawa pelan, suara tawa yang begitu renyah dan jujur hingga membuat Alvaro tanpa sadar menghentikan gerakannya. Pria itu terpaku menatap wajah Alyssa yang berseri di bawah cahaya temaram, menyadari betapa cantiknya wanita itu saat tidak sedang bersembunyi di balik perisai analitis dan ketegasan Pradipta.
"Drama itu mungkin melelahkan, Alvaro," sahut Alyssa setelah tawanya mereda, matanya kini menatap lurus ke dalam manik kelam suaminya dengan kelembutan yang nyata. "Tapi setidaknya, untuk saat ini... kita tidak berada di pihak yang berseberangan di atas panggung itu."
Alvaro meletakkan gelas anggurnya. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menepis jarak kasat mata di antara mereka. Tatapannya menelusuri wajah Alyssa dengan intensitas yang membuat napas wanita itu tertahan sesaat.
"Kita tidak akan pernah berada di pihak yang berseberangan, Alyssa," bisik Alvaro, suaranya rendah, berat, dan sarat akan janji yang absolut. "Aku akan memastikan hal itu."
Langkah-langkah kecil yang mereka ambil sepanjang hari ini telah membawa mereka pada satu titik kesadaran baru. Makan malam itu bukan sekadar pemenuhan janji satu jam yang dibuat di ruang kerja, melainkan sebuah deklarasi sunyi. Bahwa di balik tebalnya dokumen kontrak pernikahan mereka, sepasang manusia yang awalnya saling waspada ini kini mulai melangkah bersama, mengukir cerita yang sepenuhnya milik mereka sendiri.