Enam tahun menunggu suami pulang dari Korea, Nandin percaya semua pengorbanannya akan terbayar. Ia membesarkan dua anak kembar seorang diri, bekerja siang malam demi menyambung hidup, sementara suaminya tak pernah mengirim nafkah sedikit pun.
Namun kepulangan suaminya justru membawa surat perceraian.
Pengkhianatan itu menghancurkan hidup Nandin hingga ia kehilangan kewarasannya dan harus menjalani rehabilitasi di sebuah pondok di Jawa Timur. Terpisah dari kedua putri yang sangat dicintainya, Nandin berjuang bangkit dari luka yang nyaris merenggut hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANAK YANG JATUH DARI LANGIT KEHORMATAN
[Seluruh karakter, latar, organisasi, serta peristiwa dalam novel ini merupakan hasil rekaan penulis. Kemiripan dengan nama, tempat, atau kejadian yang benar-benar ada hanyalah kebetulan dan tidak dimaksudkan untuk merujuk kepada pihak mana pun.]
Pagi itu televisi di warung kopi pinggir jalan menyala lebih keras dari biasanya.
Orang-orang yang biasanya hanya mampir sebentar untuk membeli kopi sachet mendadak duduk lebih lama.
Bukan karena kopinya.
Bukan karena cuacanya.
Tetapi karena berita yang sedang tayang.
Berita yang sejak tiga hari terakhir mendominasi hampir semua saluran televisi.
Berita tentang seorang pemuda bernama Iqbal Mahardika.
"Lagi-lagi kasus anak tokoh terkenal."
"Kasihan bapaknya."
"Iya."
"Namanya rusak."
Suara-suara itu terdengar di mana-mana.
Di warung.
Di pos ronda.
Di pasar.
Bahkan di grup WhatsApp warga.
Semua membicarakan orang yang sama.
Di layar televisi.
Seorang presenter berita berbicara dengan wajah serius.
"Pemirsa, kasus yang menyeret putra seorang ulama ternama kembali menjadi perhatian publik. Iqbal Mahardika, 26 tahun, diamankan aparat setelah terlibat dalam kasus penyalahgunaan narkotika bersama beberapa rekannya..."
Foto Iqbal muncul di layar.
Wajah tampan.
Tubuh tinggi.
Rambut sedikit berantakan.
Namun yang paling menarik perhatian adalah sorot matanya.
Kosong.
Lelah.
Seolah sudah menyerah pada hidup.
Di rumah besar yang berada di Jawa Barat.
Televisi itu dimatikan.
Seorang pria tua duduk diam.
Kedua tangannya gemetar.
Di meja depannya ada koran.
Semua koran memuat foto yang sama.
Foto putranya.
Iqbal.
Pria tua itu adalah Kiai Hasyim.
Seseorang yang selama puluhan tahun dihormati banyak orang.
Ribuan santri pernah belajar kepadanya.
Ceramahnya dikenal sampai berbagai daerah.
Namun pagi itu.
Ia tampak seperti lelaki tua biasa.
Lelaki yang hatinya sedang hancur.
"Iqbal..."
gumamnya lirih.
Matanya memerah.
Karena tidak ada orang tua yang siap melihat anaknya menjadi berita nasional dengan cara seperti itu.
Di kamar lain.
Seorang perempuan menangis.
Ibunya Iqbal.
Tangisnya tidak pernah benar-benar berhenti sejak berita itu muncul.
"Kenapa jadi begini..."
ulangnya berkali-kali.
Namun tidak ada yang mampu menjawab.
Termasuk dirinya sendiri.
Sementara itu.
Iqbal duduk sendirian di sebuah ruangan pemeriksaan.
Tangannya terborgol.
Tatapannya lurus ke depan.
Tidak marah.
Tidak menangis.
Tidak membela diri.
Seolah semua energi dalam dirinya sudah habis.
Beberapa bulan terakhir hidupnya memang berantakan.
Lingkungan yang salah.
Pergaulan yang salah.
Keputusan-keputusan buruk.
Dan ketika semuanya meledak bersamaan, namanya menjadi konsumsi publik.
"Nama ayahmu besar."
kata seseorang yang memeriksanya.
Iqbal hanya tersenyum miring.
Pahit.
"Makanya saya jadi berita."
jawabnya.
Tidak ada kebanggaan dalam suaranya.
Hanya kelelahan.
Karena sejak kecil.
Orang-orang selalu mengenalnya bukan sebagai Iqbal.
Melainkan sebagai anak Kiai Hasyim.
Anak ulama.
Anak panutan.
Anak yang seharusnya sempurna.
Dan sekarang.
Kesalahan yang ia lakukan terasa berkali-kali lipat lebih besar karena nama itu.
Beberapa hari kemudian.
Atas pertimbangan keluarga dan kondisi psikologisnya yang memburuk, Iqbal dibawa ke sebuah pondok rehabilitasi di Jawa Timur.
Tempat yang sama.
Tempat di mana Nandin sedang berjuang menyusun kembali hidupnya.
Mobil hitam memasuki halaman pondok menjelang sore.
Suasana yang biasanya tenang mendadak berubah.
Karena tidak hanya satu mobil yang datang.
Ada beberapa kendaraan sekaligus.
Para penghuni pondok mulai memperhatikan.
"Ada siapa?"
"Gak tahu."
"Kayaknya orang penting."
Ketika pintu mobil terbuka.
Seorang pemuda turun.
Tubuh tinggi.
Kaos hitam sederhana.
Wajah tampan namun kusut.
Dan di kedua tangannya masih terpasang borgol.
Suasana langsung sunyi.
Beberapa penghuni mundur.
Sebagian berbisik.
Sebagian lagi hanya menatap.
Karena pemandangan itu tidak biasa.
"Itu yang masuk TV ya?"
"Iya kayaknya."
"Yang viral itu?"
"Katanya begitu."
Iqbal mendengar semuanya.
Namun tidak menanggapi.
Ia terlalu lelah untuk peduli.
Pak Kiai Abdul Manaf keluar menyambut.
Beliau berjalan pelan.
Tenang.
Seperti biasa.
"Assalamu'alaikum."
ucap beliau.
Iqbal mengangkat kepala.
"Wa'alaikum salam."
Tidak ada tatapan menghakimi.
Tidak ada nada merendahkan.
Dan itu membuat Iqbal sedikit terkejut.
Karena beberapa minggu terakhir hampir semua orang memandangnya seperti penjahat.
"Selamat datang."
kata Pak Kiai.
"Saya tidak pantas disambut."
jawab Iqbal.
Pak Kiai tersenyum.
"Kalau orang yang tersesat tidak disambut, bagaimana dia bisa pulang?"
Untuk pertama kalinya sejak lama.
Iqbal terdiam.
Karena tidak ada yang pernah mengatakan hal seperti itu kepadanya.
Sementara itu.
Di dapur pondok.
Nandin sedang memotong bayam.
Bu Hesti masuk dengan wajah penasaran.
"Ada penghuni baru."
katanya.
"Oh ya?"
Nandin mengangguk sambil terus bekerja.
"Tangan diborgol."
lanjut Bu Hesti.
Nandin berhenti.
Lalu menoleh.
"Borgol?"
"Iya."
"Kasus besar katanya."
Biasanya Nandin tidak tertarik dengan urusan orang lain.
Namun entah kenapa.
Kali ini ia penasaran.
Mungkin karena sudah lama tidak ada penghuni baru.
Menjelang magrib.
Saat membawa baskom sayur ke dapur belakang.
Nandin melihat seseorang duduk sendirian di bawah pohon.
Pemuda itu.
Penghuni baru.
Kepalanya menunduk.
Tatapannya kosong.
Persis seperti dirinya beberapa tahun lalu.
Nandin berhenti.
Beberapa detik.
Lalu tanpa sadar berjalan mendekat.
Iqbal mendengar langkah kaki.
Ia mengangkat kepala.
Melihat seorang perempuan berdiri beberapa meter darinya.
Perempuan sederhana.
Memakai jilbab kusam.
Membawa baskom sayur.
Mereka saling menatap.
Beberapa detik.
Tanpa bicara.
"Aku pernah seperti kamu."
ucap Nandin tiba-tiba.
Iqbal mengernyit.
"Apa?"
Nandin menatap langit.
Dulu.
Tatapan kosong seperti itu pernah menjadi miliknya.
Rasa hancur seperti itu pernah menguasainya.
"Aku juga pernah merasa hidup selesai."
katanya pelan.
Lalu tanpa menunggu jawaban.
Ia berjalan pergi.
Meninggalkan Iqbal yang masih duduk mematung.
Pemuda itu memperhatikan punggung Nandin yang menjauh.
Lama.
Sangat lama.
Entah kenapa.
Kalimat sederhana itu terus terngiang di kepalanya.
"Aku pernah seperti kamu."
Dan tanpa disadari keduanya.
Pertemuan singkat sore itu menjadi awal dari hubungan yang akan mengubah jalan hidup mereka masing-masing.
Satu adalah perempuan yang sedang belajar mengingat kembali alasan hidupnya.
Satu lagi adalah pemuda yang sedang berusaha menemukan alasan untuk tidak menyerah.
Dan takdir baru saja mempertemukan mereka di tempat yang sama.
semangat pejuang rupiah..
semangat pejuang garis dua..
dan semangat untuk menulisnya, kak..
🥰🥰🥰
aku mampir lagi..
cerita yg bikin aku sadar, jgn trlalu percaya ke siapapun meski itu suami sndiri..
🥲🥲🥲