Membeli rumah tua di pinggiran kota dengan harga murah adalah impian yang jadi kenyataan bagi Ferdi dan Selfi. Di rumah inilah mereka berencana menyambut kelahiran anak pertama mereka yang kandungannya sudah menginjak usia sembilan bulan. Bersama Siska, adik ipar Selfi yang seorang mahasiswi, mereka mulai menata kehidupan baru.
Semua terasa sempurna, sampai suatu hari Selfi membersihkan sebuah lemari rias kuno yang ditinggalkan di kamar utama. Di dalam laci tersembunyi, dia menemukan sebuah cincin permata yang sangat indah. Terpikat oleh pesonanya, Selfi mencoba cincin itu. Namun anehnya, setelah terpasang di jari, cincin itu mendadak mencengkeram erat dan tidak bisa dilepas lagi.
Sejak hari itu, suasana rumah berubah drastis.
Pak Cahyo, tetangga sebelah yang misterius, sering menatap rumah mereka dengan cemas dan memberi peringatan aneh bahwa rumah itu menyimpan masa lalu yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 18
Pagii hari di kamar nomor 204 tidak lagi membawa ketenangan. Sinar matahari yang menerobos masuk dari sela-sela gorden hotel melati yang usang justru memperlihatkan pemandangan yang semakin menyedihkan. Siska terbangun dengan leher yang kaku karena tertidur dalam posisi duduk di lantai, bersandarkan tepi ranjang tempat tidur kakaknya.
Begitu membuka mata, hal pertama yang Siska lakukan adalah memeriksa kondisi Ferdi. Kakaknya masih telentang di atas kasur, namun matanya terbuka lebar. Ferdi tidak berkedip, pandangannya lurus menatap langit-langit plafon yang berjamur. Urat-urat di pelipisnya tampak menonjol tegang.
"Mas Ferdi... sudah pagi. Mas mau mandi dulu biar seger?" tanya Siska dengan suara lembut, mencoba membangun suasana yang normal.
Ferdi tidak merespons. Dia seperti patung daging yang diletakkan di atas kasur. Hanya helaan napasnya yang pendek dan cepat yang menandakan bahwa dia masih hidup. Siska menghela napas panjang, lalu berdiri untuk mengambil air hangat dari kamar mandi guna mengusap wajah kakaknya.
Namun, baru saja Siska melangkah dua kali, tubuh Ferdi mendadak tersentak hebat.
Ferdi langsung bangkit berdiri dari kasur dengan gerakan yang sangat kaku, mirip seperti orang yang ditarik paksa oleh tali tak kasat mata. Kedua matanya yang merah melotot lurus ke arah pintu keluar kamar hotel. Wajahnya yang kempot tidak menunjukkan ekspresi manusia sama sekali, melainkan ekspresi kosong yang sangat dingin.
"Mas? Mas Ferdi mau ke mana?" tanya Siska panik, langsung menghadang di depan kakaknya.
"Dia di sana... Doni memanggil... Ayah, kemari... Ayah, kemari..." bisik Ferdi dengan nada suara yang sangat monoton, datar, dan kaku. Suaranya bukan lagi suara Ferdi yang penuh kasih sayang, melainkan suara yang terdengar seperti sedang dihipnotis.
Ferdi melangkah maju tanpa memedulikan Siska yang berdiri di depannya. Tubuhnya yang kurus mendadak memiliki tenaga yang sangat besar. Ketika Siska mencoba memegangi kedua lengan kakaknya untuk menahannya, Ferdi hanya dengan satu dorongan ringan berhasil membuat Siska terlempar ke samping hingga pinggulnya membentur sudut meja rias.
"Aduh! Mas Ferdi, sadar, Mas!" jerit Siska kesakitan.
Ferdi terus berjalan dengan langkah yang mekanis menuju pintu kamar. Tangannya yang dingin seperti es meraih grendel pintu, memutarnya, dan membuka pintu kamar nomor 204 hingga membentur dinding luar. BRAKK!
Siska mengabaikan rasa sakit di pinggulnya. Dia segera bangkit berdiri dan berlari mengejar kakaknya yang sudah keluar ke lorong hotel yang remang-remang. Suasana hotel melati siang itu cukup sepi, hanya ada beberapa pegawai yang sedang membersihkan kamar di ujung koridor lain.
"Mas Ferdi, berhenti! Tolong jangan keluar, Mas!" teriak Siska sambil mencengkeram erat jaket bagian belakang yang dikenakan Ferdi.
Ferdi terus berjalan menuruni anak tangga hotel menuju ke arah lobi utama. Beberapa tamu hotel yang sedang duduk di lobi menatap mereka dengan pandangan heran dan penuh tanya, melihat seorang pria kurus dengan mata melotot merah dituntun oleh sesuatu yang tidak kelihatan, sementara seorang gadis muda menangis histeris mencoba menahannya dari belakang.
"Mas, saya mohon, Mas! Ingat Mbak Selfi! Mbak Selfi meninggal karena makhluk itu! Mas jangan menyerahkan diri!" rintih Siska putus asa, air matanya kembali membanjiri pipinya.
Mendengar nama Selfi disebut untuk kedua kalinya, langkah kaki Ferdi sempat terhenti tepat di pintu kaca keluar lobi hotel. Tubuhnya bergetar hebat. Mulutnya terbuka dan tertutup, seolah-olah jiwanya yang asli sedang bertarung mati-matian di dalam otaknya melawan bisikan gaib yang terus mendesaknya untuk berjalan.
"Selfi... Doni... haus..." gumam Ferdi dengan suara yang pecah, air mata mulai menetes dari sepasang matanya yang merah merusak ekspresi kosongnya sejenak.
Namun, pertahanan mental Ferdi yang sudah hancur akibat depresi berat tidak mampu bertahan lama. Di tengah udara siang yang terik di luar hotel, hawa dingin yang teramat sangat pekat mendadak berembus melewati pintu kaca, menerpa langsung ke wajah Ferdi.
Siska bisa merasakan hawa dingin itu—hawa sedingin es yang sama persis dengan teror di rumah tua nomor 14. Bersamaan dengan hawa dingin itu, dari arah semak-semak taman di depan hotel, terdengar sebuah suara gesekan yang sangat halus namun tajam di telinga Siska.
Srek... srek... srek...
Suara seretan itu membuat bulu kuduk Siska berdiri tegak di siang bolong. Makhluk itu ada di dekat sini. Dia tidak menunggu malam tiba untuk merusak pikiran Ferdi; dia menggunakan sisa-sisa ikatan darah kutukan pesugihan untuk menarik ayahnya keluar dari tempat perlindungan.
Mata Ferdi kembali melotot kosong setelah mendengar suara seretan tersebut. Dia menyentakkan tubuhnya dengan kasar, membuat pegangan tangan Siska di jaketnya terlepas sepenuhnya. Ferdi berlari keluar dari lobi hotel menuju ke arah jalan raya yang ramai oleh kendaraan lalu lalang.
"Mas Ferdi!!!" jerit Siska sekencang-kencangnya.
Siska berlari mengejar ke luar. Dia melihat kakaknya berjalan menyeberang jalan raya tanpa melihat kiri dan kanan, mengabaikan suara klakson mobil dan motor yang berbunyi nyaring saling bersahutan memaki gerakannya yang nekat. Ferdi terus berjalan dengan pandangan lurus menembus kemacetan kota, menuju ke arah sebuah area tanah kosong yang dipenuhi oleh pohon-pohon bambu tua di seberang jalan.
Siska mencoba ikut menyeberang jalan, namun sebuah mobil van hitam melaju kencang di depannya, memaksanya untuk berhenti di tepi jalan dengan jantung yang berdegup hampir copot. Ketika mobil van itu lewat, sosok Ferdi sudah berjalan masuk ke dalam rimbunnya pohon bambu yang gelap dan rimbun tersebut.
Suasana di dalam area pohon bambu itu tampak sangat kontras dengan keramaian jalan raya. Tempat itu terlihat sangat gelap, lembap, dan sepi seolah-olah sinar matahari siang tidak berani menyentuh tanahnya.
Siska menyeberang dengan tergesa-gesa begitu ada celah di jalanan. Dia berdiri di depan pintu masuk area pohon bambu dengan tubuh yang gemetar hebat. Rasa takut yang amat sangat besar mencoba menahan langkah kakinya untuk masuk ke dalam tempat yang gelap itu. Logikanya tahu bahwa masuk ke sana sama saja dengan berjalan menuju ke sarang iblis yang sedang kelaparan.
Namun, di dalam hutan bambu yang sunyi itu, suara kakaknya kembali terdengar lamat-lamat, merintih kesakitan.
"Siska... tolong... sakit..."
Suara rintihan Ferdi itu meruntuhkan sisa rasa takut Siska. Dia tidak bisa membiarkan kakak satu-satunya mati dengan cara yang sama tragisnya seperti Mbak Selfi. Siska meraba tas kecilnya, memastikan ponselnya ada di sana meskipun dia tahu tidak ada gunanya memanggil polisi untuk urusan seperti ini. Dengan menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan seluruh sisa keberanian yang dia miliki, Siska melangkah masuk menembus kegelapan deretan pohon bambu tua itu, mengikuti tuntunan suara gaib yang kini siap menjeratnya ke dalam babak teror yang baru.