Sebagai wedding planner, Cala Danendra percaya pada kisah bak dongeng. Namun, hidupnya berubah mencekam dalam semalam setelah ia tak sengaja merekam aksi pembunuhan di pesta kliennya.
Demi melindunginya dari kejaran pembunuh bayaran, kepolisian menawarkan solusi ekstrem: menyembunyikan Cala dalam ikatan pertunangan palsu dengan Dr. Ronan Maheswara, ahli forensik jenius yang dingin dan antisosial. Kini, Cala si perangkai romansa harus hidup di apartemen Ronan yang steril bagai ruang operasi, lengkap dengan aturan ketat dan foto TKP yang berserakan.
"Cinta itu hanyalah lonjakan hormon oksitosin dan reaksi kimiawi di otak yang akan memudar dalam waktu empat tahun," ucap Ronan datar tanpa mengalihkan pandangan dari mikroskopnya. "Dan tolong, sepatumu mengontaminasi karpetku."
Cala memutar bola matanya. "Kalau begitu, mari kita lihat reaksi kimiawi apa yang terjadi kalau aku nekat memelukmu sekarang, Dokter."
Namun, ketika ancaman maut semakin mendekat, batas antara sandiwara dan k
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Proyek Investigasi Mandiri
"Jarak pandangmu?" Cala mengulang kalimat itu dengan nada menantang. Mata wanita itu yang tadinya berkaca-kaca kini berubah menyipit tajam. "Kamu pikir aku ini tahanan penjara yang harus dirantai ke tubuhmu?"
Ronan mengabaikan protes itu. Pria tersebut mengambil sapu kecil dan pengki dari lemari penyimpanan di sudut ruangan, lalu mulai membersihkan pecahan beling di atas lantai marmer dengan sangat teliti. Gerakannya kembali mekanis, namun jauh lebih pelan dari biasanya.
"Ini bukan soal pengekangan, Cala. Ini soal rasio bertahan hidup," jelas Ronan tanpa menatap wanita itu. "Sindikat Zeta terbukti punya akses ke mana saja. Mereka bisa menyamar, meretas sistem pelacak, dan membunuh tanpa jejak. Keluar dari pandanganku satu detik saja berarti kamu membuka ruang bagi mereka untuk menembakkan racun atau melempar asam pekat lagi."
Cala menarik napas dalam-dalam. "Lalu kita harus bagaimana? Diam di dalam apartemen ini selamanya sampai persediaan makananmu habis? Atau menunggu mereka meledakkan gedung ini sekalian?"
"Sistem keamanan berlapis apartemen ini sedang ditingkatkan ke level maksimal oleh tim siber kepolisian malam ini juga," sahut Ronan membuang pecahan beling ke tempat sampah khusus. "Sementara itu, kita tidak akan diam. Kita berburu informasi dari dalam. Aku akan membongkar semua jejak rekam jejak keuangan Restoran Lumina yang bocor dari serangan tadi."
Cala terdiam. Ia memandangi tangannya sendiri yang masih sedikit gemetar. Cincin platina berharga miliaran itu terasa semakin berat melingkari jarinya. Ini bukan lagi sekadar sandiwara. Ini adalah perang terbuka.
Keesokan harinya, matahari bersinar sangat terik menembus kaca jendela tebal Apartemen Zenith. Suasana di dalam unit steril itu terasa seratus kali lipat lebih mencekam dari hari-hari sebelumnya. Ronan telah mengubah meja ruang tamunya menjadi pusat komando operasi. Tiga layar monitor menyala sekaligus, menampilkan deretan kode biner, rekaman kamera lalu lintas yang buram, dan data enkripsi perbankan.
Pria itu duduk terpaku di kursinya, matanya nyaris tidak berkedip menyisir setiap inci data yang dikirimkan oleh markas besar. Jas dan kemeja rapinya telah diganti dengan kaos hitam polos.
Cala duduk bersila di ujung sofa yang berlawanan. Ia menatap layar ponselnya yang menyala menampilkan sebuah game menata kebun virtual. Tangannya memencet-mencet layar dengan malas. Bosan. Sangat bosan.
Ia melempar ponselnya ke atas tumpukan bantal sofa. "Aku tidak bisa cuma duduk dan bermain game seperti anak kecil sementara nyawaku jadi taruhan di luar sana."
Ronan bahkan tidak repot-repot memalingkan pandangannya dari layar. "Perimeter keamananmu sudah terpenuhi selama kamu berada di ruangan ini. Tetaplah bernapas dan jangan sentuh barang-barangku. Itu sudah lebih dari cukup."
"Omong kosong," gerutu Cala. Ia bangkit berdiri. Wanita itu berjalan cepat menuju kamar tamu tempat ia menyimpan tas kerjanya yang lumayan besar.
Dalam hitungan menit, Cala kembali ke ruang tamu membawa setumpuk map karton tebal berwarna cokelat, sebuah papan jalan jepit, dan beberapa spidol warna-warni. Ia menjatuhkan tumpukan berkas itu ke atas meja kaca tepat di sebelah tumpukan kertas laporan Ronan.
"Apa yang kamu lakukan?" tegur Ronan tajam. Alis pria itu berkerut melihat kertas-kertas kotor milik Cala menginvasi area kerjanya.
"Investigasi mandiri," jawab Cala mantap. Ia menarik kursi kayu dan duduk tepat di sebelah Ronan, mengabaikan tatapan protes pria itu sepenuhnya. "Aku bukan ahli retas kode atau pakar mikroskop sepertimu, Dokter. Tapi aku adalah orang yang paling hafal setiap jengkal lokasi kejadian pembunuhan itu."
"Hotel Grand Valera sudah ditutup rapat. Tim olah tempat kejadian perkara sudah menyisir tempat itu sampai ke debu terkecilnya," potong Ronan meremehkan. "Mereka tidak menemukan apa pun selain jejak darah korban dan goresan sepatu pelaku."
"Polisi hanya menyisir apa yang mereka lihat di peta resmi," timpal Cala cepat. Tangannya dengan lincah membuka gulungan kertas kalkir berukuran sangat besar dari dalam map cokelat teratas. Ia membeberkan kertas cetak biru itu hingga menutupi separuh meja kaca.
"Peta apa ini?" Mata Ronan menyipit melihat garis-garis rumit yang tergambar di atas kertas usang tersebut.
"Ini cetak biru asli Hotel Grand Valera versi kontraktor, bukan versi pemerintah kota," jelas Cala. Ia mengambil spidol merah dan mulai melingkari beberapa area di atas kertas. "Sebagai perencana pernikahan kelas atas, aku harus tahu jalur evakuasi rahasia, titik beban maksimal lantai ballroom, sampai posisi tiang listrik cadangan di setiap gedung tempat klienku menyewa."
Ronan terdiam. Pria itu menyandarkan punggungnya sedikit, mulai memperhatikan coretan tangan Cala dengan saksama.
"Kita tahu pelaku menyusup sebagai staf Zeta Katering. Dan kita juga tahu dia memanipulasi rute lorong servis sayap kanan agar kosong dari saksi mata," gumam Cala sambil terus menggoreskan spidolnya. "Pertanyaannya, setelah dia menusuk CEO Valera dan mengejarku sampai pintu darurat, ke mana pria itu menghilang? Polisi mengepung hotel hanya dalam waktu tujuh menit sejak laporanku masuk. Bangunan itu seperti benteng, tidak ada jalan keluar yang mudah."
"Dia menggunakan tali luncur taktis dari atap balkon sebelah saat menyerangmu di apartemen. Dia ahli melarikan diri vertikal," jawab Ronan mengandalkan data serangan kedua.
Cala menggeleng tegas. "Balkon apartemenku terbuka ke arah jalan raya, Dokter. Tapi lorong servis Hotel Grand Valera terletak di perut gedung, terkunci oleh pintu-pintu tebal dan dikelilingi lorong buntu. Tidak ada balkon untuk meluncur. Dia pasti lari menembus lantai bawah tanah."
Wanita itu menarik setumpuk lembar revisi bangunan hotel dari lima tahun lalu. Ia menumpuknya di atas cetak biru asli, lalu menyalakan lampu senter dari ponselnya untuk menerangi lapisan kertas kalkir tersebut dari bawah.
Garis-garis hitam dari dua lapisan kertas itu menyatu, membentuk rute tiga dimensi yang sangat rumit.
"Ini denah resmi yang dipegang oleh pihak kepolisian saat mereka mengepung gedung," kata Cala menunjuk lapisan atas. "Semua pintu keluar utama, pintu lobi, dan jalur pembuangan sampah luar sudah diblokir. Benar, kan?"
"Benar. Tidak ada satupun lalat yang bisa keluar dari perimeter itu," konfirmasi Ronan.
"Tapi polisi tidak pernah tahu soal ini," ucap Cala dengan suara penuh kemenangan.
Ia menggeser ujung spidol merahnya ke area paling bawah cetak biru. Tangannya menekan kuat sebuah garis putus-putus kecil yang letaknya sangat tersembunyi di sudut area dapur logistik bawah tanah. Garis putus-putus itu memanjang menembus fondasi gedung utama, mengarah langsung ke area gorong-gorong kota yang sudah lama tidak dipakai.
Ronan memajukan wajahnya. Jarak pandangnya kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari kertas kalkir tersebut. Mata tajam pria itu memindai garis putus-putus itu dengan cepat.
"Ini lorong limbah katering lama," bisik Cala, napasnya sedikit memburu. "Lorong ini dibangun puluhan tahun lalu untuk membuang minyak sisa dapur langsung ke saluran kota. Pihak hotel menutupnya secara rahasia lima tahun lalu karena melanggar izin lingkungan hidup. Mereka tidak pernah melaporkan penutupan ini ke dinas tata kota, sehingga lorong ini hilang dari peta resmi."
Cala menoleh, menatap lurus ke dalam mata Ronan yang membelalak kecil menahan keterkejutan. Wajah pria es itu terlihat sangat terpukau oleh temuan tersebut.
Cala menepuk meja kaca kerja Ronan dengan keras. "Dokter, kamu lihat ini. Cetak biru gedung ini punya satu lorong limbah katering yang tidak pernah dicatat di denah resmi polisi. Lorong rahasia ini tembus langsung ke jalan belakang sejauh dua blok dari area pengepungan!"
berasa nonton adegan action