NovelToon NovelToon
Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Faris Arjuna hanyalah pemuda kampung yang datang ke Jakarta dengan modal nekat, sebuah tas usang, dan mimpi besar untuk mengubah nasib keluarganya.
Diremehkan karena miskin, dihina karena tidak punya koneksi, Faris harus menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. Dari jalanan yang penuh preman, persaingan bisnis yang kejam, hingga konflik dengan orang-orang berkuasa, semuanya menjadi ujian yang harus ia taklukkan.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik penampilannya yang sederhana, Faris memiliki keberanian, kecerdasan, dan tekad yang tidak bisa dihancurkan.
Mampukah seorang anak kampung menaklukkan Jakarta dan membuktikan bahwa kesuksesan bukan milik orang kaya saja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Kedatangan Geng Naga Hitam Pertarungan di Awal

Pagi itu suasana terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya. Langit yang biasanya cerah perlahan tertutup awan kelabu tebal, angin berhembus lebih kencang membawa debu jalanan dan suara daun pohon yang bergesekan keras seolah memberi isyarat bahwa ketenangan yang selama ini terjaga akan segera terusik. Di dalam ruang kerja, Faris Arjuna duduk bersandar santai di kursi kesayangannya, memutar-mutar batang rokok di jari sambil sesekali melirik keluar jendela. Viona sibuk menyusun berkas-berkas laporan bulanan, wajahnya masih terlihat tenang tanpa menduga apa yang akan terjadi sebentar lagi.

Belum lewat sepuluh menit, tiba-tiba dari arah gerbang terdengar suara deru mesin kendaraan yang sangat keras dan mendengung: BRUUUMMM… BRUUUMMM…!” Suaranya makin lama makin mendekat, sampai akhirnya berhenti mendadak tepat di depan pintu utama dengan suara gesekan roda yang memekakkan telinga: KRAK… SREEETTT!”

Pintu mobil terbuka dibanting dengan kasar sampai menimbulkan bunyi “BUK!” yang menggema ke seluruh halaman. Keluar tiga orang pria bertubuh kekar, semuanya berpakaian serba hitam, memakai sepatu bot tebal, dan wajah mereka terlihat dingin tanpa senyum sedikit pun. Langkah kaki mereka berat dan teratur menginjak tanah: “TAK… TAK… TAK…!” seolah ingin menunjukkan kekuasaan hanya dengan cara berjalan.

Di belakang mereka menyusul seorang pria yang tampak lebih tinggi dan berwibawa, bahunya lebar, otot lengannya menonjol di balik kain jaketnya. Itulah Darma, tangan kanan utama pimpinan Geng Naga Hitam — kelompok yang sudah lama dikenal menguasai jalur perdagangan gelap, memeras pengusaha, dan bertindak sewenang-wenang di wilayah sekitar kota. Matanya tajam memandang ke segala arah, seolah sudah menganggap tempat itu sebagai miliknya sendiri.

Tanpa mengetuk atau meminta izin, salah satu anak buah Darma langsung mengayunkan kakinya menendang daun pintu ruang kerja sampai terbuka lebar dengan bunyi keras: “BUKKK… DUBRAKK!” Kaca jendela di sampingnya ikut bergetar hebat.

Jangan pura-pura tidak dengar! Kami sudah datang!” teriak Darma dengan suara berat dan parau yang terasa menekan dada siapa saja yang mendengarnya.

Faris Arjuna hanya mengangkat kepala sedikit, menatap mereka dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan pandangan santai, tidak ada tanda terkejut atau takut sedikit pun. Dia bahkan masih terus memutar batang rokok di jari telunjuknya dengan tenang.

Selamat pagi,” sapa Faris Arjuna dengan nada bicara biasa saja, seolah menyambut tamu yang datang minum teh. “Ada keperluan apa sampai masuk dengan gaya seperti mau merampok rumah orang begini? Kalau mau bicara baik-baik, pintunya tetap terbuka lebar.”

Darma melangkah mendekat sampai hanya berjarak dua meter dari meja, meletakkan kedua tangannya di pinggang, dan menyeringai dengan tatapan merendahkan.

Kami dari Geng Naga Hitam,” ucapnya lantang. Kami dengar usaha kalian makin lancar, barangnya masuk keluar tanpa hambatan, dan untungnya mengalir deras terus. Di kota ini, tidak ada usaha yang bisa berjalan aman dan tenang tanpa ada yang menjaganya, bukan? Mulai bulan ini, kalian wajib membayar biaya keamanan dua puluh persen dari seluruh keuntungan setiap bulannya. Bayar tepat waktu, maka jalan kalian akan tetap mulus. Kalau menolak atau lupa, jangan salahkan kami kalau nanti ada hal-hal yang tidak menyenangkan mulai terjadi.”

Hal-hal tidak menyenangkan?” Faris Arjuna tersenyum miring gaya sengklek khasnya, lalu menyalakan rokoknya dengan bunyi “CESSS!” dan menghembuskan asapnya perlahan ke udara. “Maksudnya menghalangi jalan masuk barang, merusak tempat kerja, atau mengancam orang? Itu bukan menjaga, itu justru menjadi gangguan itu sendiri. Kami jalani usaha ini sesuai aturan, bayar pajak, dan bertransaksi dengan jujur. Kami tidak butuh perlindungan dari orang yang justru ingin memeras kami.”

Wajah Darma langsung berubah merah padam karena tersinggung. “Kamu anak kampung berani bicara begitu? Kamu tidak tahu siapa yang sedang dihadapi! Di wilayah ini, tidak ada yang berani menolak permintaan Geng Naga Hitam, dan tidak ada yang bisa lolos begitu saja setelah menantang kami!”

Salah satu anak buahnya yang paling pendek dan berwajah galak tidak sabar menunggu, langsung melompat maju sambil mengayunkan sebilah pentungan besi berat ke arah meja kerja. “WUUUSSS… DUGGG!” Bunyi benturan keras terdengar sampai meja kayu itu retak di tengahnya, serpihan kayu dan debu beterbangan ke mana-mana.

Diam saja dan ikuti apa yang diperintahkan!” teriaknya lagi.

Namun sebelum dia bisa mengangkat pentungan itu lagi, Faris Arjuna sudah bergerak secepat kilat. Tubuhnya meleset ke samping dengan gerakan ringan, lalu mengayunkan kakinya dan menendang perut pria itu sekuat tenaga: “BUUGG!” Suara benturan terdengar nyata. Pria itu terlempar mundur sampai punggungnya membentur tembok dengan bunyi “BRUKK!” keras sekali, lalu tergeletak di lantai sambil memegang perutnya dan mengerang kesakitan tidak mampu berdiri lagi.

Kamu berani menyakiti anak buahku!” teriak Darma dengan wajah melotot marah. Tanpa pikir panjang dia langsung melompat maju, mengepalkan tinjunya sekeras mungkin dan mengayunkannya ke arah wajah Faris Arjuna dengan kecepatan tinggi: “WUUUSSS!” Suara angin terasa menusuk telinga.

Faris Arjuna tidak mundur sedikit pun. Dengan tenang dia mengangkat telapak tangan kanannya dan menangkis serangan itu: “DUG!” Bunyi benturan tangan dengan tinju bergema. Bersamaan itu dia memutar tubuhnya, lalu mengayunkan sikunya ke sisi lengan Darma: “KRAKK!” Terdengar suara otot dan tulang tertekan keras. Darma terhuyung mundur selangkah, wajahnya memerah menahan rasa sakit yang menjalar ke seluruh lengannya.

Dua anak buah lainnya segera maju menyerang secara bersamaan — satu mencabut pisau lipat dari pinggangnya dan menusuk ke arah perut, sedangkan yang lain melompat tinggi sambil mengayunkan kaki ke kepala Faris Arjuna. Suara gerakan mereka terdengar cepat: “WUSS… DUG!”

Namun Faris Arjuna sudah membaca setiap gerakan mereka. Dia menunduk menghindari tusukan pisau itu, lalu menangkap pergelangan tangan pemegang pisau dengan cengkeraman kuat, memutarnya balik sampai terdengar suara KRUK!” dan pisau itu terlepas jatuh ke lantai dengan bunyi “KLANG!”. Sambil memegang tangan itu, dia mengangkat lututnya dan menendang dada pria yang sedang melompat tadi: “BUUGG!” Kekuatannya membuat pria itu terlempar mundur dan menabrak tumpukan kursi sampai semuanya roboh berantakan dengan bunyi “BRUKK… BRUKK!”.

Suara benturan dan gerakan terus terdengar di seluruh ruangan: DUG! KRAK! BRUK! BUK! KRUK! — semuanya berlangsung sangat cepat, padat, dan penuh tenaga, tapi Faris Arjuna tetap terlihat tenang, napasnya masih teratur tidak terengah-engah seperti lawannya.

Melihat anak buahnya sudah roboh semua, Darma menjadi makin marah. Dia mengambil sebatang kayu tebal dari balik jaketnya, lalu mengayunkannya berulang kali dengan amarah yang meledak-ledak: “WUUUSSS… DUGGG! WUUUSSS… DUGGG!” Faris Arjuna terus menghindar dengan lincah, sampai akhirnya dia menemukan celah. Begitu Darma mengayunkan kayunya terlalu jauh ke depan, Faris Arjuna melangkah mendekat, memutar tubuh, dan melayangkan tinjunya tepat di ulu hati Darma dengan tenaga yang terarah: “BUUGGG!”

Darma langsung terbatuk hebat, napasnya tersendat, dan tubuhnya terhuyung mundur sampai punggungnya membentur tembok belakang dengan bunyi “DUBRAKK!” yang sangat keras. Dia terkulai sedikit, memegang perutnya dengan wajah pucat campur merah karena campuran rasa sakit, malu, dan marah yang meluap-luap.

Suasana ruangan berubah total: meja retak, kursi patah-patah, kertas dan debu berserakan di mana-mana, pisau tergeletak di lantai, dan ketiga anak buah Darma terbaring kesakitan tidak mampu berdiri. Faris Arjuna berdiri tegak di tengah ruangan, bajunya sedikit kusut tapi tidak ada luka sama sekali, dan masih menyandang senyum santai di wajahnya.

Sudah cukup kan?” ucapnya dengan suara tenang tapi terdengar jelas dan berwibawa. Kalian datang membawa ancaman dan kekerasan, tapi lupa satu hal — kekerasan hanya bisa menakut-nakuti orang yang lemah hatinya, bukan orang yang berdiri teguh di jalan yang benar. Kalau mau main kasar, saya juga tidak takut membalas dengan cara yang sama. Kalau mau bicara dengan akal dan aturan, pintu saya tetap terbuka lebar kapan saja.”

Darma mengangkat kepalanya dengan susah payah, matanya masih melotot penuh kebencian. Dia meludah ke lantai, lalu berteriak dengan suara parau: “Ini belum selesai! Geng Naga Hitam tidak pernah mundur begitu saja! Kamu pikir kamu hebat hanya karena mengalahkan kami hari ini? Nanti kami datang dengan lebih banyak orang dan cara yang lebih kejam! Kalian akan menyesal telah menantang kami sampai ke akar-akarnya!”

Dia memberi isyarat dengan tangan, lalu menyeret kedua anak buahnya yang masih bisa berjalan, dan mengangkat yang lain yang lemah itu keluar ruangan. Pintu dibanting keras sekali lagi: “BUK!”, disusul deru mesin mobil yang melaju kencang pergi menjauh dengan suara “BRUUUMMM… BRUUUMMM!” sampai akhirnya menghilang di tikungan jalan.

Setelah suara kendaraan itu tidak terdengar lagi, Viona yang dari tadi berdiri mematung karena terkejut segera melangkah mendekat, wajahnya terlihat cemas sekaligus kagum.

Faris Arjuna, kamu baik-baik saja? Tidak terluka sedikit pun?” tanyanya sambil memeriksa tubuhnya dari dekat.

Faris Arjuna mengusap sedikit debu di bahu bajunya, lalu mematikan sisa rokoknya di dalam asbak dengan tenang. “Saya baik saja Bu Viona. Mereka cuma mengandalkan tenaga kasar dan nama besar kelompoknya, tapi tidak punya akal yang benar. Musuh yang terang-terangan menyerang dan menunjukkan wajah aslinya justru jauh lebih mudah dihadapi daripada musuh yang berpura-pura menjadi teman sambil menusuk dari belakang.”

Dia melangkah mendekati jendela, menatap ke arah jalan yang sudah kembali sepi, lalu melanjutkan dengan nada makin mantap: “Ini baru permulaan saja. Darma dan Geng Naga Hitam pasti akan kembali dengan rencana yang lebih rumit dan berbahaya. Tapi justru itu yang membuatnya makin seru. Ingat satu hal saja — selama kita tetap berpegang pada kebenaran dan prinsip yang kita miliki, sekuat apa pun lawannya, seberapa gelap jalannya, pasti akan ada jalan keluar yang terang. Mereka yang memilih jalan kekerasan dan pemerasan itu pada akhirnya hanya akan menggali lubang untuk dirinya sendiri, sama persis seperti yang sudah kita lihat pada Rusdi dan kawan-kawannya dulu.”

Viona mengangguk perlahan, rasa khawatirnya perlahan berganti keyakinan melihat ketenangan Faris Arjuna. “Kalau begitu kita harus bersiap lebih baik lagi, bukan?”

Tentu saja,” jawab Faris Arjuna sambil tersenyum lebar gaya khasnya. “Kita bersiap bukan untuk mencari masalah, tapi supaya siap menjaga apa yang sudah kita bangun dengan susah payah. Mari kita bereskan ruangan ini dulu, karena pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai.”

1
Samsul Samsi
😍😍😍😍
Watono
teruskan Faris bela yang benar
FARIZARJUNANURHIDAYAT: siap kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!