⚠️ Disclaimer⚠️
Untuk yang punya humor tingkat tinggi di atas ranah Bahalil Sovereign Immortal Mythic Glory Realm yang bisa menangkap esensi dari perjalanan Slamet dan Faksi-faksi di Overlord.
━━━━━━━━━━━━━━━
⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️
#Fantasi
#Komedi
#Petualangan
#Respawn
#SalahPahamMassal
#KalongMania62
#BukanKonspirasi
#TapiSemuaPanik
🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Malam itu berbeda dari malam-malam sebelumnya, meskipun tidak ada yang bisa menjelaskan dengan tepat apa yang membuatnya berbeda. Bukan cuaca, bukan angin, bukan suhu yang tiba-tiba turun beberapa derajat lebih dingin dari biasanya. Ada sesuatu di udara yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Sesuatu yang membuat bulu kuduk berdiri meskipun tidak ada yang mengancam secara kasat mata. Sesuatu yang membuat hewan-hewan di sekitar hutan memilih diam daripada bergerak, seolah-olah mereka merasakan getaran yang tidak bisa ditangkap oleh indra manusia.
Di tengah kegelapan yang pekat, di sebuah jalan setapak yang menghubungkan pos utara dengan kamp utama Holy Kingdom, Slamet sedang berjalan pulang.
Ini adalah tugas terakhirnya hari itu, dan dia sudah sangat lelah. Jalannya rusak parah, beku dan tidak rata, membuat setiap langkah terasa seperti berjalan di atas batu-batu tajam yang menekan telapak kakinya dari berbagai sudut. Kaki kirinya sudah terbiasa dengan rasa sakit, sudah hampir mati rasa karena terlalu sering menapak tanah dingin tanpa alas, tetapi malam ini rasa itu terasa lebih menusuk dari biasanya.
Dia berhenti sejenak, menekuk lutut kirinya untuk mengistirahatkan beban tubuhnya. Di bawah telapak kaki yang telanjang, ada sesuatu yang dingin dan tajam—mungkin pecahan batu, mungkin ranting yang patah. Dia menggeser kakinya, mencoba menghindarinya, tetapi rasa sakit sudah terlanjur menjalar hingga ke betis.
Di kejauhan, sekitar tiga ratus meter dari posisinya, di balik pepohonan yang tertutup salju, bayangan-bayangan mulai bergerak. Puluhan dari mereka. Mereka keluar dari kegelapan hutan dengan gerakan yang terlalu halus untuk dilihat oleh mata manusia biasa, seolah-olah malam itu sendiri sedang melahirkan sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia.
Di antara pepohonan, seekor burung hantu yang biasanya aktif di malam hari terdiam di atas dahannya, matanya yang bulat mengikuti pergerakan bayangan-bayangan itu tanpa berkedip. Di tanah, seekor tikus lapangan yang sedang mencari sisa makanan tiba-tiba membeku, tubuhnya gemetar, lalu berlari ke arah yang berlawanan dengan kecepatan yang tidak biasanya.
Slamet tidak melihat semua itu. Dia hanya berjalan, tanpa tujuan, tanpa kesadaran bahwa ada sesuatu yang bergerak di sekitarnya.
Seorang Shadow Demon dengan titik merah lebih terang dari yang lain berdiri di depan formasi, memimpin unit-unit yang tersebar di sekelilingnya. Tubuhnya yang tidak berbentuk itu berdenyut pelan, seperti ada sesuatu di dalamnya yang bergerak. Matanya yang menyala berkedip tidak beraturan saat sihir komunikasi aktif dalam tubuhnya, mengirimkan gelombang getaran halus yang tidak bisa dideteksi oleh manusia biasa.
"Target. Prioritaskan laki-laki dewasa. Hindari anak-anak dan orang tua. Kerjakan dengan cepat, tanpa suara, tanpa jejak. Jika ada perlawanan, lumpuhkan, jangan bunuh. Kita butuh mereka hidup-hidup."
Dia berhenti.
Titik merah di matanya berkedip semakin cepat, tidak beraturan, seperti lampu yang kehabisan energi. Ada sesuatu di sebelah timur. Sekitar tiga ratus meter dari posisinya. Dia mengarahkan indranya ke arah itu, mencoba memahami apa yang baru saja mengganggu konsentrasinya.
Seorang pria. Berjalan dengan langkah malas. Pakaian lusuh. Kaos oblong kusam. Celana pendek robek di lutut. Sandal jepit satu di kaki kanan. Kaki kiri telanjang, jari-jari membiru karena dingin. Tanda hitam di jidat. Dua segitiga kecil yang menyatu di tengah.
Error.
Pikiran Shadow Demon itu mulai kacau. Bukan karena serangan, bukan karena sihir, bukan karena sesuatu yang bisa dia lawan dengan kekuatan atau kemampuan. Tapi karena keberadaan pria itu terlalu dekat. Terlalu dekat untuk diproses oleh sistem dunia. Terlalu dekat untuk parameter yang bisa ditoleransi oleh tubuh demon yang terbentuk dari kegelapan murni.
Dia mencoba mengirim perintah ke unit-unitnya. Gagal. Mencoba lagi. Gagal lagi. Tidak ada yang terkirim. Tidak ada yang sampai. Semua yang dia coba lakukan hanya menghasilkan kehampaan, seolah-olah ada tembok tak terlihat yang membatasi kemampuannya untuk berkomunikasi dengan bawahannya.
Error. Error. ERROR.
Semakin dekat dengan pria bertanda hitam itu, semakin cepat eksistensi Shadow Demon kehilangan kestabilan. Di tempatnya, rerumputan yang tertutup salju mulai menghitam, mengering, seolah-olah ada sesuatu yang menarik kehidupan dari tanah di sekitarnya.
Gangguan tersebut menyebar seperti riak di permukaan air, melemah seiring bertambahnya jarak, tetapi tidak pernah benar-benar menghilang. Di sekitar area operasi, Shadow Demon lainnya mulai merasakan hal yang sama. Tidak bersamaan, tetapi bergelombang, seperti batu yang dilempar ke kolam, menciptakan riak yang menyebar ke segala arah, mempengaruhi setiap makhluk kegelapan yang berada dalam radius tertentu.
Yang paling dekat dengan Slamet terkena dampak paling parah. Mereka tidak bisa berpikir jernih. Tidak bisa mengirim laporan. Tidak bisa menerima perintah. Yang mereka lihat hanyalah tumpukan sampah, kardus basah, kain bekas, sisa makanan yang sudah membusuk. Bukan pemukiman yang harus dieksekusi. Bukan target yang harus diambil. Hanya kekacauan visual yang tidak bisa mereka proses dengan cara apa pun.
Yang lebih jauh, efeknya lebih lemah, tetapi tetap cukup untuk mengganggu koordinasi. Beberapa Shadow Demon bergerak tanpa arah, seperti kehilangan orientasi. Beberapa berhenti total, tidak bisa melanjutkan tugas. Beberapa menghilang ke dalam kegelapan, bukan karena selesai bertugas, tetapi karena sistem internal mereka crash dan mereka tidak bisa mempertahankan bentuk yang stabil.
Seorang Shadow Demon yang sedang dalam proses menculik seorang perempuan paruh baya tiba-tiba kehilangan konsentrasi. Tubuhnya yang setengah berbentuk melebur, kembali menjadi kegelapan tanpa bentuk, seperti asap yang ditiup angin. Perempuan itu jatuh ke lantai, tubuhnya membentur kayu dengan suara keras. Tidak sadar. Tidak tahu bahwa dia selamat dari kematian karena seorang pria dengan sandal jepit satu sedang berjalan di kejauhan, tidak tahu apa-apa.
Shadow Demon lainnya, yang sedang memegang seorang laki-laki setengah baya, merasakan tangannya gemetar. Tidak bisa menahan. Tidak bisa mengontrol. Laki-laki itu jatuh dari genggamannya, tubuhnya membentur tanah beku dengan suara keras. Tidak bangun. Tidak sadar. Tidak akan mengingat apa pun besok pagi, hanya akan bangun dengan rasa kebingungan dan sakit di sekujur tubuhnya. Di tangannya, terdapat luka merah muda yang membekas seperti bekas selipan, saat kegelapan itu melebur dengan cepat.
Shadow Demon itu mencoba menggapai korban lagi. Gagal. Tangannya tidak bisa membentuk genggaman yang kokoh. Seolah-olah ada sesuatu yang mengganggu struktur dasarnya, membuatnya tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Setiap kali dia mencoba mendekat, indranya semakin kacau, semakin tidak stabil, semakin tidak bisa memproses apa yang terjadi di sekelilingnya.
Error.
Error.
ERROR.
Slamet terus berjalan. Tidak melihat bayangan-bayangan itu. Tidak tahu bahwa ada puluhan makhluk dari Nazarick yang kacau balau karena keberadaannya. Tidak tahu bahwa dia baru saja menyelamatkan puluhan orang tanpa sengaja, tanpa usaha, tanpa kesadaran sedikit pun. Dia hanya fokus pada jalan di depannya, jalan becek yang mulai membeku, diterangi cahaya bulan yang redup dari balik awan tebal.
Kakinya masih sakit. Lukanya tidak parah, tetapi mulai terasa berdenyut lagi, seperti ada sesuatu yang hidup di bawah kulit, bergerak perlahan dari telapak kaki hingga betis. Dia berhenti sejenak, menunduk, dan melihat ada sesuatu yang aneh di pergelangan kakinya. Tanda segitiga itu tampak lebih jelas. Tidak berubah ukuran, tetapi warna hitamnya lebih pekat, lebih dalam, seolah-olah baru saja digoreskan kembali dengan tinta segar. Dan dari ujung tanda itu, garis tipis berwarna abu-abu mulai merambat ke atas, seperti akar yang mencari tanah.
Dia menggosoknya dengan jari. Tidak hilang. Dia menggaruknya. Masih tidak hilang.
"...Apa-apaan ini..." gumamnya pelan.
Tapi dia tidak mau tahu. Yang dia tahu, di ujung jalan ada tenda logistik. Di dalam tenda ada karung goni dan selimut tipis. Dan besok pagi dia akan bangun dan berjalan lagi.
Di belakangnya, pemukiman-pemukiman yang menjadi target operasi malam ini tetap utuh. Tidak ada yang lenyap. Tidak ada yang diculik. Hanya kegelapan dan keheningan. Dan di beberapa rumah, pintu yang terbuka sedikit, selimut yang terjatuh ke lantai, anjing-anjing yang tiba-tiba berhenti menggonggong dan memilih diam.
Tidak ada yang tahu mengapa. Tidak ada yang akan pernah tahu.
Di ruang kerja Demiurge, laporan tidak kunjung datang.
Dia menatap peta di atas meja kayu besar, titik-titik merah yang tersebar di berbagai wilayah Holy Kingdom. Belum ada yang berubah. Belum ada yang dicoret. Operasi malam ini seharusnya sudah selesai. Tiga pemukiman. Empat belas target. Maksimal dua jam.
Sekarang sudah lewat tiga jam.
Tidak ada laporan. Tidak ada kabar. Tidak ada tanda-tanda bahwa unit-unitnya telah menyelesaikan tugas. Tidak ada suara dari bayangan, tidak ada desiran dari sudut ruangan yang biasanya menjadi tempat para utusan muncul. Hanya keheningan yang semakin mengganggu.
Demiurge mendorong kacamatanya. Kilatan cahaya memantul dari lensa bundar itu, menerangi wajahnya yang mulai menunjukkan kerutan kebingungan yang jarang terlihat di sana. Jari-jarinya yang berkuku tajam menekan permukaan meja kayu mahoni, cukup keras untuk meninggalkan bekas goresan tipis. Di ujung jarinya, ada sedikit getaran yang tidak dia sadari—tanda bahwa dia mulai gelisah.
"Shadow Demon yang ditugaskan di wilayah barat. Laporkan status."
Tidak ada jawaban.
"Shadow Demon unit Alpha. Laporkan."
Tidak ada jawaban.
"Shadow Demon unit Beta. Laporkan."
Tidak ada jawaban.
Demiurge meletakkan tangannya di atas meja. Matanya yang merah menyala tidak berkedip, menatap peta yang tidak berubah, yang tidak menunjukkan apa pun, yang tidak memberinya petunjuk tentang apa yang salah. Di sekelilingnya, suasana ruangan yang biasanya tenang kini terasa lebih pekat. Lembaran-lembaran perkamen di atas meja mulai bergerak sedikit, seolah-olah ada angin yang tidak terlihat.
Tidak ada yang merespons. Bukan berarti mereka mati, tetapi tidak ada yang merespons. Seolah-olah ada sesuatu yang memutus komunikasi. Atau seolah-olah mereka tidak bisa mengirim laporan karena sesuatu. Atau seolah-olah mereka tidak sadar bahwa mereka harus melapor. Semua kemungkinan sama buruknya, dan dia tidak bisa menentukan mana yang paling mungkin terjadi.
Dia menghela napas. "Kirim unit pencarian ke wilayah barat. Cari tahu apa yang terjadi."
Dari bayangan di sudut ruangan, sebuah suara berbisik pelan. "Baik, Demiurge-sama."
Bayangan itu bergerak, lalu menghilang. Demiurge kembali menatap peta, matanya yang merah menyala tidak berkedip. Jari-jarinya mengetuk permukaan kayu dengan irama yang tidak teratur, seperti detak jantung yang mulai tidak stabil.
Ada yang tidak beres. Tapi dia tidak tahu apa. Dan itu yang paling mengganggu. Karena jika dia tidak tahu apa yang salah, dia tidak bisa memperbaikinya. Dan jika dia tidak bisa memperbaikinya, operasi berikutnya akan mengalami hal yang sama. Atau lebih buruk.
Dia menulis catatan di tepi peta. Tinta hitam menggores permukaan perkamen dengan huruf-huruf yang rapi dan tajam. Di ujung pena, ada tetesan kecil tinta yang jatuh ke atas peta, membentuk lingkaran hitam yang menutupi salah satu desa target.
"Wilayah barat. Gangguan komunikasi total. Penyebab tidak diketahui. Investigasi lanjutan diperlukan."
Slamet sudah sampai.
Dia merebahkan diri di atas tumpukan karung goni tanpa mengganti pakaian, tanpa membersihkan kaki, tanpa melakukan apa pun selain menarik selimut tipis ke atas menutupi perut dan kaki kirinya. Kaki kirinya terasa panas, bukan sakit, tetapi seperti ada sesuatu yang merayap di bawah kulit, dari telapak kaki hingga betis. Dia menggerakkan kakinya, mencoba mencari posisi yang lebih nyaman, tetapi rasa itu tidak hilang.
Dia duduk, menunduk, dan melihat tanda di pergelangan kakinya. Garis abu-abu yang tadi merambat ke atas sekarang sudah mencapai setengah betis. Bentuknya seperti akar, tetapi tidak bergerak, tidak berdenyut, hanya diam di atas kulitnya.
Dia menekannya dengan jari. Tidak sakit. Tidak terasa apa-apa.
"...Gak penting," gumamnya pelan. "Besok antar paket lagi. Ke mana? Lupa. Yang penting ada makan."
Dia berbaring kembali. Di luar, salju mulai turun lagi, butiran-butiran putih yang jatuh perlahan di atas kain tenda yang kendur, menciptakan suara desir halus yang hanya terdengar jika seseorang cukup dekat. Tidak ada yang cukup dekat. Semua sudah tidur. Napasnya mulai teratur, perlahan-lahan melambat seiring otot-ototnya yang lelah akhirnya mengendur. Tidak ada dengkur malam ini.
Di luar, salju terus turun. Diam. Perlahan. Tanpa suara.
Di bawah selimut, di balik kain yang tipis, garis abu-abu di kaki kiri Slamet mulai bergerak. Hanya sedikit. Hanya beberapa milimeter. Seperti akar yang mencari tanah.