NovelToon NovelToon
Perjodohan Terpaksa

Perjodohan Terpaksa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rara M.

Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertarungan di Tepi Danau

Suasana malam di tepi danau terasa dingin dan sunyi. Hanya suara angin yang berdesir di antara pepohonan serta gemericik air yang memecah keheningan. Di bawah cahaya bulan yang redup, Putra dan Citra berdiri berdampingan, hati mereka berdebar kencang namun penuh tekad. Mereka datang sesuai permintaan tanpa pengawalan, namun diam‑diam sudah diatur strategi oleh Kolonel Bayu dan timnya yang bersembunyi di posisi tersembunyi tidak jauh dari sana.

“Tetaplah di sampingku,” bisik Putra sambil menggenggam tangan istrinya erat. “Apa pun yang terjadi, jangan berpisah.”

Citra mengangguk, meski jantungnya berpacu cepat. Sebagai dokter, ia terbiasa menghadapi bahaya, namun ancaman yang menyangkut orang yang dicintainya terasa jauh lebih berat.

Tak lama kemudian, bayangan sosok muncul dari balik semak lebat. Diikuti beberapa orang bersenjata, Bibi Sari melangkah maju dengan senyum dingin yang tidak pernah terlihat sebelumnya. Di jari manis tangan kanannya, cincin perak berbentuk daun berkilau tertimpa cahaya bulan tepat seperti yang digambarkan Adiwinata dan dilihat oleh Andi.

“Ternyata kalian benar‑benar datang,” ucapnya dengan suara yang sama sekali tidak lagi lembut dan ramah. “Bagus. Kalian telah membuktikan bahwa kalian menyayangi keluarga kalian lebih dari sekadar dokumen tua.”

“Jadi benar kau orang di balik semua ini,” kata Putra tegas, tangannya siap siaga meski tidak terlihat memegang senjata. “Semua pencurian, ancaman, bahkan kematian orang tua Citra semua kau rencanakan?”

Bibi Sari tertawa pelan, suara itu terdengar asing dan menusuk. “Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Keluarga ini telah menindas cabang keluargaku selama puluhan tahun. ‘Warisan’ yang selalu mereka banggakan seharusnya dibagi adil, bukan hanya dipegang oleh satu orang saja.”

“Jadi karena harta dan kekuasaan, kau rela membunuh dan mengancam nyawa orang tak bersalah?” sergah Citra, matanya menatap tajam. “Orang tuaku tidak tahu apa‑apa, begitu pula orang tua angkatku. Mengapa mereka harus menjadi korban?”

“Karena mereka menjadi penghalang!” bentak wanita itu, wajahnya berubah bengis. “Dan kau, Citra keberadaanmu justru mengancam rencanaku. Orang tuamu mengetahui kebenaran, maka mereka harus disingkirkan. Ketika kau dijodohkan dengan Putra, aku pikir itu akan memudahkanku, tapi ternyata kalian malah bersatu dan mulai mencari tahu.”

Saat percakapan berlangsung, Putra memberi kode halus dengan matanya ke arah semak di kejauhan. Tim Kolonel Bayu sudah siap, namun mereka harus menunggu momen yang tepat agar tidak membahayakan sandera yang kemungkinan disembunyikan.

“Di mana mereka? Di mana orang tua angkatku?” tuntut Citra.

“Mereka aman... untuk saat ini,” jawab Bibi Sari sambil memberi isyarat. Dua orang pria menyeret sepasang pria wanita tua keluar dari balik pohon. Tangan dan kaki mereka terikat, mulut disumpal. Wajah mereka tampak ketakutan namun tidak terluka parah. “Serahkan semua dokumen yang kalian temukan di tambang, dan aku akan melepaskan mereka hidup‑hidup.”

“Ini bukan hanya soal dokumen,” sahut Putra. “Kau telah bekerja sama dengan penjahat seperti Adiwinata, menyebarkan kebohongan, dan mengkhianati kepercayaan keluarga. Semua jejak kejahatanmu sudah tercatat. Bahkan jika kau membunuh kami, kebenaran tetap akan terungkap.”

Wajah Bibi Sari menegang. Ia tidak menyangka rencananya terbongkar sejauh ini. Dengan gerakan cepat, ia menarik pistol dari balik punggungnya dan menodongkan ke arah Citra.

“Jangan berbicara omong kosong! Serahkan sekarang, atau aku akan menembaknya di sini!”

Saat ketegangan memuncak, tiba‑tiba terdengar suara teriakan dari arah belakang para pengawal. Andi yang diam‑diam dibawa dan disembunyikan Arga di tempat aman namun berhasil lolos pengawalan berlari kecil sambil berteriak. Namun perhatian Bibi Sari teralih sesaat, dan itulah celah yang ditunggu.

“SEKARANG!” teriak Kolonel Bayu dari kejauhan.

Dalam sekejap, tim pasukan muncul dari segala arah. Suara tembakan peringatan meledak, membuat para pengawal panik. Putra bergerak cepat sebagai tentara terlatih, ia menyergap tangan Bibi Sari yang memegang senjata. Perkelahian singkat namun sengit terjadi. Citra segera berlari menuju orang tua angkatnya, berusaha membebaskan ikatan mereka sambil tetap waspada.

Walaupun Bibi Sari tangkas, ia tidak seimbang dengan keahlian bertarung Putra. Pistol itu terlepas dan jatuh ke tanah. Saat ia berusaha meraihnya kembali, Arga tiba dan menahan lengannya kuat‑kuat.

“Semuanya berakhir,” kata Putra dengan napas memburu. “Tidak ada lagi pelarian.”

Bibi Sari tertegun, napasnya memburu. Tatapannya beralih ke arah Adiwinata yang dibawa oleh pasukan lain ternyata ia juga dijadikan umpan untuk memancing keluar pemimpin sebenarnya. Wanita itu menunduk, seolah menyadari bahwa rencana panjangnya akhirnya runtuh.

“Aku hanya ingin keadilan bagi keluargaku...” gumamnya pelan.

“Keadilan tidak diraih dengan kejahatan,” jawab Citra mendekat, setelah memastikan keselamatan orang tuanya. “Kau telah merusak banyak nyawa demi ambisi yang salah. Sekarang kau harus mempertanggungjawabkannya.”

Setelah semua pengawal dilumpuhkan dan Bibi Sari diamankan, suasana perlahan menjadi tenang. Dokumen‑dokumen penting diserahkan kepada tim penyelidik resmi untuk diproses sebagai bukti hukum. Kebenaran tentang pembagian warisan yang tidak adil dan jaringan korupsi yang dibangun terungkap jelas, namun ditangani sesuai jalur hukum tanpa kekerasan tambahan.

Dalam perjalanan pulang menuju tempat aman, Andi tertidur di pangkuan Citra. Putra memegang tangan istrinya, merasakan ketenangan yang baru muncul setelah sekian lama hidup dalam bayang‑bayang ancaman.

“Akhirnya semuanya selesai,” bisik Citra sambil menatap suaminya. “Rasa takut itu perlahan hilang.”

Putra tersenyum lembut, mencium punggung tangan istrinya. “Belum sepenuhnya. Masih ada sisa‑sisa jaringan yang harus dibersihkan, dan kebenaran tentang masa lalumu masih harus dipelajari lebih dalam. Tapi setidaknya musuh utama sudah tertangkap. Kita bisa mulai membangun hidup yang damai.”

Namun, saat kendaraan bergerak meninggalkan tepi danau, ponsel Kolonel Bayu berdering lagi. Wajahnya yang tadinya lega perlahan berubah serius. Ia mendengarkan dengan saksama, lalu menoleh ke arah mereka dengan pandangan yang membuat hati kembali berdebar.

“Ada laporan tambahan,” ucapnya pelan. “Dari penggeledahan rumah Bibi Sari, ditemukan catatan yang menunjukkan ia bukan satu‑satunya yang berperan. Ada orang lain yang lebih tinggi jabatannya, yang memberikan perlindungan dan dana besar. Dan ada satu nama yang sering disebut seorang perwira tinggi militer yang selama ini dianggap sangat setia...”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!