NovelToon NovelToon
PUTRA KE EMPATKU

PUTRA KE EMPATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: ElQue ElQue

Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.

Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.

Suaminya ke mana??

"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"

Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.

" Mas...maaf " lirih suara Arista.

Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.

Arista tergugu, tak ada air mata...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35.

Sepeninggalan Anisa...

Arista menggendong dam membawa masuk Hanif ke dalam kamar dan menidurkannya. Arista menatap Hanif cukup lama, bentuk bibir dan wajah mewarisi Pram, tak ada yang di buang.

Foto kopian Pram semasa kecil. Tak terasa sudah tiga bulan lebih usia Hanif, pipinya makin chubby saja. Gemas..Arista mencium ke dua pipinya. Hanif tersenyum dalam tidurnya. Arista tertawa gembira.

" Ih...bikin gemess aja anak bunda. Maaf ya, ibu tiga hari kemarin nggak ke rumah nengokin kamu. Ibu ada banyak urusan, semua untuk masa depan kamu. Tenang saja bunda dan ibu selalu ada di belakang kamu."

" Jadilah seperti yang di harapkan bunda, jaga bunda mu kalau udah besar. Jadi garda terdepan buat bunda mu. Ibu akan selalu mendoakan mu dari jauh." Arista mengusap lembut pipi Hanif.

" Assalamualaikum."

" Waalaikumsalllam"

" Wahh...ada adek Hanif ." Dityan dengan muka gembira berteriak tanpa sadar.

Hanif yang sedang tertidur pulas terjingkat kaget. Tangisnya pecah dan kencang memenuhi kamar. Dityan langsung merasa bersalah.

" Maaf,dek. Abang seneng banget soalnya kamu di sini." Dityan mengusap punggung Hanif dalam gendongan Arista.

" Sekarang kamu harus tanggung jawab, bikinkan susu buat adekmu. Semua perlengkapan ada di dalam itu.' kata Arista menunjuk dengan mukanya.

" Siap laksanakan, Bu."

" Bantuin dong, mas Dim." kata Dityan.

" Dih..nggak bisa, lah. Kamu yang bangunin adek, belajar tangung jawab dong." kata Dimas sambil tersenyum.

" Ini bagaimana, Bu." Dityan tampak bingung melihat ada beberapa botol dan susunan susu."

" Ambil botol ukuran sedang dulu, itu kan ada susunan susu, ambil yang paling atas, tuang ke botol susu." Dityan mengikut instruksi ibunya.

" Ambil termos ,tuang sedikit air panas lalu kocok kocok biar larut, tuang air dingin, dari Tumbler. Sampai di angka 600 ml aja. Kocok lagi biar rata, tutup botol sampai kencang. Dah..gitu aja, gampang kan?" kata Arista sambil tersenyum.

" Wahh..gampang banget ternyata." Dityan tertawa senang

" Ini dek, susunya. Nanti kalau ibu repot biar aku aja yang jaga Hanif dan buatin susu buat dia."

" Iya..dong. Kalian harus saling bantu, sesama saudara harus saling tolong menolong."

" Siap Bu. Kita harus saling melindungi satu sama lain." Dimas tak mau ketinggalan.

Arista tersenyum haru, dia sangat bersyukur putra putranya sejauh ini nggak pernah berselisih paham.

" Tanya Anisa ke mana, Bu. Biasanya ke mana Tante pergi Hanif nggak pernah ketinggalan." tanya Dimas.

" Tante kalian ada pekerjaan mendadak, mungkin kalau ajak Hanif takutnya nanti Hanif rewel."

"Sebentar lagi adzan Maghrib, kalian bersih-bersih dulu. Nanti setelah selesai sholat, tolong ibu beli diaper ke minimarket.

Mereka berdua bergegas ke kamar mandi, beruntung kamar mandi ada 2, jadi nggak ada istilah drama rebutan kamar mandi.

Selesai sholat, mereka pun pamit ke minimarket. Sedang Arista meletakkan Hanif di tempat tidur, sengaja pintu kamar tak di tutup. Dia berniat air wudhu sebentar.

Arista berniat sholat di kamar, saat kakinya hampir sampai di pintu kamar dia berhenti dan mundur kembali. Di menyelesaikan sholatnya di mushola dalam rumah.

Selesai sholat Arista berniat kembali ke kamarnya, sampai di tengah pintu dia terdiam.

Pram sedang berdiri menatap Hanif, lama. Arista cuma diam memperhatikan dan menunggu apa yang akan di lakukan Pram pada Hanif.

Tak sengaja Pram menoleh ke arah arah pintu kamar, ternyata Arista tengah berdiri di sana dan sedang memperhatikannya.

"Kenapa dia ada di sini? Ke mana Anisa, sampai menitipkan anaknya di sini." tanya Pram dingin.

Arista tersenyum sinis. Cepat sekali perubahan wajah suaminya, tadi pas menatap Hanif , matanya menunjukkan kilatan rindu.

( Kita lihat sampai mana pertahanan mu, mas)

" Anisa ada pekerjaan yang harus di selesaikan."

" Kan..bisa di bawa, kenapa harus di titipkan di sini."

Arista mengerutkan keningnya.

" Dia punya hati, perasaan dan telinga. Telinga dan perasaannya lebih peka dan tajam di banding orang dewasa."

" Keluar lah, kalau memang nggak ingin melihatnya." Anisa dingin .

"' Kamu mengusirku dari kamar kita, hanya karena dia. Sudah jelas dari awal aku tak menginginkan dia lahir, tapi kamu malah mempertahankannya."

" Coba sejak usia satu bulan di kandungan, kamu memastikan jenis kelaminnya, laki atau perempuan,Ini semua tidak akan terjadi. Kalau sudah tahu jenis kelaminnya perempuan pertahankan, kalau laki-laki tak perlu di pertahankan." Pram kembali mengungkit kehamilan Arista.

Arista mengepalkan ke dua tangannya, rahangnya pun ikut mengeras.

" Sudah aku bilang dia punya nama, tapi tak apa, kalau memang nggak mau menyebut namanya. Kelak dia besar pun aku yakin dia tak akan pernah mau menyebut siapa bapaknya." Arista tersenyum dingin.

Tanpa mereka sadari dua pasang telinga sedang mendengarkan percakapan mereka.

" Telepon Anisa , suruh cepat ke sini, dan bawa dia pulang lagi bersamanya. Aku capek , mau istirahat."

Arista membalikkan badan menatap tajam ke arah suaminya.

" Aku rasa itu bukan urusanmu, lagi pula dia punya hak di rumah ini."

" Kata siapa dia punya hak di rumah i ni. Dia sudah di adopsi sama Anisa, bahkan sudah masuk KK mereka. Kalau dia masih di sini, lebih baik aku yang pergi." ancam Pram.

" Silahkan pergi. Aku pun sudah bilang, aku lebih lebih rela melepasmu dari pada melepaskan Hanif." suara Anisa datar dan dingin.

Jantung Pram berdesir, aliran darah seolah berhenti mengalir di sendinya. Dia tak menyangka Arista akan mengeluarkan kalimat itu lagi.

Pram berniat keluar dari kamar, tapi sesaat dia tertegun dan kaget. Pram menelan ludah, dia bersirobok dengan dengan ke dua putranya.

" Oh...jadi ternyata ayah sendiri yang ngak menginginkan Hanif ada di antara kita. Aku kira tadinya memang Tante Anisa benar-benar hanya ingin merawat Hanif , karena belum punya anak. Kami kecewa yah, sangat kecewa." kata Dimas mewakili Dityan.

Sedang Dityan hanya menatap Pram dengan pandangan entah.

Pram tak bicara apa-apa, dia berlalu ke kamar kerjanya. Terdengar bunyi pintu berdebum, tapi Dimas dan Dityan tak peduli.

Ke dua kakak beradik menghampiri Arista, menangis dan saling berpelukan. Arista ikut tergugu di pelukan ke dua putranya.

" Maafkan kami, Bu. Tak seharusnya menguping pembicaraan ayah dan ibu. Tapi kalau tadi kamu nggak dengar, kami juga nggak akan tahu kejadian yang sebenarnya." Dimas menyeka air matanya.

Dia beralih ke arah Hanif, mengelus pipinya dengan lembut.

" Tenang, dek. Kakak akan selalu menjaga dan melindungi mu, kami semua sayang Hanif."

Berbeda dengan Dityan, dia tampak murung. Arista mengusap kepala putra ke tiganya.

" Ada apa, nak. Apa kamu sakit."

Dityan menggelengkan kepalanya.

" Kata nenek Rahmi, dulu pas masih di kandungan , jenis kelamin aku cewek. Tapi pas aku lahir malah cowok. Apa aku juga nggak di inginkan sama ayah, Bu." tanya Dityan sambil menyembunyikan kepalanya di antara ke dua lututnya.

Arista mengangkat kepala Dityan , ada luka di sorot matanya. Arista kecewa , entah apa yang membuatnya kecewa, yang jelas dia merasa amat sangat kecewa.

"'Itu beda cerita, sayang. Dan cerita yang sebenarnya bukan seperti itu, nenek Rahmi hanya mengada ada." hibur Arista.

" Dit...jangan membuat ibu menyesal , dan jangan menambah beban ibu, jangan menambah kesedihan ibu juga, kita nggak tau apa yang ibu rasakan, Dit. Beban apa yang ada di hati ibu kita nggak tau."

" Mulai sekarang kita saling menguatkan. Aku rasa mas Dirga juga sudah tahu , aku bisa lihat perubahan sikapnya pada ayah." ujar Dimas.

Arista menggenggam ke dua tangan putranya.

" Jangan benci ayah kalian, ya. Mungkin ayah kalian sedang khilaf , mau bagaimana pun kalian harus tetap menghormatinya." Arista memberi nasihat bijak pada ke dua putranya.

" Ibu masih bisa bersikap baik pada ayah, padahal menurutku ayah sudah sangat keterlaluan." tak di sangka Dirga muncul dari balik pintu. Ternyata sejak tadi dia sudah mendengarkan pembicaraan ke dua saudaranya, dan ibunya.

Arista menggeleng.

" Ada kalanya manusia bertahan itu bukan karena nggak mampu dengan kemampuan dirinya sendiri. Tapi dia bertahan demi mempertahankan dan memperjuangkan haknya."

" Suatu saat nanti kalian akan tahu. Sekarang jangan pikirkan hal lain, yang penting kalian rajin ibadah, sekolah yang baik dan saling menjaga."

" Sebentar lagi Tante Anisa sampai, jangan sampai wajah sedih kalian terlihat olehnya. Kasihan Tante Anisa, nanti dia akan merasa bersalah."

Ke tiga putranya mengangguk , mereka bergegas cuci muka dan mengganti pakaiannya yang sedikit basah kena air mata.

" Assalamualaikum." benar saja tak berapa lama terdengar salam dari luar rumah.

" Waalaikumsalam." Arista berjalan ke arah pintu depan, Anisa sudah berdiri di sana. Di sampingnya Rafli tersenyum ramah.

" Lho...ini pak Rafli kan?." Dirga yang ikut menyambut Anisa tampak kaget, saat melihat Anisa dengan Rafli.

" Hai." Rafli mengedipkan matanya memberi kode.

Dirga langsung tanggap dan tersenyum kecil. Karena bingung dia hanya bisa garuk-garuk kepala yang tak gatal.

" Ini siapa, Nis." Arista memindai wajah Rafli.

" Saya Rafli, Bu." Rafli mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.

" Saya Arista. Ayo... silahkan masuk, duduk dulu, Hanif masih tidur, kamu juga dulu Nis, apa nggak capek."tanya Arista.

" Mas Pram udah di rumah kan, mbak. Kalau begitu saya langsung pulang aja." kata Anisa.

" Tante duduk aja, biar aku yang ambilin tas perlengkapannya Hanif. Tante pasti capek, kan." tanya Dityan. Anisa menatap bingung ke arah Arista. Tapi yang di tatap hanya mengangkat bahunya.

Arista berdecak.

Dirga memondong Hanif , di ikuti Dimas dan Dityan yang masing-masing membawakan satu tas. Anisa mengambil alih Hanif ke dalam gendongannya, sedangkan Dimas dan Dityan langsung menuju mobil untuk menaruh tas perlengkapan Hanif. Tak lama Dirga pun menyusul.

" Ini beneran pak Rafli kan?." tanya Dirga memastikan.

" Sstt...saya cuma sopir taksi online langganan Tante kalian." Rafli mengeraskan suaranya saat Anisa dan Arista menuju ke mobil.

Lagi-lagi Dirga garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.

" Senang berkenalan dengan kalian." kata Rafli sambil menepuk bahu tiga laki-laki muda di depannya.

Ketiganya tersenyum saling lirik dan saling sikut.

Dari balik kaca seseorang menyingkap hordeng sedikit. Menyaksikan interaksi di antara mereka, dahinya mengernyit.

( Laki-laki yang bersama Anisa tampak familiar. Tapi siapa, ya?)"

Arista melirik ke arah jendela kaca, dia tahu sejak tadi Pram mengintip di sana.

1
falea sezi
lama amat g sat set cpet donk buat cerai dua duanya adek kakk kok bego bgt mempertahankan benalu 😒
ElQue ElQue: Masih milih waktu yang tepat, mungkin
total 1 replies
falea sezi
cpet cerai anisa😒 laki mokondo g tau diri
ElQue ElQue: masih demen k 🤭
total 1 replies
falea sezi
goblok g sat set
ElQue ElQue: waduh..😍
total 1 replies
falea sezi
adek kakak sama sama di selingkuh in😒
ElQue ElQue: miris ya k 🥺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!