Guntur Hidayat dan Ali Hidayat awalnya bersekolah di SMA yang mayoritas dihuni anak orang kaya. Karena keterbatasan biaya, keduanya terpaksa putus sekolah. Mereka lalu membantu kakak tertua mereka, Faris Hidayat — sosok yang disegani, ahli memperbaiki dan memodifikasi motor, serta diam-diam pandai mengembangkan uang lewat saham terindeks. Bersama orang tua mereka, Bapak Wijaya Hidayat dan Simbok Arum Sari, ketiga bersaudara ini berjuang membangun masa depan lewat bengkel kecil mereka. Membuktikan: keberhasilan tidak harus selalu lewat bangku sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Jadwal Sekolah dan Rumah Dekat Sawah
Obrolan sore itu masih berlanjut hangat di teras rumah. Kopi di cangkir sudah tinggal sisa ampas, tapi rokok Gajah Baru Kertek masih ada yang menyala pelan di jari Faris. Dia masih duduk santai, tapi matanya menatap kedua adik kembarnya lekat-lekat, menjelaskan semuanya sampai detail supaya mereka paham dan nggak cemas nanti kalau sudah pindah.
Maya sama Miya duduk manis di hadapan Abangnya, telinga mereka menyimak baik-baik, penasaran banget gimana nanti keseharian mereka di tempat baru nanti.
"Nah, dengerin ya dik, Abang jelasin satu-satu biar jelas," kata Faris dengan suara tenang dan tegas, sesekali menghisap rokoknya pelan. "Nanti kalau kalian sudah masuk MI di Gedangan, pagi berangkatnya enak banget, nggak perlu buru-buru kayak anak sekolah lain. Di sana jam setengah sepuluh pagi itu sudah istirahat lho. Santai kan? Pas istirahat itu bukan cuma makan atau main doang ya, ada jadwal khusus hafalan surat-surat pendek juga. Jadi pelan-pelan hapalan kalian nanti nambah banyak, nanti lancar kalau sholat, paham kan?"
Kedua gadis kecil itu mengangguk antusias. "Wah enak banget jadwalnya Bang, nggak capek ya? Ada hapalan juga, bagus dong biar pinter ngaji," kata Miya senang.
"Iya dong, sekolah MI emang gitu enaknya. Seimbang antara belajar umum sama belajar agama. Terus lanjut lagi belajar sampai jam Zuhur pas. Begitu adzan Zuhur berkumandang, langsung kita sholat berjamaah bareng Bapak Ibu Guru sama teman-teman semua. Habis sholat Zuhur itu baru boleh pulang," jelas Faris lagi, suaranya makin lembut menenangkan.
Dia menunjuk ke arah jauh seolah menunjuk lokasi rumah baru mereka nanti. "Terus soal rumah... tenang aja dik, rumah kita nanti deket kok. Rumah kita itu deket sama sawah, jalannya lurus, tanahnya rata, udaranya sejuk dan bersih banget. Jarak dari sekolah ke rumah cuma jalan kaki sebentar doang, nggak sampai sepuluh menit sampai. Aman, enak, nggak perlu naik kendaraan, nggak perlu bayar ongkos, Abang atau Guntur sama Ali juga bisa jemput kalau hujan atau panas terik. Pokoknya aman dan nyaman banget tempatnya."
Maya sama Miya tersenyum lega banget. "Asyik! Deket berarti enak dong Bang, nanti kalau ada ketinggalan buku atau apa bisa balik lagi ambil. Deket sawah juga pasti indah banget pemandangannya, suka-suka kami lihat padi hijau," seru Maya ceria.
Faris tersenyum lebar, mengelus kepala kedua adiknya bergantian dengan penuh kasih sayang. "Nah gitu dong, pikiran positif terus. Pokoknya Abang janji, semuanya bakal enak, semuanya bakal nyaman buat kalian. Sekolah yang rajin ya dik, nurut sama guru, nanti Abang bangga banget punya adik pinter."
Di luar dia bicara santai, menjelaskan seolah rumah itu cuma rumah biasa dekat sawah. Tapi jauh di dalam hati Faris Hidayat, dia bicara keras dan tegas pada dirinya sendiri, menyimpan rahasia itu mati-matian supaya belum ada yang tahu.
"Deket sama rumah sawah... iya bener. Tapi itu bukan rumah sewaan, bukan numpang, bukan bayar orang lain. Itu rumah sendiri, tanah sendiri, punya kita semua. Abang beli tunai pakai keringat dan rezeki halal yang Allah kasih. Nanti pas kita sampai di sana, pas kalian lihat papan namanya, pas kalian jalan masuk halamannya, baru Abang kasih tahu kebenarannya. Biar kaget, biar senang, biar tahu kalau susah-susah dulu sudah lewat, sekarang kita punya segalanya sendiri."
Batinnya makin membara bahagia. Dia sengaja menyembunyikan itu semua. Dia mau keluarganya merasa biasa saja dulu, merasa cuma pindah tempat tinggal biasa, supaya nanti saat kebenaran terungkap, kebahagiaannya jadi berlipat ganda. Dia mau melihat wajah kaget dan bangga Bapak, air mata bahagia Ibu, dan sorot mata bangga adik-adiknya nanti.
Di samping mereka, Bapak Wijaya dan Ibu Arum Sari cuma menyimak sambil tersenyum. Mereka percaya penuh sama Faris, mereka pikir anak sulungnya itu cuma pandai cari tempat sewaan yang murah dan strategis. Mereka sama sekali nggak menyangka, di balik diamnya Faris, sudah tersimpan aset besar yang bakal mengubah nasib keluarga selamanya.
Guntur sama Ali juga cuma ikut senang, mereka juga belum tahu rincian sebenarnya, cuma nurut saja apa kata Abangnya.
Sore itu ditutup dengan rasa damai dan penuh harapan. Jadwal sekolah sudah jelas, lokasi rumah sudah dijelaskan, dan rahasia terbesar masih aman tersimpan di hati Faris. Nanti di Gedangan, di rumah dekat sawah itu, sebuah kejutan besar sedang menanti mereka semua. Dan Faris Hidayat sudah siap, dia sudah pegang kuncinya, dia sudah pegang masa depan keluarganya, dengan kepala tegak dan hati yang penuh rasa syukur.