Siapa sangka, niat Amira cuma mau bantu temannya nganter kopi ke ruang CEO malah jadi awal dari malam paling gila dalam hidupnya.
Amira Shalwanissa. Karyawan biasa yang terjebak lembur di kantor karena menggantikan temannya yang sakit.
Zian Ardana. CEO muda, anak pemilik perusahaan, terkenal kejam dan nggak punya hati buat karyawannya.
Malam itu, ruang kerja CEO yang biasanya sepi berubah jadi tempat paling berbahaya.
Zian jatuh pingsan. Amira panik dan menolong. Tapi demam tinggi membuat Zian kehilangan kendali.
“Lepaskan saya, bapak mau apa!”
“Shutt, apa kamu nggak bisa diam... kepalaku sakit.”
Amira melawan. Dia menendang, berlari, bersembunyi di bawah meja. Tapi bayangan Zian terus mengejarnya, dengan tawa rendah yang bikin bulu kuduk merinding.
Malam itu menjadi saksi bisu awal dari segala malapetaka dalam hidupnya.
Apakah Amira bisa lolos? Atau dia benar-benar akan jadi... simpanan CEO muda itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
"Amira benar, Rian. Pekerjaannya sedang menumpuk," ucap Zian tenang, melangkah maju lalu merangkul pundak adiknya dengan akrab untuk mengalihkan fokus.
"Lagipula, berdua denganku sudah cukup dan aku ada beberapa hal internal keluarga yang harus kita bicarakan tanpa orang luar."
Zian sengaja menekankan kata 'orang luar' untuk menegaskan batasan di depan Rian, sekaligus sebagai pengingat pahit bagi diri mereka sendiri tentang status Amira yang sebenarnya dalam hidup Zian.Rian menghela napas panjang, akhirnya mengalah walau dengan wajah yang sedikit ditekuk.
"Ya sudah deh kalau gitu. Tapi lain kali kamu harus mau ya, Mir? Aku nggak terima penolakan lagi."
"Iya, Pak Rian. Terima kasih atas ajakannya," jawab Amira formal, menundukkan kepalanya sedikit.
"Ayo, Rian. Keburu restoran langgananmu penuh," ajak Zian, mulai menuntun adiknya keluar dari ruangan melalui pintu utama.
Sebelum benar-benar melewati ambang pintu. Matanya menangkap sosok Amira yang kembali berdiri rapuh di dekat meja kerjanya. Seragam Office girl yang melekat di tubuh wanita itu tampak begitu kontras dengan kemegahan ruang eksekutif ini, sekaligus kontras dengan cincin berlian mahal yang kini tersembunyi di dalam saku blusnya. Ada kilatan rasa bersalah, kecemasan, dan naluri protektif yang tertangkap di mata Zian, namun dia harus segera memutuskan kontak mata itu sebelum Rian menyadarinya.
__________
Waktu berlalu begitu lambat bagi Amira. Jam dinding di area pantry lantai eksekutif sudah menunjukkan pukul lima sore. Suasana kantor perlahan mulai sepi karena sebagian karyawan sudah bersiap untuk pulang. Amira baru saja selesai mencuci beberapa cangkir kopi terakhir ketika sebuah langkah kaki yang tegas terdengar mendekat ke arah pantry.
Amira refleks menoleh dan mendapati Zian sudah berdiri di ambang pintu. Pria itu sudah melepas jas formalnya, hanya menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Wajahnya tampak luar biasa lelah, namun sorot matanya langsung mengunci Amira dengan intensitas yang sama seperti tadi siang.
"Rian sudah pulang ke rumah. Supir yang mengantarnya," ucap Zian langsung, menjawab pertanyaan yang belum sempat lolos dari bibir Amira.Amira menundukkan kepalanya, beralih mengeringkan tangannya dengan kain lap.
"Baik, Pak Zian. Kalau begitu, saya juga bersiap untuk merapikan alat kebersihan dan pulang."
"Di mobil menuju restoran tadi, Rian menceritakan semuanya.Dia berniat meminta bantuan saya untuk mempersiapkan acara lamaran untukmu bulan depan."
Amira tersentak, mendongak menatap Zian dengan mata yang kembali berkaca-kaca. "Lalu... apa yang pak zian katakan?"
"Saya menyuruhnya untuk menunggu sampai kondisinya benar-benar pulih,"
"Tapi..." Zian terdiam sejenak. Dia menatap lekat wajah pucat istrinya, sebelum akhirnya perlahan meraih tangan kanan Amira dan menggenggamnya erat.
"Saya tahu ini egois," bisik Zian lagi, suaranya terdengar kian serak dan berat.
"Pernikahan kita memang berawal dari kekacauan yang dibuat Armeta. Saya menikahi kamu murni karena tanggung jawab atas kesalahan saya. Tapi, Amira..." Zian mempererat genggaman tangannya pada jemari Amira.
"Melihat kamu menangis di mall kemarin karena dihina,m, dan mendengar cerita Evan tentang masa lalumu... dada saya rasanya sesak luar biasa. Dan puncaknya hari ini, saat Rian bilang dia ingin melamarmu, saya sadar saya tidak rela. Ada perasaan lain yang sudah tumbuh di sini, Amira. Saya menginginkan kamu bukan lagi karena terpaksa, tapi karena saya benar-benar tidak bisa kehilangan kamu."
Pengakuan jujur yang keluar langsung dari mulut pria sekaku Zian bagai hantaman ombak besar yang meruntuhkan pertahanan Amira. Jantung Amira berdegup sangat kencang, bertalu-talu hingga rasanya menyakitkan. Perasaan yang selama ini ia sangkal mati-matian, getaran aneh yang selalu muncul setiap kali Zian memperlakukannya dengan lembut, ternyata berbalas.
Namun, sedetik kemudian Amira menepis perasaan nya. Dia menarik tangannya dan berkata.
"Cukup, Pak Zian. Tolong hentikan," kata Amira.
keven sekelas asisten buru di perkampungan yg ga tau kecangian, ceo ga bisa tau kelakuan mis yg sering menghukum amira, di kernakan amira bukan barang berharga buat zean karna itu don't care