NovelToon NovelToon
Married To Captain Ren

Married To Captain Ren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Taraline

Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.

Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Waktu seolah membeku di ruang IGD yang bising, namun tangan Cia tidak berhenti bergerak sedikit pun.

Tatapan Ren yang terpaku padanya dari ambang batas area resusitasi terasa menembus kulit punggungnya, namun Cia memaksa otaknya untuk mengunci rapat kehadiran pria itu. Pikirannya saat ini murni milik sang pasien—prajurit muda yang wajahnya sudah sepucat kertas akibat kehilangan terlalu banyak darah.

"Tekanan darah drop! 70/40, nadi tak teraba kuat!" seru perawat yang memantau monitor. Suara beep beritme cepat dan melengking memenuhi ruangan, tanda peringatan kritis.

"Persiapkan intubasi! Cia, tahan terus tekanannya, jangan sampai lepas sebelum kita masuk ruang OK (Kamar Operasi)!" perintah dokter bedah residen, dr. Rania, yang kini sudah mengambil alih posisi utama.

"Siap, Dok!" balas Cia lantang. Ia mengerahkan seluruh sisa tenaga di lengannya untuk menekan kassa tebal di area paha prajurit itu. Peluh dingin membasahi dahinya, beberapa helai rambut menempel di pelipis. Jas putih yang ia kenakan kini ternoda bercak merah gelap, namun Cia tidak peduli.

Brankar kembali didorong dengan kecepatan penuh menyusuri lorong menuju lift khusus Kamar Operasi. Cia ikut berlari di sisi brankar, kedua tangannya masih menekan luka.

Saat melewati pintu kaca otomatis, Cia melintas tepat di depan Ren. Jarak mereka tak lebih dari setengah meter. Untuk sepersekian detik, pandangan mereka kembali bertemu. Cia tidak melihat sorot dingin dan angkuh yang biasa Ren tunjukkan. Yang ada di mata elang itu adalah kepanikan yang ditahan kuat-kuat, serta... sebuah rasa percaya yang asing.

Ren mundur selangkah, memberi jalan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia membiarkan istrinya membawa nyawa prajuritnya pergi dari pandangannya.

Tiga jam yang terasa seperti tiga abad berlalu.

Ren duduk dengan punggung bersandar kaku di kursi tunggu luar ruang operasi. Matanya terpejam, rahangnya mengeras. Di sebelahnya, Lettu Maya berdiri bersedekap, terus-menerus mengetukkan ujung sepatunya ke lantai keramik rumah sakit dengan gelisah.

"Prada Yuda itu prajurit terbaik di kompi kita, Kapten. Jika dia sampai kehilangan kakinya, masa depannya di militer hancur," gumam Maya, suaranya sedikit bergetar oleh frustrasi. "Kenapa rumah sakit ini lamban sekali? Seharusnya mereka mendahulukan penanganan prajurit yang terluka saat latihan."

Ren membuka matanya, menatap lurus ke pintu ganda ruang operasi yang lampu indikator merahnya masih menyala terang. "Mereka sudah melakukan yang terbaik, Maya. Kita hanya bisa menunggu."

"Tapi yang menangani Yuda tadi cuma dokter muda, kan? Istri Kapten?" Maya menoleh, menatap Ren dengan alis bertaut. "Apa dia benar-benar kompeten? Menangani trauma sebesar itu bukan hal yang bisa dilakukan oleh koas yang baru belajar."

Ketukan jari Ren di sandaran kursi terhenti. Pria itu menoleh perlahan ke arah Maya. Tatapannya mendadak berubah sangat dingin, setajam pisau belati.

"Di gerbang asrama, dia mungkin istri saya," desis Ren rendah, penuh penekanan di setiap suku katanya. "Tapi di balik pintu operasi itu, dia adalah dokter yang sedang berjuang menyelamatkan nyawa anggota kita. Jaga bicaramu, Maya."

Maya tertegun. Mulutnya sedikit terbuka, namun tak ada suara yang keluar. Selama bertahun-tahun ia mengenal Ren, pria itu tidak pernah menggunakan nada defensif untuk membela siapa pun, apalagi seorang warga sipil. Maya menelan ludah paksa, menundukkan pandangannya. "S-siap, Kapten. Maafkan saya."

Tak lama kemudian, lampu merah di atas pintu padam, berganti menjadi hijau.

Pintu ganda terbuka perlahan. Rania keluar lebih dulu, disusul oleh Cia di belakangnya. Keduanya mengenakan scrub operasi berwarna hijau tua, masker masih terkalung di leher, dan penutup kepala medis yang membuat wajah lelah mereka terlihat jelas.

Ren seketika berdiri. Langkah tegapnya membawa pria itu mendekat dalam hitungan detik. Maya mengekor di belakangnya.

"Bagaimana anggota saya, Dokter?" tanya Ren langsung, membagi pandangannya antara Rania dan Cia.

Rania menghela napas lega dan mengangguk pelan. "Operasinya berjalan lancar, Kapten. Besinya berhasil diangkat tanpa merobek arteri utama lebih jauh. Kami sudah menjahit pembuluh darah yang pecah dan menstabilkan kondisinya. Pendarahan sudah berhenti. Ia akan dipindahkan ke ICU untuk observasi 24 jam, tapi... masa kritisnya sudah lewat. Kaki Prada Yuda berhasil diselamatkan."

Bahu Ren yang sejak tadi menegang hebat, akhirnya merosot sedikit. Sebuah helaan napas panjang yang sarat akan rasa lega keluar dari bibirnya. "Alhamdulillah."

"Langkah pertolongan pertama di lapangan dan kecepatan penekanan luka saat di IGD tadi yang paling krusial," tambah Rania sambil melirik Cia dengan senyum bangga. "Tekanan yang diberikan dr. Cia sangat tepat. Telat lima menit saja, ceritanya mungkin akan berbeda."

Ren perlahan mengalihkan pandangannya pada gadis yang berdiri di sebelah Rania.

Cia tampak kelelahan. Wajahnya pucat, ada bekas garis masker yang tercetak merah di pipinya. Lengannya yang kurus tampak sedikit gemetar—efek samping dari memacu adrenalin terlalu tinggi selama berjam-jam. Namun, saat mata Cia membalas tatapan Ren, ada kepuasan dan kelegaan luar biasa yang memancar dari sana.

Tiba-tiba, Cia tersenyum. Bukan senyum sinis atau senyum canggung yang biasa ia tunjukkan pada suaminya, melainkan senyum tulus yang begitu hangat hingga rasanya mampu mencairkan salju di puncak Everest.

"Aku udah bilang kan, aku ini calon dokter yang hebat," bisik Cia pelan, suaranya parau. Kepalanya tiba-tiba terasa sangat ringan, dan pandangannya mulai berkunang-kunang.

Bruk.

Sebelum Cia menyadari apa yang terjadi, lututnya kehilangan daya tumpang. Namun, tubuhnya tak pernah menyentuh lantai dingin rumah sakit.

Kedua lengan Ren yang kuat menyambarnya dengan gerakan secepat kilat. Pria itu menarik pinggang Cia, menahan tubuh gadis itu agar bersandar penuh di dada bidangnya. Aroma keringat Cia yang bercampur dengan bau obat-obatan sama sekali tidak mengganggu Ren. Sebaliknya, pria itu mengeratkan dekapannya, melingkarkan satu lengannya di bahu Cia dengan protektif.

"Cia!" pekik Rania panik.

"Dia hanya kelelahan dan belum makan sejak pagi," ucap Ren tenang, meski rahangnya kembali mengeras melihat wajah pucat istrinya. Ia membungkuk sedikit, berniat menggendong Cia, namun gadis itu meronta lemah.

"N-nggak usah digendong. Nanti dilihat perawat lain, aku malu," gumam Cia sambil memegang erat kemeja lengan Ren, berusaha berdiri tegak meski kakinya masih gemetar. "Aku cuma butuh duduk dan... mungkin teh manis."

Ren menatapnya tajam, namun akhirnya mengalah. Ia memapah Cia perlahan menuju kursi panjang di dekat lorong, sama sekali mengabaikan keberadaan Maya yang berdiri mematung menyaksikan pemandangan asing di depannya itu. Kapten Ren yang tak pernah tersentuh, kini memapah seorang gadis dengan kelembutan yang nyaris tak masuk akal.

"Dokter Rania, saya izin membawa istri saya pulang. Waktu tugasnya sudah habis, kan?" izin Ren setelah mendudukkan Cia.

"Silakan, Kapten. Cia memang berhak istirahat," jawab Rania maklum. "Terima kasih untuk kerja kerasmu hari ini, Ci."

Setelah Rania berlalu untuk mengurus administrasi pasien, Ren berjongkok di depan Cia. Matanya menatap wajah gadis itu lamat-lamat. Tangan kanannya terangkat, ibu jarinya dengan hati-hati mengusap bercak darah kering yang tak sengaja menempel di dahi Cia.

"Prajurit yang kamu selamatkan tadi adalah tulang punggung keluarganya. Ia punya ibu yang sakit-sakitan di kampung," suara Ren terdengar sangat rendah dan berat, bergetar di telinga Cia. Mata pria itu tidak lepas dari manik mata istrinya. "Terima kasih... Dokter Almeera."

Jantung Cia berdegup kencang, kali ini bukan karena kepanikan di ruang operasi. Panggilan 'Dokter Almeera' yang keluar dari bibir Ren, bercampur dengan tatapan penuh rasa hormat dari sang Kapten, menghantam pertahanan Cia dengan telak.

Untuk pertama kalinya, Cia merasa keberadaannya diakui secara utuh oleh pria ini. Bukan sekadar sebagai istri dari perjodohan keluarga, bukan sekadar pelengkap di asrama, melainkan sebagai seorang individu. Sebagai dirinya sendiri.

Perjalanan pulang ke rumah dinas berlangsung dalam keheningan yang nyaman. Lampu-lampu jalanan kota besar berpendar menerobos kaca mobil Jeep Ren. Hujan gerimis mulai turun, menciptakan suara ritmis di atap mobil.

Cia duduk di kursi penumpang dengan kepala bersandar di kaca jendela. Matanya berat, namun pikirannya sangat jernih.

"Mas Ren," panggil Cia memecah kesunyian.

Ren tidak menoleh, tangannya tetap stabil di atas kemudi. "Ya."

"Tadi pagi, di acara Persit... Ibu Rima pasti marah besar karena aku pergi di tengah acara," ucap Cia pelan, ada sedikit nada cemas yang tak bisa ia tutupi. "Apa itu akan memengaruhi penilaian komandanmu terhadap kinerjamu?"

Ren memutar kemudi, berbelok memasuki jalan menuju pangkalan militer. "Mungkin. Dalam hierarki militer, teguran dari atasan adalah hal biasa jika dianggap ada aturan yang dilanggar."

Cia menggigit bibir bawahnya, merasa bersalah. "Maaf. Aku bener-bener nggak bisa nunda pasien IGD tadi pagi. Kalau gara-gara aku karirmu terhambat..."

"Cia," potong Ren. Pria itu menghentikan mobilnya di lampu merah terakhir sebelum gerbang pangkalan. Ia menoleh, menatap istrinya dalam keremangan cahaya kabin mobil. "Hari ini, kamu telah membuktikan bahwa seragam putih yang kamu pakai sama berharganya dengan seragam loreng yang saya kenakan."

Cia membalas tatapan itu, tak mampu berkata-kata.

"Biarkan urusan teguran dan atasan menjadi tanggung jawab saya. Tugasmu adalah menjadi dokter yang baik, dan istri yang tidak menyerah pada tekanan asrama," lanjut Ren. Ujung bibirnya melengkung sangat tipis, sebuah senyum yang khusus ia sediakan hanya untuk gadis itu. "Kamu mengerti?"

Cia mengangguk pelan. Sebuah rasa hangat menyelimuti dadanya, mengusir rasa dingin dari AC mobil dan kelelahan fisiknya. "Mengerti, Kapten."

Keesokan paginya, matahari bersinar cerah seolah badai emosi kemarin tidak pernah terjadi. Cia sudah berada di rumah sakit sejak pukul setengah tujuh pagi, berniat menyelesaikan visite pasiennya lebih awal agar bisa pulang dan memasak makan siang untuk Ren (sebuah janji yang nekat ia buat semalam).

Ia sedang berjalan menyusuri lorong paviliun bedah sambil memegang beberapa map rekam medis sambil mengunyah roti tawar, ketika sebuah suara yang sangat familier memanggil namanya dari arah berlawanan.

"Almeera?"

Langkah Cia terhenti mendadak. Hanya ada dua orang di dunia ini yang memanggilnya dengan nama tengahnya: Ayahnya, dan... pria itu.

Cia menoleh perlahan dengan perasaan campur aduk.

Di ujung lorong, berdiri seorang pria tinggi berpakaian rapi dengan jas dokter bersih dan stetoskop melingkar di leher. Rambutnya disisir undercut, wajahnya tampan dengan raut hangat yang sangat mudah disukai siapa saja. Pria itu tersenyum lebar, mata kecokelatannya memancarkan keterkejutan yang menyenangkan.

Dada Cia serasa dihantam godam tak kasat mata. Roti tawarnya nyaris jatuh dari tangannya.

"Davin?" bisik Cia tak percaya.

Mantan kekasihnya. Pria yang meninggalkannya tahun lalu demi mengambil beasiswa spesialis bedah di luar kota tanpa kejelasan, kini berdiri tepat di hadapannya.

Davin melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka dengan langkah percaya diri. "Benar, ini kamu, Almeera. Aku nggak nyangka kita bakal ketemu secepat ini. Aku baru saja pindah rotasi residensi ke rumah sakit ini hari ini."

Davin menatap Cia lekat-lekat, senyum manisnya yang dulu selalu berhasil membuat Cia luluh, kini kembali terukir. "Kamu... terlihat semakin cantik. Bagaimana kabarmu?"

Cia terpaku. Tembok masa lalunya yang susah payah ia kubur mendadak retak, tepat di saat ia baru saja mulai menemukan ritme baru dalam hidupnya yang sekarang. Dan firasat buruknya mengatakan, kedatangan pria ini tidak akan membawa apa-apa selain badai baru dalam rumah tangganya yang masih seumur jagung.

1
NonaAns
Wakakak ngebanyangin ekspresinya 🤣
sri wahyuni
smngat thor
sri wahyuni
/Scowl//Scowl//Scowl/
sri wahyuni
lanjut thor
sri wahyuni
😍😍😍
sri wahyuni
smngat thor
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!