Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
Benedict menatap Zara datar. “Iya”
Jawaban singkat itu membuat Zara menelan ludah.
“Aku…. aku takut,” ucap Zara akhirnya.
“Tidak perlu takut,” jawab Benedict. “Aku ada di kamar sebelah. Dan rumah ini dijaga ketat.”
“Baiklah,” jawab Zara lirih, pasrah.
Tepat saat benedict hendak berbalik untuk meninggalkan Zara agar bisa beristirahat, suara langkah kaki yang tergesa-gesa menggema dari ujung koridor.
Luca muncul dari ambang pintu dengan napas yang sedikit memburu.
“Tuan, anda harus segera ke kantor sekarang juga. Seseorang meretas sistem keamanan Equinox,” ucap Luca.
Mendengar itu mata Benedict menggelap. Tanpa sepatah kata pun, ia memberikan anggukan pada Luca. Ia menoleh sekilas pada Zara sebelum akhirnya berbalik dan melangkah meninggalkan kamar.
Zara kembali sendirian. Ia menghembuskan napas berat, mencoba menenangkan detak jantungnya.
Tidak lama setelah itu, pintu kamarnya diketuk dari luar. Sosok Anna melangkah masuk dengan kepala tertunduk hormat.
“Nona,” sapa Anna dengan lembut. “Tuan memerintahkan saya untuk menyerahkan ini kepada anda,”
Anna mengulurkan sebuah ponsel berwarna perak.
“Ponsel ini dikhususkan untuk Nona, dan di dalamnya hanya ada satu nomor yang dapat Nona hubungi. Nomor pribadi Tuan Benedict,” lanjut Anna.
Zara mengambil ponsel itu dari tangan Anna. Ia membuka menu kontak, dan benar saja hanya ada satu nama yang tertera disana. Benedict.
Baru sekarang Zara mengingatnya. Selama masa pernikahan mereka, ia memang tidak pernah memiliki nomor ponsel pria itu.
Mereka hidup di bawah atap yang sama, terikat dalam status pernikahan, namun Benedict selalu menjadi sosok asing baginya.
“Terima kasih, Anna,” ucap Zara lirih.
Anna membungkuk hormat, bersiap untuk membalikkan badan dan meninggalkan kamar. Namun Zara menahannya.
“Anna, tunggu,” panggil Zara, membuat langkah Anna terhenti.
Anna berbalik dengan gerakan anggun, melipat kedua tangan di depan tubuh.
“Ya, Nona? ada yang bisa saya bantu lagi?”
“Sudah berapa lama kau bekerja untuk Benedict?”
“Sekitar sembilan tahun, Nona” jawab Anna.
Sembilan tahun.
“Sembilan tahun….” Zara mengulang kalimat itu dengab bisikan yang nyaris tak terdengar. “Oh…. berarti kau mulai bekerja disini tepat setelah kecelakaan itu.”
“Maaf, Nona?” tanya Anna, sedikit memiringkan kepalanya karena tidak mendengar jelas gumaman lirih Zara.
Zara tersentak, tersadar dari lamunannya. Ia mendongak, menatap Anna yang masih setia menunggu dengan ekspresi tenangnya.
“Ah, yaa.”
“Terima kasih, Anna. Kau boleh keluar,” ucap Zara.
Anna tersenyum dan membungkuk hormat sekali lagi. “Sama-sama, Nona. Jika nona membutuhkan sesuatu yang lain, Nona bisa menekan tombol panggil di dekat ranjang.”
Zara hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Kamar itu kembali diselimuti keheningan. Zara menghembuskan napas panjang, menatap kembali layar ponsel di genggamannya yang kini menggelap.
“Harusnya saat di Italia aku bertanya lebih banyak kepada Sofia tentang Benedict dan orang tuaku,” batin Zara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di lantai teratas gedung Equinox.
Benedict berdiri tegap di tengah ruangan dengan kedua tangan yang bertumpu diatas meja kaca. Mantel hitamnya sudah tersampir di kursi, menyisakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga ke siku, mengekspos urat-urat tangannya yang menegang hebat.
“Laporkan,” titah Benedict. Suaranya yang sarat akan ancaman membuat seluruh tim IT itu menahan napas.
Luca melangkah maju. “Peretas itu menggunakan metode Advanced Persistenst Threat yang sangat rapi, Tuan. Target utamanya sistem alokasi portofolio otomatis Equinox. Mereka mencoba menyabotase algoritma investasi kita.”
Sebagai perusahaan venture capital raksasa yang mengelola dana investasi bernilai miliaran dolar dari para konglomerat dunia, peretasan ini sama saja dengan menembak jantung Benedict.
“Dampaknya?” desak Benedict, rahangnya mengeras hingga menciptakan lekukan yang begitu tajam.
“Sistem sempat mengalami freeze selama dua puluh menit sebelum tim kami berhasil menanganinya,” jawab Luca, keringat dingin mulai membasahinya.
“Dalam waktu sesingkat itu, pelaku berhasil memanipulasi data arus kas dan mengalihkan beberapa dana investasi spekulatif Equinox di sektor teknologi ke akun-akun cangkang di luar negeri. Akibatnya, nilai saham Equinox di pasar turun 4 persen, Tuan,” lanjut Luca.
Angka yang sangat besar. Empat persen setara dengan puluhan juta dolar. Namun lebih dari itu, dampak paling fatal adalah goyahnya kepercayaan para investor pada sistem keamanan Equinox.
“Siapa?,” tanya Benedict singkat.
Luca menjeda sesaat, menatap tablet ditangannya sebelum mendongak menatap Benedict.
“Sandi enkripsi yang ditinggalkan di dalam sistem punya tanda yang sama dengab jaringan cyber yang sering digunakan keluarga Alfonso. Kemungkinan besar dalang nya adalah Barron Alfonso, Tuan.”
“Jadi tua bangka itu benar-benar ingin bermain denganku,” ucap Benedict rendah disertai senyuman miring.
Benedict menegakkan tubuhnya, menatap lurus ke arah layar monitor yang mulai kembali stabil di bawah kendali timnya.
“Luca, suntikkan dana darurat untuk memulihkan pasar dalam tiga puluh menit. Dan untuk Alfonso…..” Benedict menjeda kalimatnya.
“Hancurkan seluruh aset komersial mereka di bursa saham besok pagi. Jangan sisakan satu sen pun untuk tua bangka itu.”
Setelah memberikan titah itu, Benedict keluar dari ruangan. Aura dingin yang menguar dari tubuhnya membuat para staf buru-buru menundukkan kepalanya, memberikan jalan baginya yang sedang diselimuti amarah.
Benedict berjalan menyusuri koridor yang sepi menuju ruang kerja pribadinya. Langkah kakinya beradu dengan keheningan malam. Pikirannya masih dipenuhi dengan rencana untuk meruntuhkan seluruh lini bisnis keluarga Alfonso hingga ke akar-akarnya besok pagi.
Ting.
Langkah Benedict mendadak terhenti, ia merasakan getaran pendek dari ponsel di saku celananya. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan benda pipih tersebut, dan menegakkan layarnya. Sebuah notifikasi pesan singkat muncul disana.
“Apakah urusanmu masih lama? kapan kau akan pulang?”
Benedict terpaku menatap baris kalimat pendek itu. Rasanya sudah lama sekali pertanyaan ‘kapan pulang’ ia dengar. Gelombang amarah yang sejak tadi mendominasi kepalanya mendadak luntur begitu saja, digantikan oleh rasa asing yang aneh namun menghangatkan dada. Seseorang sedang menunggunya pulang.
Sebuah senyuman tipis, begitu tipis hingga nyaris tak terlihat, perlahan terukir di sudut bibir Benedict. Ia menuliskan balasan untuk Zara.
“Urusanku sudah selesai. Aku akan segera pulang. Istirahatlah.”
Setelah mengirim pesan tersebut, ia memasukkan kembali ponselnya. Benedict langsung berbalik arah, membatalkan niatnya untuk masuk ke ruang kerjanya, dan melangkah menuju lift eksekutif yanh membawanya langsung turun ke lobi utama.
Ting.
Pintu lift terbuka. Benedict melangkah keluar, mantel hitamnya kembali tersampir gagah di pundak tegapnya. Namun, langkah pria itu mendadak melambat saat matanya menangkap keributan kecil di dekat pintu kaca lobi. Tiga orang penjaga menghalangi perempuan yang bersikeras menerobos masuk.
Benedict berhenti. Ia mengenali garis wajah dan siluet tubuh perempuan itu. Sebuah kilasan masa lalu yang telah lama ia kubur dalam-dalam mendadak mencuat ke permukaan, menghantam kesadaran benedict hingga membuat rahangnya mengeras seketika.
Perempuan itu, yang sedang berdebat dengan para penjaga, refleks menoleh ke arah denting lift. Begitu sepasang matanya menangkan sosok benedict yang berdiri kaku di tengah lobi, tangisnya pecah saat itu juga.
“Benedict!” pekiknya.
Memanfaatkan keterkejutan para penjaga yang sempat melirik ke arah benedict, perempuan itu dengan gesit meloloskan diri. Ia berlari, mengikis jarak di antara mereka sebelum benedict sempat mengeluarkan satu patah kata pun.
Grep.
Tubuh perempuan itu menubruk dada bidang benedidt dengan erat, melingkarkan kedua lengannya di leher benedict.