NovelToon NovelToon
Satu Malam Berujung Drama

Satu Malam Berujung Drama

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / One Night Stand / Hamil di luar nikah / Tamat
Popularitas:13.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mom AL

Vania Adinata, tanpa sengaja melewatkan malam panasnya dengan seorang CEO terkenal. Putus cinta membuatnya frustasi hingga dia mabuk dan melakukan one night stand tanpa sengaja.

Dikucilkan karena hamil, hingga dijodohkan dengan pria tua. Namun, nasib baik masih berpihak padanya, dia kabur dan tanpa di duga bisa bertemu dengan Ayah biologis bayi yang ada dalam kandungannya.

Bagaimana kisah selanjutnya? Siapa kira kira CEO terkenal dan nomor satu itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB. 35 TAMAT

Peluru menembus lengan Annie. Gadis itu merintih, tersungkur di lantai. Pandangan mereka terpaku pada tubuh atletis yang berdiri gak jauh dari Vania.

"G—gio," ucap mereka bersamaan.

Gio berjalan cepat, melepas tali yang mengikat tubuh istrinya. Dia menendang kursi dan menatap Lidia dengan tajam. "Begini caramu mendidik dia? Aku sudah peringatkan agar kalian tidak menyentuh orang-orang yang ku sayangi! Aku sudah kehilangan orangtuaku, kalau sampai terjadi apa-apa pada Vania dan Axel, kalian pasti akan menanggung akibatnya."

"Aku melakukan ini karena aku mencintaimu!"

"Aku tidak butuh cintamu!" teriak Gio marah, dia menggendong Vania ala bridal style, sementara Axel, di gendong oleh salah satu bodyguard.

"Urus mereka! Aku tidak ingin melihat wajah mereka lagi." Perintahnya pada Julham.

"Siap!" Julham meminta pada bodyguard agar membawa Lidia dan Annie.

"Gio! Lepaskan kami! Beri kami kesempatan," teriak Lidia memohon tetapi tidak digubris oleh Gio.

Setelah berada di mobil, Gio meletakkan tubuh Vania dengan sangat hati-hati. Dia mengusap wajah sang istri yang nampak ketakutan.

"Kamu gak pa-pa? Mana yang sakit?"

Vania terbatuk, matanya satu menatap Gio. "A—aku," belum selesai bicara, tiba-tiba Vania merasakan sakit yang mendalam di bagian perutnya.

"Gio, perutku sakit." rintihnya.

"Kamu mau melahirkan? Tapi ini baru delapan bulan."

"Aku gak tau, cepat kerumah sakit." Desisnya, tetapi Vania tetap tenang. Dia takut Gio ikut panik jika dirinya menangis.

Gio meminta Julham agar menancap gas.

"Ke RS Mitra Sejahtera! Sekarang!" bentak Gio ke Julham yang fokus menyetir.

Di kursi belakang, Gio megang tangan Vania erat-erat. Ibu jarinya mengusap punggung tangan istrinya terus-terusan.

"Van, liat aku. Tarik napas... Buang... Iya, gitu, Sayang," suaranya rendah, tapi gemetar. Topeng Gio yang dingin, keras, kejam ke musuh... Luluh semua di depan Vania.

Vania mencengkeram baju Gio. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. "A-Axel... Axel aman kan?"

"Axel aman. Dia di mobil depan sama Paman Yogi. Dia kuat, nurun Mamanya," bisik Gio, keningnya nempel ke kening Vania. "Sekarang giliran kamu yang kuat buat aku, ya? Jangan tidur. Sayang, jangan merem."

Vania mengangguk pelan. Air matanya jatuh bukan karena sakit, tapi karena takut. "Maaf... gara-gara aku..."

"Sst, gak ada yang salah sama kamu," potong Gio cepat, matanya merah. "Yang salah itu aku. Aku yang lengah. Aku janji, setelah ini gak akan ada yang bisa nyentuh kalian lagi."

Tiba-tiba kontraksi muncul lagi. Vania menggigit bibirnya sampai putih. "Gio... sakit..."

"Udah deket, Sayang. Tahan ya," Gio melirik ke depan. "Berapa menit lagi?"

"2 menit lagi, Bos!"

Pas mobil berhenti di IGD, tim medis pun sudah menunggu dilengkapi brankar pasien. Gio ikut lari mendorong brankar dan terus memegang tangan Vania.

"Nama pasien Vania Abraham. Hamil 8 bulan, kontraksi, kemungkinan persalinan prematur," teriak perawat.

Di pintu ruang bersalin, suster hendak menutup pintu, tetapi Gio menahannya. "Aku ikut."

"Pak, ini ruang steril—"

"Aku suaminya. Dan kalau ada apa-apa dengan istriku, rumah sakit ini pasti akan ditutup!" Tatapan Gio membuat suster itu mundur.

Di dalam, Vania sudah dipasang selang oksigen. Dia melihat ke Gio, senyumnya pucat. "Gio... kalau..."

"Gak ada kalau-kalau," Gio menggenggam tangan Vania, mengecup kening sang istri berkali-kali. "Kita berjuang bersama. Kamu, aku, sama calon anak kita. Oke?"

Dokter mulai memeriksa. "Tuan tenangin Nyonya dulu. Tarik napas ya, Nyonya. Kita bantu sekarang."

Dari luar, kedengeran suara Axel kecil memanggil, "Mama... Papa..." digendong Julham.

Gio ngelirik ke arah pintu, terus balik lagi ke Vania. "Denger kan? Axel nungguin. Jadi kamu harus keluar dari sini bawa adiknya. Semangat, Istriku."

Vania ketawa kecil di sela sakitnya, terus ngangguk.

---

Setelah proses yang mereka lalui selama tiga puluh menit, akhirnya Vania berhasil melahirkan seorang anak perempuan yang sangat cantik, diberi nama Evelyn Abraham.

Tangis bayi yang nyaring pecah di ruang bersalin pukul 02.17 pagi.

"Selamat ya Tuan, Nyonya. Bayinya perempuan, berat 2,4 kg. Sehat," kata dokter sambil menyerahkan bayi mungil yang dibalut bedong pink ke pelukan Gio.

Gio yang dari tadi keringat dingin, mukanya langsung sumringah. Tangan segede itu megang bayi sekecil ini, gemetar banget. "I-ini... anakku?"

Vania yang masih lemas di ranjang langsung nangis pas melihat bayinya. "Sini... Aku mau gendong..."

Gio buru-buru duduk di pinggir ranjang, hati-hati sekali meletakkan Evelyn di dada Vania. Bayi itu punya alis tebal seperti Gio, tapi bibirnya pink kecil mirip Vania. Matanya tertutup, tapi bulu matanya begitu lentik.

"Sayang... Kita punya anak perempuan," bisik Vania, jarinya mengusap pipi Evelyn yang masih merah. "Cantik banget ya?"

Gio kecup kening Vania, terus mengelus kening Evelyn. "Iya. Cantik nurun Mamanya." suaranya serak.

Pintu terbuka sedikit. Axel mengintip, dia masuk digandeng oleh Julham. "Papa... itu adik Axel?"

Gio memberi kode, Julham pun melepaskan genggaman Axel. Bocah manis itu mengedipkan matanya berulangkali sambil menatap bayi di pelukan Mamanya.

"Halooo, Adik." sapa Axel pelan banget, takut. Terus dia melihat ke Gio. "Papa, boleh pegang?"

"Boleh, tapi pelan ya," Gio menuntun tangan kecil Axel untuk menyentuh jari Evelyn. Bayi itu langsung menggenggam jari Kakaknya.

Axel ketawa kecil. "Dia suka Axel, Pa!"

Vania nangis lagi, kali ini lega. "Denger ya, Evelyn. Kamu punya Kakak paling jago sedunia. Dan Papa... Papa kamu yang paling hebat."

Gio menarik selimut menutupi Vania dan Evelyn. Dia duduk di sana, tidak kemana-mana. Tangannya menjaga mereka berdua.

"Gak akan ada yang berani nyentuh kalian lagi," sumpahnya pelan.

Dari luar, Julham lapor lewat HP, "Bos, Lidia sama Annie sudah dikirim ke luar negeri, mereka berada di kantor polisi. Bukti lengkap."

"Bagus. Urus mereka sampai membusuk di penjara." Balasnya. Lalu, Gio menatap ke tiga orang yang paling penting dalam hidupnya.

---

Lima Tahun Kemudian.

Kediaman Abraham saat ini begitu ramai. Bukan karena bodyguard atau rapat, tapi karena suara ketawa anak-anak.

"Axel! Jangan nakal! Adikmu jatuhin ice creamnya!" teriak Vania dari dapur.

"Mama, bukan aku!" Axel protes sambil mengangkat Evelyn yang sudah berusia empat tahun, pipinya belepotan coklat.

Evelyn, si bungsu yang dulu lahir prematur, sekarang jadi pusat semesta. Rambutnya ikal seperti Gio, matanya indah seperti Vania. Manja, pintar, dan jago banget manjat di punggung Papa-nya.

"Papa, gendong!" rengek Evelyn sambil melebarkan tangan.

Gio yang baru pulang kerja langsung melepas jasnya. "Sini, Putri kecil Papa." dirinya mengangkat Evelyn tinggi-tinggi sampai gadis kecilnya itu tertawa terbahak-bahak. "Udah makan belum? Kok badannya berat banget?" gurau Gio seraya mencubit pelan hidung mancung Evelyn.

"Evelyn udah makan 3 piring, Pa!" Axel ikutan nimbrung, merasa bangga.

Vania berjalan ke arah mereka, membawa empat gelas jus. Wajahnya sudah gak ada pucat atau takut seperti dulu. Sekarang dia bersinar, tenang dan bahagia.

Gio menarik Vania ke pelukannya dari belakang, mengecup pipinya. "Cape, Sayang?"

Vania menyandarkan kepala di dada bidang suaminya. "Capek, tapi bahagia. Kamu gimana dikantor?"

"Aku? Semuanya lancar, gak ada masalah." Gio memeluk Vania dari samping, kemudian melirik Axel yang sedang mengajari Evelyn main puzzle, lalu Evelyn tertawa karena Axel membuat wajah konyol. "Aku udah dapet semuanya."

Malamnya, mereka duduk di teras belakang. Lidia dan Annie? Sudah lama hilang dari hidup mereka. Kasus penganiayaan dan penculikan membuat mereka mendekam di balik jeruji besi. Nita juga sudah dipecat.

Tak ada dendam, tak ada luka yang terbuka.

Axel meletakkan kepalanya di pangkuan Vania. Evelyn ketiduran di dada Gio, mereka menatap langit yang penuh bintang.

"Pa, Mama," Axel nguap. "Kita bakal gini terus kan? Selamanya?"

Gio merangkul Vania dan anak-anaknya lebih erat. "Iya, Nak. Selamanya. Papa janji."

Vania tersenyum ke Gio. "Dulu aku pikir impian tahun lalu gak akan tercapai..."

Gio memotong, mencium kening Vania . "Tapi lihat sekarang. Impian tahun lalu, sudah tercapai semua tahun ini. Dan tahun-tahun berikutnya."

Evelyn mengigau pelan, "Papa... Mama..."

Dan disitulah mereka, keluarga Abraham. Utuh, aman dan bahagia.

..............

*TAMAT* 💍👨‍👩‍👧‍👦

---

"Badai boleh datang merobohkan pintu, tapi cinta dan keluarga yang saling menjaga akan selalu jadi rumah yang paling aman. Setelah air mata, luka, dan ketakutan... Tuhan menggantinya dengan tawa anak-anak, peluk hangat, dan janji 'selamanya'."

SEE YOU GUYSS 😇😇 JANGAN LUPA SETELAH INI AKAN TERBIT CERITA ANAK ANAK GIO DAN VANIA. DOAKAN OTHOR SUPAYA BISA RUTIN UPDATE 😊 THANKS DAN ASSALAMUALAIKUM ♥️

1
Sri Rahayu
Terima kasih Thorr uda tamat dgn happy ending...ditunggu cerita selanjutnya 😘😘😘
Sri Rahayu
seru Thorr...bikin deg2an...ditunggu lanjutan nya 😘😘😘😘😘
Sri Rahayu
ayo Gio cepet tolong istri dan anak mu selamatkan mereka....lanjut Thorr😘😘😘
Oma Gavin
semoga gio menangkap basah lidia dan anne biar membusuk di penjara
Sri Rahayu
ditunggu lanjutan nya Thorr😘😘😘
🖤: Siap, Kaka 🤗
total 1 replies
Sri Rahayu
ya ampun kirain Marisa uda baik...ga tau nya cuma pura2 doang 😇😇
🖤
Terima kasih atas dukungannya 😍 Malam ini Othor up bab barunya yaaa~
Oma Gavin
memang siapa kalian cuma Tante dan sepupu berani ngatur gio dan menjelekan vania yg ada kalian berdua diusir jgn ngomong ortu gio meninggal ada campur tangan kalian
Sri Rahayu
ditunggu lanjutan nya Thorr😘😘😘
Sri Rahayu
kyknya tante Marissa ini bakal bikin masalah utk Vania...dia ga rela Gio menikahi Vania 🙃🙃🙃... lanjut Thorr 😘😘😘
Sri Rahayu
Tetima kasih Thorr....ditunggu lanjutan nya 😘😘😘😘😘....bahagia selalu Vania😍😍😍
Sri Rahayu
akhirnya doa Axel dikabulkan Allah...akan tambah ramai mansion mereka nanti...lanjut Thorr😘😘😘😘😘
🖤: Siap, Kaka 🤗
total 1 replies
Sri Rahayu
jadiin donk Thorr...adiknya Axel pr dan kembar lg 🤩🤩🤩🤩🤩...lanjutttt😘😘😘
Sri Rahayu
lanjut lah Thorr...suka bacanya 😍😍😍😘😘😘
Oma Gavin
lanjut kak ditunggu up nya
Oma Gavin
berikan gio buat vania dan anakmu ngga bikin kamu jadi gelandangan
Sri Rahayu
semoga Gio memenuhi permintaan Vania dan dia berjanji akan menuruti Vania asal tdk meninggalkan nya....mau mau Thorr dilanjut dgn cerita anak2 Gio dan Vania 😘😘😘
Sri Rahayu
masih mau lanjut Thorr😘😘😘
🖤: Terima kasih 🤗🤗
total 1 replies
Oma Gavin
kak rutin up dong biar tidak lupa jalan ceritanya
🖤: Baik, Kaka. sudah update bab terbarunya, mulai besok Othor akan update dua bab perhari 🙏 Doakan sehat selalu agar rutin updatenya 🤗
total 1 replies
Sri Rahayu
masih Thorr cerita nya blm tuntas...ditunggu lanjutan nya 😘😘😘
🖤: Siap, Ka. hari ini Othor lanjut, maaf kalo slow update 🥲🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!