Gara-gara difitnah "impoten" oleh mantan istri, Kenzo sang CEO Mafia terpaksa menikahi Zia, dokter spesialis sekaligus pengacara yang mulutnya sepedas cabai.
Sialnya, Zia juga punya hobi latah yang bikin harga diri Kenzo jatuh di depan anak buahnya!
"EH COPOT-COPOT, MAFIA GANTENG PISTOLNYA KARATAN!"
Mantan istri? Kena mental lewat jalur medis dan hukum! Tapi bagi Kenzo, menghadapi musuh lebih mudah daripada menghadapi satu istri latah ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Baru saja Kenzo menyelesaikan kalimatnya tentang jet pribadi, suasana hangat dan haru di ruang tamu klan Mahendra tiba-tiba dipecah oleh sebuah suara nyaring yang sangat mengganggu.
Digeboy-geboy mujair... Nang-ning-nong, nang-ning-nong ....
Suara musik dangdut pop modern yang menjadi nada dering khusus ponsel Zia menggema dengan keras, memenuhi seluruh ruangan. Suara itu sukses membuat Papa Juan yang sedang meminum tehnya langsung tersedak kecil. "Uhuk! Uhuk!"
Sementara Marco spontan menutup kedua telinganya dengan wajah masam.
"Astagfirullah, Zia! Ponsel bermerek mahal begitu tapi ringtonenya merusak estetika kuping. Gila kamu ya!" cibir Marco ketus sambil melirik tajam ke arah adiknya.
Zia tidak memedulikan ejekan abangnya. Ia buru-buru merogoh saku daster premiumnya dan mengeluarkan benda pipih tersebut. Namun, begitu matanya membaca nama yang tertera di layar—'Rumah Sakit Medika - IGD'—raut wajah Zia yang tadinya jenaka langsung berubah total.
Sorot matanya mendadak berubah menjadi sangat tajam, dingin, dan penuh konsentrasi. Sisi bar-bar Zia seketika menguap, digantikan oleh aura karismatik dari seorang Dokter Spesialis Urologi.
Zia langsung menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel ke telinganya tanpa ada lagi cengiran khas di wajahnya.
"Ya, dengan Dokter Zia di sini. Ada apa, Suster?" tanya Zia dengan nada suara yang tegas dan berwibawa, sangat kontras dengan pembawaannya beberapa detik lalu.
Suara panik dari seorang perawat IGD langsung terdengar di seberang telepon. Bahkan saking heningnya ruang tamu, suaranya sampai sedikit terdengar oleh yang lain.
"Dokter Zia, mohon maaf mengganggu waktu cuti Anda! Kami baru saja menerima pasien rujukan darurat. Kasusnya Torsio Testis akut, Dokter!"
"Pasien remaja usia 17 tahun, mengeluhkan nyeri hebat mendadak pada area skrotum sejak tiga jam yang lalu. Sekarang kondisinya sudah bengkak parah dan mulai membiru. Dokter residen di sini takut jaringannya mati kalau tidak segera ditangani!" lanjut suster itu panik.
Mendengar istilah medis yang meluncur dari telepon, Papa Juan dan Mama Soraya kompak menegakkan punggung mereka. Mereka menyadari bahwa menantu mereka sedang dihadapkan pada situasi hidup dan mati seorang pasien. Sementara Marco hanya bisa melongo. Ia masih agak asing melihat sisi serius adiknya itu.
Ini beneran si bar-bar Zia? batin Marco sangsi.
"Tiga jam?" rahang Zia menegang seketika. "Waktu emas kita kurang dari enam jam sebelum testisnya mengalami nekrosis total dan harus diangkat selamanya! Ini masa depan anak orang! Harus segera ditangani!"
Zia langsung berdiri tegak dari sofanya. Ia melangkah mondar-mandir di ruang tamu sambil memberikan instruksi medis dengan sangat cepat, tanpa terbata-bata sedikit pun.
"Dengar, lakukan persiapan operasi darurat sekarang juga! Puasakan pasien, pasang infus, jalankan pemeriksaan laboratorium cito untuk darah lengkap dan masa pembekuan darah. Hubungi dokter anestesi on-call hari ini. Katakan saya akan melakukan tindakan eksplorasi skrotum dalam waktu lima belas menit!" perintah Zia tegas.
"Baik, Dokter Zia! Ruang operasi tiga akan kami siapkan sekarang juga!" jawab suster di seberang telepon sebelum panggilan akhirnya terputus.
Zia langsung memasukkan ponselnya kembali ke saku. Ia lalu menatap Kenzo dengan pandangan meminta pengertian yang mendalam. "Mas, aku harus ke rumah sakit sekarang juga. Ada pasien darurat yang aset masa depannya terancam hilang kalau telat dioperasi."
Kenzo yang sejak awal memantau istrinya langsung berdiri tanpa banyak bertanya. Tatapan mata Kenzo yang semula tenang kini berubah menjadi sangat sigap. Ia merogoh saku jasnya, mengambil kunci mobil sport miliknya, lalu menatap Zia dengan tegas. "Aku yang antar. Dalam situasi media yang sedang panas di luar sana, aku tidak akan membiarkanmu menyetir sendirian, apalagi pergi tanpa pengawalan."
"Siap, aku nurut aja," ucap Zia patuh.
Melihat Zia yang sudah bersiap lari untuk berganti pakaian, Marco yang gengsinya setinggi langit ketujuh itu tiba-tiba mendengus kasar. Ia mencoba memecah ketegangan, walau sebenarnya dalam hati ia juga terpukau dengan profesionalisme adiknya.
"Heh, perempuan bar-bar! Baru juga mau diajak pulang kampung, malah sok sibuk dapet panggilan dinas. Gaya banget!" cibir Marco sambil melipat kedua tangannya di dada. "Pasien lo cowok lagi, kan? Heran gue, dokter urologi kok kerjaannya tiap hari cuma mantau burung orang doang. Nggak bosen apa?!"
Zia yang sedang melangkah cepat menuju lift langsung menghentikan langkahnya sejenak. Ia berbalik, lalu menjulurkan lidahnya ke arah Marco dengan wajah savage andalannya.
"Daripada lo, Mas Masako! Burung sendiri aja nggak ada ngurusin gara-gara kelamaan jomblo! Btw situ cowok apa cewek sih? Ngedumel mulu kayak ibu-ibu komplek kurang arisan!" cerocos Zia telak.
"Heh! Kurang ajar ya lo!" teriak Marco dengan wajah yang mendadak memerah akibat skakmat instan dari adiknya.
Pasangan suami istri, Papa Juan dan Mama Soraya, kompak terkekeh melihat Marco yang lagi-lagi kalah telak. Mama Soraya kemudian melambaikan tangannya pada Zia dengan lembut.
"Sudah, sudah, jangan bertengkar lagi. Zia sayang, cepat ganti pakaianmu. Selamatkan pasienmu dulu sekarang, urusan berangkat ke desa bisa kita tunda sampai operasimu selesai."
"Iya, Ma, Pa! Zia ganti baju dulu!" seru Zia yang langsung berlari cepat masuk ke dalam lift menuju kamar pengantinnya di lantai dua.
Hanya butuh waktu lima menit bagi Zia untuk mengganti dasternya dengan pakaian kasual yang nyaman untuk operasi nanti. Begitu ia kembali ke lantai bawah menggunakan lift, Kenzo sudah menunggunya di depan pintu utama mansion bersama Rico yang tampak sedang sibuk mengetikkan sesuatu di tablet kerjanya.
"Bos," panggil Rico dengan nada berbisik begitu melihat Zia berjalan mendekat. "Beberapa informan kita memberi tahu bahwa ada sejumlah wartawan media gosip dan orang-orang mencurigakan mulai terlihat berpatroli di sekitar area Rumah Sakit Medika."
"Sepertinya keberadaan Nona Zia sebagai dokter di sana sudah mulai bocor pasca berita klan Adiwangsa mencuat pagi ini," lapor Rico dengan wajah tegang.
Zia sempat tertegun mendengar laporan Rico, namun sebelum rasa cemas sempat menguasai hatinya, sebuah tangan kekar langsung menggenggam jemarinya dengan sangat erat. Zia mendongak, menatap Kenzo yang kini sedang menatapnya dengan binar mata yang memancarkan aura perlindungan mutlak.
"Jangan takut. Fokus saja pada keselamatan pasienmu," bisik Kenzo dengan suara beratnya yang menenangkan, membuat jantung Zia seketika berdegup kencang. "Ayo berangkat. Biar aku yang beresin lalat-lalat di luar."
saat ni perjalanan menuju konflik sebenarny udh di mulai ,,
tentu saja di bumbui dg sifat dokter reog yg takk terduga ,,
knp ad barang2 Dari mafia Marco Dan kenzoo ,, siapa sebenarny ayah angkat Zia ini ,,
ayooo dtggu kelanjutan ny ,,
lanjuuut kak ,,
penasaran banget
tp yaaaa gx tau klo pas sarapan nnti ,, wibawa mafia ny msh ad gx🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣
sx pun mereka mafia,, tp sikap solidaritas , sikap kerja sama Dan sikap persaudaraan mereka patut di acungi jempol ,,
krn bagaimana pun mereka ttap manusia yg memiliki hatii ,,
meski di beberapa waktu mereka bisa menghabisi musuh tanpa belas kasihan ,,
si kenzzo Dan jajaran ny udh kehilangan wibawa mafiany gara2 masakan dokter reog ,, 🤭🤭🤭😂😂😂😂
dmna mafia gx da harga diri ny di depan zia klo udh ngereog 🤭🤭🤭🤭🤭
cosplay jd mafia ,, 🤭🤭🤭😂😂😂😂
makhluk bodoh katanya ,,
makiin seruuuu cerita ny ,,