Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.
Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.
Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.
Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.
Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Dalang sebenarnya
Rangga masih berdiri di dekat jendela yang pecah dan wajahnya terlihat tegang saat mengamati keadaan di luar rumah tua itu.
"Leonard datang." Ia menelan ludah. "Dan dia membawa banyak orang."
Suasana langsung berubah, Bintang menoleh cepat.
"Berapa banyak?" tanyanya.
"Lebih dari tiga puluh," jawab Rangga.
"Sial." Bintang mengepalkan tangannya.
"Itu memang gayanya." Damar justru tertawa kecil.
"Kau masih bisa tertawa?" Bintang menatap pria itu tajam.
"Kalau dia datang sendiri, justru aku yang khawatir." Damar mengangkat bahu.
Belum sempat Bintang membalas, suara pintu depan terdengar terbuka perlahan.
Semua orang langsung siaga. Rangga mengangkat pistolnya, Bintang berdiri di depan Rania dan Damar menatap pintu tanpa berkedip, kemudian langkah kaki terdengar mendekat.
Sosok tua itu akhirnya muncul dari balik kegelapan. Pria itu berjalan santai sambil memegang tongkat hitamnya, senyum tipis menghiasi wajahnya seolah sedang menghadiri acara makan malam, bukan berada di tengah situasi berbahaya.
"Sudah lama sekali," ucap Leonard.
"Terlalu lama." Damar mendengus.
Leonard berhenti beberapa meter dari mereka. Tatapannya beralih ke Bintang.
"Kau mirip ayahmu."
"Aku tidak datang untuk berbasa-basi." Bintang menatapnya dingin.
"Aku tahu." Leonard tersenyum.
"Lalu kenapa kau di sini?"
Leonard memandang Rania, tatapan pria tua itu berubah lembut untuk sesaat.
"Aku datang untuk mengakhiri semuanya."
"Siapa sebenarnya aku?" tanyanya.
Leonard tidak langsung menjawab, ia justru tertawa kecil.
"Itu pertanyaan yang sudah menunggu terlalu lama."
Suasana menjadi hening, tidak ada yang bergerak, tidak ada yang berbicara.
Leonard memandang satu per satu wajah yang berada di ruangan itu, Bintang, Rania, Damar dan pria yang mengaku sebagai ayah Bintang.
"Menarik." Leonard tersenyum tipis. "Semua orang akhirnya berkumpul di tempat yang sama."
"Aku muak dengan permainanmu." Bintang melangkah maju. "Katakan yang sebenarnya."
"Baik." Leonard mengangguk pelan.
Semua orang langsung menatapnya.
"Rania memang bukan anak dari wanita yang membesarkannya."
Rania langsung memejamkan mata, meski sudah menduganya mendengar kenyataan itu tetap terasa menyakitkan.
"Lalu siapa orang tuaku?" tanyanya pelan.
"Sebelum aku menjawabnya, ada sesuatu yang harus kau ketahui." Leonard menghela napas panjang.
"Aku tidak ingin teka-teki lagi."
"Kau harus mendengarnya."
Rania menggigit bibir bawahnya. Leonard melanjutkan.
"Dua puluh lima tahun lalu, kami berempat bersahabat." Tatapannya beralih ke Damar. Kemudian ke pria yang mengaku ayah Bintang.
"Kami membangun semuanya bersama."
"Lalu?" tanya Bintang.
"Lalu seseorang berkhianat."
"Jangan berani-berani mengubah cerita." Damar langsung tertawa sinis.
"Kalau kau merasa tidak bersalah, kenapa wajahmu seperti itu?" Leonard menatapnya dingin.
Damar tidak menjawab, rahangnya mengeras dan Rania merasa kepalanya semakin pening, setiap jawaban selalu melahirkan pertanyaan baru.
"Aku hanya ingin tahu siapa orang tuaku." Suaranya mulai bergetar.
Leonard menatapnya lama dan untuk pertama kalinya pria tua itu terlihat ragu.
"Rania..."
"Aku lelah." Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Semua orang berkata ingin melindungiku, tapi tidak ada yang benar-benar peduli bagaimana perasaanku."
"Rania." Bintang langsung menoleh.
"Tidak." Ia menggeleng cepat. "Jangan bilang kau mengerti. Karena kau tidak mengerti."
Kalimat itu membuat Bintang terdiam.
"Kau berhak marah," ucap Leonard.
"Aku tidak marah." Rania tertawa kecil. "Aku hanya lelah."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan kemudian Leonard melangkah mendekat.
"Baik." Tatapannya tidak lepas dari Rania. "Kalau itu yang kau inginkan, aku akan memberitahumu."
Jantung semua orang langsung berdegup lebih cepat, termasuk Bintang, termasuk Damar dan termasuk pria yang selama ini bersembunyi.
"Rania..." Leonard berhenti sejenak. "Ayah kandungmu adalah—"
"Jangan!"
Bentakan keras tiba-tiba menggema, semua orang langsung menoleh kearahnya.
Damar berdiri dengan wajah pucat, tatapannya dipenuhi kemarahan.
"Jangan berani mengatakannya!" ujar Damar emosi.
"Kenapa?" Leonard tersenyum tipis.
"Karena kau tidak berhak!"
"Aku lebih berhak daripada siapa pun di ruangan ini." Leonard tertawa pelan.
Bintang memperhatikan mereka bergantian. Sesuatu terasa tidak beres, sangat tidak beres karena Damar terlihat jauh lebih panik dibanding Rania sendiri dan itu hanya bisa berarti satu hal, pria itu menyembunyikan sesuatu.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Bintang sambil menatap Damar.
"Tidak ada." Damar mengalihkan pandangan.
"Jangan bohong."
"Aku tidak berbohong."
"Kalau begitu kenapa kau panik?"
Damar tidak menjawab.
"Karena dia takut." Leonard kembali tersenyum.
"Takut apa?" tanya Rania.
"Takut kau membencinya." Leonard menatap Damar beberapa detik sebelum kembali memandang Rania.
Rania membeku dan Damar langsung mengepalkan tangannya.
"Cukup."
"Belum."
"Cukup, Leonard!"
Bentakan itu membuat suasana kembali tegang, namun Leonard terlihat sama sekali tidak terpengaruh. Pria tua itu justru terlihat puas, seolah ia sudah menunggu momen ini selama bertahun-tahun.
Bintang melangkahkan kakinya ke depan.
"Cukup." Tatapannya bergantian menatap Leonard dan Damar. "Kalau ada yang ingin dikatakan, katakan sekarang."
"Baik." Leonard mengangguk pelan.
Rania tanpa sadar menahan napas. Damar terlihat semakin tegang, sedangkan pria yang mengaku ayah Bintang menundukkan kepala.
"Kebenarannya adalah..." Leonard berhenti sesaat.
"Kebenarannya adalah Damar bukan hanya mengenalmu." Jantung semua orang seolah ikut berhenti.
Rania merasakan tangannya mulai gemetar.
"Dia adalah alasan kenapa hidupmu berubah." Leonard menunjuk pria itu.
Damar memejamkan mata dan reaksi itu membuat wajah Rania perlahan berubah karena untuk pertama kalinya... ia mulai takut mendengar jawaban berikutnya. Leonard membuka mulutnya lagi, namun tiba-tiba suara tembakan terdengar dari luar.
Dor
Semua orang langsung tersentak.
Dor! Dor! Dor!
Salah satu anak buah Leonard berlari masuk dengan wajah panik.
"Tuan!"
"Apa?" Leonard menoleh tajam.
"Mereka menemukan tempat ini." Pria itu terlihat pucat.
"Siapa?" Leonard mengernyit.
Pria itu menelan ludah, jawaban yang keluar dari mulutnya membuat seluruh ruangan membeku.
"Keluarga Arkanov."
Wajah Leonard langsung berubah, Damar membelalak, bahkan pria yang mengaku ayah Bintang terlihat kehilangan warna di wajahnya, sedangkan Bintang dan Rania hanya bisa saling berpandangan karena untuk pertama kalinya... mereka mendengar nama yang membuat semua orang ketakutan.