Fasha mengamuk setelah membaca sebuah novel, bukan karena ceritanya buruk, tapi karena tokoh antagonis pria yang ia sukai, mati mengenaskan tanpa keadilan.
Tak disangka, Fasha malah mendapati dirinya telah bertransmigrasi ke dalam novel itu, tepat di tubuh gadis yang akan segera kehilangan suara… dan dijual sebagai istri pada pria yang sama.
Untuk mengubah takdir, Fasha hanya punya satu tujuan yaitu menyelamatkan Sander dari kematian tragisnya—meski itu berarti harus menikah dengannya terlebih dulu.
Karena kali ini, penjahat itu… adalah suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 35 - Apa ini Cara Kamu Kembali?
“Sander… Sander…”
Suara Fasha bergetar nyaris tak terdengar. Jari-jarinya menekan punggung bawahnya sendiri, seolah ingin menyembunyikan jejak tindakan barusan. Pikirannya berputar kacau, mencari alasan yang masuk akal—namun tak satu pun terasa cukup.
"Aku bukan orang aneh. Bukan seperti itu."
Dalam situasi seperti ini, siapa pun akan salah paham. Bahkan ia sendiri mulai meragukan dirinya.
“Hm.”
Satu suku kata itu jatuh pelan—namun cukup untuk membuat jantung Fasha tenggelam. Ia tak tahu apakah Sander marah, kecewa, atau sekadar tak ingin membahasnya. Senyum tipis dipaksakan menghiasi wajahnya, sementara kakinya terasa berat seperti terpaku.
“Ayo berangkat kalau sudah siap.”
Sander melangkah lebih dulu.
Fasha berdiri beberapa detik, lalu menyusul dalam diam.
Sepanjang perjalanan menuju mobil, keheningan membentang di antara mereka. Fasha beberapa kali membuka mulut, ingin menjelaskan sesuatu—apa pun—tetapi melihat ekspresi Sander yang datar dan tak terbaca, kata-kata itu kembali tenggelam.
Di kursi belakang mobil, jarak setengah tubuh memisahkan mereka. Fasha mencuri pandang.
Sander memejamkan mata. Jari-jarinya bergerak perlahan di atas lutut, berirama—tenang, tapi menahan sesuatu.
Fasha menarik napas kecil. Ragu-ragu, ia menggeser tangannya, hampir menyentuhnya.
“Fasha.”
Namanya dipanggil sebelum sentuhan itu terjadi.
Ia tersentak, segera menarik tangan dan menyembunyikannya di belakang punggung seperti anak kecil yang tertangkap basah.
“Aku di sini. Ada apa?”
Cahaya dari luar jendela menari di wajah Sander, membentuk bayangan lembut di bawah bulu matanya. Dalam kilatan cahaya yang berganti, wajahnya terlihat semakin jauh.
Fasha menahan napas.
Seolah menunggu vonis.
Sander sendiri masih tenggelam dalam pikirannya.
Siapa pun akan merasa aneh melihat seseorang memeluk dan mengendus bajunya dengan begitu… intens.
Denyut di pelipisnya terasa berat. Pergelangan tangannya sedikit gatal. Jarinya menggenggam telapak tangan sendiri, mencoba menenangkan sesuatu yang tak dapat ia namai.
Itu mengganggu.
Namun… tidak sepenuhnya menjijikkan.
Saat Fasha akhirnya memalingkan wajah, Sander menghela napas perlahan—lega yang samar. Meski langkahnya melambat seolah mengharapkan gadis itu berkata sesuatu, menjelaskan.
'Mungkin aku terlalu memikirkan ini?' Batin Sander.
Fasha memang tak bisa diukur dengan logika biasa.
“Kita sudah sampai.”
Sander membuka mata setengah. Setelah sopir mengulang ucapannya, ia menjawab singkat, “Hm.”
***
Rumah tua itu berselimut merah.
Sutra dan kain keberuntungan tergantung di mana-mana. Bahkan pohon kering di pintu masuk dibungkus kain merah menyala.
Konon, warna itu membawa panjang umur dan kesehatan—nasihat khusus yang diminta George.
Pesta ulang tahun ketujuh puluhnya digelar dengan kemewahan yang mencolok.
Mobil-mobil mewah berjajar. Lampu kristal memantulkan kilau berlebihan. Segala sesuatu dirancang untuk menunjukkan kekuasaan.
Kilin berdiri di pintu masuk, menyambut tamu dengan senyum tipis.
Ketika seseorang menanyakan luka di wajahnya, senyumnya sempat retak—lalu kembali tenang.
“Kemarin aku tanpa sengaja membuat pamanku marah,” katanya lembut. “Kata sandi pintunya adalah hari wafat nenek. Aku hanya memuji baktinya… entah mengapa dia tiba-tiba emosi.”
Separuh wajahnya membengkak. Geraknya kaku. Luka itu nyata.
“Kau sudah cukup menderita,” ujar George dingin. “Aku akan berbicara dengannya.”
Kilin menahan diri. Ia tahu kapan harus berhenti.
Di dalam aula, bisik-bisik beredar seperti angin beracun.
“Sander bahkan tak datang ke ulang tahun ayahnya sendiri.”
“Kudengar dia dipaksa menikah dengan gadis bodoh.”
“Kasihan… mungkin sudah tak bisa berjalan.”
Tawa kecil menyusup di antara sindiran.
Lalu—membeku.
Sander berdiri di ambang pintu.
Wajah-wajah yang tadi penuh ejekan berubah pucat.
“Paman… kau sudah kembali?” Kilin tersenyum kaku. Tangannya sedikit gemetar.
Tatapan Sander menyapu ruangan—dingin, tajam, tanpa perlu sepatah kata pun.
Hening menyebar seperti bayangan.
Seseorang berdeham gugup. “T-Tuan Sander…”
Ia hanya mengangguk singkat.
Tiba-tiba, sebuah tangan kecil menggenggam pergelangan tangannya.
“Kak… dia menatapku. Aku takut.”
Fasha bersembunyi di balik tubuhnya, suara gemetar namun jelas.
“Jangan takut,” jawab Sander datar. “Dia tidak akan menyentuhmu lagi.”
Makna kalimat itu langsung berubah arah di telinga para tamu.
Tatapan perlahan beralih pada Kilin.
Tak heran dia dipukuli.
“Kak,” bisik Fasha polos, namun cukup keras untuk didengar sekitar, “mereka bilang kamu sakit. Tapi kamu sehat. Aku juga bukan orang bodoh.”
Jari-jari mereka bertaut erat.
Udara di aula terasa menurun beberapa derajat.
“Keluarga Carter kuat,” lanjut Fasha lirih. “Kenapa orang-orang jahat masih berani berbicara buruk?”
Beberapa orang menelan ludah.
Sander tersenyum tipis—senyum tanpa kehangatan.
“Itu artinya mereka gagal.”
George datang dengan tongkatnya. Wajahnya menegang.
“Apa yang terjadi di sini?”
Fasha menoleh polos.
“Mereka bilang keluarga Carter hanya omong kosong. Itu artinya apa?”
“Itu penghinaan,” jawab Sander tenang.
Wajah George memucat.
“Keluar,” perintahnya tajam. “Keluarga Carter tidak bekerja sama dengan orang bermuka dua.”
Para tamu itu diantar keluar dengan sopan—namun rasa malu mereka tak terselamatkan.
Ketika aula kembali riuh, George menatap tangan yang masih tergenggam.
Tatapannya berubah.
“Sander,” katanya keras, “apakah ini caramu kembali?”
“Kau yang memintaku datang,” balas Sander tenang. “Tanpa reputasimu, aku tak perlu hadir.”
Amarah George meledak. Tongkatnya terangkat tinggi.
Fasha refleks melangkah ke depan dan menutup mata.
Namun tongkat itu tak pernah jatuh.
Sander menahannya.
Genggamannya kuat.
“Aku sudah bilang,” ucapnya dingin, “ini semua kemampuanmu.”
Tongkat terlepas, jatuh ke lantai dengan suara tumpul.
Tanpa menoleh lagi, Sander menggenggam tangan Fasha dan melangkah pergi.