Mariam Musa dan Medina.
Medina mengetahui bahwa jauh di dalam hati Musa masih tersimpan cinta yang besar untuk Mariam. Medina sangat mencintai Musa, dan walau bagaimanapun dia tetaplah seorang istri yang ikut menderita kala melihat suaminya berjuang melupakan cinta pertamanya.
Terlebih setelah takdir mempertemukan mereka dalam situasi yang sulit.
Keihlasan Medina yang harus jatuh bangun mengejar Mariam.
Hanya untuk sebuah pengabdian agar suaminya bahagia.
Medina bodoh, tidak!
Ridho suami dan ridho Allohlah yang dia cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Betti Cahaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jatuh Cinta Berkali-kali
Sepertinya Mas Musa tidak hanya mengejar Mba Mariam, dia akan menginap di sana. Sudah 3 jam Mas Musa tidak juga kembali. Aku harus ikhlas, dan harus terbiasa.
Kuhabiskan waktuku untuk beberes rumah, rumah kecil yang kini kehangatannya berkurang. Tapi semoga cinta akan segera datang menaungi rumah ini.
Aku lupa sabun cuci piringku habis, karena sibuk menyiapkan pernikahan Mas Musa aku lupa tidak berbelanja bulanan, sementara cucian piring menumpuk di belakang.
Aku segera memakai jilbabku, dan pergi membeli sabun ke warung dengan berjalan kaki, karena motorku dibawa Mas Musa.
"Pantesan Mama Okta ngabisin masa iddahnya di sini, wong sudah ada incaran baru, kasian Tante Medina ya harus dimadu," ucap seseorang.
Aku berhenti di depan warung ketika terdengar suara beberapa orang sedang mengobrol, sengaja kutunda langkahku untuk masuk, aku ingin mendengar lebih banyak lagi.
"Iya, kalau laki-laki yang istrinya meninggal terus buru-buru kawin mah wajar, lha ini lakinya yang meninggal baru aja habis masa iddah udah kawin lagi, jadi bini kedua lagi," timpal yang lain.
"Aku pikir Mama Okta perempuan baik-baik, eh ternyata kaya gini kelakuannya."
"Ada untungnya kali Buibu buat kita, gimana kalo ada janda muda bening kaya Mama Okta bisa terancam kita semua, untung aja dia langsung kawin lagi."
"Tapi ada yang bilang Tante Medina yang maksa --,"
"Assalamualaikum ...!" Kuputuskan untuk masuk, ternyata omongan seperti inilah yang membuat Mba Mariam marah.
"Astaghfirullohaladzim, istighfar Ibu-ibu," tegurku pada mereka.
"Eh Tan-tante Medina." Mereka semua salah tingkah.
"Nggak baik ngomongin orang Bu, lagian saya yang minta Mama Okta untuk menikahi suami saya." Aku mencoba membungkam mereka semua.
"Tapi kenapa Tante Medina?"
"Menikah 'kan ibadah, apalagi menikahi janda yang ditinggal meninggal suaminya, pahalanya lebih besar, dan kami juga dapat bonus bisa mengasihi anak yatim. Apa kami salah?!" Mereka semua terdiam mendengar ucapanku.
"Tante Medina hebat, berjiwa besar, saya salut sama Tante Medina. Walaupun masih muda tapi pikirannya dewasa," puji salah satu dari mereka.
"Jadi saya mohon, jangan lagi ada yang membicarakan keluarga kami dengan buruk. Kalau ada yang bicara buruk saya minta tolong diluruskan, semoga Ibu-ibu semua juga dapat pahalanya."
"Iya Tante, saya doakan semoga dengan mengasihi anak yatim Tante Medina cepat-cepat diberi momongan," ucap salah seorang dari mereka.
"Aamiin, Bu saya mau sabun cuci piring satu." Aku segera membeli sabun yang kucari dan kulangkahkan kakiku menjauh dari sana.
"Jangan-jangan Tante Medina dimadu karena mandul," ucap seseorang lagi dengan sedikit berbisik, aku belum terlalu jauh jadi semua bisa kudengar dengan jelas.
'Astaghfirullohaladzim!'
Aku tetap melangkah pergi, tidak tahan rasanya mendengar lebih banyak lagi. Niatku hanya meluruskan tapi nyatanya aku yang kembali harus patah.
Kusalurkan kesedihanku dengan mencuci tumpukan piring kotor, hanya menangis saja tidak akan merubah keadaan. Aku harus meminta Mas Musa segera melakukan cek kesehatan dan promil secepatnya, aku juga ingin sempurna seperti Mba Mariam.
[Assalamualaikum, Dek, malam ini Mas nginep di rumah Mariam yah, mas akan membagi hari menjadi 3 malam untukmu dan 3 malam berikutnya untuk Mariam, bagaimana Dek?] bunyi pesan di aplikasih hijau milikku dari Mas Musa.
Walaupun aku sudah mengira akan begini tapi aku masih saja kecewa.
[Iya, Mas. Medina nurut aja] balasku.
[Maaf ya Dek, Mariam masih terguncang banyak yang mengganggu pikirannya]
[Iya Mas, salam aja buat Okta sama Mba Mariam]
[Besok Mas antar motornya ya]
[Enggak usah Mas, Medina nggak kemana-mana kok]
[Baiklah, Assalamualaikum, kamu hati-hati Dek, jangan lupa makan ya]
[Waalaikumsalam, iya]
Kuambil nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Bagaimanapun cemburu adalah fitrah perempuan, walaupun poligami ini bermula dariku tapi aku tetap saja merasakan cemburu. Semoga keberkahan dari poligami ini segera datang padaku. Biarkanlah aku cemburu asal Mas Musa tidak pergi dariku.
Karena membalas pesan Mas Musa aku keterusan memainkan ponselku. Kubuka aplikasi berlogo 'F' milikku. Ternyata berita pernikahan Mas Musa begitu cepat menyebar, banyak sekali ucapan selamat yang mencatut akun lama milik Mas Musa dan akun lama milik Mba Mariam.
Kebanyakan dari mereka adalah teman lama Mas Musa dan juga orang yang mengetahui kisah asmara mereka dulu.
[Jodoh akhirnya bertemu]
[Terpisah jarak, waktu, keadaan, juga status, tapi kalian akhirnya berjodoh juga]
Masih banyak lagi caption dari mereka yang ikut berbahagia, aku tidak sanggup lagi membacanya apalagi membaca komentar-komentarnya. Sepertinya semesta ikut berbahagia atas pernikahan mereka. Hanya aku disini yang sendirian merasakan fitrah kecemburuan.
Biarkan ranjangku dingin, tapi aku akan menghangatkan malamku dengan berdzikir kepada Alloh. Kenapa aku harus menyesali keputusanku sendiri? Sementara aku bisa merayu Alloh agar semesta juga berpihak padaku.
🏵🏵🏵🏵🏵
Setelah sholat Subuh aku mendengar suara sepeda motor Mas Musa berhenti di depan gerbang. Aku segera menghampiri dan membuka pintu gerbang untuk Mas Musa.
Ada kelegaan hati yang luar biasa menyusup pelan kehatiku, dahaga akan rindu yang tersiram dengan penuh kesejukan. Mas Musa tersenyum dan membuat hatiku kembali berdebar. Aku semakin mencintai dan semakin bersyukur menjadi istri seorang Musa Hamizan.
Semua yang harus kulalui kini seperti tidak ada artinya ketika imamku berdiri di hadapanku seperti oase di tengah gurun pasir. Aku bahagia, ternyata 2 hari tidak berjumpa dengan Mas Musa membuat cintaku tumbuh lebih besar. Betapa bucinnya aku.
"Assalamualaikum ... !" salam Mas Musa.
"Waalaikumsalam," Segera kusambut tangan Mas Musa yang terulur kearahku.
"Senengnya pulang kerumah disambut senyum manis kaya gini," ungkap Mas Musa sambil mengecup keningku dan menciumi puncak kepalaku.
"Iya 'kah, Mas?" tanyaku tersipu.
"Iya, ayo masuk. Cuti mas sudah habis mas harus berangkat ngajar lagi, Dek."
"Iya, nanti Medina siapkan bajunya."
Mas Musa masuk melewatiku, tampak tangannya menenteng sesuatu, dan ... rambutnya basah. Aku kembali cemburu, walau ini fitrah tapi rasanya yang menyiksa cukup membuatku terganggu.
Segera kutepis perasaan ini dan sibuk memadu padankan baju Mas Musa.
"Oh iya, tadi Mariam ngasih makanan, nanti kita sarapan bareng ya, Dek."
"I-iya Mas."
Aku beranjak ke meja makan dan membongkar bungkusan yang Mas Musa bawa. Tiga porsi nasi bakar dan juga kotak makan siang, mungkin bekal untuk Mas Musa.
Kuambil piring dan menyajikannya serta kubuatkan secangkir teh manis untuk Mas Musa. Aku mengakui Mba Mariam pandai dalam segala hal, tapi aku juga baru menjadi seorang istri wajar kalau ketrampilanku masih di bawahnya.
Aku kembali teringat ketika aku membuat nasi goreng untuk sarapan, dan Mas Musa yang belum lama pulang ke tanah air malah sakit perut karena memakan makanan berat di pagi hari. Kini, Mas Musa sudah terbiasa dengan kebiasaan makan orang Indonesia, dan tidak lagi mengeluh sakit perut ketika makan nasi di saat sarapan.
Kini aku dan Mas Musa duduk sarapan bersama dengan makanan yang dimasak Mba maduku.
"Makan yang banyak, Dek." Mas Musa menyuapiku dengan tangannya.
"Kamu terlihat kurusan, jangan telat makan dan makan yang banyak." Mas Musa semakin perhatian padaku, aku sama sekali tidak merasa rumah tanggaku terbagi selain harus berbagi hari milik Mas Musa.
"I-iya Mas."
Mas Musa pamit untuk berangkat kerja, tak lupa dia memasukan kotak bekal makan siang dari Mba Mariam ke dalam tasnya.
"Mas berangkat dulu ya, Dek, Assalamualaikum ...!"
"Waalaikumsalam, Mas ehm ... nanti malam Mas pulang ke sini kan?" tanyaku memastikan.
"Iya Dek."
Senyumku mengembang, aku seperti jatuh cinta lagi dan berkali-kali.
.
.
.
.
.
emang ada gitu hehehee