Li Yunru tiba-tiba bertransmigrasi ke zaman kuno setelah memakai cincin naga perak berisi ruang spiritual misterius. Bukan itu saja, dia juga menjadi koki spiritual yang mampu menyembuhkan segala jenis penyakit dan keracunan.
Berkat cincin naga perak juga, Li Yunru ditakdirkan menjadi pasangan sang raja naga putih penguasa wilayah utara—Bai Muzhi. Pria berwajah dingin yang jiwanya terluka akibat pedang antar benua ratusan tahun lalu itu, akhirnya menemukan satu-satunya penyembuh yang mampu mengobatinya. Perlahan, perasaan cinta tanpa sadar tumbuh di antara keduanya.
Rupanya kemunculan Li Yunru bukan hanya mengungkap banyak rahasia masa lalu, tapi juga membuat musuh di kegelapan mulai mengincar kekuatan tersembunyi dalam dirinya. Menghadapi misteri ribuan tahun lalu yang mulai tersingkap, mampukah Li Yunru melewati cobaan tersebut sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waspada
Ini bukan kali pertama Yan Diming mengalami hal seperti ini. Setiap kali ia menggunakan cermin spiritual, yang terlihat selalu seekor kelinci gemuk milik Bai Muzhi.
Masalahnya, cermin itu selalu menampilkan ekor atau pantat kelinci tersebut, seolah sengaja mengejeknya. Siapa pun pasti kesal melihat pemandangan itu berulang kali.
"Apakah cermin ini punya kebiasaan mesum mengintip pantat kelinci? Benar-benar tidak berguna!" gumamnya jengkel.
Yan Diming meletakkan cermin spiritual itu di atas meja batu. Meski begitu, ia masih cukup hati-hati agar benda langka itu tidak rusak.
"Kamu kembali saja. Aku sendiri yang akan pergi dan mencari tahu seperti apa pasangan naga putih itu," katanya pada Xu Aoshan.
"Ya." Xu Aoshan tidak berkata apa-apa lagi. Ia segera pergi untuk menghindari kemungkinan diawasi Hong Maxing.
Setelah Xu Aoshan pergi, Yan Diming memikirkan banyak hal. Tiga ratus tahun telah berlalu, namun ia masih belum berhasil mengambil alih Istana Shing di wilayah Baiyun. Kesabarannya hampir habis. Mengapa Bai Muzhi begitu sulit untuk dibunuh?
Yan Diming menyipitkan mata. Senyum tipis muncul di bibirnya. "Jika kondisi Bai Muzhi mulai membaik karena gadis manusia itu, maka gadis itu memang layak untuk dilihat."
"Oh, aku benar-benar menantikannya," tambahnya sebelum akhirnya tertawa pelan penuh perhitungan. Tawa rendahnya bergema di ruangan dingin itu dan terdengar menyeramkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sudah sebulan berlalu sejak Li Yunru tinggal di zaman kuno, tempatnya manusia setengah binatang. Perlahan ia mulai memahami garis besar dunia ini. Meski masih terasa aneh melihat hewan bisa berbicara, ia sudah cukup terbiasa, terutama saat berdebat dengan Ruu.
"Hatchiu!!"
Li Yunru bersin saat baru tiba di kebun sayur milik suku kelinci yang tak jauh dari Istana Shing. Ia membawa keranjang bambu sambil berjalan di antara petak sayuran yang tumbuh subur.
"Tuan, kamu sakit?" tanya Ruu yang mengekorinya.
"Tidak. Hidungku cuma gatal. Sepertinya ada yang membicarakanku," jawabnya datar sambil menggosok hidung. "Mungkin aku alergi bulu kelinci?"
"Jangan fitnah." Ruu langsung kesal hingga telinganya bergerak.
Li Yunru tidak memedulikannya. Ia berjalan ke petak bawang bombai yang daunnya mulai layu. "Ini sudah siap panen. Suku kelinci memang suka menanam banyak sayuran," ucapnya sambil berjongkok.
Ruu menghampirinya dan melihat sekilas daun bawang bombai yang sudah menguning. "Tentu saja. Suku kelinci sangat suka makan sayuran."
Li Yunru melirik kelinci gemuk itu dengan ekspresi tidak suka sambil mencabut beberapa bawang bombai. "Lalu kenapa kamu suka makan daging? Kamu benar-benar kelinci roh?"
"Apa salahnya makan daging? Aku juga bukan kelinci sungguhan."
Gadis itu memutar mata malas. Memang hanya kelinci jadi-jadian yang bisa begitu doyan makan daging. Ia kembali mencabut bawang dan mulai mencari sayuran lain.
"Kira-kira siang ini kita makan apa?" gumamnya sambil berpikir.
"Mengapa tidak ayam atau ikan?"
"Tidak. Aku ingin makan sayur hari ini."
"Ugh ... kalau begitu aku tidak punya saran." Telinga Ruu langsung terkulai lemas. Mengapa tuannya sangat suka makan sayur?
Li Yunru tidak memedulikan kelinci gemuk yang membosankan itu. Pandangannya langsung tertuju pada beberapa terung ungu di salah satu sisi kebun. Matanya berbinar kecil saat membayangkan masakan yang akan dibuat hari ini. Ia pun buru-buru memetik dua terung ungu yang tampak besar dan segar.
Setelah mendapatkan semua yang ia inginkan, ia mengucapkan terima kasih kepada pemilik kebun sayur, lalu kembali ke Istana Shing bersama Ruu.
Li Yunru suka memasak di ruang terbuka, jadi ia pergi ke halaman belakang untuk mencari tempat yang cocok. Kesadarannya masuk ke ruang cincin spiritual untuk memeriksa rak bumbu. Melihat betapa lengkapnya bumbu di sana, ia mulai berpikir.
"Apakah gadis kecil ras peri itu benar-benar penjelajah waktu dari masa depan? Kalau tidak, bumbu di sini tidak mungkin berasal dari sana," gumamnya pelan.
Ia teringat Bai Shenzhen yang pernah menyamar sebagai penjual di toko hewan peliharaan. Mungkinkah lelaki tua itu yang mengumpulkan semua bumbu ini?
Rasanya tidak mungkin. Mungkin benar jika gadis kecil ras peri itu yang mengumpulkannya dari zaman modern. Tapi apakah Bai Muzhi tahu soal ruang spiritual di cincinnya sendiri? Haruskah dia memberitahunya?
Kesadarannya kembali ke dunia luar. Ia mengeluarkan minyak wijen, lada, dan kecap asin dari ruang spiritual. Peralatan memasak sudah disediakan di Istana Shing, jadi ia tidak perlu repot mengeluarkannya.
Li Yunru menyalakan api di tungku batu, lalu mencuci dua terung ungu dan memotongnya berbentuk dadu. Ia juga mengiris tipis satu bawang bombai yang sudah dibersihkan.
Namun ia tidak menyadari bahwa dari balik pohon tidak jauh darinya, seekor ular hitam besar sedang mendesis pelan dan merayap perlahan. Sepasang mata kuning keemasan menatap Li Yunru dengan penuh minat dan keserakahan.
Ruu sangat sensitif terhadap aura asing sehingga kedua telinganya langsung terangkat tegak. "Siapa itu?! Jangan sembunyi!" katanya keras sambil menoleh tajam ke arah pepohonan.
Li Yunru tampak bingung. Melihat Ruu menatap ke belakang dengan waspada, ia ikut bertanya. "Ada apa?"
Ruu tahu aura yang ia rasakan bukan aura biasa. Dingin dan licik. "Aku merasakan kehadiran manusia setengah binatang yang tidak menyenangkan."
Li Yunru baru saja memasukkan irisan bawang bombai ke dalam mangkuk kecil. Karena tidak merasakan apa pun, ia mengabaikan ucapan Ruu. Namun saat ia mengambil sudip kayu dan hendak memanaskan wajan di atas tungku, embusan angin kencang tiba-tiba berembus, disertai desisan rendah yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Tubuh Ruu membeku saat melihat rumput tinggi di sekitar pepohonan bergerak perlahan, seolah ada sesuatu yang panjang menyeret tubuhnya di tanah. Tak lama kemudian, kepala seekor ular hitam muncul dari balik pohon. Ia langsung berteriak.
"Ular! Pria ular! Tuan, hati-hati!"
Ular hitam besar itu perlahan mengubah sebagian tubuhnya menjadi manusia. Dari pinggang ke bawah masih berupa ekor ular hitam mengilap yang memantulkan kilau keunguan saat terkena cahaya matahari.
Li Yunru membeku cukup lama. Ular—manusia setengah ular. Ia sempat ragu dengan akalnya sendiri. Sebagai orang modern, ia hampir kehilangan kata-kata. Benar-benar ada manusia setengah ular di dunia ini.
Selama ini ia hanya melihat manusia setengah binatang dengan telinga, ekor, atau ciri hewan tertentu. Tapi pria ini berbeda. Rambut panjang ungu kehitaman, mata ungu gelap yang tajam, kuku panjang bercat hitam. Wajahnya tampan, tetapi aura yang dipancarkan berbahaya dan mematikan. Jelas bukan tamu baik.
Li Yunru akhirnya sadar dan langsung waspada. Ia mengambil pisau di meja kecil. "Siapa kamu?!"
Yan Diming terkekeh pelan. Lidah ularnya menjulur dari sela bibir. "Oh, jadi kamu pasangan Bai Muzhi?"
Sebelum Li Yunru sempat bereaksi, Yan Diming tiba-tiba melesat mendekat dengan kecepatan mengerikan lalu melilit pinggangnya dengan ekor.
Namun Li Yunru yang masih memegang pisau daging dan sudip kayu langsung bereaksi refleks. Tanpa ragu ia mengayunkan pisau dan berhasil melukai ekor Yan Diming.
"Arrghh!!"
Yan Diming berteriak kesakitan dan segera melepaskan lilitannya. Ia menatap luka yang mengeluarkan darah hitam keunguan di ekornya. Wajahnya langsung berubah gelap dan menyeramkan. Ia jelas tidak menyangka manusia biasa bisa bereaksi secepat itu. Karena meremehkan lawannya, ekornya terlambat untuk menghindar.
Yan Diming yang marah melotot tajam ke arah Li Yunru, lalu mengulurkan tangan berkuku panjangnya untuk menangkap gadis itu.
"Manusia, beraninya kamu melukaiku!!"
Sayangnya, Li Yunru yang panik melihat serangan itu tanpa sadar langsung mengayunkan sudip kayu ke wajahnya.
Tuk!
Sudip itu menghantam tepat di hidung Yan Diming dengan keras.
"Owwhhh!!"
Yan Diming mundur sambil meringis kesakitan. Saat menyentuh hidungnya, ia melihat darah di telapak tangannya sendiri. Pupil mata ularnya menyempit dingin. Mulutnya terbuka memperlihatkan taring panjang yang sangat runcing.
"Beraninya kamu, manusia! Cari mati!" geramnya.
Ia kembali menerkam Li Yunru, siap menggigit lehernya. Tanpa perlindungan Bai Muzhi, apa yang bisa dilakukan manusia biasa?
mungkin kita juga bisa mencoba resepnyaa 😂