NovelToon NovelToon
Jatuh Dan Bangkit Kembali

Jatuh Dan Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Balas Dendam / Showbiz
Popularitas:858
Nilai: 5
Nama Author: Arssya Assyi

Pernikahan lima tahun yang sia-sia, Liana Varella adalah seorang anak yang menjadi pembayaran utang ayahnya. Diusianya yang menginjak sembilan belas tahun, seharusnya dia melanjutkan kuliahnya, namun kini dia terikat oleh pernikahan yang hancur.

Suaminya, Alistair Sterling yang menjanjikan cinta hingga mati. Kini membawa seorang wanita lain dari keluarga konglomerat, hanya dalam waktu tiga tahun pernikahan. Dengan mudahnya dia membawa wanita lain ke rumah tangga mereka.

Hanya karena satu alasan, Liana dikira "Mandul" oleh keluarga Sterling hingga dihina, dan di abaikan keluarga besar itu. Di ambang ujung jurang, seseorang muncul dihidup Liana, dan berkata.

"Mengapa Tidak Bercerai?"

Liana tertegun, lalu berpikir keras hingga akhirnya dia sadar. Selama ini untuk apa dia bertahan jika suaminya menganggap dia tidak ada?

Penasaran? Ayo baca selengkapnya! Bahasa campuran, baku dan non baku....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arssya Assyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

C020: Sosok Wanita Misterius

...Selamat Baca...

(Flashback)

Dua hari sebelum palu hakim secara resmi memutuskan belenggu pernikahan Liana, sebuah pertemuan penuh tekanan berlangsung di ruang kerja pribadi kediaman utama keluarga Sterling.

Ruangan itu terasa pengap oleh aroma cerutu mahal dan ketegangan yang pekat. Theodore Sterling, sang patriark yang kini telah berusia sembilan puluh tahun,

Duduk di kursi kebesarannya dengan punggung tegak, namun tangannya yang diletakkan di atas meja kayu ek itu tampak sedikit gemetar.

Di hadapannya, Alexander berdiri dengan aura yang begitu mendominasi. Tidak ada keraguan di matanya yang dingin saat ia meletakkan sebuah map hitam tebal di hadapan ayahnya.

"Kau menuntut hak tanah dan gedung utama Sterling Tower ini menjadi aset pribadimu, Alexander?" suara Theodore terdengar berat dan parau, bergetar antara amarah dan ketidakberdayaan.

"Itu bukan sekadar properti. Gedung itu adalah simbol kehormatan dan eksistensi keluarga kita selama tiga generasi di Auronia!"

Alexander menatap ayahnya tanpa ekspresi. "Simbol yang kini nyaris runtuh karena kesalahan fatal kakakku. Krisis likuiditas yang disebabkan oleh kegagalan proyek pembangunan Arthur di sektor timur memerlukan dana segar dalam jumlah yang sangat besar."

"Jika keluarga ini tidak ingin menghadapi kebangkrutan teknis bulan depan. Reputasi Sterling akan hancur jika para kreditur tahu kita kekurangan uang tunai."

Theodore terdiam, matanya menatap tajam ke arah dokumen pengalihan aset itu. Ia menyadari bahwa anak bungsunya ini adalah satu-satunya orang yang memegang likuiditas terbesar dan mampu menyelamatkan Sterling Enterprises dari kehancuran total.

Dengan berat hati dan sisa harga diri yang tersisa, Theodore meraih pena emasnya dan menandatangani dokumen tersebut.

"Ambillah," desis Theodore dengan nada tajam.

"Tapi ingat, kau baru saja mencabut jantung dari nama Sterling hanya untuk ambisi pribadimu."

"Nama bisa diganti," balas Alexander singkat sembari mengambil dokumen yang sudah sah itu dengan gerakan efisien.

"Sterling adalah masa lalu yang kaku, Ayah. Aku akan mengubah tempat itu menjadi sesuatu yang lebih memiliki jiwa."

***

Tanggal: 14 Agustus

Lokasi: Gedung Virlan Arts

Liana berdiri di depan cermin ruang ganti studionya yang kini tampak jauh lebih hidup. Alexander sedang berada di lantai bawah karena kantor pusat pribadinya kini telah resmi dipindahkan ke gedung ini.

Liana menyentuh anting berlian berbentuk tetesan air yang dipasangkan Alexander tadi pagi.

Terasa ada sesuatu yang familiar di sana. Liana kemudian mengambil kotak perhiasan kecil yang ia bawa dari Virlan, harta pribadi yang ia simpan dengan sangat hati-hati.

Ia mengeluarkan sebuah bros perak peninggalan neneknya dan membandingkannya dengan anting pemberian Alexander.

Meskipun bentuknya berbeda, gaya ukiran pada pengaitnya dan detail aksen emasnya menunjukkan ciri khas yang sama.

"Gaya ukiran ini... detail emasnya..." gumam Liana pelan.

"Identik. Ini pasti dari perajin yang sama di Virlan."

Liana terkejut, jantungnya berdegup kencang memikirkan kemungkinan bagaimana Alexander bisa memiliki perhiasan dengan gaya spesifik negaranya.

Namun, ia segera menarik napas panjang dan menyimpan kembali perhiasannya saat mendengar langkah kaki Leo di koridor.

Ia memilih untuk diam dan menyimpan kecurigaan itu sendiri agar tidak memicu kegelisahan.

Sore harinya, Liana pulang ke kediaman Alexander bersama Leo untuk melanjutkan rekaman konten "A Day in My Life".

Atas permintaan Liana, kamera dialihkan untuk menyorot area lantai satu sebagai bagian dari tur rumah.

Liana yang mengenakan topeng Kitsune mulai menyibukkan diri di dapur, memasak bersama koki rumah untuk menyiapkan makan malam.

Tepat saat jam makan malam tiba, suara mobil Alexander terdengar di halaman. Sebelum pelayan sempat mendekat untuk mengambil barang-barangnya,

Alexander lebih dulu merogoh saku jasnya, mengambil topeng hitam setengah wajah miliknya, lalu memakainya.

Setelah identitas "Pak Bos"-nya terpasang, barulah ia menyerahkan jas dan tas kerjanya kepada pelayan untuk dibawa ke kamar.

Alexander langsung melangkah menuju dapur dan melihat Liana sedang meletakkan masakan terakhir di atas meja.

Alexander mendekat, tangannya terulur membantu menggeser piring besar ke tengah meja.

"Aromanya sangat enak. Kau memasak semuanya sendiri?" tanya Alexander, suaranya rendah dan hangat.

Liana menoleh dan tersenyum di balik topengnya. "Hanya beberapa menu sederhana. Aku ingin merayakan hari ini karena progres studio berjalan sangat baik."

"Kau bekerja terlalu keras, Li. Jangan lupa untuk beristirahat," ucap Alexander lembut sembari merapikan letak sendok di dekat tangan Liana.

"Aku menyukainya, Al. Rasanya menyenangkan bisa memilih apa yang ingin aku kerjakan," jawab Liana.

Ada suasana romantis yang tenang menyelimuti interaksi mereka, meski keduanya tetap menjaga jarak yang sopan dan terukur karena menghormati masa jeda Liana pasca-perceraian.

***

Tanggal: 21 Agustus

Lokasi: Kediaman Alexander

Hari ini Liana libur dari jadwal konten dan tidak pergi ke studio. Alexander sedang melakukan pertemuan bisnis di luar kota, meninggalkan Liana sendirian di rumah yang luas itu.

Rasa penasaran yang selama ini ia pendam akhirnya menuntun langkah kakinya untuk berkeliling.

Ia menelusuri lorong di lantai dua. Di sana terdapat deretan kamar dengan urutan: kamar kosong, kamar Alexander, dan kamar Liana yang berada di paling ujung lorong.

Liana menyadari sebuah keanehan; lorong menuju kamarnya yang biasanya terang benderang memiliki satu area yang lampunya dibiarkan redup.

Di area redup itu terdapat sebuah pintu kayu jati yang terkunci rapat. Liana turun ke lantai satu dan melanjutkan pengamatannya. Di atas sebuah lemari antik, ia menemukan sebuah bingkai foto perak.

Liana mendekat dan terkesiap melihat foto seorang anak laki-laki berusia sekitar enam tahun dengan wajah dingin namun mata jernih—itu pasti Alexander kecil.

Di sampingnya, berdiri dua wanita dewasa. Wanita di sebelah kanan tampak anggun dengan senyum tenang—itu adalah Nyonya Viviane.

Namun, wanita di sebelah kiri, yang berusia sekitar tiga puluh tahun, memiliki kecantikan yang begitu luar biasa dengan aura bangsawan Virlan yang kental.

Liana berkeliling lagi dan menemukan beberapa benda milik wanita di sudut-sudut rumah; beberapa pasang sepatu wanita yang terawat di rak dekat pintu serta perhiasan wanita yang tersimpan di laci kaca.

Liana menyadari ada hal yang tersembunyi di rumah ini. Keesokan harinya, saat sedang mengedit video bersama Ryan di studio,

Liana melihat kembali hasil tangkapan gambar yang memperlihatkan bingkai foto wanita cantik dengan latar belakang pemandangan Virlan yang baru ia sadari kemarin.

Kecurigaannya semakin kuat. Saat Alexander datang berkunjung ke area studio sambil membawakan minuman segar, Liana memberanikan diri bertanya.

"Alex, boleh aku bertanya sesuatu?" Liana menatap mata Alexander.

"Kemarin aku melihat sebuah foto di lantai bawah. Ada wanita cantik di samping Nyonya Viviane."

"Dan... ada kamar yang terkunci di ujung lorong sebelum kamarmu. Kenapa suasananya terasa begitu berbeda di sana?"

Alexander terdiam sejenak, sorot matanya berubah menjadi lebih dalam dan gelap. "Ini bukan tempat yang tepat untuk membicarakan hal sepribadi itu, Liana."

"Ayo, kita bicarakan di jalan pulang nanti."

Saat perjalanan pulang di dalam mobil, di bawah lampu-lampu kota yang temaram, Alexander akhirnya membuka suara setelah keheningan yang cukup lama.

"Wanita di foto itu adalah ibuku," ucap Alexander sembari menatap lurus ke jalanan di depan.

"Dan kamar yang terkunci itu... adalah dunianya yang aku hentikan waktunya sejak aku berusia delapan tahun."

Liana menoleh, suaranya melembut. "Kenapa kamarnya dibiarkan redup dan terkunci rapat, Alex?"

"Karena di sana ada terlalu banyak kenangan yang menyakitkan," jawab Alexander dengan nada yang sedikit bergetar.

"Ibuku adalah wanita yang penuh kasih sayang, tapi dia meninggal muda akibat depresi berat. Di rumah Sterling, dia dilupakan oleh suaminya dan diabaikan oleh keluarga besar."

"Sejak hari kematiannya, aku kehilangan senyumanku."

Liana menyentuh lengan Alexander dengan lembut, memberikan kekuatan tanpa kata-kata. "Maafkan aku jika pertanyaanku mengingatkanmu pada luka itu."

Alexander menoleh sekilas dan memberikan senyum tipis yang tulus. "Tidak apa-apa. Kau adalah orang pertama yang membuatku merasa tidak perlu lagi bersembunyi di balik topeng dingin ini sepenuhnya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!