"Sepuluh tahun lalu, Alvin Alexander dinyatakan tewas dalam sebuah kecelakaan tragis. Dunia melupakannya, dan keluarganya menghapus jejaknya."
Namun, kenyataan jauh lebih dingin. Bocah lima tahun itu tidak mati. Ia diselamatkan dan ditempa oleh Revan,seorang pemimpin mafia kejam,menjadi sebuah senjata tak kasat mata yang mematikan. Kini, Alvin kembali ke kota kelahirannya. Bukan untuk mengemis kasih sayang yang telah hilang, melainkan untuk mengamati dari dekat runtuhnya sebuah memori.
Di rumah lamanya, posisi Alvin telah digantikan dengan sempurna oleh Levin, si anak angkat. Bahkan sang kakak, Christy, menatapnya tanpa mengenali sepasang mata adik kecilnya dulu. Sementara foto-fotonya telah dibuang ke tempat sampah, Alvin memilih mengenakan seragam putih-abu-abu dan duduk tenang di barisan tengah kelas 10-2, menyembunyikan identitas aslinya sebagai The Quiet Predator.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yan Hidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyusun Kepingan Teka-Teki
Suasana kantin seketika dipenuhi oleh kasak-kusuk dan bisikan tidak percaya dari ratusan murid. Semua pasang mata masih tertuju ke sudut stan bakso, menatap Alvin dengan pandangan ngeri sekaligus kagum.
"Gila... tuh anak baru berani banget cari masalah sama Ervan," bisik salah satu siswa dengan tatapan tidak percaya.
"Dia gak tahu apa, kalau Ervan itu orangnya kayak gimana? Habis ini pasti bakal habis dia ditekuk," timpal siswa lain di sebelahnya, bergidik ngeri.
Tatapan-tatapan sinis dan lirikan penuh kekhawatiran terus mengarah pada Alvin. Sementara itu, Nadia sang Ketua OSIS masih berdiri mematung di dekat meja. Napasnya agak memburu karena panik, matanya menatap Alvin dengan pandangan yang benar-benar tidak habis pikir.
"Alvin! Apa yang kamu lakukan, sih? Ini hari pertama kamu masuk sekolah!" tegur Nadia dengan nada suara yang tertahan, mencoba meredam keributan.
Alvin tidak langsung menjawab. Dengan gerakan yang teramat santai, dia kembali duduk di kursinya, lalu meletakkan kembali garpu besi itu ke atas mangkuk. Hebatnya, gerakan tangan Alvin begitu presisi hingga suara dentingan garpu yang beradu dengan mangkuk keramik itu sama sekali tidak terdengar. Keheningan dan ketenangan Alvin membuat Bagas yang duduk di sebelahnya pun sampai ikut menelan ludah karena terkejut melihat sisi lain sahabat barunya itu.
Alvin mendongak, menatap Nadia dengan tatapan lempeng tanpa dosa. "Maaf, Kak. Aku refleks, gak sengaja."
"Refleks?" Nadia menaikkan sebelah alisnya, tidak percaya.
"Soalnya anak itu tadi udah melakukan pergerakan frontal," bela Alvin dengan wajah datar. "Dia menepuk kuat bahu Bagas, lalu setelah itu dia sudah bersiap melayangkan pukulan lagi ke arah kepala Bagas. Hanya karena kami menahan tawa."
"Menahan tawa?" Nadia mengernyitkan keningnya dalam-dalam, merasa alasan itu terlalu sepele untuk sebuah aksi penodongan garpu di siang bolong. "Kalian menertawakan apa, sampai Kak Ervan semarah itu?" tanya Nadia penasaran.
"Iya, Kak," timpal Bagas yang kini raut wajah tegangnya sudah mulai mencair, digantikan oleh ekspresi menahan tawa yang tertahan di sudut bibirnya.
"Kenapa?" tanya Nadia, makin tidak mengerti melihat perubahan ekspresi Bagas.
Bagas sedikit mendekatkan tubuhnya ke arah Nadia lalu membisikkan alasan yang menjadi hulu ledak keributan tadi. "Gini, Kak... tadi Alvin bilang, kalau Rahman itu tipe Raja Kloset. Nah, terus barusan pas Ervan datang lewat, Alvin bilang sekarang muncul lagi raja baru yang sukanya ngebadok."
Mendengar penjelasan blak-blakan dari Bagas, Nadia seketika membeku di tempatnya. Matanya berkedip beberapa kali, mencoba mencerna istilah "Raja Kloset" dan "Raja Ngebadok" yang baru saja masuk ke telinganya.
Detik berikutnya, wibawa Nadia sebagai Ketua OSIS yang tegas nyaris runtuh seketika. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu memijat pangkal hidungnya yang mendadak terasa pening. Antara ingin marah karena mereka membuat keributan besar, tapi di sisi lain, julukan yang dibuat Alvin untuk dua preman sekolah itu memang terdengar sangat kocak dan akurat.
Nadia melirik Alvin dengan pandangan gemas sekaligus jengkel, sementara Alvin hanya membuang muka, pura-pura tidak tahu apa-apa.
"Kalian berdua ini ya... benar-benar nekat!" bisik Nadia dengan dahi berkerut, menahan diri setengah mati agar tawanya tidak ikut meledak di depan murid-murid kantin. "Bisa-bisanya di situasi menegangkan kayak tadi, pikiran kalian malah meleset ke sana! Kalau sampai Kak Ervan dengar kata 'ngebadok' itu, kantin ini bisa langsung jadi arena tawuran, tahu gak?"
Alih-alih merasa takut atau bersalah setelah ditegur, Alvin justru menatap seniornya itu dengan pandangan datar. Sorot matanya mendadak berubah. "Maaf, Kak. Aku mau nanya sesuatu."
Nadia yang menangkap perubahan drastis pada tatapan mata Alvin langsung menyahut, "Nanya apa?"
Bagas yang menyadari situasi langsung menimpali sembari menggeser posisi duduknya. "Duduk dulu, Kak Nadia. Kayaknya si Alvin udah masuk ke mode serius lagi nih."
Mendengar itu, Nadia akhirnya memutuskan untuk duduk di kursi kosong tepat di depan Alvin dan Bagas. Dia melipat kedua tangan nya di atas meja. "Apa yang ingin kamu tanyakan, Alvin?"
"Aku ingin bertanya soal rekap absen," jawab Alvin lugas.
"Absen?" tanya Nadia, keningnya makin berkerut bingung. "Kenapa tiba-tiba nanya itu?"
"Tadi aku gak sengaja dengar obrolan anak-anak di kantin soal rekap absen akhir bulan. Maksudnya itu apa ya, Kak?" Alvin sengaja berbohong. Dia sama sekali tidak menceritakan kejadian asli di tangga tadi, ketika dia menguping ancaman Ervan kepada Anindia sebelum turun ke kantin. Alvin memilih menyimpan kartu as itu sendiri.
"Ooh, itu..." Nadia mengangguk paham, lalu mulai menjelaskan. "Jadi, setiap akhir bulan itu ada rekap absensi seluruh murid yang dilakukan oleh ketua kelas masing-masing. Setelah selesai direkap, berkas absensi itu akan langsung diperiksa oleh kepala sekolah, lalu diberi cap resmi. Kalau ada murid yang ketahuan banyak alpa atau tidak hadir berturut-turut tanpa keterangan, otomatis dia dianggap melakukan pelanggaran berat dan orang tuanya akan langsung dipanggil ke sekolah."
"Ooh, begitu," Alvin manggut-manggut, mencatat poin penting itu di kepalanya.
Bagas ikut menyambar pembicaraan, memberikan informasi tambahan. "Dan ketua kelas kita, si Anindia, itu anak kesayangan para guru, Vin. Bisa dibilang dia itu udah jadi tangan kanan dan kepercayaan guru-guru di kantor."
"Betul," timpal Nadia menyetujui ucapan Bagas. "Anindia itu anak yang pintar dan rajin. Makanya guru-guru sangat percaya sama dia." Nadia bergumam sejenak sebelum melanjutkan, "Hmm, tapi aku dengar dari Luna, katanya hari ini Anindia sakit ya? Udah dua hari gak masuk sekolah."
"Iya, Kak," jawab Bagas singkat.
Sementara Bagas dan Nadia terus berbicara, Alvin memilih diam. Otaknya berputar cepat, mencoba mencerna dan menghubungkan setiap kepingan informasi yang baru saja dia dapatkan.
'Hmm... apa mungkin rekap absensi milik Ervan sengaja dikamuflase dan diubah lewat Anindia?' batin Alvin menganalisis. 'Karena Anindia anak kesayangan guru dan sudah memegang kepercayaan penuh, otomatis dia pasti sering keluar masuk ruang guru atau ruang kepala sekolah untuk meminta cap dan legalisir absensi kelas. Guru-guru gak akan curiga kalau Anindia yang maju.'
Alvin mengetuk dagunya pelan, menyipitkan mata. 'Analogi gue kayaknya gak salah. Tapi... kalau urusan absen ini yang ditekan Ervan, lalu maksud dari 'kartu as' yang diomongin Ervan di tangga tadi itu apa sebenarnya? Apa ada rahasia lain yang lebih besar dari sekadar bolos sekolah?'
"Tapi, Kak... sebenarnya ada satu hal yang bikin aku heran dari kemarin," ujar Bagas memecah keheningan, menatap Nadia dengan dahi berkerut.
"Heran kenapa, Gas?" tanya Nadia.
Bagas menghela napas pendek. "Kenapa Anindia mau-maunya pacaran sama Ervan, si begundal badok itu?"
Sret!
Saat itu juga, Nadia tersentak kaget. Matanya seketika terbelalak lebar menatap Bagas. "Apa?!" sahut Nadia dengan suara yang sedikit meninggi karena tidak percaya. "Jangan asal ngomong kamu, Bagas! Mana mungkin Anindia yang secerdas itu mau sama Ervan?"
"Gak, Kak. Aku gak asal ngomong," timpal Bagas cepat, berusaha meyakinkan sang Ketua OSIS. "Sebelum Anindia absen karena sakit, tepatnya hari Jumat pas istirahat kedua, Ervan itu sengaja masuk ke kelas kami. Dia kayak bikin pengumuman sepihak gitu. Dengan percaya dirinya, dia bilang di depan kelas supaya jangan ada satu pun anak yang berani coba-coba deketin Anindia, karena Anindia udah jadi pacarnya."
"Kok bisa begitu, ya..." Nadia bergumam lirih dengan raut wajah yang tampak syok sekaligus bingung.
Alvin hanya terdiam sembari melirik ke arah Bagas, merekam setiap kalimat yang keluar dari mulut sahabat bangkunya itu tanpa memotong sedikit pun.
Bagas mengetuk-ngetuk meja, mencoba mengingat-ingat detail kejadian minggu lalu. "Tapi, Kak... kalau diingat-ingat lagi, sebelum Ervan bikin pengumuman itu, emang kayak ada yang aneh sama perubahan sikap Anindia. Dia gak kayak biasanya. Anindia mendadak berubah jadi anak yang sangat tertutup, pendiam, dan auranya kelihatan selalu tertekan."
"Gitu, ya..." Nadia menggeleng-gelengkan kepala nya pelan, hatinya mulai merasa tidak tenang mendengar kondisi salah satu murid berprestasi di sekolahnya itu.
Sementara Nadia dan Bagas masih tenggelam dalam rasa heran mereka, Alvin kembali mengunci mulutnya. Fokusnya menajam saat menyatukan semua kepingan informasi baru ini di dalam kepalanya.
'Aneh... perubahan sikap mendadak yang gak kayak biasanya,' batin Alvin berspekulasi. 'Klaim pacaran sepihak dari Ervan jelas cuma kedok buat mengisolasi Anindia supaya gak ada orang lain yang bisa bantu dia. Fix, kunci dari semua teka-teki ini ada di kelas.'
Alvin melirik jam dinding kantin, bersiap untuk segera kembali ke area kelas. 'Mungkin nanti begitu balik ke kelas, gue harus mulai bergerak dan bertanya lebih banyak lagi sama teman sebangkunya... Luna.'
misalnya kek gini.
"akhirnya saya/aku balik juga ke kota."
cuma ngasi saran saja. 🙏
terima banyak,udah baca karya saya