Kerajaan Zorvath, sebuah negeri yang megah dan agung, dipimpin oleh Raja Reynold Arcturus Zorvath dan Ratu Aurelia Elyse Zorvath. Mereka telah mengikat janji suci selama 20 tahun, namun takdir masih belum memperkenankan mereka untuk memiliki penerus. Empat musim berganti, dari panasnya matahari hingga dinginnya salju, namun harapan akan kehadiran pewaris tahta masih belum terwujud.
Zorvath, sebuah kerajaan yang dikelilingi oleh pegunungan yang menjulang tinggi, menjadi saksi bisu atas perjuangan pasangan kerajaan ini. Desakan dari berbagai pihak semakin kuat, menguji kesabaran dan cinta mereka. Namun, Raja Reynold dan Ratu Aurelia tetap teguh, memegang erat janji mereka untuk menjaga kerajaan dan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chas_chos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Dan tanpa mereka sadari, nama Raja dan Ratu kini mulai dibicarakan bukan dengan hormat... tetapi dengan keraguan.
___________
Istana tampak normal seperti biasanya. Para pelayan berlalu-lalang, penjaga berdiri di pos masing-masing.
Tetapi di balik pintu ruang kerja Raja Reynold, suasana terasa berbeda.
Ratu Aurelia yang hanya duduk berdiam diri sedari tadi, membuat Raja Reynold tidak nyaman. Dengan pelan, ia menutup berkas laporan yang ia baca.
"Ada apa sayang," tanya Raja Reynold dengan memandang lembut kearah Ratu Aurelia.
"Kenapa," dengan nada sendu Ratu Aurelia memandang Raja Reynold dengan rumit.
Mendengar suara Ratu Aurelia yang tidak seperti biasanya, Raja Reynold perlahan berdiri dari kursinya mendekat ke arah Ratu Aurelia.
Tangannya yang besar mencoba menggenggam tangan Ratu Aurelia, tetapi berusaha dilepaskan Ratu Aurelia.
"Sayang," suara Raja Reynold terdengar sedikit panik saat memanggil Ratu Aurelia.
“Kamu tahu laporan yang masuk hari ini?” suara Aurelia mulai bergetar. “Ibu kota kekurangan pasokan. Harga gandum naik. Beberapa tenaga medis dari keluarga bangsawan sudah ditarik, Reynold.” Ia menatap Raja Reynold, kali ini lebih tajam. “Jalur perdagangan mulai ditutup satu per satu.” Napasnya terdengar tidak stabil. “Kamu masih bilang "kenapa",?”
"Kamu tahu sendiri, kenapa para bangsawan itu menekan ku sampai seperti ini," jawab Raja Reynold menatap Ratu Aurelia dengan dalam.
Dengan mata yang berkaca-kaca dan bibir bergetar, suara Ratu Aurelia pun menyahut pelan.
"Apa karena aku tidak bisa memberimu pewaris?"
Ratu Aurelia tertawa getir, ia mengigit bibirnya dalam-dalam.
"Mungkin mereka benar. . ."
Suara Ratu Aurelia semakin pelan.
"Kalau itu yang membuat semua ini berhenti. . ."
Ratu Aurelia menatap lurus ke mata Raja Reynold.
"Ambil lah selir,"
Ruangan terasa sunyi setelah Ratu Aurelia mengatakan itu. Raja Reynold tidak langsung menjawab, tetapi telapak tangan di samping tubuhnya mengepal erat.
Setelah beberapa detik, ia tertawa pendek mendengar perkataan Ratu Aurelia.
"Selir," kata Raja Reynold dingin.
Dengan menatap tajam ke arah Ratu Aurelia,
"Jangan pernah mengatakan hal itu lagi," ucapnya.
Dengan gerakan pelan, ia menyentuh pipi Ratu Aurelia.
Pandangannya nanar.
"Aku berusaha keras mempertahankan mu, tetapi dengan mudahnya kamu berbicara seperti itu," Raja Reynold menggeleng kan kepalanya tidak percaya.
"Aku tidak butuh dipertahankan jika rakyat harus sengsara seperti ini," balas Ratu Aurelia, dengan menghapus setitik air mata yang jatuh di pipinya.
"Jika harga mempertahankanmu adalah kehilangan tahta. . . aku rela,"
Ratu Aurelia membeku
"Tapi jika harga mempertahankan tahta adalah kehilanganmu. . . aku tidak akan pernah memilihnya,"
Air mata Ratu Aurelia akhirnya jatuh dengan deras membasahi pipinya mendengar setiap kata yang diucapkan Raja Reynold kepadanya.
___________
Sementara itu, malam di Desa Fuhan lebih sunyi dari biasanya.
Lampu-lampu minyak di tenda medis mulai redup satu per satu. Beberapa pasien sudah tertidur. Beberapa masih mengerang pelan menahan sakit.
Elara berdiri di depan meja kayu yang penuh perban bekas. Tangannya masih memegang kain yang sudah berubah warna menjadi merah tua.
Tangannya bergetar pelan, bukan karena takut tetapi karena ia lelah. Seharian ini ia hampir tidak beristirahat karena terjadi longsor susulan.
Sekarang, ditambah demam dan infeksi karena obat mulai menipis. Ia baru saja menjahit luka seorang anak kecil tanpa obat bius yang cukup. Suara tangisannya masih terngiang di kepalanya.
Elara menarik napas panjang.
Dengan gerakan pelan ia duduk di kursi kayu kecil di sudut ruangan. Punggungnya terasa nyeri dan tangannya masih bergetar hebat walaupun sudah ia genggam erat di pangkuannya.
Dengan pandangan nanar, ia melihat keluar tenda dengan pandangan rumit.
Bagi warga Desa Fuhan, ia adalah harapan.
Bagi bangsawan, ia mungkin hanya tenaga medis yang tidak berharga.
Sedangkan bagi istana, ia tidak tahu dirinya dianggap apa.
"Tidak boleh lemah," gumamnya pelan pada diri sendiri.
Tidak lama kemudian terdengar seseorang mengerang meminta tolong dari ranjang belakang.
Dengan gerakan pelan Elara langsung berdiri lagi. Ia mengusap cepat sudut matanya, mamastikan tidak ada sisa air mata yang terlihat.
Lalu segera berjalan menuju ke pasien tersebut.
__________
Pagi-pagi sekali seorang ibu datang tergesa-gesa menggendong anaknya yang panas tinggi. Ia segera menghampiri Elara yang sedang memeriksa pasien.
"Dokter, tolong. Dari kemarin panasnya tidak turun-turun," ujar ibu itu dengan air mata yang membanjiri wajahnya.
Elara segera memeriksa anak itu. Tangannya tetap tenang, tetapi rahangnya mengeras. Kalau ini beberapa minggu lalu, ia masih punya cukup obat. Tetapi sekarang.
Obat demam tinggal dua botol.
Antibiotik sudah habis.
Perban tinggal sedikit.
Sekarang ia harus menghemat.
"Aku beri setengah dosis dulu ya bu," ucapnya pelan."Kita lihat reaksinya malam ini bagaimana,"
Ibu itu mengangguk, tetapi wajahnya jelas takut.
"Terimakasih," ucap ibu itu kemudian pergi dari tenda Elara.
_________
Di luar tenda, beberapa pria mulai berbisik.
"Kenapa bantuan dihentikan, bukan kah katanya kerajaan peduli"
"Katanya karena istana lagi goyah,"
"Goyah kenapa,"
"Biasa, masalah pewaris,"
Hening sesaat, hingga suara seseorang terdengar memecahkan keheningan.
"Kalau raja mau ambil selir, semua ini pasti tidak akan terjadi," ucap orang itu dengan keras.
Seorang wanita menegur cepat.
"Sudah, jangan asal bicara!"
"Tapi itu kenyataannya," balas orang itu.
"Satu orang tidak bisa memberi pewaris. . . Satu kerajaan yang menanggungnya,"
Di balik tenda Elara mendengar semua yang warga bicarakan. Ia berdiri membeku dengan rahang yang mengeras.
"Jadi," gumamnya pelan, hampir tak terdengar.
"Hanya karena pewaris. . ."
Ia menatap keluar tenda.
"Rakyat bisa dijadikan alat,"
Tidak ada air mata.
Tidak ada suara bergetar.
Hanya kemarahan yang mulai tumbuh.
Dan untuk pertama kalinya, Elara tidak merasa lelah.
Ia merasa muak.
_
_
_
19 Februari 2026
_
_
Maaf kalau masih banyak typo 🙏
_
_
🥰🥰🥰
Berarti ini udaa beberapa tahun kemudian begitu kah🙈