NovelToon NovelToon
Cursed Lady

Cursed Lady

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Chicklit / Tamat
Popularitas:150.6k
Nilai: 4.8
Nama Author: A&Y

Elleanor puteri Duke Penguasa Kegelapan telah dikutuk sejak dia lahir. Tapi anehnya, dia bisa melihat masa depannya sendiri sejak masih bayi. Dia melihat takdirnya yang terabaikan. Lahir tanpa kasih sayang membuatnya tumbuh menjadi antagonis yang kehidupannya berakhir tragis di tangan pria yang dicintainya.

Takdir seperti itu tidak bisa membuatnya tinggal diam. Dia akan mengubah cerita masa depannya. Apapun yang terjadi!

©A&Y original

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A&Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

    “Jadi mau sampai kapan kau mengikutiku?”

    (Kau bisa melihatku?)

    “Kau mengikuti Emrysh bukan?”

    (Dia pasanganku.)

    “Aku tau. Dia juga pernah mengatakannya padaku, kalau pasangannya hilang. Jadi, karena itu, kau berkeliaran di sekelilingku.”

    (Sejak kapan kau bisa melihatku)

    “Kenapa? Kau penasaran?”

    (Kau tau sesuatu?)

    “Ya. Sejak cincin Batu Eternite ini resmi menjadi milikku. Aku bisa melihat dunia kalian para spirit.”

    (Ah. Jadi kau pura-pura tidak melihatku selama ini.)

    “Tentu saja. Sangat menarik melihatmu berkeliaran disekitarku, seharusnya kau bertanya dulu pada Emrysh, darimana dia bisa mendapat nama itu? tentu saja dariku. Dasar bodoh.”

    (Jadi apa kau tau tentang Nona Elaine?)

    “Apa yang kau maksud? Kau ingin bertanya aku tau dia memiliki kekuatan sepertiku?”

    (Kau salah. Kaulah yang memiliki kekuatan sepertinya)

    “Ahh, jadi begitu, apa hanya keturunan kegelapan saja yang boleh memiliki kekuatan seperti ini?”

    (Benar. karena kau terhubung dengannya, maka kekuatannya terhubung denganmu.)

    “Apa maksudmu?”

    (Kau akan tau dengan sendirinya. Sekarang, bisa kau bantu aku?)

    “Bantuan seperti apa?”

    (Nona Elaine dalam bahaya, dia memanggilku.)

    Saat itulah, putera mahkota bergegas mengambil senjatanya.

    “Dimana bocah itu?”

    (Ikuti aku.)

***

    “Jadi, kau bisa melihat spirit. Kau juga bisa menguasai sihir sejak lama?” Dua kekuatan dalam satu tubuh. Sama seperti Papa.

    “Bukankah sudah jelas.” 

    “Tidak aku masih tidak percaya. Dimana Eric sekarang?”

    “kemana lagi, dia pasti sedang pergi kencan dengan spiritku.”

    Eric!!! Dasar spirit bucin! Dia mengabaikan panggilanku., malah sibuk kencan.

    (Tidak usah emosi begitu aku disini.)

    “Eh?”

    (Salam Nona Elleanor.) ada satu lagi spirit merah wanita, sangat cantik.

    (Saya Emrysh.)

    “Jadi kau pasangan yang Eric maksud?” 

    (Nona apa kau kesal padaku?)

    “Jangan bicara padaku. Atau kubuang kau ke rawa-rawa.”

    “Apa sudah selesai reuniannya, kalian mengabaikan keberadaanku rupanya.” Sela putera mahkota..

    “Jadi putera mahkota, bagaimana caramu menggunakan sihir?”

    “Cukup mudah. Apa kau tertarik?”

    “Tidak. Aku bisa berlatih sendiri.”

    “Baiklah. Jika salah Langkah kau bisa melukai orang-orang loh.”

    “Eric. Kau bisa melatihku sihir?”

    (--_-- Nona aku ini spirit bukan penyihir. Dewa akan menghukumku nanti.)

    “Ehem.” Putera mahkota berdehem. Tidak. Aku tidak mau berlatih dengannya.

    “Kalau kau minta bantuan penyihir, maka kekuatannya akan bertolak belakang dengan spiritmu,” Ucapnya.

    “Lalu putera mahkota sendiri? Siapa yang melatihmu?”

    “Tentu saja. Aku lebih dulu berlatih sihir daripada melihat spirit, itu tidak berpengaruh sama sekali."

    oh. jadi dia sudah berlatih sihir sejak kecil.

    “Kalau begitu, katakana, apa sihir yang ada dalam dirimu?”

    “Kau penasaran?”

    “Tentu saja aku harus tau lebih dulu sehebat apa pelatihku.” Jawabku lantang.

    “Aku tidak bisa mengatakannya.”

    “Kenapa?”

    “Kau pasti akan menganggapku sombong.”

    “Hahaha kau baru sadar.” Tawaku.  Dia langsung menajamkan matanya.

    “Baiklah, akan kukatakan, aku memiliki sihir pelindung, masih ada satu, tapi aku belum menemukannya.”

    Apa maksudnya?

    “Jadi, kau tau masih ada satu partikel sihir dalam dirimu yang belum kau ketahui?”

    “Benar. seperti kau, kau tau apa kekuatanmu?”

    Aku menggeleng.

    “Kalau begitu, berlatihlah. Dan temukan kekuatanmu.”

    “Ap aitu penting?”

    “Jika kejadian seperti ini terulang. Siapa yang akan melindungi dirimu sendiri? Bahkan kau tidak tau kalau kau sedang dijebak seseorang.”

    “Dijebak? Apa maksudnya?”

    “Tidak usah dipikirkan. Aku akan menyelidikinya. Yang jelas, kau harus lebih berhati-hati.”

    Siapa orang yang berusaha menjebakku? Apa Nona Gail? Apa dia berani sejauh itu demi memuaskan kebenciannya? Tapi tidak boleh menyudutkannya, aku harus mencari tau lebih dulu.

    “Kita Kembali sekarang,”

    “Baik.”

    Hari ini, entah kenapa, aku tidak begitu mengantisipasi putera mahkota. Apa aku mulai mempercayainya? Apa karena aku yakin pada diriku sendiri, aku tidak akan terjebak dalam tragedy masa depan. Karena di masa sekarang, aku tidak mencoba melukai siapapun. Aku tidak membenci Adrienne, sehingga putera mahkota tidak membenciku. Benar, kuncinya memang ada padaku. Selama aku menjadi baik, aku tidak akan celaka. Ingat. 

***

    “Nona Elleanor, apa kau baik-baik saja, kudengar kalian tersesat. Apa kau tau, beberapa ksatria bahkan mendatangi kami mereka menanyakan tentangmu.”

    Ah, mereka pasti Lou, Elvin dan anggota yang mengawasiku. Aku bertemu dengan Lou saat perjalanan Kembali tadi, dia sangat cemas. Aku tau itu. tapi aku tidak mau kalau kabar hilangnya aku sampai ke telinga Papa. Aku tau dia sedang berjuang mempertahankan perbatasan dari tangan pemberontak. Tapi aku senang, karena Elvin membawa kabar gembira untukku. Pasukan mereka akan kembali sebentar lagi. pada saat itu, aku bisa menghubungi Papa.

    “Nona kau belum menjawab pertanyaanku,” Clara masih penasaran dengan apa yang terjadi.

    “Clara aku baik-baik saja, lihatlah aku Cuma tersesat. Tapi yang lebih penting, bagaimana keadaan Nona Adrienne?”

    “Oh. Benar, dia Kembali lebih dulu dengan ketua kelasmu,”

    “Oh syukurlah, apa dia terlihat kesakitan atau apa?”

    “Tidak, dia tampak baik-baik saja. Hanya saja kami berpapasan di hutan, lalu putera mahkota diikuti dua orang datang menghampiri. Aku melihatnya memegang erat tangan putera mahkota. “

    “Oh. Wajar saja dia tunangannya, pasti dia hanya ingin bergantung pada Putera mahkota.”

    “Tidak. Putera mahkota tidak tampak khawatir sama sekali. Wajahnya itu seperti pembunuh, sangat ganas dan dingin. Dia mengabaikan Nona Adrienne, dia menyuruh Jacqueline mengantarkannya Kembali. Setelah itu, dia masuk ke hutan.”

    Mungkin, dia seperti itu karena Nona Adrienne sudah baik-baik saja. Dan dia bilang dia datang karena mengikuti Eric, mungkin Eric yang memaksanya cepat. Dia tidak bermaksud mengabaikan Nona Adrienne. Tapi aku belum mengucapkan terima kasih padanya, sekarang sudah malam, apa dia sudah tidur?

    “Clara, kau tidurlah lebih dulu, aku ingin ke kamar kecil.”

    “Baik,”

    .

    .

    .

    Aku tidak tau dimana tenda putera mahkota, tapi Eric pasti tau.

    (Malam-malam begini kenapa memanggilku,)

    “Kau tau dimana putera mahkota sekarang?”

    (Ah. Baru sejenak tidak melihatnya kau sudah rindu ya.)

    “Diam kau. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih tau.”

    (Baiklah, kau jalan lurus saja. Didekat sungai kecil dia mendirikan tendanya)

    “Hah? Apa dia makhluk penyendiri., kenapa mendirikan tenda ditempat gelap itu.”

    (Panggil saja kunang-kunang kalau kau takut.)

    “Eh,”

    Lagi-lagi dia menghilang sebelum kusuruh. Dasar Eric! Mentang-mentang sudah menemukan pasangannya dia jadi sering mengabaikanku. Memang spirit yang sudah jatuh cinta tidak ada bedanya dengan manusia. Gara-gara dia aku jadi terlibat dengan putera mahkota. Kenapa juga batu Eternite satunya harus diturunkan pada Putera mahkota. Dan kenapa juga putera mahkota bisa memiliki kemampuan sepertiku, padahal menurut Jerome hanya keturunan kegelapan yang dapat melihat spirit. Atau—Jangan-jangan dia bukan keturunan cahaya murni? Aish, apasih yang kupikirkan.

    “Hish benar-benar deh. Kenapa juga dia ikut kemah kalau tidak mau berbaur. Mendirikan tenda dihutan belantara sendirian.”

    Lihat. Bahkan tendanya tidak diberi penerangan apapun. Dia sedang berkemah atau bertapa. Misterius sekali.

    “Kau itu pawang binatang ya? Bahkan kunang-kunang mengikutimu.”

    “Astaga?!” Ada suara seseorang dari belakangku.

    “Si-siapa?” Aku tidak berani menoleh.

    “Kenapa datang menyelinap ke tendaku malam-malam.”

    Oh putera mahkota rupanya. Aku menoleh dan tersentak. Dia tidak memakai pakaiannya. Aku menutup mataku cepat.

    “Pfftt. Kenapa malah kau yang malu.”

    “Pu-putera mahkota tidak boleh mesum! Cepat pakai pakaianmu.”

    “Ck. Kau menganggu waktu mandiku saja. Sayang sekali loh tubuh sebagus ini tidak dilihat.”

    “Da-dasar cabul! Aku ini masih anak-anak tau!”

    “Pfft. Anak-anak ya rupanya,”

    Ngapain sih dia itu?! Tidak punya malu ya?!

    “Mau sampai kapan kau tutup wajahmu. Lihat.”

    “Tidak mau. Aku bukan orang yang suka melihat hal semacam itu.”

    “Yasudah, kau begitu saja terus. Aku mau tidur.”

    Eh? Dia meninggalkanku! Dia ini sedang ngeprank ya?!

    “Tunggu! Kau sudah pakai bajumu?”

    “Makanya kau lihat dulu dengan benar.”

    Aku memberanikan diriku. Ah sudah rupanya. 

    “Katakan. Kenapa mencariku malam-malam.”

    “Um. Terima kasih sudah membantuku siang ini,”

    “Oh. Hanya itu?”

    “Memangnya apalagi?”

    “Tidak ada balasan apapun?” Ucapnya. Dia ini maunya apa sih?

    “Memangnya kau mau aku melakukan apa?”

    “Aku kelaparan, setidaknya kau datang dengan membawa sesuatu yang bisa kumakan.”

    Hah? Memangnya putera mahkota bisa kelaparan ya? Memangnya dia kesini sendirian tanpa pengawal atau pelayan? Aku melihat ke sekeliling.

    “Tidak ada siapapun, aku datang tanpa persiapan apapun tau. Ah satu lagi, kunang-kunangmu bisa tidak Jangan Cuma mengelilingimu.”

    “Memangnya kenapa?”

    “Nanti Cuma wajahmu yang keliatan. Wajah tampanku ini tidak kena cahaya.”

    “Ck. Salah siapa tidak menyalakan lampu,”

    “Kan aku bilang aku datang tanpa persiapan, bahkan tenda itu aku meminjamnya.”

    “Oh.”

    Tunggu sebentar, terbesit ide dalam otakku.

    “Kau lapar kan?”

    “Umm.”

    “Baik, berhubung kau sudah tau kemampuanku, mari kita manfaatkan. Putera mahkota, duduk dan lihat saja.”

    “Dimana aku duduk?”

    “memangnya dimana lagi? kau seharusnya membawa singgahsanamu kalau tidak mau duduk di rumput.”

    “Pft. Baiklah baik.”

   

Sebelum itu aku akan mengumpulkan beberapa ranting yang ada disekitarku. Cukup banyak ranting-ranting disini. 

    “Kau mau membuat api unggun?”

    “Benar. Bavol, nyalakan apinya,”

    “Wah, apa itu spirit yang kulihat sebelumnya?”

    “Eh? Kapan kau melihatnya?”

    “Tidak. Lupakan saja.”

    “Apa kau alergi ikan?”

    “Tidak.”

    “Baiklah, aku akan membuat ikan bakar.”

    Aku bergerak menuju sungai. Dia mencekal tanganku tiba-tiba.

    “Malam-malam begini kau mau masuk ke sungai?”

    “Putera mahkota tenang saja, memangnya siapa yang mau kedinginan malam-malam begini. Lihat saja.”

    Aku memanggil spirit sungai, tentu saja, dia yang akan memberikan ikannya padaku. Hohoho. Kalau aku bukan bangsawan aku pasti akan cepat kaya hanya mengandalkan kemampuanku ini, tapi aku melakukannya hanya saat terdesak saja. Seperti saat ini, kami terdesak karena kelaparan.

    “Bagaimana?” Tanyaku sambil  berkacak pinggang.

    “Lumayan.”

    “Ck. Akui saja putera mahkota merasa iri denganku.”

    “Hahahaha, aku? iri pada seorang bocah?”

    “Benar.”

    “Ck. Jangan harap.”

    Ckckck. Dia ini memang tidak bisa dipatahkan keangkuhannya rupanya ya, baiklah, aku akan menunjukkan kemampuanku dalam bertahan hidup padany. Ikan bakar yang sering kubuat bersama Kak Valiant.    

    “Apa kau pernah memasak ikan sebelumnya,”

    “Umm, saat aku diam-diam pergi ke camp pelatihan. Ada kolam besar disana, lalu aku menangkap ikan, setelah itu aku membakarnya dengan seseorang.”

    “Cam pelatihan? Apa camp saber?”

    “Ya. Semua orang tau kalau Saber milik wilayahku kan,”

    “Ah, jadi kau dekat dengan kesatria di sana?”

    “Umm.” Jawabku masih fokus dengan ikan yang ku bakar.

    “Sedekat apa?”

    “Umm, tidak bisa kugambarkan. Karena sangat dekatnya, bahkan kau akan merasa kehilangan saat dia berada jauh.”

    “Oh. Kau bilang masih bocah, tapi kau sudah punya kekasih.” Nadanya berubah dingin.

    “Kekasih? Apa putera mahkota mengira aku membicarakan kekasihku?”

    “Memangnya apalagi?”

    “Dia, kakakku. Orang yang sangat berharga, dia satu-satunya orang yang berani menegur dan menasihatiku seharian penuh. Karena itu, aku terkadang merindukan saat-saat dia memarahiku.”

    ‘Ahh,”

    “Nah sudah matang. Cobalah.”

    “Tunggu. Ada apa dengan tanganmu?” Tanyanya.

    “AH, ini, saat memanjat pohon di hutan tadi, sepertinya tergores. Tidak masalah hanya luka kecil.”

    Dia tiba-tiba saja meraih tangan kananku.

    “Apa kau tau betapa berharganya tangan seorang gadis?”

    Aku menggeleng. “Kupikir aku sering terluka seperti ini saat kecil. Apa separah itu?”

    “Benar. saat dihadapanku kau tidak boleh terluka.”

    Eh? Apa maksudnya.

    “Kau pasti pandai menutupi lukamu, benar?”

    “Umm. Kau tau, aku sering seperti ini, jadi tidak masalah.”

    Dia menarik hingga putus ikat jubahnya,

    “Eh? Putera mahkota Jangan.”

    “Kubilang, kau tidak boleh terluka dihadapanku.”

    “Oh. Terima kasih.”

    Dia menatapku tiba-tiba. “Kenapa kau selalu saja ceroboh, apa kau tidak takut pada apapun?”

    Kenapa ucapannya, seolah-olah dia mengenalku. Memangnya kapan aku bertindak ceroboh dihadapannya. Apa dia masih mengingat kejadian aku jatuh dari pohon?

    “Putera mahkota, sebelum bertanya padaku lebih baik tanyakan pada diri putera mahkota lebih dulu. Bukankah kita sama-sama menyukai kebebasan. Saat melihat dunia luar, apakah ada yang bisa kita takuti?”

    ***kau benar. tapia da satu hal yang kutakuti di dunia ini. melihatmu terluka. Kenapa aku merasa takut akan hal itu?***

    “Saat kau ingin melihat dunia luar. Ajaklah seseorang yang kau percaya, Jangan pernah pergi sendiri. Mengerti?” Ucapnya.

“Baiklah, baiklah sekarang cicipi ikannya. Kau bilang kau lapar.”

“Umm.”

“Lumayan.” Ucapnya.

Yah, memang tidak ada kata lain selain ‘lumayan’ dari mulutnya itu.

    Suasana menjadi hening, dia sibuk menyantap makanannya. Tiba-tiba terbesit pertanyaan dalam otakku.

“Um putera mahkota, aku masih penasaran. Sejak kapan kau bisa melihat spirit?”

“Oh. saat cincin ini diturunkan padaku. Saat pelantikan sekaligus debutku.”

***tidak. Aku berbohong, aku bisa melihat spirit saat bertemu denganmu beberapa tahun lalu. Tapi saat itu aku tidak tau, makhluk-makhluk tanpa tubuh itu disebut spirit. Apakah ini ada hubungannya dengan Eric dan Emrysh? Mereka yang menghubungkan kami?***

“Oh. Sepertinya hampir sama. Aku juga bisa melihat itu, saat kalung ini mulai bersamaku.”

“Bagaimana perasaanmu saat itu. apa kau takut?”

“Tidak. Karena yang kulihat hanya spirit baik. Tidak ada yang seram dari mereka, aku tidak takut.”

“Ah benar, mereka tidak buruk.”

Meski aku ingat, aku pernah bermimpi melihat makhluk menyeramkan. Tapi, setela hari itu, aku tidak pernah bermimpi hal buruk lagi.

“Apa kau senang berada di akademi?”

“Umm, pertama kalinya aku bisa menilai bagaimana karakter orang-orang.”

“Ah, jadi kau senang menilai orang rupanya. Bagaimana karakterku? Apa yang kau lihat.”

“Tidak mau kusebutkan.”

“Kenapa? Jangan-jangan karakterku terlalu baik jadi kau malu ya,”

“Haissh. Sudahlah aku mau Kembali ke tendaku. Sudah larut. sekali lagi, terima kasih sudah membantuku.”

“…”

Eh dia tidak menjawabku?

“Apa kau tidak penasaran siapa yang berusaha menjebakmu?” Tanyanya tiba-tiba.

“Biarkan saja, Jangan terlalu kelihatan kalau aku penasaran. Ada saatnya mereka menunjukkan sisi aslinya,”

“Mereka? Ah kau sudah tau rupanya.”

“Tentu saja. Akan sangat aneh kalau aku tidak tau.”

“Baiklah, kembalilah, sudah malam.”

“Baik, selamat malam.”

Eh?

“Kenapa mengikutiku?”

“Aku akan mengantarmu sampai pintu masuk.”

“Oh. Terima kasih,”

“Kalau kau berterima kasih lagi padaku, kau harus sering membuatkanku ikan bakar.”

“Hahaha. Bilang saja putera mahkota ketagihan dengan ikan bakar buatanku.”

“Ya. Karena aku lapar."

***

tbc..

1
good novel
Sri Rahayu
cerita yang sangat bagus
Ailsa Nabilah
ini nih gambarnya putra mahkota ya
Kembar
banjir.... banjir... banjir....
Cam
menarik 😍
Agus_Tina
bagus bgt critax. recommended bgt tuk para pmbaca novel fantasi
Agus_Tina
baru ngeh dia tentang pernikahan
Agus_Tina
suka ceritax
Agus_Tina
semangat Thor
Agus_Tina
akhirnya Elaine bngkit
Agus_Tina
ptra mahkota mulai loading
Agus_Tina
mkn penasaran
Agus_Tina
ttp Semangat Thor
Agus_Tina
bagus alur ceritanya
Agus_Tina
semangat Thor
Agus_Tina
poor Elaine
Agus_Tina
d tnggu kebangkitanx Elaine
Agus_Tina
bagus ceritanya
Agus_Tina
semangat Thor
Agus_Tina
siapa itu?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!