NovelToon NovelToon
Beban Kelahiran Yang Tragis

Beban Kelahiran Yang Tragis

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: kegelapan malam

Kelahiran Senja Putri Baskara bukanlah awal, melainkan akhir.

​Awalnya, ia adalah janin yang dikandung ibunya, janin yang membawa badai-badai kehadirannya merenggut nyawa kakak laki-lakinya, Fajar Putra Baskara, menghancurkan bisnis keluarga, dan melenyapkan kebahagiaan sang ibu. Sejak hari pertama dirinya hadir, Senja adalah bayangan yang dicap sebagai pembawa sial.


​Satu-satunya cahaya di hidupnya adalah sang ayah. Pria yang memanggilnya 'Putri' dan melindunginya dari tatapan tajam dunia. Namun, saat Senja beranjak dewasa, cahaya itu pun padam.

​Ditinggalkan sendirian dengan beban masa lalu dan kebencian seorang ibu, Senja harus berjuang meyakinkan dunia (dan dirinya sendiri) bahwa ia pantas mendapatkan kebahagiaan.


Apakah hati yang terluka sedalam ini bisa menemukan pelabuhan terakhir, ataukah ia ditakdirkan untuk selamanya menjadi Anak pembawa sial? ataukah ia akan menemukan Pelabuhan Terakhir untuk menyembuhkan luka dan membawanya pada kebahagiaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35

Pagi di Griya Kencana disambut dengan aroma teh melati dan suara kicauan burung di taman. Di kamar 102, perubahan atmosfer terasa sangat nyata. Paramita tidak lagi terlihat seperti wanita yang hancur setelah disiksa Marcus Valerio. Luka-lukanya memang masih membekas, namun ia telah mengubah luka itu menjadi senjata.

​Selama seminggu terakhir, ia menjadi subjek pembicaraan para perawat. "Nyonya Paramita adalah contoh nyata dari pertobatan," bisik salah satu suster senior. Paramita kini rajin mengikuti kebaktian pagi, menyapa setiap orang dengan anggukan hormat, dan bahkan sering membagi jatah buahnya kepada penghuni panti yang lebih lemah.

​Ia menghabiskan waktu berjam-jam duduk di taman, bukan lagi untuk meratapi kemiskinannya, melainkan untuk melukis bunga-bunga kecil pada kartu ucapan. Gerakannya lambat, tangannya sesekali gemetar sebuah akting fisik yang sempurna untuk menunjukkan kerapuhan, padahal setiap sapuan kuasnya adalah bentuk latihan untuk mengembalikan koordinasi motoriknya demi rencana yang ia pendam.

​Saat Senja melangkah masuk ke lorong panti, jantungnya berdegup kencang. Ia membawa rantang berisi makanan rumahan yang ia masak sendiri sebuah tindakan yang dulu tidak pernah ia bayangkan akan ia lakukan untuk ibunya.

​Pintu kamar terbuka. Senja melihat Paramita sedang berusaha berdiri dari kursi roda untuk mengambil selembar kertas yang jatuh. Sosok itu terlihat begitu kecil dan payah.

​"Ibu... biar aku yang ambil," ujar Senja cepat, ia berlari kecil dan memungut kertas itu.

​Paramita mendongak. Matanya seketika berkaca-kaca, memancarkan binar yang begitu tulus hingga Senja merasa seluruh dendamnya menguap. "Senja... kau datang? Ibu pikir kau sudah membuang kunci kenangan tentang Ibu."

​"Aku membawa makanan, Bu," Senja meletakkan rantangnya di meja, mencoba menyembunyikan getaran di suaranya.

​Paramita memegang tangan Senja. Jemarinya yang kurus dan dingin merambat di kulit Senja, memberikan sensasi yang aneh sebuah sentuhan yang terasa seperti perlindungan, padahal sebenarnya adalah sebuah "pengukuran". Paramita sedang merasakan detak nadi putrinya, mengukur seberapa besar pengaruh emosional yang masih ia miliki atas Senja.

​Mereka makan bersama dalam keheningan yang menyesakkan. Paramita memakan masakan Senja dengan sangat lahap, seolah-olah itu adalah makanan terenak di dunia.

​"Ibu tidak pernah tahu kalau kau bisa memasak seenak ini, Senja," bisik Paramita sambil menyeka air mata dengan punggung tangannya yang memar. "Maafkan Ibu... dulu Ibu hanya peduli pada warna dan kanvas, sampai Ibu lupa memberikan rasa pada hidupmu. Ibu adalah ibu yang gagal."

​Senja menunduk, air matanya jatuh ke dalam mangkuk supnya. "Sudahlah, Bu. Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang yang penting Ibu sembuh."

​"Ibu ingin sembuh hanya untuk melihat cucu-cucuku tumbuh, Senja," lanjut Paramita, suaranya sangat lirih, hampir seperti bisikan malaikat. "Ibu tidak ingin harta. Ibu tidak ingin galeri lagi. Ibu hanya ingin menebus dosa dengan menjadi nenek yang baik bagi Tiga Cahaya. Jika kau mengizinkan, Ibu ingin memberikan pelajaran dasar estetika pada mereka... bukan untuk kompetisi, tapi agar mereka tahu betapa indahnya ciptaan Tuhan."

​Senja merasa hatinya luluh sepenuhnya. Tawaran itu terdengar sangat tulus. Ia melihat ibunya yang sekarang bukan lagi "Paramita sang Diktator Seni", melainkan "Paramita sang Nenek yang Bertobat".

​Sore harinya, sebelum Senja pulang, ia melihat sketsa bunga matahari yang dibuat Paramita.

​"Bagus sekali, Bu," puji Senja.

​Paramita tersenyum lembut, sebuah senyuman yang sangat tenang namun memiliki kedalaman yang mengerikan jika diperhatikan lebih seksama. "Dalam seni, Senja... bagian tersulit adalah menciptakan 'ilusi kedalaman'. Bagaimana kita bisa membuat permukaan yang datar terlihat seolah memiliki ruang yang tak terbatas. Begitu juga hidup. Kadang kita harus terlihat 'datar' dan 'lemah' agar orang bisa melihat 'ruang' baru di dalam diri kita."

​Senja mengangguk, menganggap itu adalah filosofi pertobatan ibunya. Ia tidak menyadari bahwa Paramita sedang mendeskripsikan strateginya sendiri: terlihat lemah untuk menciptakan ilusi keamanan.

​Setelah mobil Senja meninggalkan area panti, Paramita kembali ke kamarnya. Wajahnya yang tadinya memancarkan kehangatan seketika berubah. Garis-garis di wajahnya mengeras, dan matanya yang tadinya basah oleh air mata kini kering dan setajam elang.

​Ia berjalan ke arah cermin, berdiri tegak tanpa bantuan tongkat atau kursi roda selama beberapa saat sebuah bukti bahwa pemulihan fisiknya jauh lebih cepat dari yang ia tunjukkan pada Senja.

​Ia merogoh saku pakaian sutranya dan mengeluarkan sebuah jam tangan pintar kecil yang ia sembunyikan dari pemeriksaan rutin suster. Layar jam itu menyala, menampilkan data koordinat GPS kediaman Saputra.

​"Senja yang malang," gumam Paramita sambil menatap pantulan dirinya di cermin. "Kau masih sangat mudah dipengaruhi oleh sedikit air mata. Kau pikir satu tahun di penjara dan siksaan Marcus bisa mematikan instingku?"

​Ia mengusap layar jam itu, memunculkan foto Tiga Cahaya yang ia peroleh dari media sosial perusahaan Damar. "Kalian adalah algoritma yang luar biasa, cucu-cucuku. Binar dengan logikanya, Fajar dengan matanya, dan Cahaya dengan suaranya... Kalian bukan hanya manusia. Kalian adalah alat untuk menguasai pasar dunia yang baru. Dan aku tidak akan membiarkan 'kelembutan' ibumu merusak potensi yang seharusnya menjadi milikku."

​Paramita mengambil sebuah buku catatan yang diberikan oleh panti untuk para lansia mencatat harian mereka. Di sana, ia menuliskan kata-kata puitis tentang Tuhan dan pengampunan. Namun, jika buku itu diletakkan di bawah cahaya ultraviolet, atau jika seseorang membaca huruf pertama dari setiap paragraf, maka akan muncul sebuah skema: Jadwal pengamanan rumah Damar, jam kerja Damar, dan titik-titik lemah di psikologis Senja.

​Ia tahu, untuk mendapatkan Tiga Cahaya, ia tidak bisa lagi menculik mereka atau menggunakan cara kasar. Damar terlalu kuat untuk itu. Strategi barunya adalah: Menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hati mereka. Ia akan masuk ke rumah itu sebagai sosok nenek yang paling dicintai, sehingga saat tiba waktunya nanti, anak-anak itu sendiri yang akan memilih untuk mengikuti arahannya daripada arahan orang tua mereka.

​"Seorang maestro tidak pernah menyerah pada kegagalan pertama," bisik Paramita pada kegelapan malam. "Dia hanya mengganti kanvasnya."

​Ia kemudian berlutut di samping tempat tidur, memasang posisi berdoa saat mendengar langkah kaki perawat mendekat untuk pemeriksaan malam. Saat perawat itu masuk, ia hanya melihat seorang wanita tua yang sedang bersimpuh pasrah pada Sang Pencipta.

1
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
tak terasa udah tamat lagi/Grievance//Grievance/ ayo buat season 2 nya/Determined//Determined/
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
cius ini End😏 ngga prank kan🏃🏃
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: engga beneran udh end kok
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Cerita yg bagus, seru dan tidak berbelit². Pokoknya gakan rugi buat mampir❤
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ: Kembali kasih🤗
total 2 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Seriusan ini tamat/Curse/ kok gak rela sih/Cry/
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: iya sudah harus tamat kita akan ganti ke cerita baru🫣🫣
total 1 replies
Nana✨
ke apa statusnya sudah End kak?
Nana✨: Loh, part Binar ketemu sama aku kemudian jatuh cinta, belum ada kak? /CoolGuy//CoolGuy/
total 2 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
akhirnya mati juga
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩: berarti belum tamat/Curse/😏
total 6 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Akhirnya😭😭 awas aja kalo tu nenek peot bangkit lagi🙄
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: maaci/Kiss/
total 7 replies
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
/Curse//Curse//Curse//Curse//Curse/ kak buruan up lagi /Curse//Curse//Curse/ kenapa di pending segala tuh si nenek lampir bentar lagi mau mati/Angry//Angry//Angry/
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥: /Scowl//Frown//Frown/
total 6 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Othooorrr/Curse/
Gak mau tahu pokoknya double/Cry/ Masa iya ngamook ku mesti ditunda sampe besok/Hammer/
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ: Itu mah beda lagi/Scream/
total 4 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
mbuh mbuh mbuhhhhh... orang mati di pending-pending gitu
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: aku kenapa weh🤣🤣🤣
total 3 replies
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
apaan ini/Angry//Angry/, Si Paramita cepetan mati lah /Angry//Angry/... Gila bener tuh si Paramita/Angry//Angry//Angry/

othor mesti double up ini/Angry//Angry//Angry/
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥: double up double up double up/Angry//Angry//Angry/
total 4 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
😏 aku kutukk kau/Curse//Curse/ kak biar jadi sinderlela
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: /Awkward//Awkward//Awkward//Awkward//Awkward/
total 7 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Othorr, jangan macam² kamu ya/Cry/ Dasar Paramita gila/Curse/
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ: Awas aja ya/Scream/
total 4 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Nenek peot/Hammer//Hammer/ Gimana ini/Cry/
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: aku ingin tpi aku tak disanaaa/Cry/
total 3 replies
Nana✨
Kagak pernah di kasih nafas untuk tenang sedikit senjanya oleh nenek tua itu/Cleaver//Cleaver/
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: neneknya mmg jahara/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$⚖️⧗⃟ᷢʷ🦐ᵗᵉ𝓡𝐸ˢ⍣⃟ₛ ☠️⃝🐊
meluncur ke sini tanpa nyasar 😍
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: Alhamdulillah kl gk kesasar/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Semoga mereka bisa melindungi Senja dari orang gila yg datang
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ: Hehh/Curse/
total 2 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Ada aja gangguan nya/Scream/
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ: Dihh situ kan othornya🙄
total 2 replies
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
mau juga gulali nya/Grievance//Grievance/
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥: /Shy//Shy//Shy/
total 4 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
🤣🤣🤣 Kalian hebat. Demi mama dan calon adik kalian, kalian mau bersusah payah untuk membuatnya😘
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ: Hahaha... gpp namanya juga baru belajar
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!