NovelToon NovelToon
Rempah Sang Waktu

Rempah Sang Waktu

Status: tamat
Genre:Time Travel / Cinta Istana/Kuno / Reinkarnasi / Cinta Beda Dunia / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:30.5k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Seorang Food Vlogger modern yang cerewet dan gila pedas, Kirana, tiba-tiba terlempar ke era kerajaan kuno setelah menyentuh lesung batu di sebuah museum. Di sana, ia harus bertahan hidup dengan menjadi juru masak istana, memperkenalkan cita rasa modern, sambil menghindari hukuman mati dari Panglima Perang yang dingin, Raden Arya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Season 3 Warisan Darah Majapahit : 08. Lorong Uap dan Barisan Budak Gula

Pukul 16.25 WIB. Koridor Menuju Ruang Bawah Tanah.

Arya berlari paling depan, pedang katana-nya terhunus. Di belakangnya, Kirana dan Dimas mengikuti rapat.

Mereka sampai di sebuah pintu besi besar berlabel “RUANG KETEL UAP-BAWAH TANAH”.

Namun, jalan mereka dihadang.

Dari lantai, dinding, dan langit-langit, muncul puluhan sosok manusia yang berlumuran cairan hitam pekat—seperti tetes tebu yang hidup. Mereka adalah arwah para pekerja paksa pabrik gula zaman kolonial yang diperbudak oleh ilmu hitam Ki Seto.

Wajah mereka rata, tanpa mata dan mulut. Tubuh mereka lengket dan berbau busuk. Mereka berdiri rapat memblokir pintu besi itu.

“Minggir,” geram Arya.

Para makhluk itu mendesis, lalu menerjang maju serempak seperti gelombang pasang.

Arya tidak mundur. Ia merangsek maju.

SLAASHH!

Pedang Arya menebas leher makhluk pertama. Meski pedang itu fisik, tapi karena dialiri amarah murni dan dibalut sisa energi spiritual Arya, tebakannya mampu membelah tubuh ektoplasma itu. Cairan hitam muncrat ke dinding.

Tapi jumlah mereka terlalu banyak. Dua makhluk menerkam tangan Arya, mencoba menahan pedangnya.

“BAKAR MEREKA, NA!” Teriak Arya.

Kirana maju. Wajahnya basah oleh air mata, tapi matanya menyala merah. Ia tidak lagi takut. Ia mengangkat tangan kanannya, mengarahkan Cincin Merah Delima kearah kerumunan makhluk itu.

“JANGAN HALANGI JALAN GUE!!” Jerit Kirana.

WOOSH!!

Cincin itu menembakkan gelombang panas yang kasat mata. Seperti penyembur api ghaib.

Makhluk-makhluk gula itu menjerit saat tubuh lengket mereka mendidih dan meleleh terkena pancaran energi cincin. Mereka mundur ketakutan, menciptakan celah di tengah koridor.

“Dimas! Pipa itu!” Arya menunjuk pipa utama bertekanan tinggi di atas pintu besi. Indikator tekanannya sudah di zona merah (karena Arya memutus pipa kecil sebelumnya).

Dimas mengerti. Ia mengeluarkan kunci Inggris besar yang ia temukan di lantai.

“Kalian tahan mereka! Saya butuh sepuluh detik!” Teriak Dimas.

Dimas memanjat tumpukan karung, mencapai katup pipa utama.

Arya dan Kirana berdiri punggung-punggungan di bawahnya. Arya menebas, Kirana membakar. Pasangan suami istri itu bertarung seperti tari kematian yang brutal.

“Sudah siap!” Teriak Dimas dari atas. Ia memutar katup itu sampai dol, lalu memukul tangkai pipanya dengan kunci Inggris sekuat tenaga.

TING! TING! KRAK!

Pipa besi tua itu retak. Uap panas bertekanan tinggi mulai mendesis liar.

“LARI KE PINTU! SEKARANG!” Komando Dimas sambil melompat turun.

Arya menendang pintu besi itu hingga engselnya lepas. BRAAKK!

Mereka bertiga melompat masuk ke balik pintu, lalu Arya membanting pintu itu menutup kembali dan menahannya dengan potongan besi.

Di luar pintu, di koridor yang penuh makhluk itu… pipa utama meledak.

BOOOOMMM!!!

Ledakan uap panas menghancurkan koridor itu. Dinding-dinding roboh. Makhluk-makhluk halus itu hancur lebur terkena ledakan termal. Langit-langit di atas mereka runtuh, menutup jalan kembali.

Gedung pabrik itu berguncang hebat seperti gempa bumi.

Di balik pintu yang aman, Arya, Kirana, dan Dimas terbatuk-batuk karena terkena debu.

“Jalan mundur sudah tertutup,” kata Dimas, membersihkan kacamatanya yang retak. “Kita cuma bisa maju.”

Arya berbalik, menatap tangga spiral gelap yang menuju kedalaman perut bumi. Dari bawah sana, terdengar suara kidung mantra yang semakin keras. Ritual sudah di mulai.

“Bagus,” kata Arya sambil menyeka darah hitam (dari makhluk tadi) dari wajahnya. “Artinya tidak ada yang bisa lari. Kita atau dia yang mati di bawah sana.”

Mereka menuruni tangga itu, meninggalkan kehancuran di belakang, menuju pusat kegelapan menjemput Bumi.

Pukul 16.35 WIB. Lantai Dasar Bawah Tanah.

Langkah kaki mereka bergema di lantai batu yang basah. Udara di sini jauh lebih dingin, menusuk tulang. Suara ledakan di atas tadi hanya terdengar seperti dentuman yang jauh.

Mereka sampai di sebuah lorong panjang sebelum pintu utama. Dinding lorong itu dipenuhi rak-rak kayu lapuk yang menjulang tinggi sampai langit-langit.

“Apa ini?” Bisik Kirana, mengarahkan senter ponselnya ke rak.

Cahaya senter menyapu deretan benda-benda yang membuat perut mual.

Toples-toples kaca berjejer rapi. Di dalamnya, terendam dalam cairan formalin keruh, terdapat berbagai macam benda klenik; paku berkarat, rambut yang diikat benang merah, gigi susu, dan boneka jerami yang ditusuk jarum.

Di bawah setiap toples, ada label kertas yang sudah menguning dengan tulisan rapi:

1945 - Gagal.

1965 - Wadah Retak.

1998 - Sukma Menolak.

Dimas mendekat, membaca label-label itu dengan wajah ngeri.

“Ini… catatan eksperimen dia,” suara Dimas bergetar. “Ki Seto sudah mencoba memindahkan jiwa majikannya selama puluhan tahun. Dia menculik anak-anak di setiap era kekacauan sejarah Indonesia.”

Kirana menutup mulutnya, menahan isak tangis. Ia melihat sebuah toples berisi sepatu bayi rajutan yang sudah kusam.

“Mereka semua… gagal?” Tanya Kirana lirih.

“Wadah biasa tidak kuat menampung energi jahat sebesar itu,” jelas Dimas. “Tubuh anak-anak ini hancur saat ritual. Meninggal karena sakit mendadak atau menjadi gila.”

Lalu, mata Arya tertuju pada sebuah meja kecil di ujung lorong, tepat di depan pintu besar menuju ruang mesin.

Diatas meja itu, tidak ada toples. Melainkan sebuah nampan emas yang dialasi kain sutra kuning emas.

Diatas nampan itu, tergeletak sebuah baju kaos bergambar Superhero milik Bumi. Baju yang dipakai Bumi kemarin saat bermain di taman, yang sempat hilang entah kemana.

Di samping baju itu, ada sebuah pisau belati kecil yang terbuat dari tulang manusia, dan sebuah mangkok kosong.

“Itu baju Bumi…” Kirana melangkah maju ingin mengambilnya.

“JANGAN DISENTUH!” Bentak Dimas.

Kirana berhenti.

“Itu Uborampe (syarat) terakhir,” kata Dimas cepat. “Baju itu pengikat sukma. Pisau itu untuk menyayat. Mangkuk itu untuk…”

Dimas tidak sanggup untuk melanjutkannya. Untuk menampung darah jantung.

Arya berjalan pelan mendekati meja itu. Ia tidak menyentuh barang-barang itu. Ia hanya menatapnya.

Jika tadi Arya marah, sekarang ia membisu. Keheningan yang jauh menakutkan daripada teriakan.

Arya membayangkan putranya yang ceria, berakhir menjadi salah satu koleksi toples di rak berdebu ini.

Arya berbalik menatap pintu besi raksasa di depannya. Dari balik pintu itu, terdengar suara genta (lonceng ritual) berbunyi ritmis. Ting… Ting… Ting…

“Dimas,” panggil Arya pelan.

“Ya, Kakang,”

“Di dalam sana… jangan sisakan satupun,” perintah Arya datar. “Bakar semuanya. Hancurkan altarnya. Robohkan tiangnya.”

“Dan Ki Seto?”

Arya menghunus pedangnya. Kilatan logam memantulkan cahaya senter yang remang.

“Dia bagianku. Aku akan pastikan dia tidak akan bisa reinkarnasi lagi. Tidak di era ini, tidak di era manapun,”

Arya menendang pintu besi raksasa itu sekuat tenaga.

BLAAAMM!!!

Pintu terbuka lebar, menampilkan pemandangan neraka di Ruang Mesin Utama. Asap dupa mengepul, dan di tengah ruangan, Bumi terbaring tak sadarkan diri di atas batu prasasti.

Perang terakhir dimulai.

1
Anchovy
Suka menghayal kalo hidup di jaman dulu 😂
Roro
kok bisa bikin cerita se seru ini yah thor
Roro
calon ulat keket kek nya nih
Akbar Aulia
tak tunggu lho thor jangan lama"
Anchovy
Makasih banyak ya kak, jgn lupa mampir juga di cerita nya Dipa n Sarah 🥰
bee may
makasih torr😍😍.q suka karya mu
Felycia Fernandez
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
atulyaas
senengg banget thorr baca notif udah up, ditunggu kelanjutannya huhu semakin menegangkan tapi seru polll, cemungutss thorrrr
bee may
semangat kakak.. lanjut
Anchovy
Makasih ya kak udah suka sama ceritanya 🤗
atulyaas
thankss yaa kakaaa author udaa updateeee, sukakk polll ditunggu kelanjutannya 😍✨
atulyaas
ayooo kakkk updatee, huhu kurang banget rasanyaaa asli penasaran banget nunggu kelanjutannya 😭✨
Anchovy: 4 Chapter lagi ending ya kak🤭
total 3 replies
Anchovy
Waaah.. makasih banyak ya kak 🥰
Anchovy
Mahapatih punya ilmu kebatinan, keren ya kak.🤭
bee may
ya ampun cerita mu best kakak.. 💪💪 semangat
Akbar Aulia
Mahapatih ternyata orang sakti bisa tahu ada penyusup dari masa depan
Dewiendahsetiowati
hadir thor,gak ada jari emas kah
Akbar Aulia
wah, kembali ke masa kerajaan, ngeri" sedap
Anchovy
Makasih banyak ya kak🥰
Akbar Aulia
tetap semangat thor aku nantikankan lanjutannya,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!