8 Tahun pernikahan dan di karuniai seorang putri cantik,nyatanya tak mampu meluluhkan hati aldric pada Eveline sang istri.
Pernikahan mereka terjadi karena perjodohan keluarga, Aldric yang mencintai wanita lain namun tak mendapatkan restu dari orang tuanya,dan di desak untuk menerima perjodohan itu akhirnya menerima,namun tak pernah menganggap ada sang istri.
Selama bertahun tahun juga Eveline mengejar cinta Aldric, karena memang dia mencintai laki laki itu sedari lama. Segala cara dia lakukan,bahkan dengan memberikan keturunan bagi Aldric yang dia kira akan membuat laki laki itu menatap ke arah nya.
Namun nyatanya tidak, Aldric tetap sama bahkan setelah ada buah hati di antara mereka. Hingga akhirnya Eveline menyerah mengejar cinta sang suami dan hanya bertahan demi putri mereka mendapatkan figur seorang ayah, walaupun nyatanya tidak Aldric berikan pada putri mereka.
Akankah Eveline benar benar menyerah dan pergi meninggalkan Aldric? atau Aldric akan luluh dan mulai menerima Eve?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon h.alwiah putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35. waktu bersama Daddy
Beberapa hari telah berlalu sejak badai demam tinggi melanda tubuh Aldric. Kini, pria itu sudah kembali pulih sepenuhnya dan beraktivitas normal seperti sedia kala. Namun, ada yang berbeda dari ritme hidupnya. Sorot matanya tak lagi sekeras dulu, dan prioritasnya perlahan mulai bergeser.
Sore itu, jarum jam dinding di ruang kerja Aldric baru saja melewati angka tiga. Alih-alih tenggelam dalam tumpukan berkas kerjaan, ia justru meraih ponselnya. Jemarinya dengan cepat mencari kontak sang istri, lalu menekan tombol panggil.
Hanya butuh tiga kali nada sambung sebelum suara lembut Eveline terdengar dari seberang sana.
"Halo, Mas? Ada apa?" tanya Eveline. Di latar belakang suaranya, terdengar sayup-sayup suara bising khas pengerjaan renovasi bangunan.
"Halo, Eve. Kamu masih di galeri?" Aldric bertanya sambil menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran, menyunggingkan senyum tipis yang tak terlihat oleh lawannya bicara. "Begini, Mas rencananya mau menjemput kamu sekarang. Kita bisa sama-sama menjemput Sera ke tempat lesnya. Bagaimana?"
Di ujung telepon, Eveline terdengar menghela napas pendek, ada nada bersalah dalam suaranya. "Ah... Mas, maaf sekali. Aku sepertinya tidak bisa ikut menjemput Sera sore ini."
"Kenapa? Ada masalah di galeri?" tanya Aldric, nadanya murni terdengar khawatir, bukan menuntut.
"Aku sedang ada meeting mendesak dengan klien baru, Mas. Ditambah lagi, aku sedang dikejar deadline desain untuk konsep mereka. Hari ini benar-benar padat," jelas Eveline buru-buru, takut suaminya akan salah paham. "Nanti... kalau Mas sudah jemput Sera, antarkan saja dia langsung ke galeri ya? Biar dia tunggu aku di ruangan."
Mendengar hal itu, Aldric terkekeh pelan. Suaranya terdengar begitu renyah dan menenangkan. "Tak apa, Eve. Selesaikan dulu sana pekerjaanmu. Jangan terlalu memikirkan rumah atau Sera. Urusan Sera biar Mas yang urus sepenuhnya sore ini. Lagipula, urusan kantor Mas hari ini tidak terlalu padat kok."
Eveline sempat tertegun di seberang telepon. Perubahan sikap Aldric yang begitu pengertian masih terasa seperti mimpi baginya. "Kamu... serius, Mas? Tidak merepotkanmu?"
"Sama sekali tidak, Istriku. Semangat kerjanya, ya. Jangan lupa selipkan waktu untuk minum air, makan nya juga jangan lupa,"tutur Aldric lembut.
"Iya, Mas. Terima kasih banyak, ya... terima kasih karena sudah mau mengerti posisiku sekarang," ucap Eveline tulus sebelum mengakhiri panggilan mereka.
Kata-kata terima kasih dari Eveline menjadi bahan bakar energi yang luar biasa bagi Aldric. Tanpa membuang waktu, ia merapikan jasnya, menyambar kunci mobil, dan langsung bergegas menuju tempat les Sera.
Sore itu menjadi sore yang berbeda bagi Sera kecil. Saat melihat mobil daddynya yang terparkir di depan gerbang les, matanya langsung berbinar. Biasanya, ia dijemput oleh sopir, mami, atau terkadang Papi Rion. Mengetahui bahwa daddynya sendiri yang datang menjemput adalah sebuah kejutan besar.
"Daddy!" seru Sera sambil berlari kecil dan langsung memeluk kaki Aldric.
Aldric membungkuk, mengangkat tubuh mungil putrinya ke dalam gendongan.
"Halo, anak pintar. Gimana lesnya hari ini? Seru?"
"Seru banget, Daddy! Tadi Sera belajar membuat cerita pendek!" cerita Sera heboh, tangan kecilnya bergerak-gerak di udara. "Eh, kita gak jemput Mami dulu ke galeri?"
Aldric mengecup pipi Sera sekilas sebelum mendudukkannya di kursi penumpang.
"Mami sedang banyak kerjaan sayang, sedang sibuk sekali di galeri. Jadi, sore ini Sera sama Daddy dulu di rumah, ya? Kita pulang dan main berdua. Gimana, mau?"
"Mau, mau! Sera mau main pasaran sama Daddy!" sorak Sera gembira.
Jika biasanya setelah menjemput Sera, Aldric akan langsung kembali ke kantor atau mendekam di ruang kerja pribadinya untuk memeriksa laporan keuangan hingga larut malam, maka hari ini ia mematahkan rutinitas itu. Pria itu memutuskan untuk mematikan seluruh notifikasi pekerjaannya dan fokus menemani putri kecilnya di ruang tengah.
"Daddy, ayo bantu Sera kerjakan PR matematika dulu," pinta Sera sambil membuka buku tugasnya di atas meja kaca ruang tengah.
Aldric duduk lesehan di karpet bulu, melonggarkan dasinya. "Oke, mana yang susah? Biar Daddy ajari cara cepatnya."
"Ini, Daddy... yang penjumlahan pakai gambar buah apel," tunjuk Sera.
Dengan penuh kesabaran yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya, Aldric menuntun jemari Sera. "Nah, kalau apel ini ditambah apel yang ini, jadinya berapa? Coba hitung pelan-pelan..."
"Satu, dua, tiga... empat! Empat, Daddy!"
"Pintar sekali anak Daddy," puji Aldric sambil mengacak rambut Sera gemas.
Setelah urusan pekerjaan rumah selesai, petualangan yang sesungguhnya baru dimulai. Sera mulai mengeluarkan seluruh isi kotak mainannya. Ruang tengah kediaman Lucien yang biasanya rapi dan estetik, dalam sekejap berubah fungsi menjadi medan perang mainan.
"Daddy! Sekarang Daddy harus jadi modelnya Sera!" seru Sera dengan mata berbinar-binar memegang kotak kosmetik mainan dan beberapa kuncir rambut berwarna merah muda.
Aldric membelalakkan matanya, menatap kuncir rambut unicorn itu dengan ngeri. "Eh? Jadi model? Maksudnya bagaimana, Sera?"
"Daddy diam saja di sana, biar Sera dandanin jadi berbie yang cantik! Jangan bergerak, ya!" perintah Sera dengan nada bossy yang menggemaskan, mirip sekali dengan Eveline jika sedang tegas.
Aldric menghela napas panjang, namun senyum pasrah terukir di bibirnya. "Baiklah, Tuan Putri. Lakukan sesukamu. Daddy pasrah."
Sera tertawa renyah. Tangan mungilnya mulai beraksi. Ia mengumpulkan sejumput rambut depan Aldric, lalu mengikatnya dengan kuncir merah muda, membentuk kunciran tegak di atas kepala sang CEO yang biasanya selalu tampil klimis dan rapi.
Tidak cukup sampai di sana, Sera mengambil kuas mainan dan bedak tabur, menyapukannya ke pipi Aldric dengan asal-asalan.
"Wah, Daddy cantik sekali sekarang! Seperti Princess!" puji Sera bangga melihat hasil karyanya.
"Benarkah? Daddy merasa seperti badut, bukan princess," sahut Aldric pasrah saat Sera mulai menempelkan stiker-stiker bergambar karakter kartun lucu ke seluruh wajah, dahi, hingga ke lehernya.
"Gak boleh protes, Daddy! Ini stiker ajaib, biar Daddy gak sakit lagi," celoteh Sera sambil menempelkan stiker bunga besar tepat di hidung Aldric.
Aldric hanya bisa tertawa, membiarkan wajahnya dipenuhi stiker warna-warni demi mendengar tawa renyah putrinya yang begitu berharga.
Malam pun tiba. Jarum jam terus berputar hingga menunjukkan pukul delapan malam, namun tanda-tanda kehadiran Eveline belum juga kelihatan. Suasana rumah terasa sunyi, hanya diramaikan oleh suara televisi yang menyiarkan kartun kesukaan Sera.
Aldric melirik ponselnya. Tidak ada pesan baru dari Eveline. Namun, alih-alih merasa kesal atau curiga seperti masa lalu, Aldric sangat memakluminya. Ia tahu betul betapa bertanggung jawabnya Eveline terhadap pekerjaannya. Apalagi, beberapa hari kemarin Eveline sudah absen total dari galeri demi merawat dirinya yang terbaring lemas karena sakit. Wajar jika sekarang tumpukan tugas istrinya itu menggunung.
"Daddy, Sera lapar..." bisik Sera sambil mengucek matanya yang mulai mengantuk.
"Ayo, kita makan malam dulu. Bibi sudah siapkan sup hangat," ajak Aldric.
Ia menyuapi Sera dengan telaten, membersihkan sisa makanan di sudut bibir anaknya, lalu kembali membawanya ke ruang tengah untuk melanjutkan permainan yang sempat tertunda. Rasa kantuk mulai menyerang mereka berdua, namun Sera bersikeras tidak mau pindah ke kamar sebelum maminya pulang.
Akhirnya, waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Pintu utama kediaman Lucien perlahan terbuka, menimbulkan derit halus yang memecah keheningan malam.
Eveline melangkah masuk ke dalam rumah. Tubuhnya tampak begitu lelah, bahunya terkulai, dan langkah kakinya terasa amat berat setelah seharian penuh berdebat dengan vendor dan memeras otak demi mengejar tenggat waktu desain. Raut wajah lelah yang teramat sangat sama sekali tidak dapat ia sembunyikan lagi. Matanya terasa meredup, merindukan bantal dan kasur.
Namun, begitu langkah kakinya mencapai pembatas ruang tengah, langkah Eveline seketika terhenti.
smoga segera launching adikmu