NovelToon NovelToon
Luka Tak Terlihat

Luka Tak Terlihat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga)
Popularitas:886
Nilai: 5
Nama Author: Illana Clr

Cerita ini hanya fiksi semata, hanya halu author.

Cerita ini, terispirasi dari curhatan-curhatan seorang ibu yang merasa lukanya terabaikan, lelahnya tak terlihat, dan sakitnya yang dianggap sepele, diselingkuhin pula.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Illana Clr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenangan Rafa

Enam bulan sejak Safa dipenjara Alana kini sudah jauh lebih tenang, lebih sehat, lebih damai menjalani hidupnya dan kakinya bisa berjalan dengan normal meski ia masih sedikit takut untuk berjalan terlalu lama atau terlalu jauh.

Pagi ini Alana, Rafa, Cia, dan Vino sarapan bersama.

"Makan yang banyak ya anak-anak"

Rafa menuangkan nasi goreng ke piring Vino dan Cia.

"Oke pah" sahut Cia semangat "Ade makan yang banyak juga" tambah Cia kepada Vino "Iya Kak". Sahut Vino melihat ke arah Cia sambil senyumnya mengembang menampilkan gigi ompongnya.

"Vino mau jus atau susu sayang?" Tanya Rafa

"Mau Jus, tapi mama yang bikin" Ucap Vino tak ragu.

"Oke, mama bikinin. Kakak mau juga?" Tanya Alana sambil membuka kulkas.

"Mau, samain kayak punya ade" Jawab Cia sambil melihat Alana membuka kulkas.

"Kalo gitu, Papah juga mau samain kayak punya adek dan kakak"

"Baik paduka" sahut Alana bercanda.

Ruang makan itu kini tampak seperti keluarga bahagia, ditambah dengan hadirnya Vino dikeluarga mereka menambah kegembiraan dan kehangatan.

"Udah selesai sarapannya? Hari ini Papah antar kalian ke sekolah ya, Mama ada meeting kasian kalo sampe telat"

"Oke Papah" Sahut dua bocah serempak.

Alana berangkat ke tempat meeting diantar supir, sementara Rafa mengantar anak-anak menyetir sendiri. Baginya waktu mengantar anak-anak sekolah adalah waktu emas untuk mengobrol dengan mereka.

"Vino hari ini waktu Vino giliran Vino request musik, mau musik apa sayang?" Tanya Rafa

"Musik K-Pop Pah, boleh kan kak?" Tanya Vino meminta pendapat Cia.

"Boleh, kan ini giliran kamu dek". Sahut Cia. Dia tampak seperti seorang kakak yang dewasa mengerti dengan adiknya.

"Oke sayang, kita dengerin musik K-pop ya"

Rafa memutar musik yang diminta Vino. Vino tampak senang dan semangat begitu juga Cia yang ikut semangat dan ikut menikmati musik itu meski tidak mengerti.

Rafa tersenyum melihat dua anak itu tampak akrab dan saling menyayangi satu sama lain.

Mobil berhenti seirama dengan musik yang juga berhenti.

"Nah sudah sampai anak-anak, belajar yang rajin, yang pinter ya sayang". Rafa turun dari mobil, membantu anak-anaknya turun dari mobil lalu mencium puncak kepala kedua anak itu.

"Bye Papah" Ucap Vino dan Cia berbarengan.

Rafa melambaikan tangan kepada anak-anak itu sambil tersenyum.

"lucu banget mereka" gumamnya dalam hati lalu Rafa meninggalkan sekolah menuju kantornya.

Di kantor, Rafa tengah sibuk dengan pekerjaannya namun seperti biasa Ayahnya datang sekedar gabut karna Rafa terlalu serius bekerja.

"Hallo anak Ayah"

Pak Dirga datang dengan suara jahilnya dan langkah khas bapak-bapak dengan joget ringan.

"Ada apa Yah?" Tanya Rafa melihat Ayahnya yang bertindak konyol. "Hati-hati encok nanti kalo terlalu banyak gerak" Tambah Rafa lagi.

"Ayah cuma mau lihat anak Ayah yang super sibuk ini" Sahut Pak Dirga.

"Alana udah sembuh, Cia udah gede, Vino juga udah gede ya sekarang" Tambah pak Dirga memberi kode bahwa ia ingin segera punya cucu dari Rafa dan Alana, cucu yang sedarah sama Rafa berharap rumah tangga anaknya itu semakin harmonis dengan Alana.

"Trus kenapa?"

"Nggak apa-apa, Ayah hanya merasa bahagia. Ya meskipun mereka bukan darah daging kamu. Setidaknya Ayah tahu rasanya punya cucu".

Rafa membuka kacamatanya, memijat pelipisnya lalu menatap Ayahnya.

"Alana masih recovery Ayah, aku belum bisa maksain dia untuk hamil"

Kalimat Rafa membuat Pak Dirga menoleh ke arah Rafa.

"Ya, nggak apa-apa. Ayah ngerti kok. Cuma, setidaknya berusaha lah, satu saja. Untuk penerus perusahaan kita nanti".

Pak Dirga mendekati pintu keluar, lalu menoleh ke arah Rafa lagi.

"Pikirkan saja baik-baik, kamu pasti bisa"

Pak Dirga memberi semangat anaknya, Rafa hanya tersenyum tipis pada Ayahnya yang berlalu keluar dari ruangannya.

Rafa merenung diruang kerjanya, dihatinya Almarhum istri dan anaknya masih terngiang.

"Tiara...." Lirihnya perih memanggil nama Almarhum istrinya. Ia begitu sedih mengingat bagaimana kematian istri dan anaknya terjadi hingga tak sadar matanya sedikit berair.

"Aku terlalu buru-buru menikahi Alana, hanya karna Cia yang selalu memanggilku Papah, dan aku menginginkan panggilan itu setiap hari dari Cia".

Ia membuka laci mejanya, membuka sebuah kotak berukuran sedang berwarna hitam pekat, dikotak itu tersimpan cincin nikah Rafa dan Tiara serta beberapa foto kenangan manis mereka.

Rafa mengambil dan melihat foto mereka saat Tiara tengah hamil anak pertama mereka. Air mata Rafa menggenang mengingat saat saat mereka bahagia mengetahui Tiara hamil.

"Maafin aku sayang, maafin aku"

Air matanya menetes keatas foto yang ia pegang, rasa bersalah kembali menghantuinya.

Diruangan Ayah Dirga, Tanpa Rafa tahu Ayah Dirga selalu memantau Rafa lewat CCTV.

"Rafa, selalu kumat kayak gitu. Satu-satunya cara agar dia bisa lupa dengan Tiara, dia harus punya bayi dari Alana. Rafa harus punya anak dengan Alana".

Ayah Dirga menatap layar monitor yang menampilkan Rafa sedang menangis melihat foto dan barang-barang kecil penuh kenangan manis bersama Tiara.

Diruangan Rafa, ia kembali merapikan barang yang ada dikotak itu dan menyimpannya kembali.

Ponsel Rafa berdering panggilan masuk dari Alana. Rafa menghela nafas, mencoba menetralkan suaranya agar tak terdengar serak, saat merasa lebih baik Rafa mengangkat telpon dari Alana.

"Hallo sayang?"

"Mas, makan siang bareng yuk"

"Boleh, aku jemput sekarang ya sayang".

"Oke Mas, aku siap-siap dulu kalo gitu".

Telpon terputus, Rafa merapikan kemeja dan jasnya, menatap kotak hitam itu sejenak lalu menutup lacinya. Ia meraih kunci mobil lalu meluncur ke kantor Alana.

Sementara dikantor Alana, ia juga tengah bersiap untuk bertemu suaminya, Alana keluar dari ruangannya menunggu Rafa di lobi.

Mobil Rafa muncul Alana segera keluar menghampiri dan masuk ke mobil Rafa.

"Maaf ya agak lama, macet soalnya sayang"

Jelas Rafa menjelaskan tanpa Alana minta.

"Nggak apa-apa, aku juga baru turun kok"

Sahut Alana santai tanpa ada rasa marah atau kesal dihatinya.

"Mas, dideket sini ada restoran baru buka kita cobain yuk. Aku penasaran sama makanannya".

"Boleh sayang"

Mobil Rafa menuju restoran yang dimaksud istrinya, jalanan sedikit macet membuat waktu mereka sedikit lebih banyak untuk berdua.

Rafa melihat Alana yang sedang memainkan ponselnya.

"Jalanannya padat ya"

Gumam Rafa pelan, Alana mengalihkan pandangannya ke arah jalan.

"Jam makan siang pada keluar Mas"

Sahut Alana

"Iya nih, nah lumayan nih agak lancar" Rafa merasa lega melihat jalanan lancar dan mobilnya kini sampai di depan sebuah restoran yang dimaksud Alana, Rafa memarkirkan mobilnya di parkiran restoran itu.

Mereka masuk ke restoran itu dan memesan makanan, dan lanjut makan bersama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!